thumbnail

Jimat, Penghalang Kematian?

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-17


Saudaraku....

Ketahuilah...istilah "pegangan" dengan berbagai macam jenisnya oleh kebanyakan orang difahami sebagai suatu yang akan menyulitkan ketika menjelang wafatnya. Orang-orang zaman dulu maupun zaman sekarang ada sebagaian dari mereka masih percaya adanya manfaat dari memiliki barang tersebut dengan konsekwensi masing-masing ketika benda itu dimiliki. 

Ada yang mesti diberi sesaji tiap malam tetentu, atau melakukan macam-macam ritual, puasa, dzikir, sholat dan melakukan ibadah yang tidak ada tuntunan Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam atau salah dalam niatnya. 

Setan, jimat, pegangan, sihir dan semacamnya, yang mesti menjadi perhatian kita adalah apakah kita boleh menjadikan hal semacam itu sebagai 'sesuatu' yang dapat memberi manfaat dan keuntungan pada kehidupan kita? 

Sama seperti halnya kita perlu mengetahui pula penjahat atau perampok bagaimana cara kerjanya dan sepak terjangnya, tapi ada larangan "tidak boleh memakai jasanya atau mengamalkan ilmunya", yaitu menjadi perampok.


Sudah menjadi rahasia umum apabila ada sebagian orang yang terlihat susah meninggalnya mereka berkesimpulan karena "pegangan" ilmunya, belum dibuang.


Kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa dihindari oleh siapapun, begitu juga tidak ada yang mampu memajukan dan memundurkanya, tidak ada yang tahu kapan dan di mana akan mati hanya Allah yang Maha Tahu tentang "kematian"

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman dalam Al-Qur'an:


"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok [1]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS. Luqman: 34).

[1] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Menurut hemat penulis, orang yang mempunyai atau memiliki "pegangan" ketika sehat badannya - dengan segala pra-syarat yang diminta oleh makhluk yang ada di benda itu- akan memenuhi segala permintaan dari penunggu benda itu agar benda itu mempunyai kekuatan yang diharapkan sesuai dengan si pencari manfaat dari benda bertuah itu. Bahasa hadistnya "amal tergantung niatnya".

Namun ketika si empunya benda itu sadar bahwa hal demikian adalah merusak Aqidah kemudian tidak lagi mengakui keampuhan dan manfaat memiliki dari benda itu atau tidak memberikan lagi apa yang diminta si penunggu benda tersebut maka ada beberapa kemungkinan; penunggu benda itu pergi begitu saja alias tidak punya dampak apa-apa terhadap dirinya, atau membalas menyakitinya karena merasa tidak diberi sajen atau melakukan peribadatan padanya.


Dan yang penting adalah keyakinan kita, bahwa ayat di atas menjawab pertanyaan yang selama ini tidak kunjung habis dibicarakan ketika ada kasus-kasus (susah meninggal) yang terjadi di sekitar kita. Dan bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi pada makhluk Allah yang bernyawa.

Sikap sebagai Muslim adalah apabila mendapati saudara atau sanak kerabat yang mengalami hal yang demikian (terkesan sulit meninggalnya), maka jalan keluarnya adalah tidak merujuk pada jasa dukun atau semisalnya. 

Cukup dengan menyuruh kepada orang yang bersangkutan, apabila ia masih dalam kesadaran penuh alias tidak sakit, dianjurkan untuk membuang atau menghancurkanya benda-benda itu, kemudian dibacakan atau didengarkan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an untuk mengetahui atau mendeteksi ada dan tidaknya pengaruh dari benda itu pada dirinya.


Namun jika ragu untuk mengambil keputusan sebaiknya dibicarakan dengan yang sudah berpengalaman menangani masalah ini dengan cara yang syar'i dan punya rujukan jelas yaitu Al-Qur'an dan Hadist. Insya Allah akan menambah ketenangan hati kita semua dan pengetahuan baru dalam Agama Islam. 

Wallahul musta'an. 


Aris Fathoni, SPdi
January 17, 2019
thumbnail

Mengenali Biodata Iblis

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-15


  Tahukah anda siapa musuh manusia sepanjang masa? Pernahkah kita mengamati dan mencari tahu siapa dia? Tahukah kita akan dirinya? Tahukah kita akan sifat-sifatnya? Tahukah kita jika terjebak jeratnya? Jika belum tahu dengan seksama, patut kita renungkan informasi berikut, firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

  "Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim." (al-Kahf:50).

  Berikut ini ada biodata lengkap tentangnya. Lebih lanjut kita bisa merujuk ke Dalam Al Quran. Silahkan buka: (al-Baqarah): 34 (al-A’raaf): 11 (al-Hijr): 31, (al-Israa’): 61, (al-Kahfi) : 50, (Thaaha) : 116 dan (Shaad) : 74.

Nama  : Iblis

Gelar   : Laknatullah ‘Alaihi (semoga Allah melaknatnya)

Lahir    : Sebelum diciptakan manusia

Tempat tinggal  : Toilet dan rumah yang tidak disebut nama Allah ketika memasukinya

Singgasana   : Di atas air

Rumah masa depan : Neraka Jahanam, seburuk-buruk tempat tinggal

Agama   : Kafir

Jabatan  : Pimpinan Umum orang-orang yang dimurkai Allah dan sesat

Masa Jabatan  : Hingga hari Kiamat

Karyawan   : Setan jin dan setan manusia

Partner bekerja  : Orang yang diam dari kebenaran

Agen  : Dukun dan paranormal

Musuh : kaum Muslimin

Kekasih di dunia  : Wanita yang hobi telanjang dan pamer aurat

Keluarga : Para thaghut

Cita-cita : Ingin membuat semua manusia kafir

Motto  : Kemunafikan adalah akhlak yang paling utama

Hobi : Menyesatkan manusia dan menjerumuskan ke dalam dosa

Lukisan kesayangan : Tato

Mata pencaharian     : Mencari harta yang haram

Makanan favorit       : Bangkai manusia (ghibah), yang tidak baca basmalah

Tempat favorit          : Tempat-tempat najis dan tempat maksiat

Tempat dibenci          : Majlis ilmu dan temat-tempat ketaatan

Alat komunikasi        : ghibah (menggunjing), namimah (adu domba) , dan dusta

Jurus Andalan :

1. Memoles kebathilan

2. Menamakan Maksiat dengan nama yang indah

3. Menamakan Ketaatan dengan nama yang tidak disukai

4. Masuk melalui pintu yang disukai manusia

5. Menyesatkan manusia secara bertahap

6. Menghalang-halangi manusia dari kebenaran

7. Berlagak sebagai penasihat

Kelemahan :

1. Tidak berkutik di hadapan orang yang ikhlas

2. kewalahan menghadapi orang yang berilmu

3. Lari dari suara adzan

4. Lari dari rumah yang dibacakan al-Baqarah

5. Menyingkir dari orang yang berdzikir kepada Allah

6. Menangis ketika melihat orang bersujud kepada Allah

Diringkas dan diadaptasi dari kitab “Wiqayatul Insan minal Jin wasy Syayaathin”, karya Wahid Abdus Salam Bali, Oleh : Abu Umar Abdillah

Sumber : http://bungakehidupan.wordpress.com
January 15, 2019
thumbnail

Menikahkan Orang Lain, Halangi Jodoh Anak-Anak?

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-08

  Katanya, bila seseorang belum pernah menikahkan anak-anaknya, maka dia tidak boleh menggelar hajatan pernikahan orang lain di rumahnya. Pantangan ini tidak boleh dilanggar, bila tidak ingin terkena bala’. Anak-anaknya akan jauh dari jodohnya, alias menjadi perawan atau perjaka tua!

  Mitos ini masih berkembang di sebagian masyarakat perkotaan. Khususnya yang berasal dari suku Jawa. Meski ketika ditanya darimana asal-usulnya dan bagaimana ceritanya bermula, mereka hanya menggelengkan kepala. “Pokoknya begitulah yang kami dengar dari nenek moyang kami,” kalimat seperti inilah yang muncul dari bibir mereka.

  Menurut Ibu Heni yang tinggal di Bekasi, ada seorang temannya yang menjadi korban mitos ini. Sebut saja namanya Ibu Ria yang kebetulan ketempatan adik dan orangtuanya. Ibu Ria yang belum pernah menikahkan anak-anaknya ketar-ketir bila harus menggelar hajatan di rumahnya. 

  Suara tetangga kiri kanan juga sudah ribut mengingatkan Ibu Ria agar tidak gegabah. Akhirnya diambilah jalan pintas. Ibu Ria menyelenggarakan hajatan pernikahan adiknya di gedung.

  Bagi mereka yang mampu, mungkin tidak masalah menyewa gedung. Tapi bagi orang yang berkantong cekak, tentu masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada sekedar menyewa gedung.

  Tapi untuk menantang mitos yang sudah mengakar dan menyelenggarakan hajatan walimah – dilaksanakan di tempat mempelai wanita – seperti biasa, tidak banyak orang yang berani melakukannya. Akhirnya diambilah jalan tengah. 

  Mempelai wanita tetap menyelenggarakan akad nikah di rumah. Tapi tidak diperkenankan berhias layaknya seorang pengantin yang nikah dengan adat Jawa. Ia hanya berpakaian seperti wanita lainnya yang tidak sedang menikah.

  Selain itu, orangtua mempelai wanita juga tidak diperkenankan menerima amplop atau bingkisan dari para tamu undangan. Kalau ada yang memberi, maka bingkisan atau amplop itu harus dikembalikan.

  Kasihan, sungguh kasihan orang-orang yang termakan dengan mitos katanya ini. Mereka membuat tipuan sedemikian rupa, hanya karena takut pada mitos yang tidak jelas ujung pangkalnya.

  Padahal, dalam kaca mata Islam, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Pernikahan adalah momen yang layak untuk dirayakan. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam mengatakan, “Selenggarakan walimah, walau hanya dengan memotong seekor kambing.”

  Dalam Islam, tidak disyaratkan bahwa seseorang harus terlebih dahulu menikahkan anak-anaknya sebelum dia menikahkan anak orang lain di rumahnya. Itu juga bukan syarat sah nikah. Masalah menikahkan anak orang lain di rumahnya dan masalah anak-anaknya yang belum menikah adalah dua hal berbeda yang harus disikapi dengan cara berbeda pula.

  Karena itu jangan termakan oleh mitos-mitos yang tidak berdasar. Karena semua itu hanya akan mengotori aqidah kita dan bikin susah sendiri.

Ustadz Maswadi Ahmad
January 08, 2019
thumbnail

9 Perbedaan Mendasar Antara Karomah dan Sihir

Posted by rumah ruqyah on 2019-01-02


   Karena lemahnya Aqidah Islamiyah yang menghujam ke hati kita, karena sedikitnya ilmu agama kita, dan juga karena pandainya agen-agen syetan mengemas produk yang mereka tawarkan dan penampilan lslami yang mereka tampakkan serta maraknya media-media yang mengiklankan mereka, maka banyak sekali masyarakat lslam yang tertipu dan terpedaya.

  Sihir yang mereka tawarkan dianggap karamah, kesesatan mereka dianggap ketaatan, penyimpangan mereka dianggap wajar dan suatu keharusan, keanehan mereka dianggap suatu keistimewaan.

  Dan yang lebih naif lagi, figur yang dinilai sebagai Ulama oleh masyarakat malah melegalisir keberadaan mereka dan mengatakan kepada orang-orang awam bahwa, “Kita tidak layak untuk menilai mereka atau mengoreksinya, karena maqomnya (levelnya) berbeda, mereka sudah ma’rifat sementara kita masih syariat.” 

  Memang kalau kita pribadi tidak layak untuk menilai mereka, karena belum tentu kita lebih baik dari mereka. Tetapi parameter penilaian di sini adalah syariat Islam.

  Syariat adalah mikroskop yang akan menguak virus-virus dan bakeri-bakteri kesesatan mereka. Syariat adalah barometer akan seberapa jauh penyimpangan mereka dengan keanehan-keanehan yang mereka miliki. 

  Dan teladan terbaik serta figur hidup yang kita jadikan cermin dalam pengamalan syariat lslam adalah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tidak dianggap suatu perkataan kecuali bila dibuktikan dengan perbuatan. Perkatan dan perbuatan tidak dianggap benar bila tidak dibarengi niat yang benar. Perkataan, perbuatan dan niat tidak bisa dikatakan lurus dan benar bila tidak sesuai dengan sunah Rasulullah .” (Talbis lblis: 16).

  Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak perbedaan antara karamah dan sihir. Agar kita tidak mudah tertipu oleh syetan, baik syetan dari jin atau syetan dari manusia. Tidak mudah tergoda oleh penampilan dan kemasan. Tidak mudah tergiur oleh gencarnya iklan dan bujuk rayuan. Covernya islami tapi isinya syirik. Slogannya rahmani tapi cara dan aktifitasnya syaithani. 

Di antara Perbedaannya adalah sebagai berikut:

1.  Karamah itu datangnya dari Allah, sedangkan sihir berasal dari syetan.

  Ketika Nabi Zakaria as. Bertanya kepada Maryam tentang makanan yang selalu tersedia di mihrabnya. Maryam meniawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sedangkan kita mengetahui bahwa Maryam bukanlah seorang Rasul atau Nabi, sehingga hal yang luar biasa itu tidak kita kategorikan sebagai mukjizat. Tapi itulah karamah yang diberikan Allah kepada sosok perempuan yang suci, ibu dari Nabi Isa as.

  Kisah serupa juga pernah dialami oleh al-Hallaj atau al-Husein bin Manshur (858-922 H) bersama sekelompok pengikutnya, ketika mereka minta makanan manisan, maka Al-Hallaj bangkit dan pergi ke suatu tempat yang tidak jauh, dan tak berapa lama ia kembali dengan membawa nampan yang penuh manisan. 

  Tapi akhirnya terkuak bahwa manisan tersebut adalah hasil curian jin (syetan) dari sebuah warung permen di Yaman. Begitulah cerita sihir yang di klaim pengikut Al-Hallaj sebagai karamah seperti yang diceritakan lbnu Taimiah dalam Majmu Fatawa di permulaan jilid 35.

  Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman, “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thaghut (syetan) yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Boqoroh: 257).

2.  Karamah tidak dapat dipelajari sedangkan sihir bisa dipelaiari.

  Dalam lembaran sirah kehidupan tauladan kita Rasulullah, tidak kita baca bahwa Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam mempelajari karamah atau mengajarkannya kepada sahabatnya, para sahabat pun tidak pernah mengajarkan karamah kepada generasi sesudahnya, yaitu para tabiin. 

  Karena memang karamah adalah hadiah langsung dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang Sholih.

  Dengan demikian kalau ada lembaga atau instansi yang mengajarkan karamah kepada murid-muridnya itu merupakan kesalahan yang menyimpang dari pengertian karamah itu sendiri. Ada di antara masyarakat kita yang belajar karamah dengan cara seakan-akan lslami. 

  Seperti puasa dengan jumlah bilangan hari atau dengan wirid dan doa tertentu dalam hitungan ratusan atau ribuan, Bahkan ada yang memburu karamah dengan mediasi dan bertapa di tempat-tempat yang mereka keramatkan atau dianggap angker. Yang lebih naif lagi, dalam menjalankan ritualitas tersebut mereka mengabaikan perintah-perintah Allah yang wajib atau yang sunah. 

  Kalau dengan metode pembelajaran tersebut, ternyata mereka berhasil memperoleh sesuatu yang luar biasa maka bisa dipastikan itu adalah sihir dan syetanlah sebagai mahaguru mereka. 

  Allah memberitahukan hal tersebut dengan firman-Nya, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (mereka mengatakan bahwa Nabi Sulaiman melakukan sihir), syetan-syetan itulah yang kafir (melakukan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqorah: 102).

  Kelebihan yang diambil dengan mempelajarinya atau mencarinya maka bisa dipastikan itu bukanlah karamah, tetapi sihir.

3.  Karamah tidak bisa ditransfer sedangkan sihir bisa ditransfer.

  Karamah termasuk sesuatu yang tidak bisa dipindahkan ke orang lain, baik secara kontak langsung atau tidak langsung, jarak dekat atau jarak jauh. Karena karamah itu milik Allah, tetapi sebaliknya ilmu sihir bisa ditransfer ke orang lain, baik dengan jarak dekat (langsung) atau dengan jarak jauh.

  Bahkan mereka sekarang memanfaatkan teknologi internet untuk mentransfer sihir ke antar negara dan antar benua. Karena pada hakekatnya kekuatan sihir mereka adalah jin (syetan) yang bisa bergerak cepat dan selalu siap siaga untuk membantu manusia dalam rangka penyesatan dan pengelabuhan. 

  Perhatikan iklan provokatif yang ada di salah satu majalah seperti, “Transfer ilmu Hikmah. lnginkah anda mempunyai kemampuan supranatural yang  mengagumkan? Anda bisa menembus dimensi astral khodam jin, malaikat. Dalam tingkat lanjut anda dapat menguasai karamah para wali dan kyai-kyai.”

  Kita tidak tahu persis, sudah berapa puluh ribu orang yang telah tertipu dengan iklan tersebut atau yang senada dengannya. Padahal kita tidak pernah mendengar Rasulullah dan para sahabatnya mentransfer karamah satu sama lainnya. Jadi jelas bagi kita kalau ada karamah yang bisa ditransfer kesana kemari adalah sihir. Dan sihir bukan karamah dalam terminologi syariat lslam.

4.  Karamah tidak bisa diwariskan, berbeda dengan sihir yang bisa diwariskan kepada siapapun yang berkenan.

  Karena karamah itu bukan harta atau benda yang bisa dimiliki, ia merupakan pemberian Allah seketika itu juga. Maka ia tidak dapat diwariskan kepada siapapun. Dan karena tidak ada ritual atau cara khusus untuk mendapatkannya, maka karamah tidak dapat ditelusuri untuk menemukannya kembali. Dan juga tidak bisa dinapaktilasi untuk mewarisinya jika orang yang diberi karamah sudah meninggal.

  Hal ini berbeda dengan sihir yang hakekatnya merupakan tipu daya syetan. Siapa saja yang mendapatkan ilmu sihir, lalu sebelum meninggal ia ajarkan kepada orang lain metode mempelajarinya, maka orang tersebut bisa mewarisi jin yang telah membantunya dalam keberhasilan penerapan ilmu sihir-menyihir.

  Jangankan ada prosesi pewarisan (pengalihan hak milik), tanpa itu pun jin berusaha untuk dimiliki oleh keturunan “sang dukun”, agar bisa mendapatkan korban yang lebih banyak dan melanggengkan pengaruhnya kepada anak manusia.  

  Karena keturunan sang dukun tidak mau menerima warisan tersebut, akhirnya kehidupannya diganggu dan ketenangannya diteror, bahkan sampai tahap gangguan fisik yang menyakitkan. 

5.  Karamah tidak dapat didemonstrasikan, tapi sihir bisa didemonstrasikan.

  Kita tidak pernah mendengar riwayat atau membaca sirah kehidupan Rasulullah dan sahabat mempersiapkan diri, latihan atau berkemas-kemas untuk pertunjukan kesaktian atau kehebatan dalam ilmu kedigdayaan.

  Entah itu untuk penggalangan dana atau hiburan atau pun menjadikannya sebagai sarana dakwah, sebagaimana dalih yang dikemukakan para pendekar “karamah” dan akrobatik-akrobatik sihir.

  Memang Khalid bin Walid pernah melakukan sesuatu yang spektakuler, itu pun terpaksa dan bukan disiapkan terlebih dahulu tapi spontanitas, selanjutnya Khalid tidak pernah mempertunjukkan kembali kejadian tersebut, yaitu meminum racun waktu dia dan pasukannya mengepung benteng musuh.

  Pimpinan mereka berkata, “Kami tidak akan menyerah sebelum kamu meminum racun.” Khalid pun meminumnya dan dia tetap segar bugar dengan idzin Allah.

  Maka dari itulah, apabila ada seseorang yang tampak darinya sesuatu yang luar biasa, lalu yang bersangkutan berusaha menampilkan kembali atau memamerkan ke khalayak, maka bisa dipastikan itu adalah sihir bukan karamah. Apalagi kalau hal tersebut diorganisir dan dijadikan sebagai obyek bisnis atau mesin pencetak uang.

6.  Karamah tidak bisa diprediksi kedatangannya, sedangkan sihir dapat diprediksi.

  Karamah hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Namun, realitanya tidak semua orang Mukmin yang bertakwa mendapat karamah dari Allah. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan jika seseorang beriman dan memperbanyak ibadahnya kepada Allah, itu sebagai pertanda bahwa orang tersebut akan mendapatkan karamah. 

  Apalagi cuma dengan puasa beberapa hari atau shalat seribu rakaat atau wirid doa sekian puluh ribu kali pasti akan mendapat karamah. ltu semua merupakan doktrin yang tidak berdasar pada dalil syariat.

  Beda halnya dengan sihir, bila seseorang melakukan ritualitas tertentu atau pemujaan dengan pengabdian kepada jin, atau melecehkan ayat-ayat Allah dengan mengencingi kitab suci Al-Qur'an atau menjadikannya sebagai sandal menuju toilet dan sejenisnya, maka hampir bisa dipastikan iin akan bersenang hati dan bergegas menuruti permintaan orang tersebut. 

  Hal itu dilakukannya untuk melanggengkan kesyirikan dan kesesatan si pelaku. Sekaligus sebagai bentuk tipu daya bagi pelaku-pelaku bid’ah yang akhirnya berdalih bahwa apa yang dia lakukan juga diterima dan dikabulkan Allah. 

  Memang kalau pun pelaku-pelaku sihir itu sukses dalam menjalankan misinya, itu semua berkat idzin Allah. Tapi karena cara dan kinerjanya yang tidak sesuai dengan syariat, maka Allah tidak meridhoinya. Bahkan perbuatan mereka akan mengundang murka dan laknat Allah.

  Jadi jangan heran kalau ada seseorang bertapa di gunung, goa, hutan beberapa minggu, atau berguru ke perguruan-perguruan kedigdayaan dengan menjalani ritualitas yang tidak pernah diajarkan Rasulullah, lalu mendapatkan “keajaiban dan keanehan”, karena itu adalah hasil karya syetan dan teman-temannya.

7.  Karamah biasanya teriadi tidak berulang-ulang, sedangkan sihir bisa diulang-ulang.

  Kita pernah mendengar karamah-karamah yang dimiliki oleh beberapa sahabat. Seperti Salman al-Farisi makan di piring, lalu piring itu bertasbih. Usaid bin Hudhair saat keluar dari majlis Rasulullah ada cahaya yang meneranginya, Amir bin Fuhairah mati syahid jasadnya terangkat ke langit dan masih banyak yang lainnya.

   Kalau kita  perhatikan peristiwa tersebut hanya teriadi sekali dalam kehidupan mereka. Kalau pun terulang seperti yang dialami Maryam, ibunya Nabi lsa, itu beberapa hari saja saat belum punya anak, setelah itu tidak kita dengar dia selalu mendapat jatah makanan itu lagi.

  Lain halnya dengan sihir, si tukang sihir terus bisa mengulangi atraksi-atraksi sihirnya, selama “upeti” yang  disetorkan kepada jin pelayannya jalan terus. Pengorbanan demi pengorbanan terus dilakukan, permintaan jinnya terus dituruti, kesyirikan demi kesyirikan terus dipersembahkan.

  Tapi kalau si tukang sihir membelot dan mengingkari perjanjian yang sudah disepakati dengan jin, maka jin itu akan berbalik meneror si tukang sihir dan menyakitinya, bahkan obyek sasarannya bukan cuma dia, biasanya merembet ke istri dan anak keturunannya serta keluarga yang lain.

  Itulah jahatnya jin (syetan). Sehingga orang yang terlanjur berprofesi sebagai dukun atau tukang sihir akan sulit dan berat untuk keluar dari belenggu syetan dan jaring-jaringnya. Di samping dia harus menanggung resiko yang begitu mengerikan dan fatal.

8.  Karamah itu dimiliki orang shalih, sedangkan sihir dimiliki orang munafiq, fasiq dan kafir.

 Imam Nawawi mendefinisikan orang yang shalih adalah orang yang selalu melaksanakan kewaiibannya kepada Allah dan menunaikan kewajibannya kepada sesama manusia dengan baik. lmam al-Haramain mengutip adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa sihir tidak akan muncul kecuali dari orang yang fasiq sedangkan karamah tidak akan muncul dari orang yang fasiq (pendosa). 

  Akan tetapi karamah itu kadang muncul sesuai kondisi seseorang. Jika karamah itu diberikan saat iman orang tersebut melemah, maka ia akan memperkokoh lmannya.

  Orang yang lebih sempurna iman dan ketaqwaannya tidak akan membutuhkan karamah. Karena dia sudah merasa cukup atas apa yang dimilikinya, yaitu kedekatan Allah Yang Maha Perkasa dengannya dan senantiasa melindunginya.

  Maka dari itulah orang-orang yang memiliki karamah tidak akan gentar bila bertemu dengan orang-orang shalih sepertinya. Bahkan merasa aman dan tentram serta bergembira. Pertemuan tersebut tidak akan mengancam keberadaannya.

  Apalagi bila berhadapan dengan tukang-tukang sihir, mereka tidak akan bergeming atau menciut nyalinya. Sebaliknya tukang-tukang sihir kalau bertemu dan berhadapan dengan orang-orangyang shalih, mereka akan gentar dan gemetar. Takut dan khawatir kalau jin (syetan) yang setia membantunya lari dan kabur, sehingga sihirnya luntur dan sirna.

9.  Karamah tidak bisa diperjualbelikan sedangkan sihir bisa diperjualbelikan.

Kalau anda memperhatikan media-media cetak, terutama yang berkaitan dengan mistik, maka anda akan menjumpai beraneka macam iklan yang menawarkan sihir berkedok karamah. Ada yang memakai kata karamah, keramat, benda supranatural atau tenaga dalam serta kedigdayaan atau kesaktian. 

  Ada yang berterus terang mencantumkan label harganya ada yang diperhalus bahasanya dengan kata mahar, infaq, ongkos kirim atau pengganti puasa dan tirakat. Kalau kita mendapatkan karamah yang diobral semacam itu maka pastilah itu adalah sihir.

  Karamah itu bukanlah benda atau barang yang bisa dijadikan hak milik atau hak paten, dan juga bukan obyek dagangan yang menjanjikan income yang menggiurkan. Jual beli dalam hal ini sarat dengan penipuan dan penyesatan. 

  Karena konsumen digiring kepada kemusyrikan dan pendangkalan tawakal kepada Allah. Bahkan bisa jadi si konsumen akan dibawa kepada penduaan Allah dan pemujaan syetan beserta bala tentaranya. Maka dari itulah, hindari transaksi-transaksi yang berkaitan dengan ilmu atau benda “keramat”, sebelum anda merugi dunia dan akhirat.

  Akhirnya, janganlah anda mudah terpesona dan terpedaya dengan tawaran untuk menjadi orang shalih yang instan atau orang sakti dadakan ataupun ahli pengobatan. Karena sihir bukanlah karamah. Dan sihirlah yang banyak bergentayangan hari ini. Waspadalah, jangan gadaikan iman.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 11/2
January 02, 2019