Renungan Kematian

Posted by rumah ruqyah on 2019-11-04


RENUNGAN KEMATIAN

  Saya pernah menunggui seorang pasien yang sakaratul maut. Sudah 1 pekan ia masuk ICU tidak sadarkan diri, namun tak kunjung ada perubahan bahkan pasien cenderung semakin gelisah, kadang dalam keadaan tidak sadar ia berteriak-teriak tidak karu-karuan. Terkadang ia meneteskan air mata, dan tiba-tiba ia seperti kesakitan yang luar biasa.

  Sore itu saat dinas di RS, saya dipanggil untuk menunggui pasien tersebut, tanda-tanda vital kehidupannya sudah menurun. Keluarga sudah pasrah, dan berharap diberikan jalan yang terbaik untuk ayahanda mereka. Beberapa kali ayahanda mereka masih berteriak-teriak.

  "Bapak dulu pernah bertugas di Aceh dok. Ada satu peristiwa yang tidak bisa bapak lupakan. Saat itu selepas waktu Ashr, ada gerakan di balik semak-semak dekat perbatasan. Bapak langsung berteriak, "Siapa di situ! Berhenti atau saya tembak!" Rupanya gerakan di semak-semak itu tidak berhenti, lalu bapak memberi peringatan kedua, dan tanpa pikir panjang bapak segera menembak semak-semak itu."

  Terdengar lengkingan suara yang lemah, dan ketika bapak periksa ternyata sosok yang ia tembak adalah sosok anak kecil yang sedang bermain kelereng. Dadanya berlubang dan ia sudah tewas saat itu. 

  Semenjak saat itu bapak selalu dibayang-bayangi wajah anak itu, juga bayangan dosa yang telah ia lakukan. Kami sekeluarga sudah menduga bahwa proses sakaratul maut bapak pasti akan panjang, karena kami yakin amalan manusia itu pasti akan diperlihatkan sesaat menjelang kematiannya..."

***

  Kasus-kasus serupa kejadian di atas sudah beberapa kali terjadi di rumah sakit. Ada juga yang meninggal dalam keadaan muka gosong menghitam, padahal ia rajin shalat, puasa dan mohon maaf berpredikat "Kyai". Proses kematiannya pun sangat menyakitkan. 

  Setelah ditelusuri, almarhum pernah mengambil alih tanah wakaf milik yayasan menjadi tanah pribadi. Namun tidak jarang saya menjumpai kamar pasien yang telah meninggal mendadak berbau wangi seperti wangi bunga. Pasien tersebut rupanya seorang Takmir masjid yang senantiasa melayani umat untuk berjamaah.

Dan masih banyak lagi yang lain berkaitan dengan proses kematian.

  Yang penting kita pahami di sini adalah, bahwasanya perbuatan kita, sekecil apa pun itu, apalagi jika berkaitan dengan haqqul Adami, pasti akan dimintai pertanggungjawaban dengan adil oleh Allah Azza wa Jalla. Kita tidak mungkin mengelak dari semua perilaku kita, terkadang kita bakal diperlihatkan posisi kita kelak, apakah di neraka atau di surga bahkan sebelum ajal datang menjemput.

  Bayangkan jika membunuh satu jiwa saja kata Rasul ibarat membunuh seluruh manusia, pelakunya pun sudah sedemikian rupa siksanya menjelang sakaratul maut. Apalagi jika ia membunuh dan berbuat dholim sampai puluhan bahkan ratusan korbannya.

  Kadang ada yang berdalih, "Gimana lagi ini perintah atasan untuk tembak di tempat..." Ketahuilah, bahwa setiap diri kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita kerjakan semasa di dunia. Ingat apa kata Iblis ketika di akhirat banyak pengikutnya yang meminta iblis bertanggung jawab karena telah menjerumuskan mereka? 

  Iblis berkata, "Aku berlepas diri dari pertanggungjawaban atas perbuatanmu. -bahasa kekiniannya, "Ya salahmu sendiri, mengapa mengikuti perintah ku-"

Nauzubillahi min dzalik tsuma nauzubillah...

  "Ya Allah ya Rabbi, hindarkan lah kami dari kerusakan yang kan menjerumuskan kami ke liang neraka-Mu, dan lindungilah kami dari orang-orang yang dhalim lagi aniaya. Ya Allah, selamatkanlah duniawi kami juga akhirat kami. Hanya kepada-Mu lah ya Allah, kami menyerahkan diri kami, maka wafatkanlah kami bersama orang-orang yang shaleh. Ya Allah, kabulkanlah doa kami."

Wallahu a'lam bish showab

Komunitas Bisa Menulis

Monte Selvanus

Previous
« Prev Post

Related Posts

November 04, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran