Sucikan Hati Sambut Bulan Suci



 “Wahai para pemburu kebaikan, sambutlah ... Dan wahai para pelaku kemaksiatan, berhentilah segera ...!” (HR. Tirmidzi).

Ramadhan datang sebentar lagi, kita harus berbenah diri untuk menyambut bulan suci. Perbanyaklah do’a kepada Dzat yang menggenggam umur kita agar kita bisa menikmati indahnya bulan puasa. Sucikan hati, bersihkan jiwa. Bekali diri dengan ilmu dan pengetahuan. Bersihkan iman dari kesyirikan, perbanyak istighfar dan ampunan. Bagaimana kita bisa menimati bulan suci, kalau hati masih kotor.

Rasulullah SAW. bersabda, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila  segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jasad. Tapi bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari, no.50 dan Muslim, no. 2996).

Ibnul Mubarak berkata, “Aku pernah bertanya kepada Wahib bin al-Ward, ‘Apakah orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah bisa merasakan lezatnya ibadahl?’ Dia menjawab, ‘Tidak, mereka tidak bisa merasakan lezatnya ibadah yang sebenarnya. Begitu juga orang yang punya pikiran dan keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.” (Kitab Mukasyafatul Qulub: 243).

Hati adalah bagian rubuh yang sangat vital. Perhatian kita terhadap kebaikan kondisi hati harus lebih besar melebihi perhatian kita terhadap kesehatan badan itu sendiri. Karena hati yang sakit dampaknya jauh lebih besar daripada dampak badan yang sakit. Badan yang sakit hanya dirasakan oleh si empunya. Tapi hati yang sakit, dirasakan si empunya dan berimbas ke orang lain. Badan yang sakit perihnya hanya terasa di dunia. Tapi hati yang sakit perihnya tidak hanya di dunia berlanjut ke akhirat. Badan yang sakit, ada masanya dan pasti akan berakhir. Tapi hati yang sakit, akan berkepanjangan dan berkesinambungan sampai ke akhirat yang kekal abadi.

Kenyataannya, selama ini kita banyak memperhatikan kesehatan badan dan jasad. Apabila badan kita kurang sehat atau sakit, maka kita segera mencari obat yang kita yakini mujarab dan mengkonsumsinya, agar sakit segera reda. Atau mendatangi dokter yang ahli untuk berobat atau minta resep yang paten agar kesehatan segera pulih kembali. Sedangkan bila yang sakit itu hati, kita diam seakan tak peduli. Thk ada upaya segera untuk mencari penawarnya. Tak ada kegundahan dan usaha untuk mencari obatnya. Padahal imbas keburukan hati yang sakit leblh dahsyat daripada imbas sakitnya badan.

Oleh karena itu, ada ungkapan dari para ulama’ pendahulu kita, “Sungguh mengherankan sikap banyak manusia di dunia ini, mereka banyak menangisi orang yang jasadnya mati, tapi mereka tidak pernah menangisi orang. orang yang hatinya telah mati, padahal matinya hati itu lebih dahsyat daripada matinya jasad.” (Kitab Tazkiyatun Nufus: 33).

Allah SWT. mengingatkan kita, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat ayat Allah). mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Di bulan Sya’ban ini kita berdo’a kepada Allah, supaya Dia memberkahi kita semua. Dan kita juga sangat berharap kepada-Nya agar memanjangkan umur kita sehingga kita bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Mari kita sambut datangnya bulan suci dengan mensucikan hati. Supaya kita mampu memenuhi panggilan para malaikat yang menyeru saat Ramadhan akan tiba, “Wahai para pemburu kebaikan, sambutlah..... Dan wahai para pelaku kemaksiatan, berhentilah segera...!” (HR. Tirmidzi, no. 618 dan Ahmad, no. 18042).

Rumah Ruqyah Indonesia

Comments