Seorang Dukun Kesohor Memaksaku Mewarisi 'Ilmu' Tingkat Tingginya.

Posted by rumah ruqyah on 2019-12-28



Seorang Dukun Kesohor Memaksaku Mewarisi 'Ilmu' Tingkat Tingginya.

  Nama saya Novi Amanti. Setelah keluar dari SMA 3 Jakarta, pada tahun 1981, saya melanjutkan kuliah jurusan Antropologi Universitas Indonesia.

 Sebagaimana Mahasiswa Antropologi, saya sangat getol mempelajari dan meneliti budaya dan ekologi masyarakat.

  Hingga menjelang akhir perkuliahan (April 1986), saya harus mengadakan penelitian Skripsi di Kampung Laut, Segara Anakan, Nusa Kambangan, Jawa Tengah.

  Kondisi masyarakat Segara Anakan pada umumnya sangat baik, apalagi dengan pendatang. Mereka sering menyebut saya orang darat. Tapi ada satu keunikan dari kebiasaan hidup sehari-hari masyarakatnya.

  Mereka sangat mengandalkan kondisi alam dan ramalan para Pinisepuh (orang tua yang dianggap pintar). Bahkan, sistem pengobatan yang digunakan masih tradisional berupa ramuan. Apalagi kalau muncul berbagai penyakit aneh yang sering menimpa warganya.

  Inilah yang akhirnya menjadikan pilihan obyek penelitian saya selanjutnya. Dimana ada gabungan antara ekologi, budaya, dan kesehatan. Apalagi saya konsen pada Antropologi kesehatan.

  Nah, pada waktu saya sedang memilih responden dan wawancara beberapa penduduk. Kebetulan sekali bertemu dengan keluarga yang mempunyai penyakit aneh.

  Orang tua si sakit mulanya membawa berobat dari mulai dokter Cilacap hingga ke Rumah Sakit Pertamina. Namun anehnya, penyakit sang anak ini nggak sembuh-sembuh. Bahkan dokter pun tak bisa menentukan jenis penyakit yang dideritanya.

  Tapi begitu dibawa ke Pinisepuh Samin (bukan nama sebenarnya), sang anak tiba-tiba langsung sembuh begitu saja. Melihat hal semacam itu, saya jadi penasaran, obat apa sebenarnya yang dikasih Pinisepuh itu.

  Maka, tiap hari saya datang ke rumah si sakit dan mencatat satu persatu berbagai obat dan ramuan yang telah diberikan. Saya catat secara detil, jenis racikan, ramuan yang digunakan dan takaran minumannya.

  Anehnya, ramuan-ramuan itu harus diminum pada tempat dan waktu tertentu. Bahkan sebelum meminum pun harus membaca berbagai bacaan mantra. Belum lagi ada berbagai syarat-syarat sebelum proses penyembuhan harus dipenuhi.

  Melihat keganjilan itu, saya semakin penasaran. Maka sebagai seorang peneliti yang baik, tentu saya harus menyelidiki kepada bapak Pinisepuh itu sebagai sumber utama. Saya pun berangkat menuju Kasepuhan.

  Begitu penduduk mengetahui niat saya itu, pada mulanya mereka menyarankan untuk mengurungkannya. Karena di samping sangat sulit untuk menemui Pinisepuh itu. Banyak penduduk yang telah lama ngenger di Kasepuhan saja, jarang bertemu.

Pinisepuh Samin ini hanya mau keluar jika ada pasien yang benar-benar membutuhkan.

 Memang Pinisepuh Samin merupakan dukun yang punya tingkatan tertinggi dari Pinisepuh-pinisepuh yang tersebar di Segara Anakan itu.

 Apalagi kalau ingin mencoba meminta penjelasan mantra dan berbagai pernik penyembuhan. Dapat dipastikan sulit. Bahkan Pinisepuh Samin selalu menolak, setiap ada yang meminta dirinya diangkat sebagai murid.

  Namun, entah bagaimana, saat saya datang menuju Kasepuhan, terasa sangat gampang, bahkan dia menyambut sangat antusias.

  Padahal sebelumnya saya nggak pernah ke sana. Dan yang tak di duga, Pinisepuh Samin memberikan begitu saja seluruh mantra dan segala ramuan berikut cara pembuatannya untuk berbagai jenis penyakit.

  Bahkan ramuan dan mantra yang tertulis di lontar dengan bahasa kawi dan berhuruf jawa kuno itu pun, diterjemahkan kepada saya dalam bentuk bahasa Indonesia.

  Selain itu, Pinisepuh Samin sempat menunjukkan kaca paesan (kaca benggala) yang merupakan alat untuk menerawang (melihat jarak jauh). Saya juga sempat melihat-melihat bahkan sempat dikasih unjuk tentang cara penggunaannya.

  Pinisepuh Samin pun bercerita detil bagaimana proses pencarian berbagai ilmu dan segala jimat yang kini ada padanya Mendapat begitu banyak dan detail data-data itu tentu saya senang luar biasa. Maka, begitu pulang dari Kasepuhan, dengan semangat, semua data itu segera saya ketik.

  Hingga dua hari kemudian, ketika tengah asyik mengetik, tiba-tiba Bapak pondokan lari tergopoh-gopoh sambil berteriak.

"Mbak kutukan-kutukan."

Ternyata saya disuruh membereskan semua baju saya.

 Kenapa? Saya bilang.

 Pokoknya Mbak Novi harus pergi sekarang juga, katanya sambil gugup sehingga ia gagu tak bisa menjelaskan pada saya. [Bersambung]


RRIAds - Sabun Bidara Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


Previous
« Prev Post

Related Posts

December 28, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran