Bangunlah Pagi-Pagi, Agar Hidup Benar-Benar Hidup

Posted by rumah ruqyah on 2018-12-27



Umar bin Khottob radiallahu anhu selalu menghidupkan malamnya dengan shalat malam dan membaca Al-Qur'an. Hingga ketika subuh menjelang, ia membangunkan keluarga dan anak-anaknya untuk mempersiapkan diri sholat subuh berjama’ah, seraya membacakan ayat, yang artinya, “Dan perintahkan keluargamu untuk sholat dan bersabarlah atas hal itu.” (QS. Thoha: 132).

Dahulu, orang tua kita sering berujar, “Nak bangunlah pagi-pagi, jangan bangun kesiangan , nanti rezekimu dipatok ayam.” Begitulah kalimat kiasan yang biasa dilontarkan para orang tua ketika dilihatnya matahari telah terbit sementara sang anak belum juga beranjak dari tempat tidumya. Nasehat itu secara makna ada benarnya. Sebab, justru diwaktu pagi itulah banyak terkandung kebaikan dan keberkahan. Hal itu sejalan dengan doa Rasulullah, “Ya Allah berkahilah umatku yang biasa bangun pagi.” (HR. Ahmad, Baihaqi, lbnu Hibban dan lainnya).
Menarik memang, ketika agama lslam yang agung ini membahas masalah yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang: soal bangun pagi. Justru dari sisi inilah semakin nampak keindahan, kelengkapan dan kebenaran lslam. Karena tidak ada perintah dalam lslam yang tidak mengandung makna yang agung, sebagaimana tidak ada larangan dalam lslam yang tidak mengandung bahaya.
Maka, dua keutamaan bangun pagi berikut ini, kiranya dapat memotivasi kita dan keluarga untuk mengambil keberkahan di pagi hari.
Pertama, pahala yang banyak di balik ibadah pagi.
Seorang muslim memiliki kewaiiban-kewajiban ibadah di pagi hari. Semuanya akan menjadi deposito di akhirat kelak, di saat tidak ada yang menolong kecuali amal ibadah kita. Ada shalat subuh yang seperti dijelas kan RasuIullah, shalat tersebut disaksikan para malaikat. Ada juga dua rokaat sebelum subuh yang juga memiliki keutamaan luar biasa. Siapa yang mengerjakannya, nilai pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Saking besanya pahala shalat sunah yang satu ini dengan ditambah dengan witir, Rasululullah SAW.  tidak pemah meninggalkannya walaupun beliau sedang safar. Padahal sholat sunah yang lain tidak beliau kerjakan ketika dalam perjalanan. Kemudian bila diambah dengan qiyamullail sebelumnya, sungguh suatu keutamaan yang tak ternilai harganya.

Keindahan malam dengan ketenangannya di saat seorang hamba menengadahkan tangannya ke langit bermunajat kepada Dzat yang Maha Kuasa. Mengadukan segala kelemahannya di hadapan keagungan dan kesucian Allah Sang Pencipta. Inilah kenikmatan yang pemah diungkapkan oleh Umar bin Khottob, “Kalaulah bukan karenat tiga hal aku tidak suka hidup di dunia ini: Tilawah, shalat malam (Qiyamullail) dan berkumpul dengan saudara-saudara seperjuangan.” Bukan hanya itu, bahkan Rasul SAW. menjadikannya termasuk salah satu tiket untuk masuk surga.

Kedua, Terbukanya pintu rizki.
Rasulullalr bersabda, “Kalau kalian bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Keluar di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di malam hari dengan perut kenyang.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dan lbnu Hibban).

Hadits di atas menjelaskan, bahwa salah satu bentuk tawakal adalah berangkat bekerja di pagi hari layaknya seekor burung. Di tengah persaingan hidup yang semakin terjal, semakin sempitnya kesempatan lapangan kerja, maka bangun pagi merupakan bagian dari solusi. Mulai dari kecepatan dalam menangkap peluang hingga keberkahan yang sering tak disadari.
Melihat pentingnya bangun pagi, lmam Tirmidzi dalam kitabsunannya memberi nama salah satu bab: “Keutamaan pagi untuk Perdagangan.” kenmudian ia menyitir sebuah hadits, “Shokr adalah seorang pedagang. la selalu mengirim barang dagangannya di pagi hari. Maka berkembanglah dagangannya dan ia menjadi hartawan.”

* Dari berbagai sumber

Previous
« Prev Post

Related Posts

December 27, 2018

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran