11 Tahun Usai Pertanyaan "“Yang Jadi Istrimu Nanti Harus Perempuan ya, Zal?" [Bag.3] Selesai

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-24



Kisah sebelumnya...

Fahmi kemudian berkisah tentang dirinya. Entah bagaimana ceritanya, kelainan itu ada sejak ia masih duduk di kelas 2 SD. Ketika melihat ibunya berganti pakaian dan mengenakan –maaf- bra, ada rasa dalam dirinya ingin memakai juga.

  Waktu ibunya pergi ke pasar, diam-diam ia masuk ke kamar ibunya, mengambil bra dalam lemari, lantas membawanya ke kamar sendiri. Di dalam kamar ia memakai bra tersebut sembari berkaca. Kurang puas, ia masuk lagi ke kamar ibunya mengambil lipstick. Dioleskan lipstick tersebut di bibir, berkaca lagi. Kemudian ia berjalan lenggak-lenggok macam model perempuan di tivi.

  Fahmi juga bercerita, dari kecil ia memang lebih suka main bersama anak cewek. Main masak-masakan, dandan-dandanan, gendong bayi dari boneka, dll. Ia merasa lebih nyaman kumpul dengan cewek. Dia senang jadi cewek. Hal itu membuat dia dibully di sekolah. Disebut banci serta bencong.

  Dan yang paling membekas dalam hidupnya adalah ketika dia kelas 4 SD, seorang remaja lelaki SMP tak tau untung mengajaknya ke semak-semak dekat rumah. Lalu terjadilah peristiwa tersebut. Itulah pertama kali ia mendapatkan pelecehan seksual.

  Perilaku Fahmi yang tak seperti anak laki-laki lain, membuat orang tuanya curiga. Pada suatu hari, kecurigaan itu pun menjelma nyata tatkala pada suatu siang, mereka mendapati Fahmi berdandan layaknya ibu-ibu. Ia memakai bra, daster, lipstick dan jepit rambut. Orang tua Fahmi sangat sabar. Ia tidak dimarahi hanya dinasehati kalau laki-laki tidak boleh berpakaian seperti itu.

  Setelah lulus SD, Fahmi langsung didaftarkan ke pondok pesantren. Fahmi yakin, tujuan orang tua mendaftarkannya ke pesantren, agar ia bisa berubah, mendapat bekal agama yang baik.

  Tapi perilaku Fahmi selama di pesantren tidak berubah. Malah, di sana ‘keanehan’ dia mendapat apresiasi dari teman-teman sekamar. Fahmi seperti botol yang ketemu tutup. Dulu, ia sembunyi-sembunyi ketika ingin berdandan ala perempuan. 

  Sekarang teman-temannya malah yang memfasilitasi. Entah dari mana, teman-teman sekamar Fahmi memberinya daster dan lipstick, jika waktu istirahat tiba, Fahmi disuruh memakai semua perabotan cewek itu. Teman-temannya tertawa, Fahmi pun senang.

  “Percaya atau tidak,” begitu ucap Fahmi, “Di pondok aku juga pernah mengalami pelecehan. Sama seperti yang aku alami saat SD. Yang ngelakuin ya kakak kelasku.”

  Kami menutup mulut. Benar-benar tak menyangka. Bahkan di lingkungan pesantren pun ada oknum santri yang seperti itu.

  Seusai menuntaskan sekolah Aliyah, Fahmi memutuskan kuliah. Kuliah tempat dia saat ini.

“Selama kuliah kamu suka cowok di kelas ndak, Mi?” Rani kembali bertanya. Semangat betul dia mengorek sisi pribadi Fahmi.

Yang ditanya mengangguk.

“Siapa?”

“Rizal.”

Bibir langsung mengucap istighfar saat namaku disebut.

“Mi,” aku segera menanggapi, “Eh, maaf, apa kamu sadar kalau perilakumu itu menyimpang?”

Fahmi mengangguk lagi dan berucap lirih. “Tapi aku benar-benar gak ngerti kenapa aku punya perasaan seperti ini.”

“Tapi jujur,” Rudi sekarang menimpali, “Apakah kamu punya keinginan pada perempuan.”

 “Ndak punya. Tapi aku ingin sembuh. Aku ingin kayak laki-laki normal. Menikah dan punya anak. Tapi di mana aku mengadu? Di mana aku harus curhat? Aku gak tau. Karena setiap aku cerita begini, pasti dianggap lucu-lucuan. Atau yang paling parah dianggap aib.”

Saat itu. Kami semua tak bisa berkata apa pun.

***

Mei 2019…

Tujuh tahun sudah aku meninggalkan kampus dengan membawa gelar sarjana sosial. Dua tahun setelah wisuda, aku menikah. Dan kini telah dikaruniai seorang anak lelaki.

Pada suatu sore, aku membaca pesan di grup WA alumni, dari Rani,

[Teman-teman, gak adakah yang mau jenguk Fahmi? Insya Allah selasa aku sama suami mau jenguk. Barangkali ada yang mau bareng.]

Aku segera mengetik balasan, [Fahmi sakit apa, Ran?]

[TBC.] Rani jawab singkat.

Dibalas sama alumni lain, [Padahal Fahmi gak pernah merokok, loh, ya?]

[Ayo siapa yang mau ikut? Kita bisa bareng.] Rani tak menjawab pertanyaan terakhir.

[Ran,] ketikku, [maaf aku gak bisa ikut ke rumah Fahmi. Ada kerjaan, ngisi raport online siswa. Nanti kalau sudah sampai di rumah Fahmi, aku mau video call.]

[Oke, Zal.]

Persis sepulang dari sholat isya’, Rani WA aku, [Zal, ini aku sudah di rumah Fahmi. Mau video call?]

Aku balas cepat, [Mau.]

Lalu Rani ngevideo call aku, tak lama kemudian hapenya dipegang Fahmi.

[Assalamualaikum, Rizal.]

Ya Allah, lihatlah, tubuh Fahmi nampak kurus sekali. Mukanya yang dulu tembem sekarang jadi tirus. Mataku langsung berembun melihat kondisinya.

[Eh, waalaikumsalam, Fahmi. Gimana keadaannya?]

[Alhamdulillah enakan. Kamu gimana? Katanya sudah jadi guru?]

Aku mengangguk.

[Sudah berapa anakmu, Zal?] tanyanya.

[Baru satu.]

Percakapan kami tersendat karena sinyal yang kurang bagus.

[Zal, aku minta maaf kalau punya banyak salah, ya?]

[Kamu gak punya salah apa-apa ke aku. Lekas sembuh ya.]

[Aamiin. Makasih, Rizal.]

Sesi video call kami benar-benar terhenti setelah itu.

Dan ternyata, itulah terakhir kalinya aku berbicara dan menatap wajah Fahmi.

Sebab, dua hari berselang aku mendapat kabar bahwa Fahmi dilarikan ke rumah sakit umum daerah. Statusnya kritis. Itu berita yang tersebar di grup pada siang hari. Dan di subuh sehari setelahnya, Rani memberi kabar di grup,

[Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Telah meninggal teman kita Fahmi Hamid, pukul 02.30 dini hari tadi. Mohon doanya semoga Allah mengampuni beliau dan menerima segala amal kebaikannya.]

Pesan itu menghentak kalbu. Ya Allah. Batas usia hamba hanya Engkau yang tau. Tapi mohon, berikan hamba kematian yang husnul khotimah.

[Ran, kapan dikuburkan?] tanyaku di grup.

[Kata keluarga segera.]

[Oke, aku hari ini izin libur ngajar. Mau ke sana.]

Karena harus memandikan si kecil, dan beres-beres aku baru bisa berangkat pukul 06.30 wib. Kalau lancar, aku akan sampai di rumah duka sejam kemudian, mengingat jarak yang cukup jauh. Di tengah perjalanan, terdengar suara dering hape tanda ada pesan WA masuk. Aku membuka pesan itu ketika berada di lampu merah.

Ternyata itu pesan dari Rani. Dia mengirim foto satu petak makam penuh bunga, tak lupa diberi caption, “Selamat Jalan Kawan.”

Aku merasa ada yang ganjil. Seolah pemakaman Fahmi diburu-buru. Seperti tak mau ada orang tahu pemakamannya. Bahkan nampak di foto hanya segelintir orang yang datang menguburkannya. Segera aku menepi dan menjapri Rani.

[Ran, maaf kalau dirasa lancang. Sebenarnya Fahmi sakit apa?]

Pesanku terbalas segera, [Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya?]

[Iya.]

[Fahmi positif HIV.]

Allahu Akbar! Aku benar-benar tak menyangka akan hal ini.

Lalu tanpa diminta Rani menjelaskan,

[Enam bulan lalu, Fahmi pernah bercerita kalau dia ‘main’ sama anak Jawa Barat. Nah, dia yakin kalau anak itu yang nularin, karena ‘itu’ nya bernanah waktu dimasukin.]

Aku membaca pesan itu dengan menahan mual.

[Aku dikasih tau dokternya waktu nemenin keluarga si Fahmi. Ibunya malu, Zal. Makanya ngarang kalau Fahmi kena TBC. Jasad Fahmi itu ditreatment khusus. Soalnya bisa nular. Itu sebabnya pemakamannya dibuat cepet, gak nunggu keluarga yang dari luar kota dulu.]

Sumpah, aku seperti tak bisa bernafas membaca penjelasan Rani. Tak menyangka Fahmi melakukan hal sejauh itu. Ya Allah, mohon lindungi semua dari perbuatan yang membuat-Mu murka.

***

Epilog

POV Penulis

“Gitu ceritanya, Fit.” Rizal menjelaskan semua kronologis kisah temannya padaku, “Minta tolong tuliskan kisah ini, ya. Aku gak pandai merangkai kata sepertimu. Semoga setelah ini banyak orang yang sadar betapa bahayanya perbuatan eljibiti itu.”

Aku mengangguk lemah. Mendengar kisahnya membuatku begidik ngeri. Tak sampai terfikir ada orang yang melakukan hal keji itu. Bahkan teman dekat sendiri.

“Makanya, aku sebel banget, Fit, Kalau ada orang yang memaklumi perilaku eljibiti dengan alasan hak asasi manusia. Dia bisa ngomong kayak gitu karena gak kena ke keluarganya sendiri. Coba kalau anaknya yang kena HIV, apa masih bisa dia bicara hak asasi? 

  Dosa dari perbuatan itu emang hakmu, tapi akibatnya bisa sekampung kena. Jasad Fahmi dikasih penanganan khusus, dibungkus rapat, supaya tidak ada cairan dari tubuhnya yang jatuh dan kena orang lain, bisa nular. Bahkan yang memandikan jasadnya pun harus pakai baju khusus. Ngeri, Fit. Sumpah.”

“Kalau menurutmu apa ya, Zal, langkah untuk meminimalisir hal ini?” aku bertanya. Sebagai sesama rekan guru, aku mengenal betul Rizal orangnya pemikir dan suka baca. InsyaAllah aku akan dapat jawaban yang memuaskan darinya.

“Menurutku, pertama, kita harus peduli. Ketika melihat ada saudara atau kerabat yang terindikasi penyakit eljibiti itu, maka langkah pertama kita harus dekati dia. Didekati agar mau disembuhkan alias direhab. Itulah salahku pada Fahmi. 

Saat mengetahui dia punya kelainan, aku malah menjauhi dia. Bahkan tak pernah kontak setelah lulus kuliah, akhirnya dia memilih jalan yang ia anggap benar, padahal jalan itulah yang membuat celaka. Nah, sayangnya, para ‘penderita’ kelainan ini malu untuk ‘berobat’, karena dianggapnya aib. 

Kalau orang kena penyakit lain segera ke dokter, tanpa malu. Tapi kalau sakit yang ini mana ada pasien yang rela datang berobat? Padahal penyakit ini juga tak kalah ngeri akibatnya. Itu sebabnya harus didampingi, terutama keluarga, didampingi sampai sembuh.”

Aku masih mendengarkan.

“Kedua, penyebab kelainan ini tak pernah bisa tuntas adalah, karena selalu ditutup-tutupi. Ini seperti fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan hanya sebagian kecil saja, yang tak kelihatan itu yang malah luar biasa banyak. 

Faktanya, jika anggota keluarga kena HIV akibat dari perilaku menyimpang itu, mereka akan bilang anaknya kena TBC. Malu, itu wajar. Tapi akibatnya adalah bahwa perilaku menyimpang itu dianggap tidak bahaya oleh orang lain. 

Padahal bahayanya luar biasa. Aku salut banget sama keluarga yang terus terang pada orang lain bahwa anaknya kena HIV akibat kelakuan menyimpang. Akhirnya orang pada hati-hati. “

“Dan ketiga, selain kuatkan doa serta pendidikan seksual pada anak, kita juga harus STOP tayangan orang-orang yang berlagak banci. Meski hanya sekedar lucu-lucuan. Kalau lagi nonton tivi ada adegan orang banci, langsung matikan. 

Kalau di kampung diadakan lomba bapak-bapak pakai daster, pakai lipstick, segera usul ke RT agar dibatalkan. Diganti lomba lain. Banyak lomba lain yang lebih seru dan lucu ketimbang pakai pakaian yang tak wajar. 

Bukankah Rasul melaknat orang laki-laki yang berpakaian menyerupai wanita? 

Kita tidak sadar, bahwa pemakluman terhadap laki-laki yang memakai baju perempuan, bisa membuat warga jadi menganggap remeh tentang eljibiti ini. Kita tak pernah tau bahwa tawa kita melihat bapak-bapak pakai baju perempuan bisa berakibat tangisan tak berujung.”

Aku kembali mengangguk, dan berjanji akan menuliskan pengalaman sahabatku ini nanti.

****

Surabaya, 11 Oktober 2019
02.35 wib

Fitrah Ilhami

--
Mohon maaf bila banyak typo dalam tulisan ini, karena selain diposting tanpa editing, tulisan ini diketik dengan keadaan menahan kantuk. Sebab hanya di waktu dini hari lah aku baru sempat nulis.

Sumber : Alumni212.id

Previous
« Prev Post

Related Posts

October 24, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran