Bastian Anak Berani

Posted by rumah ruqyah on 2019-12-01



BASTIAN ANAK BERANI (Indigo & Hiperaktifnya Berakhir)

Oleh ; Kang Shin Wan

  Siapa yang tidak sedih, melihat anak tidak bisa duduk manis dalam kelas. Selalu bikin onar. Mengganggu teman-temannya belajar. Ada saja yang dikerjakan. Entah disadari atau tidak. Pernah juga suatu saat memasuki halaman sekolah, tangannya mendekap tiang bendera. Tidak mau dilepas hingga pulang sekolah.

  Di belakang sekolah pun tidak pernah berani. Apalagi ke kamar mandi, selalu ada rasa takut yang berlebihan. Pulang sekolah, seperti tidak punya rasa capek. Berlarian gak jelas tujuannya. Apalagi di rumah diputarkan televisi, ketakutan yang gak jelas. Diajak ngaji susah. Diajak belajar susah. Dianakemaskan susah. Keinginam kuat. Setiap keinginan harus terlaksana. Kalau tidak, mengamuk gak karuan seperti bukan seorang Bastian.

  Bermacam-macam pengobatan sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya maupun para guru. Dan yang sangat menyakitkan hati orang tua, ketika masuk rumah sakit dikumpulkan dengan mereka yang sedang sakit jiwa.

  "Anakku ini normal, jiwanya sehat. Kenapa harus disini?", berontak Mama Bastian ketika anaknya harus bermalam di rumah sakit.

  Pernah juga dibawa kepada seorang Ustadzah, yang sering membantu masyarakat yang sedang mengalami gangguan seperti kesurupan.

  Seperti sudah jenuh harus dibawa kemana lagi agar anak semata wayang ini dapat sehat seperti anak sholeh lain. Dan masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang dialami. Baru kelas 2 MI. Padahal ketika duduk di kelas 1 tidak pernah mengalami seperti ini.

  "Mama Bastian, saya punya teman satu group Jam'iyyatul Qurro" Ngawi, sering mengadakan acara Ruqyah Massal. Tidak salah kalau dicoba dengan Ruqyah buat Bastian", usul Pak Guru Dhofer yang pinter Qiroah, ahli Fotografi dan juga mengajar di sekolah Bastian.

"Bismillah, akan saya coba hubungi. Tolong kirimi CP", pinta Mama Bastian.

Tak lama 0813***9782 tersambung.

"Assalamualaikum..."

"Alaikumussalam.....apa betul ini Kang Wawan?"

"Ya, betul."

"Saya mama Bastian", berceritalah mengapa mesti telpon seperti yang sudah tertulis di atas.

"Oo, muridnya Mas Dhofer, to", komentar Kang Wawan.

"Betul Kang, bagaimana solusi buat Bastian?", tanya Mama Bastian.

"Bapaknya Bastian ada."

"Ada, tapi masih di Surabaya. Kerja."

"Kapan pulang?", tanya Kang Wawan.

"Besok Sabtu, Mase biar pulang ke Beran."

"Baiklah, insyaAllah Ahad saya usahakan bisa ketemu. Tolong serlok", rencana Kang Wawan.

Serlok? Sejak kapan kata ini menjadi bahasa Indonesia? Entahlah, yang penting Serlok itu minta denah atau peta lokasi.

Wawuuuw, dari Ngraho ke arah Barat sampai menyeberangi Bengawan Solo? Menden? Masih terus ke utara sampai ketemu rel kereta? Disitu ada desa Beran?", gumam Kang Wawan. Ternyata Desa Beran bukan hanya di Ngawi kota saja, masih ada Beran di wilayah Blora Jawa Tengah.

  Ahad pagi yang sudah disepakati, Kang Wawan telusuri jalan menuju Ngawi kota. Perempatan Kartonyono terlewati hingga perempatan Karangsari, belok kiri ke arah Cepu atau Bojonegoro. Tak lama sebelah kiri jalan nampak kubah masjid Pondok Pesantren Modern Alhijrah Putra dan sebelah kanan jalan nampak pintu gerbang Pondok Pesantren Modern Alhijrah Putri. 500m ketemu perempatan Pasar Ngawi Purba, hingga ke arah kanan sepanjang jalan menurun adalah pagar Universitas Suryo. Hingga 20 km dari Ngawi, ketemulah Kecamatan Ngraho.

  Masih mengikuti Map di Hape, tepat di samping Kantor Urusan Agama Kecamatan Ngraho Kang Wawan ambil arah ke kiri atau arah Barat hingga 10 km ketemu penyeberangan Bengawan Solo. Terasa asyik menikmati suasana yang tidak biasa tiap hari dialami. Naik "Gethek", alat penyeberangan sungai. Meskipun hanya 2000 rupiah, ini juga pengalaman yang tak mungkin mudah dilupakan dan akan menjadi cerita buat anak cucu.

  Usai menyeberang dengan "Gethek", masih lanjut ke arah Barat sekitar 7 km, ketemu Desa Menden. Tepat simpang 3. Pertigaan jalan. Konon kalau mau ambil arah kiri bisa sampai ke Selopuro-Pitu-Ngawi. Desa Menden ini juga Kota Kecamatan. Sementara ke arah kanan sekitar 5km, ketemu rel kereta Cepu-Semarang dan inilah desa Beran. Disitulah Kang Wawan buka Hape lembali, dan ternyata benar. Tidak jauh dari rel kereta, "Anda telah sampai tujuan". Kata seorang wanita di Hape Android Kang Wawan.

"Berapa lama perjalanan dari rumah kesini, Kang?", tanya Mama Bastian didampingi suaminya, menyambut kedatangan Kang Wawan.

"Jangan ditanya berapa lama perjalanan. Kalau sudah niat silaturrahim, sejauh apapun akan terasa dekat", sambut Kang Wawan menjawab sambutan kedatangan oleh kedua orang tua Bastian.

Setelah beberapa menit bercengkrama untuk saling mengenal dan akrab diri, Kang Wawan memulai masuk poin utama.

"Mama Bastian, coba diingat kembali, adakah kesalahan yang pernah Bapak atau Ibu lakukan terhadap ananda Bastian?", tanya Kang Wawan memulai fokus pada tujuan agenda pagi itu.

"Saya kok kurang begitu paham, dosa yang mana, ya...", jawab Mama Bastian.

Kang Wawan bertanya tentang banyak hal dalam rangka diagnosa buat Bastian. Tentang senjata maupun benda-benda peninggalan nenek moyang yang pernah ditirakati atau diisi. Tentang ilmu kebal, ilmu penglaris dengan bantuan bangsa jin, dan lain-lain.

Di tengah akrabnya ngobrol, datang 2 orang guru Bastian yang ingin melihat langsung terapi ruqyah. Kang Wawan sudah akrab dengan salah satunya, tapi belum kenal dengan guru yang satu lagi. Namun mereka lebih banyak diam, hanya penasaran berapa dahsyatnya ketika jin yang mengganggu bisa keluar dari tubuh Bastian.

Setelah ngobrol sejenak dengan para guru tersebut, Kang Wawan tiba-tiba bertanya yang agak sedikit nyeleneh.

"Mama Bastian berapa lama kasih ASI buat nak Bastian?"

"Hanya 3 bulan, Kang."

"Kenapa hanya 3 bulan? Bukankah hak anak menyusu pada ibunya selama 2 tahun, dan ini yang diajarkan Alquran..."

"Saya kerja di pabrik, Kang. Bastian saya titipkan simbahnya di rumah sini", jawab Mama Bastian lugu tanpa merasa bersalah.

"Kalau begitu Mama bekerja untuk menyambut rejeki lebih utama dan lebih penting daripada memberikan hak anak dari ibundanya sendiri", Kang Wawan memperjelas perkara yang sedang dihadapi keluarga Bastian. Menyadarkan orang tua Bastian tentang kesalahan yang selama ini tidak dianggap salah.

"Tolong siapkan air dalam botol, saya akan membimbing untuk membaca doa ", permintaan Kang Wawan.

Air dalam botol telah disiapkan sejak pagi oleh kedua orang tua Bastian dengan botol terbuka dan botol menempel dibibir mereka.

"Kalian berdua yakin bahwa sakit itu ada obatnya?"

"Yakin."

"Kalian yakin bahwa Allah itu Maha Penyembuh?"

"Yakin."

"Kalian yakin bahwa Alquran adalah Syifaa" wa Rohmah?"

"Yakin."

"Mari kita mulai dengan Istighfar, mengingat kesalahan yang selama ini tidak dianggap itu kesalahan. Namun menginjak istighfar, Mama Bastian menangis dengan tangisan yang tak terbendung. Kemudian dilanjutkan dengan permohonan kepada Allah.

"Ya Allah, kalaulah kami pernah membangun kerjasama dengan syetan dari jenis jin, yang kami lakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja. Ataupun yang pernah dilakukan orang tua kami, nenek moyang kami, leluruh kami, guru-guru kami, kerabat kami, keluarga kami, yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja, kami mohon....PUTUSKANLAH (3X), ya Allah. Kami hanya berpasrah diri kepada-Mu. Ya Allah, jika di dalam tubuh ananda Bastian ada gangguan syetan dari jenis jin, maupun penyakit, hamba mohon kepada-MU, yaa Allah, dengan perantaraan dzikir, istighfar, membaca Alfatihah dan ayat Kursi, jadikanlah air ini sebagai obat yang paling manjur manfaatnya atas ijin dan ridho-Mu, ya Allah", Kang Wawan menuntun doa, kemudian meniupkan 3x pada air minum.

Tanpa kesurupan.
Tanpa perang dan muntah.
Tanpa teriakan histeris. Tanpa keringat.
Biasa saja.

Selesai sudah doa terbacakan, datanglah Bastian tanpa diundang. Bagaikan besi tersedot magnit. Bahkan datang minta air minum. Diberikannya air ruqyah.

Proses selesai dan Kang Wawan pulang.

Keesokan hari, sekitar Isya, Kang Wawan telpon. "Bagaimana perkembangan Ananda Bastian?", tanya Kang Wawan.

"Alhamdulillah Kang, Bastian sudah bisa duduk manis di kelas. Tidak usil lagi. Pulang sekolah sudah mau makan sendiri. Bahkan sore tadi sudah di depan televisi. Maghrib tadi juga mau mengaji."

"Alhamdulillah."

"Maaf Kang, kemarin mau tanya tapi saya lupa", kata Mama Bastian.

"Tentang apa?", Kang Wawan penasaran. Dia pindahkan Hape dari tangan kanan ke tangan kiri, menandakan serius ingin mendengar apa yang akan ditanyakan.

"Sebelum Kang Wawan kesini meruqyah Nak Bastian, saya pernah membawanya ke Bu Ustadzah."

"Ada apa dengan Bu Ustadzah?"

"Ketika sampai di rumah Bu Ustadzah, beliau bilang -Lo, ini Gendruwo kok disana kesini?- Ini maksudnya apa, ya."

"Oooo itu ta, itu artinya bahwa Bu Ustadzah bisa melihat Jin yang mengikuti Bastian, dan Bastian sendiri juga bisa melihat Jin yang mengikuti Bu Ustadzah."

"Wah, berarti sama....."

"Ya, sama. Bu Ustadzah sudah berkeluarga atau masih sendiri?", tanya Kang Wawan.

"Sudah punya anak 3", Mama Bastian menjawab.

"Bilang saja, kalau mau sembuh dari Indigo, saya siap membantunya. Kasihan anak turunnya, jika tidak segera disadari bahwa itu penyakit."

Hikmah dari kisah 

1. Ruqyah tidak mesti kesurupan.
2. Anak bermasalah, lebih sering orang tua sebenarnya yang bermasalah.
3. Indigo lebih sering terjadi karena keturunan. Jin nasab.
4. Saran, agar menghindari berobat (meskipun ruqyah) kepada terapis yang masih mengandalkan bantuan makhluk lain.
5. Saat peruqyah diperlukan masyarakat, tidak ada kata *tidak siap.*

TERANG, 31-11-2019
TEam RuqyAh NGawi


RRIAds - Air Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 

Previous
« Prev Post

Related Posts

December 01, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran