Jimat, Penghalang Kematian?


Saudaraku....

Ketahuilah...istilah "pegangan" dengan berbagai macam jenisnya oleh kebanyakan orang difahami sebagai suatu yang akan menyulitkan ketika menjelang wafatnya. Orang-orang zaman dulu maupun zaman sekarang ada sebagaian dari mereka masih percaya adanya manfaat dari memiliki barang tersebut dengan konsekwensi masing-masing ketika benda itu dimiliki. Ada yang mesti diberi sesaji tiap malam tetentu, atau melakukan macam-macam ritual, puasa, dzikir, sholat dan melakukan ibadah yang tidak ada tuntunan Nabi Muhammad SAW atau salah dalam niatnya. 

Setan, jimat, pegangan, sihir dan semacamnya, yang mesti menjadi perhatian kita adalah apakah kita boleh menjadikan hal semacam itu sebagai 'sesuatu' yang dapat memberi manfaat dan keuntungan pada kehidupan kita? Sama seperti halnya kita perlu mengetahui pula penjahat atau perampok bagaimana cara kerjanya dan sepak terjangnya, tapi ada larangan "tidak boleh memakai jasanya atau mengamalkan ilmunya", yaitu menjadi perampok.

Sudah menjadi rahasia umum apabila ada sebagian orang yang terlihat susah meninggalnya mereka berkesimpulan karena "pegangan" ilmunya, belum dibuang.

Kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa dihindari oleh siapapun, begitu juga tidak ada yang mampu memajukan dan memundurkanya, tidak ada yang tahu kapan dan di mana akan mati hanya Allah yang Maha Tahu tentang "kematian". Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an:

"Artinya : "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".(lukman: 34).



[1] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Menurut hemat penulis, orang yang mempunyai atau memiliki "pegangan" ketika sehat badannya - dengan segala pra-syarat yang diminta oleh makhluk yang ada di benda itu- akan memenuhi segala permintaan dari penuggu benda itu agar benda itu mempunyai kekuatan yang diharapkan sesuai dengan si pencari manfaat dari benda bertuah itu. Bahasa hadistnya "amal tergantung niatnya".

Namun ketika si empunya benda itu sadar bahwa hal demikian adalah merusak Aqidah kemudian tidak lagi mengakui keampuhan dan manfaat memiliki dari benda itu atau tidak memberikan lagi apa yang diminta si penunggu benda tersebut maka ada beberapa kemungkinan; penunggu benda itu pergi begitu saja alias tidak punya dampak apa-apa terhadap dirinya, atau membalas menyakitinya karena merasa tidak diberi sajen atau melakukan peribadatan padanya.

Dan yang penting adalah keyakinan kita, bahwa ayat di atas menjawab pertanyaan yang selama ini tidak kunjung habis dibicarakan ketika ada kasus-kasus (susah meninggal) yang terjadi di sekitar kita. Dan bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi pada makhluk Allah yang bernyawa.

Sikap sebagai Muslim adalah apabila mendapati saudara atau sanak kerabat yang mengalami hal yang demikian (terkesan sulit meninggalnya), maka jalan keluarnya adalah tidak merujuk pada jasa dukun atau semisalnya. Cukup dengan menyuruh kepada orang yang bersangkutan, apabila ia masih dalam kesadaran penuh alias tidak sakit, dianjurkan untuk membuang atau menghancurkanya benda-benda itu, kemudian dibacakan atau didengarkan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an untuk mengetahui atau mendeteksi ada dan tidaknya pengaruh dari benda itu pada dirinya.

Namun jika ragu untuk mengambil keputusan sebaiknya dibicarakan dengan yang sudah berpengalaman menangani masalah ini dengan cara yang syar'i dan punya rujukan jelas yaitu Al-Qur'an dan Hadist. Insya Allah akan menambah ketenangan hati kita semua dan pengetahuan baru dalam Agama Islam. 

Wallahul musta'an. 

Aris Fathoni, SPdi

Comments