Do'a Mencegah Musibah

Posted by rumah ruqyah on 2019-12-10



Doa Yang Wajib Dibaca Bagi Orang Tua, Terapis, Guru Hingga Konselor

By M. Nadhif Khalyani

  Pagi ini, 30 November 2019, dalam Daurah, Syaikh Abul Barra’ mengawali tema Thibbun Nabawi dengan membahas tentang musibah.

  Beliau mengingatkan salah satu doa untuk mencegah datangnya musibah. Mungkin sebagian kita pernah menemukan hadits tersebut.

  Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda,

مَنْ رَأَى صَاحِبَ بَلاَءٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً إِلاَّ عُوفِىَ مِنْ ذَلِكَ الْبَلاَءِ كَائِنًا مَا كَانَ مَا عَاشَ

  “Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan, 'Alhamdulillahilladzi ‘aafaani mimmab talaaka bihi, wa faddhalanii ‘ala katsiirim mimman khalaqa tafdhilaa’

  "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya."

  Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.”

(HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini dha’if dan penguatnya, syawahidnya juga dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  Syaikh Muhammad ‘Abdurrahman Al-Mubarakfuri berkata bahwa maksud dari melihat yang lain yang tertimpa musibah, yaitu musibah yang menimpa badan seperti lepra, buta, pincang, tangan bengkok, dan semacamnya. Juga yang dimaksud adalah musibah yang menimpa agama seseorang, seperti kefasikan, kezaliman, terjerumus dalam bid’ah, kekufuran dan selainnya.

  Diterangkan pula di halaman selanjutnya dalam kitab yang sama, doa tadi diucapkan lirih di hadapan orang yang tertimpa musibah dunia (seperti tertimpa penyakit), termasuk juga yang tertimpa musibah agama apalagi kalau ada dampak negatif jika diucapkan di hadapannya.

   Namun bisa jadi doa tadi dikeraskan di hadapan orang yang tertimpa musibah agama (orang fasik, misalnya, pen.) agar melarang dari maksiat yang dilakukan sehingga ia bisa tercegah (sadar). (Tuhfatul Ahwadzi 9: 375)

   Setiap terapis, hampir setiap hari melihat dan berhadapan dengan orang yang sedang sakit. Setiap Guru, setiap hari melihat dan berhadapan dengan problem anak anak, kerusakan akhlaq, anak sulit diajak sholat, dll.

  Ada pula konselor. Setiap hari klien datang dengan segudang masalah hidup, konselor melihat, berpikir dan harus terlibat secara khusus untuk memecahkan masalah klien. Betapa sangat beresikonya hidup orang-orang yang profesinya seperti ini, karena setiap hari ia berhadapan dengan problem dan musibah yang dialami orang lain.

   Jika kita renungkan, apakah ‘kelalaian’ terhadap doa ini yang menjadi sebab semua masalah dalam keluarga kita?

   Nabi menjelaskan bahwa Doa diatas bermanfaat mencegah keburukan keburukan yang bisa terjadi di kemudian hari.

“Maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.”

  Maka doa yang diajarkan Nabi tersebut, menjadi sangat penting bagi setiap Muslim dan setiap profesi yang sering berinteraksi dengan problem orang lain.

Semoga Syaikh Abul Barra mengingatkan hadits ini kembali nanti di Daurah Ruqyah Nusantara 3 (DN3).

Previous
« Prev Post

Related Posts

December 10, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran