Praktik Perdukunan, dari Mistik sampai Intrik [Bag.2]

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-26




Praktik Perdukunan yang Sarat lntrik [Bag.2]

Artikel sebelumnya...


  Ternyata tidak semua seperti itu. Apalagi dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan zaman. Semua cara bisa dimodifikasi atau direkayasa dan disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah Majalah Ghoib berinteraksi dengan sebagian dukun untuk menguak kedoknya, atau wawancara dengan mereka yang sudah bertaubat. 

  Ternyata gambaran praktik perdukunan yang tersebut di atas, tidak semua benar. Artinya mereka tidak selalu lengket dengan mistik atau berbau klenik. 

  Banyak di antara mereka dalam praktiknya penuh dengan rekayasa, penuh intrik (persekongkolan rahasia) dan dusta. Mereka hanya bondo nekat (bonek). Pandai bersilat lidah dan bermain kata-kata. Mereka lincah dalam membuat intrik dan tipu daya atau rekayasa.


  Seperti yang telah diceritakan Andre dalam salah satu kesaksian yang kita muat dalam edisi ini. Dukun bermodal intrik, bukan mistik. 

  Anak kecil dengan mata tertutup rapat bisa menebak warna baju orang yang di depannya. Orang yang diikat kuat, dimasukkan karung, dimasukkan peti dan digembok rapat, lalu bisa keluar dari belenggu-belenggu itu dengan cepat. Ternyata semua itu bukan mistik, tapi hanya intrik ada rumus tertentu yang bisa dipelajari siapa pun.



  Keris bisa bersinar saat dipegang, baju disentuh bisa terbakar, dibacok golok atau senjata tajam tidak terluka, tangannya memegang dada orang lain, bisa keluar cahayanya. 

 ltu hanyalah atraksi-atraksi, yang selama ini dikonotasikan sebagai hal yang spektakuler, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang ilmu supranaturalnya tinggi, ahli linuwih, punya koneksi langsung dengan lelembut, dan tidak sembarang orang bisa melakukannya. 

  Walhasil, ternyata itu semua rekayasa dan jauh dari mistik, dan setiap orang bisa mempelajari, walau tanpa ritual aneh dan nyeleneh.



  Begitu juga yang diceritakan oleh Ipon. Walaupun pada awalnya, ia berusaha untuk mempelajari ilmu yang bernuansa mistik, toh akhirnya dia tertambat praktik perdukunan yang sarat intrik. 

  Dengan trik khusus ia bisa menciptakan energi listrik yang bisa mengalir di tubuhnya, atau di tubuh orang lain yang ia pegang. Dengan intrik itu ia telah mengelabuhi pasien-pasiennya. la juga telah meng-KO dukun lainnya. Bahkan dengan intrik yang sama ia berhasil memperdaya dukun yang dulu pernah menjadi gurunya.



  Apa yang dilakukan Andre dan lpon dengan praktik perdukunan yang sarat intrik dan rekayasa, memang tidak menyeretnya kepada kesyirikan. Karena teknik praktiknya hanya rekayasa. 

  Hanya saja keduanya telah melakukan kebohongan. Dan kebohongan itu sendiri juga termasuk dosa besar. Banyak orang yang terpeleset akidahnya, lebih mempercayai kemampuannya dan percaya penuh bahwa energi yang dimilikinya itu yang telah menyembuhkan penyakit yang diderita pasien.



  Alhamdulillah, hidayah Allah masuk ke hatinya, sehingga ia masih punya kesempatan untuk bertaubat. Keduanya pun menyesal, dan minta maaf kepada orang-orang yang pernah dikelabuinya. 

  Sungguh merupakan keputusan yang berat, saat popularitas mencuat dan kehidupan ekonomi yang mulai terangkat. Lalu keduanya harus meninggalkan itu semua. 

  Keduanya memilih kemuliaan yang sejati, bukan kemuliaan yang semu. Kemuliaan sejati itu hanya bisa diperoleh dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (Lihat QS. al-Hujurat: 13). 

  Semoga langkah keduanya diikuti yang lainnya, yang masih rajin mengelabuhi orang lain dengan trik dan intrik. Dan orang-orang yang pernah dikelabuhinya pun mau memaafkan kekhilafannya.



  Tipe dukun penipu atau hanya mengaku-ngaku dengan berbagai macam rekayasa biasa, tidak punya kekuatan mistik, yang dipraktikkan sarat dengan intrik. Begitulah pernyataan Gus Wachid. 

  Dia sudah banyak survei dan membuktikan sendiri bahwa dalam kenyataannya, banyak dukun yang buka praktik hanya bermodal intrik. “Mereka itu tukang gedabrus (membual) dan goroh (dusta). Saya sudah sering mendatangi praktik dukun yang terkenal sakti di wilayah Jawa Timur, tapi ternyata mereka tidak ada apa-apanya”, tegas Gus Wachid kepada Majalah Ghoib.



  Pada zaman dahulu, ada juga orang yang tidak bisa ilmu perdukunan lalu berpraktik dukun. la hanya menggunakan intrik sebagaimana kebanyakan dukun-dukun sekarang. 

  Cerita itu tertulis dalam rentetan hadits yang telah dibukukan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya.

   Aisyah berkata, “Abu Bakar mempunyai seorang pembantu. Kalau ia datang dan membawa makanan untuknya, Abu Bakar ikut memakannya. Pada suatu hari ia membawa makanan, Abu Bakar pun memakannya. 

  Kemudian pembantu itu bertanya, ‘Apakah kamu tahu, makanan apakah itu?’ Abu Bakar balik bertanya, ‘Memangnya makanan apa?’ Saya tadi melakukan praktik perdukunan pada seseorang seperti pada zaman Jahiliyyah, padahal sebenarnya saya bukanlah seorang dukun. 

  Hanya saja saya melakukan intrik (membohonginya). Lalu orang tersebut menghampiriku dan memberiku makanan tadi, untuk menghalangi dan makanan yang sebagiannya menggagalkannya. 

  Kasus yang telah kamu makan. Serta-merta Abu Bakar memasukkan jari tangannya ke (mulutnya), dan memuntahkan semua isi perutnya.” (HR. Bukhari, hadits nomor 3554).



 Kalau praktik mereka hanya intrik. Lalu darimana datangnya kesembuhan pasien-pasiennya? 

  Inilah sebagai bukti nyata, bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, bukan dari ruang dan bilik praktik para dukun. Mereka hanya berusaha, baik dengan praktik yang bau mistik atau hanya intrik.



  Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin. Tidak melanggar syari’at. Dengan begitu, apabila dengan usaha itu sakit kita sembuh, maka kita akan mendapatkan dua kebahagiaan. 

  Kebahagiaan sembuh dan kebahagiaan karena usaha kita berpahala. Dan kalau belum sembuh, Allah akan mengganti rasa sakit kita dengan dileburnya dosa-dosa kita dan dilipat gandakan pahala kita, karena kita sabar dalam menghadapi musibah yang diberikan-Nya.



  Syetan tidak akan melepaskan buruannya begitu saja. Ya, syetan tidak akan melepas orang-orang yang pernah bekerjasama atau terjerumus dalam perangkapnya begitu saja. 

  Banyak pasien yang bercerita ke Majalah Ghoib seputar hambatan-hambatannya saat mau menjalankan terapi ruqyah syar’iyyah. Syetan berusaha untuk menghalangi dan menggagalkannya. 

 Kasus yang dialami ibu Mona misalnya. Sebetulnya ia sudah hampir setahun lamanya ia telah mengenal ruqyah dari Majalah Ghoib, tapi selalu ada rintangan menghalanginya untuk berangkat dan menjalani terapi. 

  Dan tembok penghalang  taubat juga dibangun oleh kakeknya, karena dialah yang diproyeksikan untuk mewarisi ‘ilmu’ atau jinnya.



 Rintangan sejenis juga dihadapi Mas Tito. Keluarga besarnya melarangnya untuk membuang ilmu mistik yang telah diwarisinya, mereka tidak ingin jin yang ada di tubuhnya diusir dengan ruqyah syar’iyyah. 

  Dan sampai ketika ia menuturkan ceritanya pun, jin jahat itu sering hadir dalam mimpinya untuk mengajaknya kembali ke dunia semula. Semoga Allah memberinya kekuatan untuk terus berada di jalan-Nya.



  Gangguan saat menuju pertaubatan juga di alami Ipon. Saat ia mau berangkat ke Jakarta untuk diruqyah di kantor Majalah Ghoib, ada bisikan-bisikan ghaib yang berusaha menggagalkannya. 

  Ia ditakut-takuti syetan, bahwa murid dan pasiennya akan marah-marah. Tapi ia berhasil memenangkan pertarungan iman itu, Alhamdulillah.



  Yang lebih mistik lagi adalah bujukan syetan yang dialami KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Saat ia mau meninggalkan praktik perdukunannya, jin jahat datang dan memberinya hadiah beberapa keping lempengan emas. 

  Tidak hanya itu, ia juga disuap dengan cek yang nilainya US $ 1.000.000. Sungguh menggiurkan. Tapi itu hanya tipu daya jin saja. Dan cek itupun tidak bisa dicairkan.



  Keimanan dan tawakkal kepada Allah harus terus ditumbuhkan, agar kita tidak gamang dalam menapaki jalan yang benar, dan tidak silau oleh bujuk rayu syetan. Raja syetan (lblis) telah bersumpah di hadapan Allah, “Ya Tuhanku, karena Engkau telah menghukum saya sesat. Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”(QS. Al-A’rat: 16).



  Faktor utama yang sering dijadikan syetan untuk menghalang-halangi para pelaku praktik berdukunan dari taubat adalah ekonomi atau materi. Syetan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan kefakiran, apabila mereka menutup praktik perdukunan atau meninggalkannya. 

  Seperti yang dialami Ipon dan Mona. Al-Qur’an mengingatkan kita,”Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan. Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268.


Disarikan dari Majalah GHOIB

Previous
« Prev Post

Related Posts

October 26, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran