Jangan Menjadi Biang Bencana



Hari-hari sulit yang kita hadapi saat, mau tidak mau harus kita hadapi. Meskipun itu tidak mudah. Meskipun masih banyak orang yang tetap betah berenang di dalam comberan dosa. Setidaknya, setiap orang harus menata dirinya sendiri. Bila memang ia tidak bisa menata orang lain.

Kekacauan ini harus dibenahi. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Lantas, apa yang harus kita lakukan. Jauhkan perbuatan dosa. Jauhkan perbuatan maksiat. Jadikanlah syetan sebagai musuh, dan jangan jadikan dia sebagai teman. Tinggalkan kejahatan, baik kejahatan fisik, kejahatan harta, kejahatan jabatan, kejahatan opini, dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Sebisa mungkin setiap kita harus menjauhi tindak kejahatan. Apapun bentuknya. Memang ini susah. Tetapi tanpa itu semua bencana demi bencana akan terus mengancam. Baik mengancam pribadi, mengancam msyarakat, bahkan mengancam negara.

Melakukan kejahatan, apapun bentuknya, seperti meminum air laut. Semakin diminum semakin haus. Begitulah karena syetan begitu berhasil menggoda mannusia untuk melakukan sebuah kejahatan, ia akan mendorongnya untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Bila ia berhasil, maka syetan akan menggodanya, untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya.

Dalam kejahatan syahwat kemaluan misalnya, seorang penyair rnengatakan, Mulanya beradu pandang, lalu melempar senyuman. sesudah itu janjian, akhirnya terjadilah pertemuan. Sesudah itu bertiga bersama syetan.

Langkah selanjutnya, adalah dengan mencuci diri. Bertaubat dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Kejahatan itu ibarat kotoran. la harus dibersihkan. Dengan taubat dan memohon ampun kepada Allah.

Di zaman Nabi Nuh, kesulitan terjadi di mana-mana. Kekeringan melanda negeri. Maka Nai Nuh menasehati kaumnya untuk banyak-banyak beristigfar, memohon ampun kepada Allah. Nabi Nuh, seperti diabadikan melalui firman Allah di dalam Al-Qur’an mengakatan, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan keapdamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10 – 12)

Poin ini juga menjelaskan, bahwa bila bencana sangat berhubungan dengan dosa dan maksiat, sebaliknya, kebahagiaan, kedamaian, juga berhubungan dengan ketaatan, ketertiban, dan kesesuaian hidup di atas jalan Allah. Maka, setiap muslim harus memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Dari segala keiahatan yang nampak maupun yang tersembunyi.

Selanjutnya, selain istighfar dan memohon taubat, yang harus dilakukan adalah menunaikan hak-hak kehidupan. Setiap kita pasti punya tanggung jawab. Siapapun kita. Seorang gurukah kita, seorang Petani, seorang ulama, seorang pegawai, seorang polisi, bahkan seorang anak pun semua kita punya tanggung jawab dan punya kewajiban tertentu dalam hidup ini. Kewajiban itu bahkan merupakan hak bagi orang lain. Bila ada orang yang tidak menunaikan kewajiban, itu artinya ada hak orang lain yang tidak tertunaikan. Dalam istilah Rasulullah, kondisi ini disebut dengan, ‘Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.’

Dengan langkah-langkah tersebut, bencana yang menimpa bangsa ini semoga bisa kita hindari. Setidaknya, bila kita telah berbuat, kalaupun bencana itu masih menimpa, kita tidak dalam kapasitas sebagai biang kerok bencana, tapi sebatas korban yang sedang diuji oleh Allah.

Rumah Ruqyah Indonesia
Sumber : Majalah Ghoib Edisi 03/1

Comments