thumbnail

Ajian 'Penjemput' Jodoh

Posted by rumah ruqyah on 2019-04-24


  Seorang perempuan paruh baya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta, datang ke kantor Majalah Ghoib pada pertengahan Oktober 2005 lalu. Ini adalah awal kunjungannya ke kantor Majalah Ghoib untuk menjalani terapi ruqyah. Sambil menyerahkan jimat-jimat yang didapatkannya dari beberapa dukun. Ia menceritakan kisahnya.

  Saya pindah ke Jakarta sekitar tahun 2001. Sebagai seorang gadis, saat itu usia saya boleh dikatakan sudah tidak muda lagi. Saya belum menikah. Di kampung, saya tidak pernah kenal sama yang namanya tukang ramal apalagi dukun. Sebagai lulusan perguruan tinggi, saya malas berurusan dengan yang gituan, “Gak rasional”.

 Tetapi, seiring dengan bertambahnya usia saya dan desakan yang terus menerus dari orangtua. Akhirnya saya mulai mencari cara, agar segera mendapatkan pendamping hidup. Disaat sedang sedih bercampur bingung, kebetulan ada teman sekantor yang mengajak saya pergi ke dukun di beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya. 

  Sampai-sampai orangtua teman saya juga mengusahakan agar saya cepat dapat jodoh melalui jasa dukun. Banyak jimat yang saya dapatkan dari beberapa orang dukun di masa pengembaraan sampai ke daerah Banten. Perjalanan mencari pendamping dengan mendatangi dukun, saya lakukan selama dua tahun lebih.

  Ketika saya mendatangi salah seorang dukun, saya diramal den diberitahu akan ada seorang pemuda yang datang dengan ciri-ciri tertentu. Ternyata saya betul-betul bertemu dengan pemuda itu. Setelah berkenalan selama 7 bulan, dia bahkan sudah datang ke rumah saya. 

  Dia memohon doa restu kepada orangtua saya, tetapi saya belum sampai dilamarnya. Saya sangat senang saat itu. Tetapi semuanya berubah dalam bilangan waktu yang sangat cepat. Harapan yang telah terpupuk sekian lama, akhirnya hancur berantakan. 

  Pemuda itu menipu saya. Uang saya sebanyak 37 juta diambilnya. Anehnya, saya menuruti saja omongannya dan tidak bisa menentang. Saya merasakannya diantara sadar dan tidak. Saya sangat kasihan padanya karena dia selalu bercerita yang menyedihkan tentangnya. 

  Saya masih bersyukur karena yang tertipu hanya materi saja, walaupun hati saya hancur berkeping-keping. Saya kemudian bertanya dalam hati, apakah ini merupakan permainan dari dukun yang telah meramal saya? Saya tidak bisa melaporkannya ke polisi karena tidak ada bukti.

  Setelah semua peristiwa itu, saya ikut belajar al-Qur’an system 2 jam kepada seorang Ustadz. Saya juga ikut pelatihan sholat khusyu’ agar hidup saya lebih tenang. Para ustadz tempat saya belajar, sering menjelaskan tentang ruqyah syar’iyyah kepada saya.

   Dan setelah melihat adegan ruqyah di sebuah sinetron. Saya memutuskan untuk diruqyah dan menyerahkan semua jimat-jimat ini. Sekarang saya butuh pembimbing agama, karena saya tidak mungkin belajar dan menghadapi hidup seorang diri. Semoga saya bisa mendapatkan jodoh yang baik.

Bentuk Jimat

  Jimat yang kita bongkar saat ini, berbentuk tulisan rajah yang dibungkus dengan kertas dan diberikan perekat yang sangat rapi. Sebuah jimat yang diberikan oleh seorang dukun di daerah Banten. Berbentuk rajah yang dituliskan pada kain putih berukuran kecil.

  Tulisannya sudah tidak bisa dibaca lagi karena tintanya sudah luntur. Dan ternyata di dalamnya masih terdapat sebuah tulisan tangan pada sebuah kertas buku yang dibungkus dengan plastik putih. Di dalamnya terdapat sebuah kapas bercampur bedak yang membungkus sebuah batu dengan dua buah paku kecil bersamanya. Hmm, baunya sangat menusuk hidung.

‘Kesaktian Jimat’

  Jimat-jimat tersebut merupakan ajian yang dipakai untuk menarik jodoh. Siapapun yang memiliki jimat ini diharapkan bisa mendapatkan jodoh seperti yang diimpikannya. Jimat ini harus di dibawa kemana-mana kecuali kamar mandi. Untuk mendapatkan jimat jimat ini, hanya membayar seikhlasnya.

Bongkar Jimat

  Pernikahan begitu indah untuk diceritakan, begitu asyik untuk didiskusikan, tapi tidak semudah itu untuk diwujudkan. Banyak faktor yang menjadi hambatan untuk mewujudkannya. Ujian yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) berikan berupa telatnya masa pernikahan, haruslah dihadapi dengan penuh kesabaran. 

  Karena tiang iman yang melekat kepada rasa optimism ialah SABAR. Tanpa kesabaran, maka perasaan manusia akan setiap saat menjadi korban keganasan angin perubahan yang senantiasa datang menerpa, termasuk ujian dalam menanti jodoh. Kesabaran memainkan peranan yang penting di dalam memelihara optimism dalam diri seseorang yang beriman.

  Manusia memang tempatnya kesalahan dan kealpaan. Segala cara kadang ditempuh untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Mendatangi dukun merupakan kekhilafan yang sering dilakukan kaum Muslimin, padahal mereka adalah antek-antek syetan yang menjerumuskan menusia ke dalam lembah kemusyrikan. Apa yang diberikan para dukun berupa jimat-jimat merupakan bentuk kesesatan mereka kepada Allah SWT.

  Jimat rajah bertuiliskan huruf-huruf Arab yang tidak jelas maknanya adalah cara yang dipakai oleh dukun untuk mengundang jin dalam menyelesaikan permasalahan pasiennya. Kita juga tidak pernah mengerti, mengapa ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa permohonan harus ditulis pada sebuah kain dan harus dibawa kemana-mana? 

  Lebih aneh lagi, mengapa sebuah batu, dua buah paku serta bedak dijadikan perantaraan untuk mendapatkan jodoh seseorang? Padahal ayat-ayat tersebut sejatinya kita amalkan pada perilaku hidup keseharian kita agar berkah.

  Allah SWT akan memberikan ujian kepada hamba-Nya sebatas apa yang sanggup ditanggung oleh hamba-Nya. Begitulah berita yang Allah sampaikan pada surat al-Baqarah ayat 286. Sekarang, saatnya kita berbenah diri, agar Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk kita, kapanpun datangnya. 

  Karena Allah SWT telah memberikan kabar kepada kita bahwa Allah akan memberikan pasangan hidup sesuai dengan kualitas pribadi yang kita miliki. Seperti dijelaskan dalam surat an-Nur ayat 28. Apa yang dilakukan wanita ini, dengan menyerahkan jimat jimat yang pernah dipakainya merupakan usahanya untuk memperbaiki keualitas dirinya. Semoga mendapatkan jodoh yang baik.

Rumah Ruqyah Indonesia

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 53/3


RRIAds - Air Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 
April 24, 2019
thumbnail

Jin Pendorong Selingkuh?

Posted by rumah ruqyah on 2019-04-19


  Entah jaman apakah ini? Begitu banyak keanehan yang terjadi. Dalam tata kehidupan rumah tangga, misalnya, tidak sedikit orang-orang yang tak lagi memandang sakral sebuah hubungan suami istri. Indicator terpentingnya, adalah maraknya perselingkuhan, terutama di kalangan orang-orang dengan tingkat ekonomi yang lumayan mapan.

  Lantas, mungkinkah jin bisa mendorong perselingkuhan? 

  Wah ini pertanyaan yang mungkin terasa tiba-tiba. Apa iya, ada hubungannya antara jin dan perselingkuhan. Bagi sebagian orang, barangkali ini pertanyaan ngawur. Bahkan terkesan mengada-ada. Tetapi beberapa dalil dan bukti lapangan, menunjukkan bahwa jin bisa menjadi pendorong selingkuh, bahkan kemudian ia bisa juga menjadi penyebab perceraian. 

  Soal jin bisa menjadi penyebab perceraian, dengan jelas al-Qur’an menyatakan. Perhatikan ayat berikut, yang artinya, “…. Mereka melakukan sihir kepada manusia. dan apa yang turunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ 

  Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antar seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. 

  Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madlarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukarnya (kitab Allah dengan sihir tersebut, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)

  Dari ayat tersebut, dapat dimengerti bahwa jin bisa menjadi penyebab perpisahan antara pasangan suami istri. Padahal, Sakinah, Mawaddah Wa rahmah itulah butir kata-kata yang sering dilantunkan dalam do’a setiap Muslim yang akan mengarungi bahtera rumahtangga. Suasana dan perasaan yang tenang, cinta dan kasih sayang adalah harapan yang ingin dibangun setiap suami istri.

  Setiap pasangan tentu ingin agar seluruh anggota keluarga merasakan suasana surgawi di dalam iklim rumah tangga. Baiti Jannati (Rumahku Surgaku), begitulah slogan yang diajarkan Rasulullah Shallahu Alaiahi Wassalam (SAW) kepada umatnya. 

  Namun, nuansa yang Islami, hubungan antar anggota rumah tangga yang harmonis tidak bisa terkondisikan dengan simsalabim abrak-gedabrak langsung ada seperti layaknya orang main sulap. Tapi membutuhkan usaha yang terarah dan jalinan antar individu yang komunikatif atas dasar rasa saling percaya dan pengertian. Rumah tangga Rasulullah SAW. merupakan prototipe yang ideal untuk kita jadikan cermin teladan.

  Kita tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan kita, kalau rumah tangga yang seperti tersebut di atas, tiba-tiba nuansanya berubah. Antara individu saling curiga, maunya menang sendiri, egois, cepat marah, suami enggan pulang ke rumah, istri tidak betah tinggal di rumah, aroma rumah yang busuk, anak tidak mau diatur. la melihat orangtuanya seperti melihat hantu yang menakutkan, suasana yang tegang dan menyeramkan, rumah tangga yang beraroma surgawi berubah menjadi Baiti Nari (Rumahku Nerakaku).

  Kondisi rumah seperti itu, bila tidak diselesaikan dengan baik dan bijak, bisa menimbulkan perubahan revolusioner dalam rumah tangga. Salah satunya, mendorong terjadinya perselingkuhan yang dilakukan si suami maupun si istri.

  Lalu bagaimana hubungan antara perselingkuhan, perceraian, jin dan juga sihir? Hubungannya sangat dekat. Pada ayat di atas secara jelas, bahwa sihir yang dilakukan oleh jin yang bekerjasama dengan manusia, bisa menceraikan pasangan suami istri. 

  Artirya, cerainya itu sendiri merupakan hasil akhir, atau akibat yang dituju oleh jin. Sedangkan setiap akibat ada sebabnya. Setiap tujuan, ada jalannya. Nah, perselingkuhan itulah salah satu jalan kotor menuju perceraian, yang akan dimainkan oleh syetan, juga jin yang melihat kesempatan itu, atau jin yang dipakai dalam sihir.

  Bagaimana jalan ceritanya atau kronologinya? Mula-mula syetan menggoda pasangan suami istri dengan berbagai cara. Menggoda dengan bisikan, bahwa suami atau istrinya jauh lebih jelek dari lelaki lain atau perempuan lain yang ia lihat di luar. Mungkin teman, mungkin sahabat atau rekan kerja.

   Bila bisikan itu sudah mengena di hati, maka, terus menerus syetan itu mengipas-kipas hati orang tersebut, memunculkan percekcokan, perselisihan dan ketidakharmonisan. Bahkan bisa sampai mendorong ke perselingkuhan.

   Proses dorongan syetan untuk melakukan itu semua, bisa dari cara yang halus sampai cara yang kasar. Cara yang halus, ya itu tadi, melalui bisikan. Cara yang kasar, bisa saja syetan itu merasuk ke dalam tubuh orang tersebut, baik karena kemauannya sendiri, atau karena melalui jalan sihir. 

  Sihir itu bisa karena keinginan salah satu pasangan, atau karena orang lain. Misalnya pasangan selingkuhnya meminta para tukang sihir untuk menyihir pasangan resmi dari kawan selingkuhnya itu. Begitulah.

  Namun, karena ini semua masalah yang berhubungan dengan keghoiban, maka kita harus mengimaninya dengan dasar-dasar yang telah diajarkan oleh lslam, alias harus sesuai dengan syari’at lslam.

  Karena ini berkaitan dengan sesuatu yang ghoib yang tidak bisa dilihat oleh indra kita dan tidak bisa dihitung dengan teori matematika. Referensi paling akurat untuk menjawabnya adalah Al-Qur’an dan Hadits. Karena itu, perhatikanlah firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 102. 

  Allah menceritakan keberadaan ilmu sihir, pengaruhnya dan peranan jin atau syetan sebagai eksekutor dalam konspirasi jahat tersebut. Allah menegaskan, “Maka mereka mempelajari dari keduanya sesuatu (sihir) yang dengannya mereka memisahkan seseorang (suami) dengan istrinya.”

Untuk memperjelas pemahaman kita akan maksud ayat tersebut, marilah kita perhatikan penjelasan para ahli tafsir.

1. lbnu Jarir dalam tafsirnya Jami’ul Bayan (1/462-467) berkata, “Sihir adalah pengelabuhan mata agar melihat sesuatu berlainan dengan aslinya. Pemisahan suami istri terjadi melalui sihir yang ditujukan ke salah satu dari keduanya sehingga ia melihat sesuatu yang lain dengan aslinya. 

  Yang tampan atau cantik terlihat jelek, lalu berpaling darinya dan akhirnya bercerai. Tukang sihir berperan untuk memisahkan keduanya dengan memunculkan sebab-sebab yang bisa membuat mereka saling membenci. Sebagaimana dikatakan lmam Qatadah, “Pemisahan dengan cara mempengaruhi salah satu dari keduanya, sampai satu sama lainnya saling membenci.”

2. lbnu Katsir dalam tafsirnya (I/125) berkata: “Apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang keji, yaitu memisahkan antara suami istri, padahal antara keduanya masih terjalin ikatan kasih sayang. Ini adalah perbuatan syetan. 

  Dan cara pemisahannya melalui sihir yang  bisa memberi ilusi yang buruk antara satu sama lainnya. Seperti perawakan yang jelek atau menimbulkan kebencian dan sifat anti pati yang akhirnya keduanya bercerai.”

3. Imam Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi I/180 mengatakan, “Sihir itu mengandung tipuan rekayasa atau black magic. Itu adalah konspirasi jahat dan ilmu yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh minoritas manusia, maka dari itulah disebut dengan sihir karena cara kerjanya tersembunyi.”

  Dari penjelasan para ulama tafsir, kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu sihir itu memang ada sebagaimana yang telah disebutkan beberapa ayat dalam al-Qur’an. Dengan kata, Sahara dan Saahir. Itu adalah perbuatan keji dan sangat tercela yang didalangi syetan dari golongan jin yang bekerjasama dengan syetan dari jenis manusia (tukang sihir). 

  Pengaruh sihir tidak hanya pada penyakit fisik, tapi juga pada hati yang berkaitan dengan perasaan cinta, benci, mengumpulkan dan memisahkan,  mendekatkan dan menjauhkan.

  Ibnul Qayyim berkata, “Sihir dapat mengakibatkan sakit, malas, terikat, cinta, benci dan sejenisnya yang telah diketahui banyak manusia. Tukang sihir bisa mengelabui mata-mata yang memandang. Sehingga yang dilihat berlainan dengan hakikatnya, dan itu merupakan pemutarbalikan pandangan indra manusia”. 

  Maka tidak mustahil kalau sihir juga memutar balikkan perasaan dan perangai manusia. Karena tidak ada bedanya antara perubahan pandangan mata dengan perubahan perangai yang termasuk sifat jiwa dan badan. Jadi sihir bisa mengelabuhi indra sehingga sesuatu yang beku terlihat bisa bergerak, sesuatu yang nyambung terihat terpisah, sesuatu yang mati kelihatan hidup. Sebagaimana sihir juga bisa merubah sifat manusia. Sehingga ia membenci kekasihnya, atau mengasihi orang yang dibencinya. Dan pengaruh lainnya.

  Allah menceritakan kisah tukang sihir Firaun, “Mereka mengelabuhi mata manusia dan menjadikan manusia takut serta mereka mendatangkan sihir yang menakjubkan.” (QS. Al-Araf: 116).

  Allah menyebutkan bahwa waktu itu mata manusia tersihir, dan itu bisa teriadi dengan mengelabuhi mata atau yang dipandang mata yaitu tali-tali dan tongkat. Seperti tukang sihir yang minta bantuan roh (syetan) untuk menggerakkannya. Manusia mengira tali-tali dan tongkat itu bergerak sendiri, begitu juga ketika ada karpet atau tikar yang bergerak tanpa seorang pun menariknya. Padahal syetanlah yang menariknya.

  Rasulullah SAW. juga menjelaskan peran besar jin dalam mendorong perselingkuhan dan perceraian, “Sesungguhnya iblis membangun istananya di atas air. Lalu ia menyebar pasukannya. Anggota yang paling dekat hubungannya dengan iblis adalah mereka yang paling dahsyat dan paling banyak melakukan fitnah (penyesatan) pada manusia. 

  Bila seseorang dari mereka datang menghadap iblis sambil berkata, “Saya telah melakukan ini dan itu.” Maka iblis menjawabnya, “Sebenarnya kamu belum berbuat apa-apa” Lalu datang yang lainnya seraya berkata, “Aku tidak meninggalkan fulan kecuali telah aku buat dia bercerai dengan istrinya.” Maka iblis menimpali, “Sungguh hebat, apa yang kamu lakukan.” Al-A’masy berkata, “Seingat saya dia berkata, 'Hendaklah kamu terus bersamanya.” (HR. Muslim).

  Kata-kata syetan, “Aku tidak meninggalkan fulan kecuali telah aku buat dia bercerai dengan istrinya” pada hadits diatas, tidak disertai penjelasan oleh syetan tersebut bagaimana cara ia mengacaukan hubungan suami istri. 

  Itu artinya, ia bisa dengan berbagai cara, dengan sihir, dengan cara dia sendiri, dan tentu saja dengan mengipas-kipas dorongan untuk melakukan selingkuh. Sedang selingkuh itu sendiri, merupakan perbuatan terlarang yang syetan akan terus menggoda manusia untuk melakukannya.

   Karena itu, waspadai jin pendorong selingkuh yang bergentayangan disekitar rumah tangga Anda! Berlindunglah kepada Allah yang mencipakan dan memelihara semua makhluk dan mengendalikan mereka.

Rumah Ruqyah Indonesia
Sumber : Majalah Ghoib Edisi 8/1


RRIAds - Bidara Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


April 19, 2019
thumbnail

Sucikan Hati Sambut Bulan Suci

Posted by rumah ruqyah on 2019-04-10



 “Wahai para pemburu kebaikan, sambutlah ... Dan wahai para pelaku kemaksiatan, berhentilah segera ...!” (HR. Tirmidzi).

  Ramadhan datang sebentar lagi, kita harus berbenah diri untuk menyambut bulan suci. Perbanyaklah do’a kepada Dzat yang menggenggam umur kita agar kita bisa menikmati indahnya bulan puasa. Sucikan hati, bersihkan jiwa. Bekali diri dengan ilmu dan pengetahuan. Bersihkan iman dari kesyirikan, perbanyak istighfar dan ampunan. Bagaimana kita bisa menimati bulan suci, kalau hati masih kotor?

  Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila  segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jasad. Tapi bila segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari, no.50 dan Muslim, no. 2996).

  Ibnul Mubarak berkata, “Aku pernah bertanya kepada Wahib bin al-Ward, ‘Apakah orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah bisa merasakan lezatnya ibadahl?’ 

Dia menjawab, ‘Tidak, mereka tidak bisa merasakan lezatnya ibadah yang sebenarnya. Begitu juga orang yang punya pikiran dan keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.” (Kitab Mukasyafatul Qulub: 243).

  Hati adalah bagian tubuh yang sangat vital. Perhatian kita terhadap kebaikan kondisi hati harus lebih besar melebihi perhatian kita terhadap kesehatan badan itu sendiri. Karena hati yang sakit dampaknya jauh lebih besar daripada dampak badan yang sakit. 

  Badan yang sakit hanya dirasakan oleh si empunya. Tapi hati yang sakit, dirasakan si empunya dan berimbas ke orang lain. Badan yang sakit perihnya hanya terasa di dunia. Tapi hati yang sakit perihnya tidak hanya di dunia berlanjut ke akhirat. 

  Badan yang sakit, ada masanya dan pasti akan berakhir. Tapi hati yang sakit, akan berkepanjangan dan berkesinambungan sampai ke akhirat yang kekal abadi.

  Kenyataannya, selama ini kita banyak memperhatikan kesehatan badan dan jasad. Apabila badan kita kurang sehat atau sakit, maka kita segera mencari obat yang kita yakini mujarab dan mengkonsumsinya, agar sakit segera reda. Atau mendatangi dokter yang ahli untuk berobat atau minta resep yang paten agar kesehatan segera pulih kembali. 

  Sedangkan bila yang sakit itu hati, kita diam seakan tak peduli. Thk ada upaya segera untuk mencari penawarnya. Tak ada kegundahan dan usaha untuk mencari obatnya. Padahal imbas keburukan hati yang sakit leblh dahsyat daripada imbas sakitnya badan.

 Oleh karena itu, ada ungkapan dari para ulama’ pendahulu kita, “Sungguh mengherankan sikap banyak manusia di dunia ini, mereka banyak menangisi orang yang jasadnya mati, tapi mereka tidak pernah menangisi orang yang hatinya telah mati, padahal matinya hati itu lebih dahsyat daripada matinya jasad.” (Kitab Tazkiyatun Nufus: 33).

 Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) mengingatkan kita, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat ayat Allah). mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

  Di bulan Sya’ban ini kita berdo’a kepada Allah, supaya Dia memberkahi kita semua. Dan kita juga sangat berharap kepada-Nya agar memanjangkan umur kita sehingga kita bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan yang akan datang. 

  Mari kita sambut datangnya bulan suci dengan mensucikan hati. Supaya kita mampu memenuhi panggilan para malaikat yang menyeru saat Ramadhan akan tiba, “Wahai para pemburu kebaikan, sambutlah..... Dan wahai para pelaku kemaksiatan, berhentilah segera...!” (HR. Tirmidzi, no. 618 dan Ahmad, no. 18042).

Rumah Ruqyah Indonesia


RRIAds - Air Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 
April 10, 2019
rumah ruqyah April 03, 2019 CB Blogger Indonesia
thumbnail

ASMAMIA

Posted by rumah ruqyah on 2019-04-03


  Seorang ibu yang sudah tua dan buta, hari itu mendengarkan keluhan anaknya. Kata-kata sang anak jelas menggambarkan suasana rasa takut yang sedang menyelimuti hati anaknya. Sang ibu pun bisa merasakannya, walau matanya tak lagi bisa melihat, lbu yang dimaksud adalah Asma putri Abu Bakar dan putranya adalah Abdullah bin Zubair. 

  Dialog itu terjadi ketika Abdullah bin Zubair dikepung pasukan Hajjaj di Mekah. Dialog yang harus menjadi pelajaran untuk keluarga Muslim, terutama para ibu. Berikut dialog itu:

Abdullah: “Bunda, orang-orang merendahkanku termasuk anak dan keluargaku, tidak ada yang tinggal bersama kecuali sedikit saja dari mereka yang kesabarannya hanya sesaat dan mereka yang memberiku kesenangan dunia. Apa pendapatmu, bunda?.”

Asma’: “Kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri. Kalau kamu yakin berada dalam kebenaran dan menyeru kepadanya maka lanjutkan, teman-temanmu telah terbunuh karenanya maka jangan memberi kesempatan untuk dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayyah. 

  Tetapi jika kamu hanya ingin dunia, maka kamu seburuk-buruk hamba, kamu hancurkan dirimu dan siapa saja yang telah terbunuh bersamamu. Jika kamu katakan bahwa kamu berada dalam kebenaran, ketika teman-temanku lemah aku pun menjadi lemah, maka itu bukanlah perbuatan orang-orang merdeka dan ahli agama. Berapa lama kamu berada di dunia ini! Terbunuh lebih baik!.”

Abdullah: “Bunda, saya takut jika penduduk Syam membunuhku mereka akan memutilasi mayatku dan menyalibku.”

Asma’: “Anakku, seekor kambing tidak lagi merasakan sakit dikuliti setelah disembelih. Maka bergeraklah di atas petunjuk dan memohonlah pertolongan kepada Allah.”

  Abdullah mencium kepala ibunya dan berkata: “lnilah pendapatku, yang selama ini aku pegang kuat sampai hari ini adalah ketidak inginan untuk tinggal dan mencintai kehidupan dunia. Tidak ada yang mendorongku mengadakan perlawanan kecuali kemarahan karena Allah. 

  Aku ingin mengetahui pendapat bunda dan sungguh bunda telah menambahi jalan terang. Maka bunda, hari ini mungkin aku akan terbunuh, jangan sampai  kesedihanmu berlebihan dan serahkan seluruh urusan kepada Allah. 

  Putramu ini belum pernah sengaja melakukan kemungkaran dan kekejian, tidak lari dari hukum Allah, tidak khianat saat aman, tidak sengaja mendzalimi seorang Muslim atau non muslim yang damai, tidaklah aku mendengar ada kedzaliman yang dilakukan oleh para pejabatku kecuaii pasti aku menghilangkannya, tidak ada yang paling aku dahulukan kecuali keridhaan tuhanku. Ya Allah aku tidak mengatakan ini untuk menyatakan bahwa diriku bersih, tetapi aku katakan ini untuk menghibur bundaku hingga beliau terhibur!.”

  Asma’: “Cukuplah, aku berharap kehilanganku atas dirimu sangat baik. Jika kamu mendahuluiku aku mohon pahala dari Allah, jika kamu menang aku bahagia dengan kemenanganmu. Keluarlah, agar aku lihat apa akhir dari urusanmu.”

Abdullah: “Jazakallahu khairan, jangan lupa berdoa untukku.”

Asma’: “Aku tidak akan pernah lupa selamanya. Ya Allah rahmatilah shalat pada malam panjang itu, menahan dahaga di teriknya Mekah dan Madinah dan baktinya kepada ayah bundanya! Ya Allah aku sudah serahkan kepada-Mu, aku ridha dengan keputusan-Mu, maka berilah aku pahala orang-orang yang sabar dan bersyukur!

  Abdullah mengambil kedua tangan bundanya dan menciumnya.Asma' memeluknya dan menciumnya.Hari ini, memang tidak mudah mencari seorang ibu yang mendidik anaknya dengan cara pandang akhirat. Yang melahirkan seorang Abdullah dengan kekuatan jiwa dan orientasi jauh ke surga sana.

Budi Ashari, Lc

RRIAds - Madu Ruqyah Manis (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 

April 03, 2019