thumbnail

Menikahkah Orang Lain, Halangi Jodoh Anak-Anak?

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-31



Katanya, bila seseorang belum pernah menikahkan anak-anaknya, maka dia tidak boleh menggelar hajatan pernikahan orang lain di rumahnya. Pantangan ini tidak boleh dilanggar, bila tidak ingin terkena bala’. Anak-anaknya akan jauh dari jodohnya, alias menjadi perawan atau perjaka tua.
Mitos ini masih berkembang di sebagiaan masyarakat perkotaan. Khususnya yang berasal dari suku Jawa. Meski ketika ditanya darimana asal-usulnya dan bagaimana ceritanya bermula, mereka hanya menggelengkan kepala. “Pokoknya begitulah yang kami dengar dari nenek moyang kami,” kalimat seperti inilah yang muncul dari bibir mereka.

Menurut Ibu Heni yang tinggal di Bekasi, ada seorang temannya yang menjadi korban mitos ini. Sebut saja namanya Ibu Ria yang kebetulan ketempatan adik dan orangtuanya. Ibu Ria yang belum pernah menikahkan anak-anaknya ketar-ketir bila harus menggelar hajatan di rumahnya. Suara tetangga kiri kanan juga sudah rebut mengingatkan Ibu Ria agar tidak gegabah. Akhirnya diambilah jalan pintas. Ibu Ria menyelenggarakan hajatan pernikahan adiknya di gedung.

Bagi mereka yang mampu, mungkin tidak masalah menyewa gedung. Tapi bagi orang yang berkantong cekak, tentu masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada sekedar menyewa gedung.

Tapi untuk menantang mitos yang sudah mengakar dan menyelenggarakan hajatan walimah – dilaksanakan di tempat mempelai wanita – seperti biasa, tidak banyak orang yang berani melakukannya. Akhirnya diambilah jalan tengah. Mempelai wanita tetap menyelenggarakan akad nikah di rumah. Tapi tidak diperkenankan berhias layanknya seorang pengantin yang nikah dengan adat Jawa. Ia hanya berpakaian seperti wanita lainnya yang tidak sedang menikah.

Selain itu, orangtua mempelai wanita juga tidak diperkenankan menerima amplop atau bingkisan dari para tamu undangan. Kalau ada yang member, maka bingkisan atau amplop itu harus dikembalikan.

Kasihan, sungguh kasihan orang-orang yang termakan dengan mitos katanya ini. Mereka membuat tipuan sedemikian rupa, hanya karena takut pada mitos yang tidak jelas unjung pangkalnya.

Padahal, dalam kaca mata Islam, pernikahan adalah sesuatu yang sacral. Pernikahan adalah momen yang layak untuk dirayakan. Rasulullah SAW mengatakan, “Selenggarakan walimah, walau hanya dengan memotong seekor kambing.”

Dalam Islam, tidak disyaratkan bahwa seseorang harus terlebih dahulu menikahkan anak-anaknya sebelum dia menikahkan anak orang lain di rumahnya. Itu juga bukan syarat sah nikah. Masalah menikahkan anak orang lain di rumahnya dan masalah nak-anaknya yang belum menikah adalah dua hal berbeda yang harus disikapi dengan cara berbeda pula.

Karena itu jangan termakan oleh mitos-mitos yang tidak berdasar. Karena semua itu hanya akan mengotori aqidah kita dan bikin susah sendiri.

Ust Muswadi Ahmad Lc
January 31, 2019
thumbnail

Mimpi Jadi Pengantin, Tanda Kematian?

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-22



Lagi-lagi mimpi. Lagi-lagi mimpi. Ya, mimpi selalu menjadi sumber mitos di tengah masyarakat. Kali ini, mimpi menjadi pengantin.

Eiit, jangan girang dulu. Mimpi menjadi pengantin belum tentu menyenangkan. Dalam kenyataan, semua orang merasa senang saat menjadi pengantin. Kalaupun ada yang tidak bahagia, itu hanya segelintir orang. Dan jumlahnya tidaklah banyak.

Itu dalam dunia nyata lho. Dalam dunia katanya, lain lagi urusannya. Bila ada yang bermimpi menjadi pengantin, justru harus was-was. Mengapa? Ya, karena kepercayaan di masyarakat itu membuat bulu kuduk merinding.

Bayangkan bila sang pengantin itu meninggal. Wah, takut toh. Begini ceritanya, bila Ratih memimpikan Warto sedang mengenakan pakaian pengantin dan bersanding dengan istrinya, maka diyakini tak berapa lama lagi Warto atau orang yang terbayang dalam mimpi itu akan meninggal.

Tentu Warto ketakutan mendenga cerita itu. Tak lama lagi di menjadi santapan cacing tanah. Walah, walahhh bisa pingsan dia.

Nah, konon, untuk menghalangi datangnya malaikat Izra’il itu, orang yang bermimpi harus melakukan sesuatu. Caranya mudah. Tidak perlu uang jutaan. Beberapa lembar ribuan juga sudah cukup. Tinggal membeli kembang setaman lalu ditabur di perempatan jalan. Beres. Warto tidak perlu cemas. Begitu mitos yang berkembang di sebagian masyarakat.

Sebuah kepercayaan yang tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin malaikat Izra’il bisa dilawan hanya dengan kembang setaman. Emangnya malaikat takut sama bunga? Tidak ada yang ditakuti malaikat selain Allah. Jangankan kembang setaman, Iblis pun dilawan.

Pada sisi lain, setiap makhluk yang bernyawa itu telah ditentukan batas kematiannya. “Kullu nafsin dzaa’iqotul mauut” setiap yang bernyawa itu akan meninggal, firman Allah dalam tiga surat yang berbeda; Ali Imran: 185, al-Anbiya’: 35 dan al-Ankabut: 57.

Kematian yang telah ditentukan, tempat, hari, tanggal dan jamnya. Tidak akan bergeser dari ketentuan Allah walau satu detik. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34).

Waspadalah, waspadalah!! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.

Muswadi Ahmad Lc
January 22, 2019
thumbnail

Jimat, Penghalang Kematian?

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-17


Saudaraku....

Ketahuilah...istilah "pegangan" dengan berbagai macam jenisnya oleh kebanyakan orang difahami sebagai suatu yang akan menyulitkan ketika menjelang wafatnya. Orang-orang zaman dulu maupun zaman sekarang ada sebagaian dari mereka masih percaya adanya manfaat dari memiliki barang tersebut dengan konsekwensi masing-masing ketika benda itu dimiliki. Ada yang mesti diberi sesaji tiap malam tetentu, atau melakukan macam-macam ritual, puasa, dzikir, sholat dan melakukan ibadah yang tidak ada tuntunan Nabi Muhammad SAW atau salah dalam niatnya. 

Setan, jimat, pegangan, sihir dan semacamnya, yang mesti menjadi perhatian kita adalah apakah kita boleh menjadikan hal semacam itu sebagai 'sesuatu' yang dapat memberi manfaat dan keuntungan pada kehidupan kita? Sama seperti halnya kita perlu mengetahui pula penjahat atau perampok bagaimana cara kerjanya dan sepak terjangnya, tapi ada larangan "tidak boleh memakai jasanya atau mengamalkan ilmunya", yaitu menjadi perampok.

Sudah menjadi rahasia umum apabila ada sebagian orang yang terlihat susah meninggalnya mereka berkesimpulan karena "pegangan" ilmunya, belum dibuang.

Kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa dihindari oleh siapapun, begitu juga tidak ada yang mampu memajukan dan memundurkanya, tidak ada yang tahu kapan dan di mana akan mati hanya Allah yang Maha Tahu tentang "kematian". Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an:

"Artinya : "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".(lukman: 34).



[1] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Menurut hemat penulis, orang yang mempunyai atau memiliki "pegangan" ketika sehat badannya - dengan segala pra-syarat yang diminta oleh makhluk yang ada di benda itu- akan memenuhi segala permintaan dari penuggu benda itu agar benda itu mempunyai kekuatan yang diharapkan sesuai dengan si pencari manfaat dari benda bertuah itu. Bahasa hadistnya "amal tergantung niatnya".

Namun ketika si empunya benda itu sadar bahwa hal demikian adalah merusak Aqidah kemudian tidak lagi mengakui keampuhan dan manfaat memiliki dari benda itu atau tidak memberikan lagi apa yang diminta si penunggu benda tersebut maka ada beberapa kemungkinan; penunggu benda itu pergi begitu saja alias tidak punya dampak apa-apa terhadap dirinya, atau membalas menyakitinya karena merasa tidak diberi sajen atau melakukan peribadatan padanya.

Dan yang penting adalah keyakinan kita, bahwa ayat di atas menjawab pertanyaan yang selama ini tidak kunjung habis dibicarakan ketika ada kasus-kasus (susah meninggal) yang terjadi di sekitar kita. Dan bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi pada makhluk Allah yang bernyawa.

Sikap sebagai Muslim adalah apabila mendapati saudara atau sanak kerabat yang mengalami hal yang demikian (terkesan sulit meninggalnya), maka jalan keluarnya adalah tidak merujuk pada jasa dukun atau semisalnya. Cukup dengan menyuruh kepada orang yang bersangkutan, apabila ia masih dalam kesadaran penuh alias tidak sakit, dianjurkan untuk membuang atau menghancurkanya benda-benda itu, kemudian dibacakan atau didengarkan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an untuk mengetahui atau mendeteksi ada dan tidaknya pengaruh dari benda itu pada dirinya.

Namun jika ragu untuk mengambil keputusan sebaiknya dibicarakan dengan yang sudah berpengalaman menangani masalah ini dengan cara yang syar'i dan punya rujukan jelas yaitu Al-Qur'an dan Hadist. Insya Allah akan menambah ketenangan hati kita semua dan pengetahuan baru dalam Agama Islam. 

Wallahul musta'an. 

Aris Fathoni, SPdi
January 17, 2019