Puasa-Puasa, Masih Saja Banyak Penjahat

Posted by rumah ruqyah on 2020-04-14


Puasa-Puasa, Masih Saja Banyak Penjahat

Bagi Surdi, karyawan Swasta yang tinggal di Jakarta Barat, memasuki bulan Ramadhan tahun ini, ibarat mengenang masa pahit.

Justru karena di bulan Ramadhan seperti inilah, beberapa tahun lalu ia kehilangan motor satu-satunya.

Padahal cicilan kredit motor itu belum lunas ia bayar. Yang bikin lebih pahit, kejadian itu berlangsung menjelang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ternyata Surdi tidak sendirian. Tiga orang kawannya, pada waktu dan tempat yang sedikit berbeda juga mengalami hal yang sama. Bahkan satu diantaranya kehilangan mobil kijang cokelatnya, tepat setelah makan sahur.

Seperti juga Surdi, tahun ini juga ada orang-orang yang mengalami tindak kejahatan dengan kekerasan. Tidak hanya di Jakarta, atau kota-kota besar.

Kejahatan itu juga banyak yang terjadi di kampung-kampung. Padahal kaum Muslimin tengah melakukan ibadah Puasa.

Padahal, saat ini adalah bulan yang penuh berkah, bulan dimana pintu-pintu Surga di buka dan pintu-pintu Neraka ditutup.

Bahkan, beberapa waktu lalu, pihak keamanan menghimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati di bulan Ramadhan seperti ini.

Mereka mengatakan, bahwa bila memasuki Ramadhan, terlebih mendekati hari akhir Ramadhan, tingkat kejahatan banyak meningkat.

Sebab, kebutuhan ekonomi meningkat untuk menyambut hari Raya Idul Fitri. Sementara di sisi lain persaingan ekonomi sangat ketat.

Tak sedikit orang-orang yang tak memiliki kesempatan untuk memenuhi daftar keinginannya, melakukan tindak kejahatan.

Fenomena lain, gemerlap kota-kota besar di Indonesia, apalagi di Jakarta, di bulan Ramadhan ini, nyaris tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya.

Meski secara peraturan banyak tempat-tempat kemaksiatan yang harus tutup, tetapi dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, tetap saja, banyak yang membandel.

Dan, ujung-ujungnya, tidak ada yang ditindak secara serius.

Apalagi, beberapa hari menjelang Ramadhan, ratusan perempuan yang menamakan diri pekerja hiburan melakukan demonstrasi secara berani menentang segala bentuk razia di tempat-tempat hiburan.

Mereka beralasan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah juga untuk mencari penghidupan. Bahkan, ada juga yang membawa-bawa hak asasi segala.

Begitu pun, banyak oknum aparat yang turut membekingi mereka. Sementara, beberapa elemen masyarakat yang selama ini rajin melakukan peneguran banyak yang dibungkam.

Kloplah sudah. Kejahatan orang-orang yang jahat, bertemu dengan hukum dan peraturan yang lemah. Seperti api bertemu bensin. Kejahatan pun berkobar.

Di sebuah kota di Sumatera, justru bulan Puasa menjadi ajang pergaulan bebas muda-mudi.

Di sebrang jembatan terpanjang di Sumatera itu, remaja-remaja mengisi waktu selesai sahurnya dengan berbaur di kegelapan.

Ketika adzan Subuh menggema dari Masjid di seberang jalan, nyaris tak ada yang beranjak dari tempat itu.

Aneh dan sungguh aneh. Bahkan, sebuah majalah remaja, dengan enteng menulis judul utama edisi ramadhannya, ''Ibadah Khusyu', Gebetan Jalan Terus."

Dalam edisi itu digambarkan bagaimana seorang remaja, bisa tetap puasa, tapi kencannya juga jalan.

Ironisnya, majalah itu pula yang beberapa tahun lalu, membuat lomba menulis kisah asmara remaja yang terjadi di bulan puasa. Naudzubillah.

Gegap gempita tempat maksiat itu memang menandakan masih ada saja orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan.

Terjerembab dalam lumpur kejahatan. Meski bulan Ramadhan telah datang.

Meski bulan yang disebut dengan bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari Neraka, justru tidak memberi pengaruh pada orang-orang itu.

Di sisi lain, ada juga sebagian orang yang justru memanfaatkan momen malam Ramadhan sebagai saat mereka melepas belenggu menahan nafsu di siang hari.

Belum lagi ditambah dengan perilaku buruk yang dilakukan oleh pribadi orang yang puasa.

Dari berbohong, menggunjingkan orang lain, memfitnah, mengadu domba, sombong, emosi, buruk sangka, dan sederet sikap-sikap buruk lainnya.

Semua indikasi itu, menunjukkan bahwa selama bulan Ramadhan tidak berarti kejahatan hilang total.

Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan syetan-syetan itu dibelenggu?

Kalau begitu, mengapa masih banyak kejahatan? Bukankah kejahatan itu karena godaan syetan?

Atau karena justru banyak manusia yang telah menggantikan peran syetan di bulan mulia ini?

Majalah Ghoib Edisi No. 2 Th.1/1423 H/2002 M, Hal 16-17

Previous
« Prev Post

Related Posts

April 14, 2020

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran