11 Tahun Usai Pertanyaan "“Yang Jadi Istrimu Nanti Harus Perempuan ya, Zal?"

Posted by rumah ruqyah on 2019-10-16



Ini adalah kisah dari seorang teman yang memintaku untuk menuliskannya. Dia sangat berharap semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisahnya.

Untuk memudahkan dalam penulisan, aku menggunakan Point Of View (POV) alias sudut pandang orang pertama.

POV Rizal.

Pertengahan September, 2008.

Agak tergopoh aku berjalan masuk ke lorong Fakultas Sosial. Hari ini ada mata kuliah Antropologi di kelas lantai dua, dan sialnya aku telat. Tadi di perjalanan tiba-tiba ban motor bocor, membuatku harus menuntun motor sekira lima ratus meter untuk sampai di tukang tambal ban. Sambil menaiki anak tangga fakultas aku menatap jam di pergelangan tangan. Duh, sudah lima belas menit aku terlambat.

Dosen Antropologi terkenal disiplin, aku tidak berani menyebut ‘killer’. Telat 5 menit, boleh masuk kelas tapi tidak akan diceklist di daftar kehadiran. Bagi mahasiswa yang ‘bener’ ia memilih masuk, meski tidak diabsen lumayan dapat ilmu, tapi kebanyakan langsung balik ke kosan atau nongkrong di kantin, buat apa di kelas kalau tidak dipresensi?

Yang penting itu presensinya kok. Karena tidak masuk tiga kali, alamat tak bisa ikut ujian semester. Ilmu mah, nomor sekian. Bahkan untuk hal ini, mahasiswa rela titip tanda tangan kehadiran ke teman, dianya sendiri bolos.

Akhirnya aku sampai di depan kelas. Nampak pintu sudah tertutup. Di dalam, samar-samar terdengar seorang lelaki paruh baya menerangkan sesuatu. Aku nekad mengetuk pintu sembari membuka pintu perlahan.

“Assalamualaikum,” aku mengangguk tatkala dosen tiba-tiba berhenti berbicara dan menoleh padaku.

“Waalaikumsalam,” jawab dosen dingin.

“Maaf, tadi ban saya bocor, Pak.”

“Sudah dua mahasiswa yang pakai alasan ban bocor, lain kali janjian dulu sama temanmu kalau mau alasan, biar gak sama. Silakan keluar.”

Ucapan dosen itu seketika membuat kelas riuh oleh tawa teman-teman. Aku nyengir getir, mundur teratur dan menutup pintu perlahan.

Ah, padahal tadi beneran ban motorku bocor. Aku segera mencari tempat duduk di lorong lantai dua. Mengambil air yang kubawa dari rumah lalu meminumnya. Air itu membasahi tenggorokan yang kering. Segar.

“Kamu ikut kelas Antropologi, bukan?”

Tiba-tiba seseorang menyapaku. Saat aku mengangkat pandangan nampaklah lelaki yang rambutnya tersisir rapi dan tubuhnya agak gempal.

“Iya,” aku menimpali.

“Kenapa gak masuk?” ucapnya.

“Telat. Disuruh keluar.”

Dia tersenyum, “Hehe. Sama.”

Sebenarnya aku merasa ada yang aneh dari cara bicara lelaki ini. Karena meski tubuhnya besar, tapi cara sikapnya ‘girly’ banget.

“Boleh kenalan? Aku Fahmi.” Dia menjulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya, “Rizal. Kamu angkatan 2008 juga?”

“Iya. Loh, kita kan satu kelas di mata kuliah Antropologi?”

“Eh, iya kah? Aku gak tau, maaf, baru dua minggu kuliah. Jadi belum hafal betul sama teman kelas.”

“Gak masalah.” Dia kembali tersenyum.

Memang kuliah beda dengan sekolah. Karena mahasiswa nyari jadwal sendiri, berpindah-pindah kelas sesuai jadwal, dan jadwal mahasiswa satu dengan yang lain sering berbeda. Jadi aku tidak seberapa memperhatikan mahasiswa lain.

Lalu, kami mengobrol tentang dari mana berasal, tinggal di mana, dan topik lain sampai tak terasa bel tanda jam mata kuliah pertama usai. Aku dan Fahmi berpisah, karena harus lanjut kuliah jam kedua.

Teman, nanti awal perkenalanku dengan Fahmi ini akan begitu terekam kuat di memori otak setelah peristiwa memilukan itu terjadi… Dan sampai sekarang aku tidak menyangka, segala firasatku tentang dia benar-benar menjadi nyata.

***

Semester satu telah berlalu. Seusai liburan cukup panjang aku dan mahasiswa lain kembali masuk kuliah. Di satu mata kuliah ternyata aku satu kelas lagi dengan Fahmi. Cara bicara dan tingkahnya tak berubah. Tetap ‘girly’.

Suatu saat dosen memberi tugas lapangan kepada kami. Satu kelompok terdiri 6 mahasiswa. Qadarullah, aku satu kelompok dengan Fahmi. Saat itu kami harus mencari data terkait pemberdayaan perempuan di suatu desa.

Kami memilih komunitas bantaran sungai sebagai tempat riset. Kami lakukan riset itu selama 4 minggu. Rencananya, tiap satu minggu kami hadir di lapangan sebanyak 2 kali. Surat izin dari pihak akademik dan RT setempat sudah kami pegang.

“Zal, aku gak punya motor. Boleh aku nebeng kamu ke lokasi riset?” Fahmi berucap padaku.

Aku mengangguk, “Oke.”


Kisah selanjutnya baca disini...

Previous
« Prev Post

Related Posts

October 16, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran