Meruqyah Jin Eropa

Posted by rumah ruqyah on 2020-03-09


 
  Terkait postingan kita kemarin tentang "Teleport Janin", saya membaca sejumlah komentar bermanfaat, menurut saya, terkait kenyataan bahwa kejadian "teleport janin" ini betul-betul nyata di negeri kita. Kita ga bisa menolak hal-hal kayak gini karena kejadiannya cukup banyak sampai pada level "mutawatir". Maka saya tertarik membahas satu hal yang mudah-mudahan ada faidah buat kawan-kawan sekalian, satu kisah yang ga pernah saya cerita ke orang-orang....

***

  Sekitar 6-7 tahun lalu, seorang kawan untuk melihat satu rekaman ruqyah anak Indonesia yang kesurupan "Jin Eropa". Anak ini kasusnya, dia pernah pada bulan Ramadhan tahun itu, pada saat salat tarawih di Mesjid Indonesia di ibukota Jerman, tiba-tiba kesurupan dan mengamuk. Sebagian jamaahnya yang bodoh-bodoh -mereka sih merasa pintar ya- menyarankan untuk membawa pemuda malang ini ke rumah sakit. 

  Ada sejumlah kawan kami yang berinisiatif mengajaknya diruqyah di kota tersebut. Rekaman ruqyahnya dikirim kepada saya. Saya perhatikan secara seksama, ketika di ruqyah, si "jin bule" mengamuk sambil ngoceh dalam bahasa Inggris. Lalu dia memperagakan sejumlah adegan gerakan silat.

Kawan Berlin: Bang. Bisa tolong Ruqyah kawan? Dia kemasukan jin bule. Ini kami ada videonya.

Saya: (Setelah melihat video). Ini sih jin lokal. Inggrisnya belepotan! Bule ga ada yang bisa silat.

  Akhirnya, beberapa hari kemudian meluncurlah saya ke Berlin, berangkat pagi buta naik bis lumayan sepi menempuh jarak lumayan panjangnya dari Mulheim Ruhr. Ya Tuhan, dinginnya udara pagi Jerman menusuk tulang. Saya bawa beberapa perlengkapan "Ghostbuster".

  Saya tiba siang dan setelah sempat ramah tamah sedikit, sorenya kami meluncur ke kediaman ybs. Mungkin jam 5-an kami tiba. Saya ketemu pemuda dimaksud dan mulai bertanya-tanya keadaan dan latar belakang keluarganya. Beliau cerita bahwa dia belum lama di Berlin, dan keluarga besarnya tinggal di Singapura. Beliau disini baru mulai kuliah sarjana, bersama adiknya juga. Lalu beliau mulai cerita tentang latar keluarganya, yang nampaknya dekat dengan dunia mistik.

  Ini tepat seperti dugaan saya, seperti kasus yang sudah-sudah. Orang Indo, kadang memang ga ngerti bahwa mereka udah mengikat diri dengan hal-hal mistik. Kalo ini sampai kejadian, hampir pasti akan turun-temurun menimpa keluarganya kebawah sampai cucu-cicit. Mereka sangat kultus luar biasa dengan "pria bersorban". 

  Asal pake sorban, asal namanya hadad, segaf, atos what ever lah... "sujud" lah otak mereka. Ada masalah hukum, curhat ke habib. Kena penyakit, telpon habib. Putus cinta, panggil habib. "Habib-habib" setan ini girang juga bisa laris kayak gitu. Gemerincing duit saban hari. "Haji tenang aja masalah gituan, nanti Habib bantu jalan keluarnya", kata si habib. Masuklah ke rekening si Habib, kadang amplop 100 juta, dua ratus juta. Ini kejadian nyata. Saya ga tau, yang bodo tu siapa sebetulnya.

  Tapi dukun-dukun bersorban ini laris manis. Mereka mengikatkan dirinya kepada setan, dan pengikutnya mengikat jerat itu ke leher mereka masing-masing, merantai satu keluarganya 7 turunan. Padahal biasanya, orang bersorban beneran, dia paling tawadhu soal duit, paling ngeri bicara tanpa ilmu. 

  Saya pernah mengundang ulama ternama waktu saya mahasiswa sarjana, hampir 20 tahun lalu. Pesan dia ke kami, "Saya ga mau dibayar, dan jangan kalian merepotkan diri demi saya!". Saya yang terima pesan itu kelabakan, pasti guru saya marahin saya karena undangan kami tidak mau diberi amplop. 

  Dan beliau datang dari Bogor ke Bandung, lalu mengajar kami seharian, kemudian pulang, tanpa mau kami amplopin. Sampai sekarang, beliau cuma menafkahi dirinya dari karya buku-bukunya yang jumlahnya puluhan itu. Siang malamnya beliau habiskan untuk menulis buku dan mengajar. Subhanallah. Orang ini ga pernah menyebut dirinya habib, tapi dia "habib" dihati banyak orang. Saya sampai malu nyebut nama beliau..

  Balik ke pemuda berlin ini. Nampak dimata saya, pemuda ini orang biasa saja. Wajahnya cerah, ganteng, ceria. Tidak ada tampak tanda-tanda gangguan. Orang taat beragama dan santun.

Saya: Pernah melihat jin-jin ini dalam mimpi atau di alam nyata? melihat gangguan mereka?

Pemuda Berlin: Iya, Bang. Pernah.

  Akhirnya masuk Maghrib, kami tunaikan solat Maghrib dulu. Selesai Maghrib, kami mulai ruqyah tersebut. Saya minta pemuda ini menutup mata dan jangan bicara kecuali saya minta. Saya mulai bacakan ayat-ayat yang umumnya kami baca ketika ruqyah, yang umumnya kita baca waktu salat. Surat al fatihah, an nas, al falaq, al ikhlas, ayat kursi. Pemuda ini mulai bereaksi seperti kepanasan.

Saya: Kamu dengar sesuatu?

Pemuda Berlin: Iya, Bang. Mereka kepanasan.

Saya: Suruh mereka bicara

Pemuda Berlin: Mereka tidak mau, Bang.

Well, jin-jin sombong. Kita goreng lagi ini jin-jin dengan izin Allah. Kadang-kadang dialog itu efektif, karena ada segelintir jin yang kafir tapi "open minded". Tapi umumnya banyak yang sombong. Jin-jin tersebut mulai berontak dan meracau pakai bahasa inggris.

Saya: Heh jin, ngomong pake bahasa indonesia aja!

Ruqyah kami skorsing sementara karena salat Isya. Lalu kami lanjut lagi cukup lama sekitar sejam. Saya pikir ini mulai membosankan, karena setannya pada ngeyel dibakar. Siap mati mempertahankan kebatilan.

Saya: Kamu mau kalo saya bekam?

Pemuda Berlin: Boleh Bang

  Saya keluarkan alat-alat bekam saya, lalu saya mulai bekam sekujur tubuhnya. Reaksi yang terjadi lebih hebat lagi. Jin-jin tersebut mengerang kesakitan. Tapi mereka tidak menyerah.

Saya: Kamu mau klo saya bekam kepala? Insya Allah efeknya jauh lebih kuat

Pemuda Berlin: Mau Bang.

Pemuda ini tidak pikir panjan juga rupanya. Setelah 30 menit kami gunduli, mulailah bekam bagian kepala. Akhirnya geng jin mulai berani ngomong.

Jin: Tuhan Yesus, tolong kami!!

Saya: Yesus is not God!

  Saya bacakan beberapa ayat dalam surat Ali Imran terkait kisah Isa bin Maryam dan sanggahan Isa ketika dia disembah orang-orang setelahnya. Saya harap jin ini mau diskusi lebih lanjut. Tapi nampaknya dia gengsi. Buat pengetahuan, jin-jin ini makhluk yang hidup bersama kita. 

  Mereka berakal dan terkena "beban taklif", alias seperti manusia. Bukan seperti binatang yang tidak punya beban untuk menuruti syariat agama. Jin ini, dengan kata lain, mereka harus tunduk pada syariat, karena mereka dikaruniai otak dan pilihan oleh Tuhan.

  Jin ini makanya, mereka punya agama juga. Dan mereka ikut pada agama manusia secara umum. Karena Allah utus nabi ke setiap umat. Tapi nabi yang diutus hanya dari kalangan manusia saja, tidak ada nabi dari kalangan jin. Ini ditegaskan Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jin.

  Akhirnya habis kesabaran saya. Saya bacakan satu ayat untuk memenggal leher jin tersebut. Saya ga bisa lihat jinnya tentu saja. Saya praktekkan dengan gerakan memenggal leher pemuda ini menggunakan tangan kosong. Pemuda ini bereaksi seperti kena penggal betulan, dia mulai tercekik seperti kehabisan nafas, sedang sekujur tubuhnya hampir sejam ini masih terpasang alat-alat bekam.

  Selesai terputus satu lingkar leher, pemuda ini terjatuh dari kursinya. Beberapa detik kemudian dia pun bangkit.

Pemuda Berlin: Alhamdulillah, Bang. Jinnya mati semua.

Saya: Tau dari mana?

Pemuda Berlin: Saya rasakan dia mati, nyawanya tercabut.

Saya: Baik, saya ruqyah lagi untuk memastikan

Saya mengulang ruqyah lagi. Ternyata pemuda ini masih bereaksi, yang artinya kerjaan saya belum selesai.

Pemuda Berlin: Bang, jinnya mati 30 jin

Saya: Tau dari mana?

Pemuda Berlin: Itu yang saya dengar

Saya lepaskan cangkir-cangkir bekam saya yang sudah lama menyedot darah pemuda ini. Tapi nampak dia jauh lebih gembira dengan upaya kami hari ini.

Saya: Kita telah membalas kejahatan jin-jin ini yang selama ini menzalimi kamu

Pemuda Berlin: Alhamdulillah Bang.

  Diskusi saya lanjutkan dengan nasihat supaya senantiasa menjaga solat lima waktu, membentengi diri dengan dzikir pagi-petang, dan doa-doa. Insya Allah ga akan ada yang mengganggu. Lalu saya ajak adiknya mendengarkan soal keutamaan tauhid yang benar. Lalu melatih mereka untuk melakukan ruqyah sendiri lain waktu.

Jujur, saya ga pernah negruqyah orang selama ini, dari sore sampai pagi. Besoknya saya pun pamit.

***

  Hampir dua tahun dari peristiwa tersebut, saya dapat kabar tentang mahasiswa yang terjun bebas dari gedung lantai 30 di Berlin. Saya mengenali nama pemuda tersebut. Inna lillahi. Saya mulai tanya-tanya gimana ceritanya. Dikabarkan bahwa pemuda ini sedang belajar bersama kawan-kawannya di satu apartemen. Lalu tiba-tiba dia melompat dari jendela apartemen tersebut. Selesai!

   Duh. Yang tersebar, berita bahwa pemuda ini mengalami depresi, sehingga bunuh diri. Tapi saya lebih percaya pengalaman saya sendiri, apa yang saya lihat dan apa yang saya ketahui serta rasakan tentang dia. Dia tidak seperti tuduhan mereka.

  Dan saya tahu, jin-jin itu membalas dendam karena perbuatan saya padanya. Jin-jin itu telah mengganggunya dan membikin gambaran-gambaran alam yang aneh yang bertolak belakang dengan kenyataan. Pemuda ini tentu sadar betul, tapi dia ga bisa cerita banyak orang. Karena dokter-dokter jerman yang ateis, dan seisi orang Islam disana yang umumnya stupid, akan menyangkanya gila, atau schizoprenia.

  Orang kayak gini di Jerman, sekali divonis, dia akan dipaksa untuk rutin minum obat penenang yang akan melonggarkan syaraf-syarafnya sehingga mereka jadi gampang tertidur dan badan jadi gemuk. Payah lah treatment nya. Psikiaternya juga gitu-gitu juga. Ilmu mereka dicomot gitu aja di Indo.

  Akhirnya sebagian dokter Indo, dan psikiaternya juga, menolak adanya jin. Artinya rusak Rukun Iman mereka "Iman kepada yang ghaib". Anda bisa saja seorang garong, pezina, pemabuk dan lain-lain dosa besar. Tapi tidak diterima Islam kalo rukun Iman nya udah rusak. 

   Syahadat Anda harus diulang, nikah Anda batal, Puasa Anda sia-sia, haji juga percuma, Anda ga dapat waris dan Anda juga ga bisa warisi harta Anda keluarga Anda yang muslim, dan kuburan Anda tidak boleh satu komplek dengan kaum muslimin. Ini konsekwensi berat, akibat dari kebodohan.

  Yang dilakukan pemuda ini, ikhtiarnya untuk melepaskan diri dari kezaliman, merupakan jihadnya. Dia sudah berupaya melawan. Tapi Allah takdirkan dia gugur dalam perlawanannya, "syahid" Insya Allah Taala. Wa laa uzakki ala Allah ahad, saya tidak mensucikan manusia seorang pun di hadapan Allah. Saya menilai sekadar yang saya lihat.

***

  Dari kisah pemuda Berlin ini, saya sadar bahwa jin-jin bisa berbuat sejauh itu. Bisa membunuh orang, bahkan mencuri janin. Tapi kawan-kawan pembaca, jin-jin ini juga pilih-pilih. Dia ga sembarang pilih korban. Dia cari mereka yang imannya ga ada, atau lemah, atau abangan, bahkan bodoh. Korban mereka biasanya bisa jadi moyang kita yang pernah bikin perjanjian dengan dukun-dukun ini.

  Maka, kalo ada saudara Anda keluarga dekat yang bersekutu dengan dukun, jangan Anda diamkan. Jangan jadi setan budeg. Masa Bodo. Sikap itu bikin rugi Anda sendiri nanti. Percaya aja, ngurusin ginian bakal lebih manfaat dari pada saban hari nekuni politik, gosip dan duit yang ga ada beres-beresnya. Dan kita akan selalu open buat diskusi insya Allah.

  Saya sendiri sudah lama tidak melakukan ini lagi, terlebih sejak jin ini suka membalas dan mengganggu. Kadang masuk ke alam mimpi dan menakut-nakuti. Insya Allah saya ga takut. Kita punya pelindung, Yang Maha Kuasa.

Zico Pratama Putra

Sumber Artikel bisa dibaca DISINI

Previous
« Prev Post

Related Posts

March 09, 2020

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran