thumbnail

Kalung ‘Sakti’ Penebar Aroma Cinta

Posted by rumah ruqyah on 2019-03-26



Seorang mahasiswa tingkat akhir, datang ke kantor Majalah Ghoib untuk menjalani terapi ruqyah, karena ia merasa sulit tidur. Bersamaan dengan itu, ia juga membawa beberapa buah jimat yang selama ini telah disimpannya, untuk diserahkan dan minta segera dimusnahkan. Melalui saluran telepon ia menceritakan proses mendapatkan jimat-jimat ini.

“Awalnya saat kelas 3 SMA, saya trauma dengan sering terjadinya tawuran sesame murid SMA. Setelah seorang teman menawari saya ikut suatu perguruan, saya akhirnya tertarik untuk belajar ilmu yang dapat menjauhkan diri saya dari marabahaya. Awalnya, kegiatan perguruan hanya membaca sholawat Nabi. Pada perkembangan selanjutnya, pada malam Jum’at Kliwon, kami pergi ke Bogor untuk mengaji. Aktifitas di sana tidak membaca Al-Qur’an, tapi hanya membaca dzikir dan membaca sholawat Ibnu Abbas. Pengajian itu dimulai selepas maghrib. Di tengah-tengah pengajian tersebut terdapat sebuah gentong yang berisi air dan kembang-kembang. Setelah pengajian selesai, air tersebut diperebutkan oleh anggota pengajian untuk diambil berkahnya. Lebih dari itu, setiap bulan, perguruan  ini mengeluarkan 13 lembar amalan untuk diamalkan secara mandiri. Yang dibaca setelah shalat wajib. Lembaran-lembara amalan tersebut hanya dihargai seribu rupiah per lembar.

Setelah berjalan satu tahun, pengajian yang sekaligus sebuah perguruan ini, mengeluarkan jimat-jimat untuk diperjual-belikan kepada anggotanya, dengan membayar mahar. Saya pun membeli beberapa jimat untuk pegangan, termasuk jimat kalung ini. Pada mulanya, saya tidak merasa ganjil dengan aktivitas perguruan ini, karena semua yang dibaca adalah shalawat. Namun, ketika ada kegiatan pengajian ulang tahun perguruan ini di daerah Puncak Bogor, sebagian anggota kelompok pengajian ini tidak melaksanakan shalat Isya’. Katanya, shalat kita sudah ditanggung oleh guru besar perguruan ini yang tingkatannya sudah selevel Nabi. Walaupun kita juga dilarang berbuat jahat oleh perguruan ini, tapi hati saya sudah semakin tidak bisa menerimanya.

Suatu ketika saya membaca Majalah Ghoib di sebuah took buku. Dari situ saya semakin tahu, bahwa jimat yang selama ini saya simpang adalah barang terlaknat dan biang kemusyrikan. Pada saat mengikuti pengajian dulu, saya sering bergadang. Sehingga sekarang merasa sulit tidur. Saya akhirnya memutuskan untuk diterapi ruqyah dan menyerahkan jimat tersebut”.

Bentuk Jimat
Ada dua jimat yang diserahkan pemuda ini. Yang pertama, 4 lembar amalan yang di dalamnya terdapat tulisan Arab yang lebih banyak terdiri dari dua rangkai huruf hijaiyyah, seperti, lam dan ha, serta dho’ dan waw. Pada bagian tengahnya terdapt tulisan ayat yang terpotong-potong disertai dengan rangkaian angka-angka Arab yang tidak jelas maksudnya. Sementara di bagian pinggir, terdapt 12 kotak yang secara bergantian bertuliskan angka Arab tiga digit dan satu huruf hijaiyyah. Untuk menambah keyakinan, tulisan ini sudah rapi di laminating.

Yang kedua adalah sebuah kalung berbentuk segitiga berukuran 8x8 cm. pada ketiga sisi kalung tersebut, bertuliskan gabungan huruf lam dan ha. Pada bagian tengahnya, terdapat juga sebuah kotak kecil berukuran 4.5x3 cm. pada kotak ini, terdapat tulisan Allah dan Muhammad dalam segitiga yang lebih kecil ukurannya. Empat buah lingkaran kecil terdapat pada keempat sisi kotak ini. Tidak jelas benar, apa yang ditulis di situ. Sementara tulisan Ya Allah dan Ya Muhammad mengelilingi seluruh sisi pinggir kotak ini. Yang lebih aneh lagi, pada pinggir kotak ini terdapat tulisan Allah dan Muhammad yang dipisah setiap hurufnya.

‘Kesaktian’ Jimat
Jimat ini didapat dengan membayar mahar Rp. 113.000,-. Katanya, “kalung ini manfaatnya untuk kebalikannya. Orang yang jahat kepada kita akan jadi baik, orang yang akan menagih hutang tidak akan jadi, orang yang membenci kita akan berbalik menyayangi kita. Jimat ini juga dapat menimbulkan rasa mahabbah atau cinta orang yang melihat kita. Sehingga setelah memakai jimat ini, kita akan semakin bertambah pede (percaya diri) saat mengahadapi siapa pun”.

Bongkar Jimat
Rasa takut adalah fitnah asasi manusia. Takut terhadap marabahaya, takut akan kejahatan manusia, takut akan gangguan syetan dan makhluk jahat serta takut akan penyakit kronis yang menimpa orang-orang yang kita cintai. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kita salah dalam mencari perlindungan dalam mengahadapi segala marabahaya yang akan menimpa kita itu.

Mencari perlindungan dengan mengikuti pengajian atau perguruan yang menggunakan media jimat adalah sebuah pilihan yang fatal. Karena jimat yang telah dikeluarkan oleh perguruan tersebut sebagai alat perlindungan merupakan benda yang tidak memiliki manfaat apapun, bahkan menyesatkan. Allah adalah sebaik-baik pelindung, karena Allah penguasa makhluk yang Nampak maupun yang tidak Nampak. “Hendaklah kamu berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98).

Adapun tulisan-tulisan yang tertera pada kedua jimat tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Karena Allah tidak menjadikan benda semacam kalung baik yang bertuliskan huruf-huruf Arab atau huruf lain sebagai sarana untuk menolak marabahaya yang akan menimpa kita. Karena pada hakikatnya, yang telah mentaqdirkan adanya marabahaya adalah Allah. Oleh karena itu, segala perlindungan yang kita mohon harus kita tujukan kepada Allah semata. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an , “Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan orang-orang kafir pelindungnya adalah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan.” (QS. Al-Baqarah : 257).

Huruf-huruf yang tertulis dalam jimat ini, merupakan potret kemusyrikan dan kesesatan. Huruf-huruf yang terangkai dari 2 huruf, seperti lam dan ha, tidak jelas apa manfaatnya. Atau behakan itu merupakan huruf-huruf yang biasa digunakan dukun untuk mengundang jin agar membantu orang yang mengamalkan atua menyimpan jimat tersebut. Bahkan pemenggalan tulisan Allah dan Muhammad merupakan bukti dari pelecehan terhadap kebesaran Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Lebih dari itu, manusia yang mengaku selevel dengan Nabi Muhammad adalah sebuah pengakuan yang mungkar. Karena pada hakikatnya tidak ada menusia yang dapat menyamai kemuliaan Nabi Muhammad. Oleh karena itu, waspadalah terhadap segala jenis praktik perguruan yang menyesatkan dan menyimpang dari aturan syariat Islam serta contoh dari Rasulullah SAW.

Semoga Allah memberikan ketenangan serta limpahan ampunan kepada pemuda ini, yang telah melepaskan segala bentuk aktivitas kemusyrikan. Dengan menyerahkan segala bentuk jimat yang selama ini dianggapnya mempunyai manfaat dan kekuatan.

Rumah Ruqyah Indonesia
March 26, 2019
thumbnail

Jangan Tertipu Lagi, Sihir Bertopeng Karamah

Posted by rumah ruqyah on 2019-03-24



Sudah banyak korban berjatuhan. Akibat ulah jin dan para kroninya, dukun. Dengan berbagai cara para dukun yang kini telah banyak berganti penampilan itu mengelabui korbannya. Ketika banyak yang tidak percaya dengan masalah mistis yang dihubungkan langsung dengan jin, maka sebagian orang pinter itu merubah strategi menggaet korbannya. Kini banyak yang mengatasnamakan ajaran Islam. Ditonjolkan dzikir dan wirid yang akrab kita dengar. Supaya orang menyangka bahwa ini bukanlah sihir tetapi karamah. Padahal, walaupun berbeda caranya isinya tetap sama. Tetap saja mereka teken kontrak dengan jin untuk saling membantu.
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita tidak menjadi korban kesyirikan tingkat tinggi itu.
1.    Iman Kita, Paling Mahal Dalam Hidup Kita.
Apapun masalah kita. Apapun problematika hidup kita. Apapun derita yang kini kita alami. Iman adalah sesuatu yang paling mahal dalam hidup kita. Lebih mahal dari kesehatan kita, lebih mulia dari kekayaan kita dan jabatan kita. Lebih berharga dari fisik kita.
Iman jangan diukur dengan sekelumit dunia yang akan kita tinggal itu. Tanpa iman seseorang akan bagai tengkorak berjalan. Lebih hina dari binatang. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).
Kalaupun kita sakit parah, jadilah seperti Nabi Ayyub yang tidak pernah menukar imannya dengan sekedar kesembuhan. Sakitnya bertahun lamanya dan iman tetap bertahan. Utsman bin Affan tidak perlu menggunakan jimat atau dukun untuk mempertahankan bisnisnya. Ketika beliau dibunuh, istrinya berkata, “Kalian telah membunuh orang yang sangat mencintai Al-Qur’an dan sholat malam.” Itulah rahasianya. Tidak seorang pun dari khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yang mengejar dan mempertahankan jabatan dengan kesyirikan.
Ini yang harus kita pertebal dalam hati kita. Iman ini harus dipelihara jangan sampai usang dimakan usia atau rusak oleh virus kesyirikan, apalagi hanya ditukar dengan sampah dunia yang hanya membebani kita di dunia dan akhirat.
2.    Jangan Cepat Silau Dengan Kelebihan Seseorang
Kita telah mengetahui bahwa kelebihan tidak selamanya karamah. Bahkan hari ini sihir lebih banyak bermunculan bak jamur di musim penghujan. Ketika kita membaca atau mendengar atau menyaksikan sendiri suatu keanehan, kadigdayaan dari seseorang, jangan cepat silau. Jangan cepat berkesimpulan bahwa dia adalah orang sakti yang tidak terkalahkan.
Walaupun perdukunan konvesional masih cukup digemari, kin banyak yang beralih ke dukun dengan berpenampilan sebagai ustadz atau kiyai. Kita tidak sedang menyalahkan apalagi menghina para ustadz dan kiyai kita. Tetapi ini adalah kebenaran yang harus sampai kepada siapa pun. Ini adalah aqidah yang tidak boleh dicemari dan dirusak dengan kesyirikan sekecil apapun.
Kita harus mempunyai filter dan timbangan yang benar. Yaitu syariat Islam. Dengan terperinci timbangan itu dinyatakan oleh Syaikhul Islam, “Jika ada yang mempunyai kelebihan maka dia harus ditimbang dengan syariat. Jika dia orang yang istiqomah maka kelebihan itu adalah karamah. Dan jika dia bukan orang yang istiqomah maka itu adalah fitnah, seperti halnya fitnah yang akan dibawa oleh Dajjal berupa kemampuan menghidupkan orang mati dan surga nerakanya. Sesungguhnya orang yang demikian itu, tersesat dan tidak mendapatkan bagian (di akhirat).”
Selanjutnya beliau menjelaskan, “Adapun orang yang berpegang teguh pada syariat Islam yang mulia ini, maka jika dia melihat seseorang dapat terbang di udara atau berjalan di atas air, maka dia mengetahui bahwa hal itu adalah fitnah untuk para hamba.” (Majmu Fatawa 4/16)
Ya, janganlah silau dengan kelebihan yang dimiliki siapa pun. Sekali lagi siapa pun. Karena setiap kita bisa salah. Yang terjaga dari dosa hanya Rasulullah SAW. Imam Malik sambil menunjuk makam Nabi berkata, “Setiap kita, pendapatnya mungkin diterima dan mungkin ditolak. Kecuali penghuni makam ini.”
3.    Kejarlah Istiqomah, Bukan Karamah
Simaklah pesan Imam Al-Jurjani: “Jadilah pemburu istiqomah dan jangan memburu karamah. Untuk apa Anda memburu karamah padahal Allah menuntut Anda istiqomah.”
Pesan kebenaran telah disampaikan. Allah berfirman, “Maka dari itu serulah (mereka kepada agama) dan istiqomahlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Asy-Syura: 15). Kemudian Allah member kabar gembira bagi orang yang istiqomah dalam syariatnya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)
Untuk itulah kita diperintahkan untuk mengejar istiqomah dan bukan karamah. Walaupun banyak diantara kita ingin sekali mempunyai karamah tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syekh Sahrawardi, “Ahli ijtihad dan ibadah telah mendengar dari salafushaleh dulu tentang karamah dan keanehan-keanehan yang mereka miliki. Kemudian para ahli ijtihad dan ibadah itu kini sangat ingin memilikinya. Sebagian merasa sangat sedih, menuduh bahwa selama ini amalnya tidak benar karena tidak mendapatkan karamah. Padahal kalau saja mereka tahu rahasia masalah ini, tentu tidak mendapatkan karamah sangatlah remeh baginya. Karena karamah terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah taufik untuk menjalankan hal yang dicintai dan diridhoi Allah berupa ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, membela wali Allah dan memusuhi musuh Allah.”
Ya, istiqomah di tengah zaman penuh maksiat ini suatu yang luar biasa. Itulah karamah terbesar. Setiap kita seharusnya terus berusaha aga mempunyai diri yang istiqomah. Karena istiqomah lebih baik dari seribu karamah.
4.    Mintalah Perlindungan Kepada Allah.
Allah lah yang telah menciptakan semuanya. Kalu jin bisa melihat kita sementara kita tidak melihat mereka, dan mereka menebarkan bahaya sewaktu-waktu, maka jalan terbaik untuk melindungi diri adalah meminta perlindungan kepada yangmenciptakan mereka.
Rasulullah SAW. telah mengajarkan kepada kita doa-doa perlindungan. Salah satunya seperti yang diajarkan ayat, “Dan katakanlah: Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan dan aku berlindung kepada Engkau yang Tuhanku , dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mukminun: 97-98).
Sebuah ajaran perlindungan yang sempurna. Agar kita tidak digida, diganggu dan tergiut dengan iming-iming manis syetan jin dan jin manusia.
Sudah banyak yang mengorbankan aqidah, harta, diri dan keluarganya demi memenuhi kerasukan dukun dan jin. Dengan kedok karamah, sihir telah berhasil mereka kemas menjadi karamah. Racun itu berlabelkan madu.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
March 24, 2019
thumbnail

Jangan Menjadi Biang Bencana

Posted by rumah ruqyah on 2019-03-19



Hari-hari sulit yang kita hadapi saat, mau tidak mau harus kita hadapi. Meskipun itu tidak mudah. Meskipun masih banyak orang yang tetap betah berenang di dalam comberan dosa. Setidaknya, setiap orang harus menata dirinya sendiri. Bila memang ia tidak bisa menata orang lain.

Kekacauan ini harus dibenahi. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Lantas, apa yang harus kita lakukan. Jauhkan perbuatan dosa. Jauhkan perbuatan maksiat. Jadikanlah syetan sebagai musuh, dan jangan jadikan dia sebagai teman. Tinggalkan kejahatan, baik kejahatan fisik, kejahatan harta, kejahatan jabatan, kejahatan opini, dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Sebisa mungkin setiap kita harus menjauhi tindak kejahatan. Apapun bentuknya. Memang ini susah. Tetapi tanpa itu semua bencana demi bencana akan terus mengancam. Baik mengancam pribadi, mengancam msyarakat, bahkan mengancam negara.

Melakukan kejahatan, apapun bentuknya, seperti meminum air laut. Semakin diminum semakin haus. Begitulah karena syetan begitu berhasil menggoda mannusia untuk melakukan sebuah kejahatan, ia akan mendorongnya untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Bila ia berhasil, maka syetan akan menggodanya, untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya.

Dalam kejahatan syahwat kemaluan misalnya, seorang penyair rnengatakan, Mulanya beradu pandang, lalu melempar senyuman. sesudah itu janjian, akhirnya terjadilah pertemuan. Sesudah itu bertiga bersama syetan.

Langkah selanjutnya, adalah dengan mencuci diri. Bertaubat dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Kejahatan itu ibarat kotoran. la harus dibersihkan. Dengan taubat dan memohon ampun kepada Allah.

Di zaman Nabi Nuh, kesulitan terjadi di mana-mana. Kekeringan melanda negeri. Maka Nai Nuh menasehati kaumnya untuk banyak-banyak beristigfar, memohon ampun kepada Allah. Nabi Nuh, seperti diabadikan melalui firman Allah di dalam Al-Qur’an mengakatan, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan keapdamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10 – 12)

Poin ini juga menjelaskan, bahwa bila bencana sangat berhubungan dengan dosa dan maksiat, sebaliknya, kebahagiaan, kedamaian, juga berhubungan dengan ketaatan, ketertiban, dan kesesuaian hidup di atas jalan Allah. Maka, setiap muslim harus memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Dari segala keiahatan yang nampak maupun yang tersembunyi.

Selanjutnya, selain istighfar dan memohon taubat, yang harus dilakukan adalah menunaikan hak-hak kehidupan. Setiap kita pasti punya tanggung jawab. Siapapun kita. Seorang gurukah kita, seorang Petani, seorang ulama, seorang pegawai, seorang polisi, bahkan seorang anak pun semua kita punya tanggung jawab dan punya kewajiban tertentu dalam hidup ini. Kewajiban itu bahkan merupakan hak bagi orang lain. Bila ada orang yang tidak menunaikan kewajiban, itu artinya ada hak orang lain yang tidak tertunaikan. Dalam istilah Rasulullah, kondisi ini disebut dengan, ‘Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya.’

Dengan langkah-langkah tersebut, bencana yang menimpa bangsa ini semoga bisa kita hindari. Setidaknya, bila kita telah berbuat, kalaupun bencana itu masih menimpa, kita tidak dalam kapasitas sebagai biang kerok bencana, tapi sebatas korban yang sedang diuji oleh Allah.

Rumah Ruqyah Indonesia
Sumber : Majalah Ghoib Edisi 03/1
March 19, 2019