Ritual Tapa Pendem 10 Hari Mbah Pani

Posted by rumah ruqyah on 2019-09-23


Tapa Pendem Mbah Pani, Ternyata Sudah ke-10 kali Jalani Ritual Dikubur Hidup-hidup, Ini Pengakuannya


  Supani atau Mbah Pani (63) melakukan ritual tapa pendem di dalam rumahnya, Senin (16/9/2019). Mbah Pani melaksanakan ritual tapa pendem atau yang biasa dikenal dengan topo ngeluwang ini dilaksanakan di kediamannya di Desa Bendar RT 3 RW 1, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.


  Sebagian masyarakat sekitar mengenal Mbah Pani sebagai pemain senior seni tradisional Ketoprak Desa Bendar, Juwana. Ritual tapa pendem ini dilaksanakan Mbah Pani selama lima hari penuh.


  Mbah Pani menjalani ritual ini dengan cara dikafani dan dikubur layaknya jenazah di dalam sebuah liang pertapaan. Ukuran liang kubur untuk ritual tapa pendem sekitar kedalaman 3 meter, panjang 2 meter dan lebar 1,5 meter.

  Suyono, anak angkat Mbah Pani, mengatakan, ritual tapa pendem dilakukan Mbah Pani dengan menguburkan diri di dalam tanah yang diberi lubang untuk pernapasan.

  "Tapa pendem seperti ini sudah dilakukan beliau sebanyak sembilan kali. Dan hari ini adalah yang ke-10," ungkapnya dikutip dari Tribun Jateng.


  Berdasarkan keterangan warga sekitar, terakhir kali Mbah Pani melakukan ritual ini adalah 2001 lalu. Sebelumnya, Mbah Pani melakukan ritual ini setahun sekali, setiap bulan Suro.


  Adapun ritual terakhir ini dilakukan 18 tahun berselang. Dalam topo pendem, Mbah Pani diperlakukan hampir sama seperti jenazah yang akan dikubur. Ia dikafani kemudian disediakan pula aneka kelengkapan pemulasaraan jenazah, antara lain bunga-bunga.


  Hanya saja, tidak ada prosesi azan supaya tidak sepenuhnya seperti prosesi penguburan jenazah. Di dalam liang kubur itu, sudah disediakan peti untuk tempat pertapaan.


  Di dalamnya disediakan pula bantal dari tanah. Ketika prosesi ritual mulai dilaksanakan, hanya pihak keluarga dan tokoh masyarakat setempat yang diperkenankan masuk rumah.


  Setelah lima hari Mbah Pani menjalani prosesi tersebut, maka pertapaannya akan dibongkar. Pembongkaran ini lebih awal sekira satu jam dari rencana sebelumnya.


  Sedianya, liang tersebut akan dibongkar setelah Magrib. Dibantu warga sekitar, keluarga Mbah Pani membongkar liang kubur pertapaan menggunakan cangkul.


  Permintaan dari Mbah Pani, awalnya pembongkaran memang direncanakan setelah salat Jumat. Namun, tadi Mbah Pani berbisik kepada istrinya (melalui lubang saluran pernapasan-red.)

  "Pembongkaran dilakukan setelah magrib,” katanya ketika dijumpai di rumah Mbah Pani, Jumat sore.


  Warga sekitar sebetulnya sudah berdatangan ke rumah Mbah Pani untuk melihat langsung pembongkaran pertapaan Mbah Pani. Namun, pihak keluarga meminta mereka untuk keluar terlebih dahulu dan menunggu magrib tiba.


  Perangkat desa, Koramil, dan petugas kepolisian dari Polsek Juwana tampak hadir di rumah Mbah Pani. Ngadino menegaskan, permintaan perubahan waktu pembongkaran adalah kehendak Mbah Pani sendiri.


 Istri dan anggota keluarga lainnya belum diberitahu mengenai alasannya. “Tadi malam Mbah Pani sudah minta dibuka setelah Jumatan.Tetapi tiba-tiba Mbah Pani minta setelah magrib,” pungkasnya.


  Sri Khomaidah, istri Mbah Pani, membenarkan keterangan Ngadino. "Saya tidak tahu alasan Mbah Pani minta dibongkar nanti habis magrib.Yang jelas tadi pas mau dibongkar, Mbah Pani bisik ke saya lewat lubang ventilasi agar pembongkaran dilakukan setelah magrib," jelas Sri.


 Dibantu warga sekitar, keluarga Mbah Pani membongkar liang kubur pertapaan menggunakan cangkul. Setelah papan penutup liang tampak, pipa paralon yang digunakan Mbah Pani untuk saluran pernapasan dan berkomunikasi disingkirkan.


  Ketika papan penutup dibuka, Mbah Pani terbaring menyamping menghadap kiblat, dengan posisi tangan kanan berada di bawah. Ia masih mengenakan kain kafan, sebagaimana orang dikubur.


  Mbah Pani tampak pucat dan lemas. Keluarga segera turun ke liang untuk memberi minum dan makanan kepada Mbah Pani. Sebelum Mbah Pani beranjak dari lokasi, keluarga juga memandikan Mbah Pani dengan air bunga.


 Setelahnya, kain kafan yang masih dikenakan Mbah Pani dilepaskan, kemudian ia diselimuti sarung. Dibantu keluarga, Mbah Pani lalu keluar dari liang pertapaan.


 Begitu keluar, Mbah Pani berpelukan dengan istrinya sambil bertangisan. Meski tidak makan dan minum selama 5 hari 5 malam menjalani topo pendem, dari hasil pemeriksaan, Mbah Pani dinyatakan sehat.


“Kondisinya bagus. Pernapasan dan tensinya juga bagus,” ujar Hardi Widiyono, anggora tim medis. Ia menyebut, saat keluar dari liang kubur, Mbah Pani memang lemas.


  Hal ini menurutnya wajar lantaran Mbah Pani tidak makan dan minum selama lima hari. Seusai diangkat, Mbah Pani kemudian berganti pakaian dan pamit untuk salat magrib.


  Ia mengaku masih pusing dan belum kuat bicara banyak. Setelah isya, para tetangga diundang untuk Manaqiban di rumah Mbah Pani.

Sumber Tribbun News

Rumah Ruqyah Indonesia : Sebuah pria paruh baya bernama Mbah Pani baru saja melakukan ritual yang menghebohkan masyarakat, Tapa Pendem. Sebuah meditasi atau tapa dengan cara dikubur atau dipendem dalam jangka waktu beberapa hari.

Sebuah kegiatan yang tidak biasa. Wajar hingga menarik perhatian masyarakat luas. Belum lagi awak media. Dan Rumah Ruqyah Indonesia pun tertarik mengulasnya dari segi Aqidah. Berdasarkan penelusuran Rumah Ruqyah Indonesia, Tapa Pendem yang dipercaya warisan Sunan Kalijaga.

Belum lagi pemahaman ritual ini guna mendekatkan diri kepada Ilahi, dan ikutan sarana dan prasarana mencirikan Islam. Kain Kafan, adzan dsb bercampur dengan hal-hal yang asing dalam Islam.

Sebuah pelajaran berharga, pentingnya amalan dengan mengetahui ilmunya. Jangan sampai sia-sia atau malah berbuah dosa. Naudzubillahi min dzalik.

Previous
« Prev Post

Related Posts

September 23, 2019

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran