Mengembalikan Gendam

Posted by rumah ruqyah on 2020-03-01



Seorang Dukun Kesohor Memaksaku Mewarisi 'Ilmu' Tingkat Tingginya. [Bag.3]

  Hingga bulan November 1997, saya keluar dari Pabrik Komputer itu. Namun begitu keluar, justru saya semakin aneh, bahwa setiap ketidaksenangan yang saya ucapkan pada orang lain, pasti akan menimpa pada orang itu.

Pernah suatu saat, saya keceplosan sama teman Ibu, seorang mantan orang penting di pemerintahan.

Saya bilang, "Ia pendusta, penipu, pembohong. Selalu makan uang haram, kalau tahu masyarakat baru tau rasa dia." Ibu saya marah besar saat itu. Tapi tidak lama kemudian omongan saya itu terbukti. 

Bahkan saudara saya yang selalu sok kaya, pernah saya umpat menjadi miskin akhirnya bangkrut.

Diluar itu, tiba-tiba secara mata telanjang saya bisa melihat susuk yang digunakan seseorang. Bahkan hanya dengan sekedar memandangnya, saya akan tahu bagaimana masa lalunya, apa kebiasaannya dan apa yang akan dilakukan nantinya. 

Semua itu tergambar begitu saja di depan mata saya. Meskipun setelah melakukan hal itu biasanya kondisi fisik saya capek bukan main. Bahkan jiwa dan mental saya terkuras.

Saya bisa juga menerawang. Biasanya kalau saya ingin tahu tentang keadaan seseorang maka saya lihat saja. 

Maka saya akan tahu bagaimana sikap dan masalah apa yang sedang dihadapi, serta bagaimana masa lalu serta watak aslinya.

Pernah pula suatu saat ketika ada di Mall, ada orang yang mau nggendam. Tiba-tiba secara reflek saya berbalik menggerakkan tangan saya mengembalikan seluruh ilmunya, hingga ia kena gendamannya sendiri. Seketika kaburlah ia terbirit-birit.

Tapi yang paling berat adalah tindakan out off control. Dimana kalau saya tidak suka kepada seseorang, maka secara reflek akan memukul dan menghajarnya. Bahkan tak peduli siapapun orangnya. Hingga pernah sewaktu saya mau ke Yogya, para preman Lebak Bulus iseng nggodain saya. 

Bahkan tangan-tangan preman sudah mulai jahil. Nah, saya kemudian tiba-tiba reflek menghajar preman itu hingga ia bersimbah darah. Melihat itu semua penumpang heran, bahkan polisi memperhatikan saya secara seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. 

Usut punya usut, ternyata ia pentolan preman terminal itu.

Dan yang lebih parah saat itu saya sudah tidak bisa sholat. Bahkan wudhu saja, walaupun di kamar mandi ditempel gambar tuntunan wudhu, tetap saja sulit untuk melakukannya. 

Padahal saya dulu pengurus Mushola dan murid terkasih guru agama. Bahkan saya sering tak sadar melakukan pekerjaan apa sebelumnya. Apalagi kalau ibu lagi dzikir dan sholat. Maka dapat dipastikan saya akan sering uring-uringan. 

Bawaannya marah terus, bahkan seringkali celoteh sana-sini tanpa sebab.

Sedang dalam pergaulan sehari-hari saya selalu menaruh curiga kepada setiap orang. Apalagi kalau ada orang yang 'mendekati' saya. 

Bahkan saat teman yang ikut Satria Nusantara (SN) bertandang ke rumah saya, begitu mendekat ia merasa panas dan seperti melihat hal aneh. Dan terasa berjarak, tak bisa mendekati saya. Semua itu semakin membuat saya dan keluarga sadar bahwa ada kelainan pada diri saya.

Maka mulailah diupayakan berbagai ikhtiar. Saya pergi dari satu paranormal ke paranormal lainnya. Dari dukun satu ke dukun lain. Saat itu pokoknya demi kesembuhan, akan saya lakukan. Namun, yang saya dapat justru capek. Bahkan setiap kali habis pergi ke paranormal pasti meriang hingga tiga hari. 

Dan tak jarang sekujur tubuh paranormal itu justru esok harinya berubah bintik-bintik cacar merah dan akhirnya menolak setiap kali saya ingin balik kepadanya.

Saya pernah juga diantar Ibu untuk bertemu dengan paranormal terkenal di daerah Jakarta Selatan. Bahkan saking terkenalnya, ia memasang tarif dari tingkat dasar seharga Rp 250.000 hingga tingkat ekslusif Rp. 4 juta. 

Setelah ngantri lama dan nunggu sebulan, akhirnya saya bisa bertatap muka dengannya, itu pun pukul setengah dua malam. Pada awal bertemu, dia langsung berkata : "Apa nggak sayang dibuang ilmunya? Banyak lho, orang yang ingin seperti mbak Novi." [Bersambung]

Previous
« Prev Post

Related Posts

March 01, 2020

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran