thumbnail

Bangunlah Pagi-Pagi, Agar Hidup Benar-Benar Hidup

Posted by rumah ruqyah on 2018-12-27




  Umar bin Khottob radiallahu anhu selalu menghidupkan malamnya dengan Shalat malam dan membaca Al-Qur'an. Hingga ketika subuh menjelang, ia membangunkan keluarga dan anak-anaknya untuk mempersiapkan diri Sholat subuh berjama’ah, seraya membacakan ayat, yang artinya, “Dan perintahkan keluargamu untuk sholat dan bersabarlah atas hal itu.” (QS. Thoha: 132).

  Dahulu, orang tua kita sering berujar, “Nak bangunlah pagi-pagi, jangan bangun kesiangan , nanti rezekimu dipatok ayam.” Begitulah kalimat kiasan yang biasa dilontarkan para orang tua ketika dilihatnya matahari telah terbit sementara sang anak belum juga beranjak dari tempat tidumya. 

  Nasehat itu secara makna ada benarnya. Sebab, justru diwaktu pagi itulah banyak terkandung kebaikan dan keberkahan. Hal itu sejalan dengan doa Rasulullah, “Ya Allah berkahilah umatku yang biasa bangun pagi.” (HR. Ahmad, Baihaqi, lbnu Hibban dan lainnya).


  Menarik memang, ketika agama lslam yang agung ini membahas masalah yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang: soal bangun pagi. Justru dari sisi inilah semakin nampak keindahan, kelengkapan dan kebenaran lslam. 

  Karena tidak ada perintah dalam lslam yang tidak mengandung makna yang agung, sebagaimana tidak ada larangan dalam lslam yang tidak mengandung bahaya.


   Maka, dua keutamaan bangun pagi berikut ini, kiranya dapat memotivasi kita dan keluarga untuk mengambil keberkahan di pagi hari.

Pertama, pahala yang banyak di balik ibadah pagi.


  Seorang Muslim memiliki kewajiban-kewajiban ibadah di pagi hari. Semuanya akan menjadi deposito di akhirat kelak, di saat tidak ada yang menolong kecuali amal ibadah kita. Ada Shalat subuh yang seperti dijelaskan RasuIullah, shalat tersebut disaksikan para malaikat. 

  Ada juga dua rokaat sebelum subuh yang juga memiliki keutamaan luar biasa. Siapa yang mengerjakannya, nilai pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya. Saking besanya pahala shalat sunah yang satu ini dengan ditambah dengan witir, Rasululullah Shallahu Alaihi Wassalam  tidak pemah meninggalkannya walaupun beliau sedang safar. 

  Padahal sholat sunah yang lain tidak beliau kerjakan ketika dalam perjalanan. Kemudian bila ditambah dengan Qiyamullail sebelumnya, sungguh suatu keutamaan yang tak ternilai harganya.


 Keindahan malam dengan ketenangannya di saat seorang hamba menengadahkan tangannya ke langit bermunajat kepada Dzat yang Maha Kuasa. Mengadukan segala kelemahannya di hadapan keagungan dan kesucian Allah Sang Pencipta.

   Inilah kenikmatan yang pemah diungkapkan oleh Umar bin Khottob, “Kalaulah bukan karenat tiga hal aku tidak suka hidup di dunia ini: Tilawah, shalat malam (Qiyamullail) dan berkumpul dengan saudara-saudara seperjuangan.” Bukan hanya itu, bahkan Rasul Shallahu Alaihi Wassalam menjadikannya termasuk salah satu tiket untuk masuk surga.

Kedua, Terbukanya pintu rizki.


  Rasulullullah Bersabda, “Kalau kalian bertawakal dengan sebenar-benar tawakal, kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Keluar di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di malam hari dengan perut kenyang.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dan lbnu Hibban).


  Hadits di atas menjelaskan, bahwa salah satu bentuk tawakal adalah berangkat bekerja di pagi hari layaknya seekor burung. Di tengah persaingan hidup yang semakin terjal, semakin sempitnya kesempatan lapangan kerja, maka bangun pagi merupakan bagian dari solusi. Mulai dari kecepatan dalam menangkap peluang hingga keberkahan yang sering tak disadari.


  Melihat pentingnya bangun pagi, lmam Tirmidzi dalam kitab Sunannya memberi nama salah satu bab: “Keutamaan pagi untuk Perdagangan.” kemudian ia menyitir sebuah hadits, “Shokr adalah seorang pedagang. la selalu mengirim barang dagangannya di pagi hari. Maka berkembanglah dagangannya dan ia menjadi hartawan.”

* Dari berbagai sumber

RRIAds - Madu Ruqyah Manis (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 

December 27, 2018
thumbnail

Thibbun Nabawi, Pengobatan Pertama dan Utama

Posted by rumah ruqyah on 2018-12-21



  Sungguh, sebuah keniscayaan bahwa perkembangan dunia medis berjalan seiring dengan derasnya arus kapitalisme global dan modernisasi yang kian sulit dikendalikan, Namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepat berkembang dan beregenerasi. 

  Sementara itu banyak  manusia yang tidak menyadari bahwa Sang Khaliq tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja tanpa ada aturan dari-Nya. Setiap kali penyakit muncul, pasti Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga menciptakan obatnya, sebagaimana Sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam: “Tidaklah Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan penyembuhnya. (HR. Al-Bukhari dan  Ibnu Majah).

  Faktanya, memang ada manusia yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Kenyataan  lain  yang  harus  disadari  oleh  manusia, bahwa apabila Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya secara jelas dan tegas menetapkan suatu penjelasan -termasuk dalam memberikan petunjuk pengobatan- maka petunjuk pengobatan itu sudah pasti lebih bersifat pertama dan utama. 

  Dan memang demikianlah kenyataannya, Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam secara Kaffah, bukan saja memberi petunjuk tentang perikehidupan dan tata cara ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala secara khusus yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat, tetapi  juga memberikan  banyak petunjuk praktis dan formula umum yang dapat digunakan untuk menjaga keselamatan lahir dan batin, termasuk  yang  berkaitan dengan  terapi, penanganan penyakit  atau pengobatan secara holistik.

  Petunjuk praktis dan kaidah medis tersebut telah sangat banyak dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam dan diajarkan kepada para sahabat Nabi Shallahu Alaihi Wassalam

  Bila keseluruhan formula dan kaidah praktis itu dipelajari secara seksama, tidak salah lagi! Bahwa kaum Muslimin dapat mengembangkannya menjadi sebuah sistem dan metode (thariqah) pengobatan  yang  tidak  ada  duanya. 

  Disitulah  akan  terlihat korelasi yang erat antara sistem pengobatan Ilahi dengan sistem pengobatan manusia. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menegaskan: “Telah  diciptakan  bagi  kalian  semua  segala  apa  yang  ada  di muka  bumi  ini” (QS. Al Baqarah [2]: 29

  Ilmu pengobatan beserta segala media dan materinya, termasuk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak hanya untuk kaum Muslimin saja, tetapi juga untuk kepentingan seluruh umat manusia.

   Ingatlah! Islam adalah  agama dan Ideologi  yang  sempurna,  yang dibawa  Rasulullah  Shallahu Alaihi Wassalam  bukan hanya kepada orang sehat tapi juga kepada orang yang sakit, maka cara pelaksanakannya juga disediakan. 

  Untuk  itu,  sudah seharusnya kaum  Muslimin  menghidupkan  kembali  kepercayaan  terhadap berbagai jenis obat (Madu, Habatussauda, Zaitun, dsb.) dan metode pengobatan (Alqur’an, Bekam, Ruqyah, dll.) yang telah diajarkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam sebagai metode terbaik untuk mengatasi berbagai macam penyakit. 

  Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai  dengan  sugesti  dan  keyakinan.  Karena -demikian  dinyatakan  Ibnul  Qayyim- bahwa “keyakinan adalah doa”. 

  Bila pengobatan manusia mengenal istilah placebo (semacam penanaman sugesti lalu memberikan obat netral yang sebenarnya bukan obat dari penyakit yang dideritanya), maka  Islam mengenal istilah Do’a dan keyakinan. 

  Dengan pengobatan yang tepat, dosis yang sesuai disertai doa dan  keyakinan (Spiritual Healing),  tidak  ada  penyakit  yang  tidak  bisa  diobati,  kecuali  penyakit  yang  membawa pada kematian. Jabir RA membawakan hadits dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam: “Setiap penyakit ada obatnya, Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.” (HR. Muslim)

  Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih sarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat  dengan  izin Allah  Subhanahu Wa Ta'ala.  Sehingga seharusnya  kita  tidak  terlebih  dahulu  berpaling  dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang. 

  Karena itulah Ulama Salafus Sholeh, sekaligus Ahli Kedokteran & Pengobatan Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Sungguh Mereka (para tabib) telah sepakat bahwa ketika  memungkinkan  pengobatan  dengan  bahan  makanan  maka  jangan  beralih  kepada  obat-obatan kimiawi. 

  Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka  jangan beralih memakai  obat  yang  kompleks.  Mereka mengatakan bahwa setiap  penyakit  yang  bisa  ditolak  dengan  makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan kimiawi.” 

  Ibnul  Qayyim  juga  berkata Berpalingnya  manusia  dari  cara  pengobatan  Nubuwwah seperti  halnya  berpalingnya  mereka  dari  pengobatan  dengan  Alqur’an,  yang  merupakan  obat  bermanfaat.”

  Maka, tidak sepantasnya seorang  Muslim menjadikan  pengobatan Nabawiyyah sekadar sebagai pengobatan “tradisional” maupun alternatif lain. Justru  sepantasnya dia menjadikannya  sebagai  cara pengobatan yang UTAMA, karena kepastiannya datang dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala  lewat  lisan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. 

  Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi (pengobatan cara barat), boleh saja manusia menggunakannya sebagai pelengkap dan pendukung pengobatan, namun kepastiannya tidak seperti kepastian  yang didapatkan dengan Thibbun Nabawi.

  Pengobatan yang diajarkan Nabi Shallahu Alaihi Wassalam  diyakini  kesembuhannya  karena  bersumber dari wahyu. Sementara  pengobatan dari selain Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam kebanyakan hanyalah berangkat dari dugaan atau dengan pengalaman/uji coba semata. Ibnul Qayyim kembali berpesan: “Pengobatan  Ala Nabi  tidak  seperti  layaknya  pengobatan  para  ahli medis”.

  Dengan demikian, Pengobatan Ala Nabi dapat diyakini dan bersifat pasti (qath’i), bernuansa  ilahiah, Alamiah, berasal dari wahyu dan misykat Nubuwwah, Ilmiah serta berasal dari kesempurnaan akal melalui proses berfikir (aqliyah).

   Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan  pengobatan tertentu, dan tidak  boleh meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. 

  Seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Al Khaliq, Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah Subhanahu Wa Ta'ala Robbul Izzati. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar pada hukum dan aturan-Nya dalam segala keadaannya. 

   Hendaknya seseorang yang sakit selalu berdoa memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan dan mengambil hikmah dari berbagai penyakit yang telah menimpa dirinya. Wallohu a’lam bish-showaab.[]

Amin Yusuf, S.Pd. 

RRIAds - Air Ruqyah JUmbo (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 
December 21, 2018
thumbnail

Memangkas Jimat, Meluruskan Keyakinan

Posted by rumah ruqyah on 2018-12-18


  Konon kabarnya, nenek moyang bangsa Indonesia sebelum datangnya Islam ke nusantara adalah kaum paganisme dan animisme. Mereka mempercayai adanya kekuatan gaib pada sebagian makhluk dan benda-benda. 

Kepercayaan ini sudah berakar kuat pada mayoritas manusia pada zaman itu. Saking kuatnya keyakinan ini, tak heran jika kepercayaan seperti ini masih tersisa dan memiliki pengaruh pada sebagian besar masyarakat muslim di era moderen ini.

  Adanya keyakinan kepada benda-benda masih terlihat di masyarakat, akibat pengaruh paganisme dan animisme. Lihatlah, sebagian masyarakat kita masih mempertahankan ajaran kejawen yang berisi keyakinan-keyakinan batil, walaupun ia telah masuk Islam. 

  Di Sulsel sendiri masih ada sekelompok manusia yang masih mempertahankan keyakinan mereka yang sarat dengan keyakinan paganisme dan animisme; mereka istilahkan dengan "attau riolongeng" (adat istiadat nenek moyang), seperti memperingati dan merayakan hari kematian (haulan) seseorang, mempercayai kekuatan benda-benda, meyakini hari-hari tertentu sebagai hari bahagia atau hari celaka, mempersembahkan sesuatu kepada penjaga (bau rekso) yang ada di suatu tempat menurut keyakinan batil mereka.


  Banyak macam dan ragam dari ajaran-ajaran batil menyusup ke dalam agama Allah disebabkan sebagian orang yang mengaku Muslim tak mau melepas ajaran nenek moyangnya yang batil lagi menyimpang. 

  Lantaran itu, timbullah keyakinan bahwa jimat mempunyai pengaruh bagi kebahagian dan kecelakaan bagi seseorang.


  Fenomena yang terjadi di zaman sekarang hanyalah sejarah yang berulang dari zaman ke zaman. Hanya terkadang bentuk dan istilahnya yang beragam. Di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sendiri pernah terjadi hal dan keyakinan seperti ini pada sebagian sahabat yang masuk Islam. 

  Namun Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak mendiamkan hal itu, beliau langsung menegur dan meluruskannya.

Sahabat Abu Basyir Al-Anshoriy -radhiyallahu anhu- berkata bahwa,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ, فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولاً: أَنْ لَا يَبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ

  "Dia pernah bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pada sebagian safar beliau. Kemudian Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan, "Jangan lagi tersisa kalung yang terbuat dari tali busur ataukah kalung apa saja pada leher onta, kecuali diputuskan". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3005), dan Muslim dalam Shohih-nya (2115)]


  Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang para sahabat untuk mengikuti kebiasaan orang-orang jahiliyah, yaitu kebiasaan menggantungkan tali pada pada hewan-hewan tunggangan sebagai jimat yang bisa menolak bala’ dan penyakit menurut keyakinan mereka yang batil. 

  Sebab mereka (orang-orang jahiliyah) meyakini bahwa jika ia menggantungkan seutas tali busur pada leher hewan, maka ia akan terhindar dari penyakit. Ini adalah keyakinan jahiliyah!!


  Abul Qosim Al-Azhariy -rahimahullah- berkata, "Konon kabarnya, orang-orang jahiliyah dahulu mengalungkan tali busur pada hewan (sebagai jimat) untuk mencegah ain (sejenis penyakit yang timbul karena pengaruh mata). Akhirnya mereka pun dilarang. Adapun mengalungkan tali pada leher binatang untuk keindahan (hiasan), maka hal itu tak mengapa". [Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo' (4/351), karya Abul Walid Al-Bajiy]


  Keyakinan jahiliyah seperti ini telah dihapuskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang dan mengingatkan akan dosa dan bahaya menggantung jimat pada badan, rumah, mobil, dan lainnya. 

  Menggantungkan dan memakai jimat termasuk kesyirikan yang bertentangan dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. Sebab seorang yang memakai jimat pasti meyakini bahwa jimat itulah yang menyebabkan ia terhindar dari penyakit dan bala’. 

  Jadi, menurut keyakinan ini bahwa ada makhluk yang mampu menjaga dan melindungi seseorang dari penyakit di samping Allah -Ta’ala-. Jelas ini adalah syirik.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ [ أخرجه أبو داود ( 3883 ) و ابن ماجه ( 3530 ) و ابن حبان ( 1412 ) و أحمد ( 1 / 381 ),وصححه الألباني في الصحيحة (رقم:331 و2972)]

  "Sesungguhnya mantra-mantra, jimat, dan guna-guna (pelet) adalah kesyirikan". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (1/381), Abu Dawud dalam Sunan-nya (3883), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3530), dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (1412), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/217 & 418). Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (331 & 2972)]


  Jampi-jampi (ruqyah) jika berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu adalah perkara yang boleh dan disyari’atkan dalam Islam. Adapun apabila ruqyah (jampi) yang biasa kita sebut dengan "mantra-mantra" yang berisi doa kepada selain Allah, maka ini adalah ruqyah yang terlarang. 

  Demikian pula, bila ruqyah-nya berasal dari kata-kata yang tidak bisa dipahami maknanya, maka ini juga terlarang, sebab dikhawatirkan di dalamnya terdapat kata-kata kafir atau syirik. [Lihat At-Tamhid (hal. 108) oleh Syaikh Sholih At-Tamimiy, 1423 H]


  Adapun masalah jimat dan guna-guna, maka permasalahannya jelas; keduanya terlarang dalam agama kita, sebab dalam pemakaian jimat terdapat ketergantungan dan keyakinan kepada selain Allah. Sedang ini adalah syirik (menduakan Allah). 

  Sementara guna-guna adalah sihir yang digunakan untuk merukunkan seseorang dengan pasangannya atau sebaliknya. Sihir sendiri telah jelas haram dalam Islam secara mutlak. Anda jangan tertipu dengan sebagian orang yang menyatakan ini sihir hitam, dan itu sihir putih. Ketahuilah ini adalah tipuan setan, sebab semua sihir, apapun namanya tetaplah hitam.


  Mengapa demikian? 

  Sebab semua sihir adalah perkara yang diharamkan dalam agama Allah. Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang untuk menggunakan jimat,

  "Demikian itu karena mereka (orang-orang jahiliyah) dahulu mengikatkan tali dan kalung-kalung tersebut sebagai jimat. Mereka menggantungkan pada tali itu mantra-mantra (rajah-rajah), sedang mereka menyangka bahwa jimat-jimat itu bisa melindungi mereka dari berbagai macam penyakit. Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang mereka dari menggunakan jimat-jimat, dan memberitahukan mereka bahwa jimat-jimat itu tidak bisa menolak keputusan (taqdir) Allah sedikitpun". [Lihat Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud (5/151)]


  Seorang yang menggunakan jimat termasuk orang yang berbuat syirik. Oleh karena itu, Allah tidak akan memberikannya pertolongan dan kesembuhan. Allah akan membiarkannya dan meninggalkannya, tanpa penolong. 

  Isa bin Abdir Rahman Al-Anshoriy berkata, "Aku pernah masuk menemui Abdullah bin Ukaim Abu Ma’bad Al-Juhaniy untuk menjenguk beliau, sedang pada beliau terdapat penyakit pembengkakan (sejenis tho’un). 

  Kami katakan, "Kenapa anda tidak menggantung sesuatu (yakni, jimat)?". Beliau menjawab, "Kematian lebih dekat dari hal itu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ [ أخرجه أحمد في مسنده (4/310 & 311) الترمذي في سننه (2073), والحاكم في المستدرك على الصحيحين (4/216), وحسنه الألباني في غاية المرام (297)]

"Barangsiapa menggantungkan sesuatu (yakni, jimat), maka ia akan dibiarkan kepada sesuatu itu". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/310 & 311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2073),dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (4/216). Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ghoyah Al-Marom (297)]


  Ibnul Atsir Al-Jazariy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan makna hadits di atas, "Maksudnya, barangsiapa yang menggantungkan sesuatu pada dirinya berupa rajah-rajah, jimat-jimat, dan sejenisnya, sedang ia meyakini bahwa hal-hal itu bisa mendatangkan manfaat baginya atau menolak gangguan (bala’) darinya". [Lihat An-Nihayah fi Ghoribil Hadits (3/556)]


  Menggunakan jimat, baik pada badan, rumah, maupun yang lainnya termasuk dosa besar di sisi Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tak heran bila Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berlepas diri dari orang yang menggunakan jimat. 

Ruwaifi’ bin Tsabit -radhiyallahu anhu- berkata,

عن رويفع قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رُوَيْفِعُ لَعَلَّ الْحَيَاةَ سَتَطُولُ بِكَ بَعْدِي فَأَخْبِرْ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ عَقَدَ لِحْيَتَهُ أَوْ تَقَلَّدَ وَتَرًا أَوْ اسْتَنْجَى بِرَجِيعِ دَابَّةٍ أَوْ عَظْمٍ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ بَرِيءٌ [أخرجه أحمد في مسنده (4/108-109)أبو داود في سننه - (36), والنسائي في سننه (4981), وصححه الألباني في صحيح الجامع الصغير (رقم: 7910)]

  "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda kepadaku, "Wahai Ruwaifi’, barangkali umurmu akan panjang setelahku. Karenanya, kabarilah manusia bahwa barangsiapa yang memilin jenggotnya atau mengalungkan tali (yakni, jimat) atau ia cebok dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- berlepas diri darinya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/108 & 109), Abu Dawud dalam As-Sunan (36), dan An-Nasa'iy dalam As-Sunan (4981). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami' Ash-Shoghier (7910)]

  Berlepas dirinya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari orang yang menggantungkan dan menggunakan jimat menunjukkan besarnya permasalahan jimat. Lantaran itu, sebagian ulama menjelaskan bahwa seorang terkadang yang memakai jimat keluar dari Islam, bila ia meyakini bahwa jimat itu yang menolak bala’ atau mendatangkan manfaat. 

  Adapun bila ia memakai jimat, dan menyangka bahwa jimat itu adalah sebab Allah menolak bala’ darinya, maka ini juga syirik. Hanya saja tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pengingkaran Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atas orang-orang yang memakai jimat adalah perkara masyhur di kalangan salaf. 

Seorang Pembesar Ulama Tabi’in, Abu Sulaiman Zaid bin Wahb Al-Juhaniy Al-Kufiy -rahimahullah- berkata,

اِنْطَلَقَ حُذَيْفَةُ إِلَى رَجُلٍ مِنَ النَّخَعِ يَعُوْدُهُ ، فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقْتُ مَعَهُ ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ وَدَخَلْتُ مَعَهُ ، فَلَمِسَ عَضُدَهُ فَرَأَى فِيْهِ خَيْطًا فَأَخَذَهُ فَقَطَعَهُ ، ثُمَّ قَالَ : لَوْ مُتَّ وَهَذَا فِيْ عَضُدِكَ مَا صَلَّيْتُ عَلَيْكَ [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 427) بسند صحيح ]

  "Hudzaifah pernah pergi kepada seseorang dari Nakho’ untuk menjenguknya. Beliau pergi, dan akupun pergi bersamanya. Kemudian beliau masuk menemui orang itu, dan akupun masuk bersamanya. Beliau pun menyentuh lengan orang itu. 

  Tiba-tiba beliau melihat padanya seutas benang. Akhirnya beliau mengambil dan memutuskannya seraya berkata, "Andaikan engkau mati, sedang benang ini ada pada lenganmu, maka aku tidak akan menyolatimu". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/427), dengan sanad yang shohih]

Ibrahim bin Yazid An-Nakho’iy -rahimahullah- berkata,

كَانُوْا يَكْرَهُوْنَ التَّمَائِمَ كُلَّهَا ، مِنَ الْقُرْآنِ وَغَيْرِ الْقُرْآنِ. [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 428), و القاسم بن سلام في فضائل القرآن (ج 2 / ص 272/رقم 704), وصححه الألباني في تحقيق الكلم (ص 45)]

"Dahulu mereka –yakni, para sahabat- membenci semua jimat-jimat, baik yang terbuat dari Al-Qur’an, maupun selainnya". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/428), dan Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Sallam dalam Fadho'il Al-Qur'an (2/272/no. 704). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Tahqiq Al-Kalim (hal. 45)]

Demikian pengingkaran para sahabat yang mulia, diantaranya Hudzaifah Ibnul Yaman -radhiyallahu anhu-. Pengingkaran ini bukan hanya berasal dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat, bahkan generasi setelahnya terus melakukan pengingkaran atas para pemakai jimat. Muhammad bin Suqoh Al-Ghonawiy -rahimahullah- berkata,

أَنَّ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ رَأَى إِنْسَانًا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فِيْ عُنُقِهِ خَرَزَةٌ فَقَطَعَهَا [أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه (ج 5 / ص 428) بسندٍ صحيحٍ]


"Sa’id bin Jubair (seorang tabi’in) pernah melihat seseorang yang melakukan thawaf di Baitullah, sedang di lehernya terdapat permata (yakni, jimat). Akhirnya beliau memutuskannya". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (5/428) dengan sanad shohih


Jimat walapun terbuat dari Al-Qur’an, maka ia juga terlarang, karena tak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, dalil umum menunjukkan pelarangan semua jenis jimat, dan boleh jadi seorang akan membawanya ke toilet, padahal di dalamnya terdapat ayat atau dzikrullah. Selain itu, Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang digantung, tapi ia adalah bacaan.


Al-Qodhi Abu Bakr Ibnul Arobiy -rahimahullah- berkata dalam Aridhoh Al-Ahwadziy, "Menggantungkan Al-Qur’an (sebagai jimat) bukanlah jalan sunnah (petunjuk). Hanyalah sunnah itu pada Al-Qur’an adalah dzikir (membacanya), tanpa menggantungnya". [Lihat Hasyiyah An-Nasa'iy (5/421) oleh As-Sindiy]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 122 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas

RRIAds - Madu Ruqyah Manis (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 

December 18, 2018
thumbnail

Tidur Nyenyak Bisa Mencerdaskan

Posted by rumah ruqyah on 2018-12-13

  Dari waktu ke waktu, para ilmuwan menyingkap banyak penemuan baru terkait rahasia tidur. Boleh jadi, penemuan paling penting dalam masalah ini adalah, ketika mereka memperoleh informasi tentang adanya aktifitas besar otak manusia saat tidur. 

  Dari sana mereka juga menyimpulkan, manusia bisa memanfaatkan waktu tidurnya untuk mempelajari banyak hal baru. Informasi ini penting diketahui oleh mereka yang ingin menghafal Al Quranul Karim.
Penelitian Mutakhir Seputar Tidur
  Para ilmuwan di Institut Max Planck Jerman mendalami masalah cara penyimpanan informasi serta mekanisme kerja otak manusia. Hasil penelitian yang disebarkan di Majalah Nature Neuroscience, November 2006, itu membuka jendela mengetahui bagaimana cara belajar dan mengingat yang dimiliki manusia karena mereka mendapatkan fakta bahwa otak manusia bekerja aktif saat tidur.
  Hasil kajian ini juga menyebutkan bahwa ada berbagai informasi yang tersimpan dalam suatu area otak, yang disebut hippocampus, di mana informasi itu tersimpan hanya dalam waktu singkat. 

  Tapi Hippocampus lalu bergerak dalam beberapa hari, khususnya saat tidur nyenyak, hingga  sampai lapisan luar otak di area yang disebut neocortex. Neocortex kemudian menjadi tempat penyimpanan informasi dalam waktu panjang atau lama. 

  Para ilmuwan seperti Thomas Hahn, Mayank Mehta, Bert Saknamnn, menyimpulkan pentingnya tidur untuk aktifitas belajar dan mengingat, karena mereka menyaksikan bagaimana aktifitas besar yang dilakukan sel syaraf saat seseorang dalam kondisi tidur.

 
Keterangan gambar 1 :
Kajian Amerika menegaskan bahwa tidur nyenyak menyedikitkan masalah over obesitas terutama untuk anak-anak. Dalam penelitian yang dilakukan di Universitas Evanston di Elinwi, disebutkan setiap jam tambahan akan menyedikitkan problema berat badan berlebih dan kegemukan. Emily Snile seorang pakar yang juga memimpin tim penelitian ini mengatakan, “Sedikit tidur berpengaruh pada hormon yang memunculkan rasa lapar, khususnya untuk anak-anak.”
Tidur Bermanfaat Kuatkan Daya Ingat
  Kelompok yang paling mengambil manfaat dari penelitian ini adalah para pelajar, dan sudah tentu para penghafal Al Quran. Para pelajar yang kerap mengatakan bahwa mereka mudah lupa informasi yang telah mereka pelajari di malam ujian. 

  Mereka lalu memilih antara tidur atau menambah jam waktu mengulang pelajaran. Para peneliti menemukan bahwa tidur sangat membantu menciptakan perubahan yang diinginkan terkait hubungan dengan sel-sel syaraf dan  otak. 

  Adanya hubungan-hubungan ini, memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan otak untuk mengontrol sikap, belajar dan memperkuat daya ingat.
  Berdasarkan hal itu, para peneliti percaya bahwa hasil penelitian mereka memberi bukti kuat bahwa tidur membantu pikiran untuk melakukan pekerjaan dengan baik, dan mengubah pengalaman ke dalam memori, serta menunjukkan pentingnya metode ini dalam persiapan menghadapi ujian. 

  Selain itu, mereka juga menyingkap hasil temuan lain yang mengkaitkan adanya perubahan dalam otak yang berhubungan dengan tidur nyenyak, itu melebihi tidur ringan. 

   Penemuan ini lalu mendorong para peneliti untuk menjawab pertanyaan yang rumit: Mengapa kita tidur?

Keterangan gambar 2 :
  Ini merupakan gambar salah satu sel saraf listrik di daerah otak yang bertanggung jawab untuk penyimpanan memori yang disebut hippocampus dan kurva merah menunjukkan aktivitas listrik di wilayah tersebut. 
  Sedangkan kurva biru adalah aktivitas listrik di lapisan luar otak saat yang sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa informasi baru yang diperoleh seseorang pertama kali disimpan di bagian otak yang disebut "Hippocampus". 
Pada akhir hari, otak tidak menghapus informasi ini dan melupakannya, tetapi informasi itu akan dipanggil kembali dan disimpan di dalam otak. (Max Planck Institute for Medical Research). 
  Profesor Michael Strykr dari Universitas California mengatakan, ”Jika seorang pelajar mengulang pelajarannya dengan baik hingga ia kelelahan lalu tidur, maka otak akan terus bekerja  saat tidur dengan cara yang sama! 

  Di sini kita mengingat ayat Allah yang agung, yang mengingatkan kita tentang hal ini sejak zaman tak satu pun manusia di bumi ini mengetahui pentingnya dan keajaiban tidur.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
[الروم: 23]
  ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar Ruum : 23)
  Tidur adalah keajaiban yang nyata. Para ilmuwan benar-benar sangat takjub dan terheran-heran dengan rahasia ilmiyah di balik tidur ini. Andai mereka melihat dan memperhatikan Kitabullah niscaya akan hilanglah keheranan mereka..
Tidur, Memantapkan Memori yang telah Terhapus
  Para peneliti dari Universitas Chicago menegaskan bahwa ada sejumlah fakta yang dilupakan orang saat melewati hari yang sibuk mungkin akan mengingat kembali apa yang ia kerjakan  jika ia tidur setelah itu dalam kondisi baik. 

  Para peneliti meminta relawan untuk mengingat kata-kata sederhana, dan menemukan bahwa banyak memori mereka gagal menyimpan informasi kata-kata itu di sore harinya. Tapi keesokan harinya mereka bisa tidur dengan nyenyak dan mampu mengingat kembali informasi yang telah mereka ingat dengan sangat lebih baik.
  Ini berarti bahwa otak mampu menyimpan memori yang hampir terlupakan melalui waktu malam. Dan ketika diperlukan dari otak untuk mengingat sesuatu yang awalnya diingat dalam kondisi tidak stabil, yang berarti sudah dilupakan oleh orang yang bersangkutan, lalu pada tahap tertentu, otak menempatkan kembali informasi itu secara lebih stabil dan konsisten. 

  Tapi para peneliti percaya bahwa adalah mungkin untuk kembali ke memori ketidakstabilan menjadi stabil lagi ketika diperlukan. Ini berarti bahwa ingatan dapat termodifikasi dan tersimpan lagi ketika berhadapan dengan pengalaman baru. 

   Masalah ini mungkin menjadikan orang terkejut. Tapi, apakah alam ini yang sistemnya merancang sistem yang tepat untuk tidur? 

  Apakah keadaan malam yang gelap, yang membuat makhluk hidup cenderung untuk tidur, karena tahu bila tidur berguna untuknya?  

Kita tidak memiliki jawaban kecuali firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menyebutkan,
 (وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ)
[الذاريات: 21]
Dan dalam diri kalian, apakah kalian tidak memikirkan.” (QS. Adz Dzariyat : 21)
 
 Keterangan Gambar 4 :
  Perangkat gambar diambil scan resonansi magnetik. Kita melihat dalam gambar sebelah kiri otak tertidur pada awal tidur dan tidak muncul dalam aktifitas apapun. Setelah ia mendengar informasi saat tidur, informasi itu direspon oleh otak dan otak mulai aktif (lihat area merah di sebelah kanan).  

   Di sini para ilmuwan menegaskan bahwa otak bekerja selama tidur dan menerima informasi lalu menyimpannya. Karenanya, saya menyarankan siapapun yang ingin menghafal Al Quran dengan memanfaatkan teori atau metode mendengarkan Al Quran di saat tidur.
Tidur Mengembangkan Potensi dan Keterampilan
  Terkait dengan masalah tidur, para peneliti kini juga mendapatkan banyak fakta ilmiyah lain. Misalnya, mereka mengatakan bahwa  tidur nyaman, yang dilakukan dengan konsisten, bisa membina dan mengembangkan skill individu, bakat dan keterampilan, khususnya yang berkaitan dengan revitalisasi memori otak dan juga menstimulasi pengembalian memori untuk mengingat apa yang terjadi di masa lalu, bahkan mengingat kembali pemandangan.
  Menurut Dr Stefan Fischer, pemimpin tim penelitian: Tidur berguna bahkan sangat diperlukan untuk mencapai tingkat keterampilan yang lebih baik. Neal Standley, mengatakan, ”Studi baru menegaskan pentingnya tidur dalam kehidupan manusia dan adalah salah pendapat orang yang mengatakan bahwa tidur hanyalah aktifitas sia-sia dan membuang-buang waktu.”
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
[الفرقان: 47]
Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS. Al Furqan : 47)
  Ayat ini menegaskan manfaat tidur. Sekali lagi, ayat ini diturunkan di zaman tak ada orang yang meneliti tentang tidur, dan kebanyakan orang mengangap bahwa tidur hanyalah kebiasaan yang tak berguna

  Tapi Al Quran telah membicarakan hal ini, dengan menjadikan tidur sebagai salah satu keajaiban dan salah satu bukti kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Inilah salah satu kemukjizatan Al Quran.
 
Keterangan Gambar 5:
  Para ilmuwan Jerman tertarik meneliti fenomena tidur. Mereka mencoba mengambil kesimpulan dari eksperimen yang mereka lakukan. Mereka mengatakan: ”Perubahan pada otak mempengaruhi kreatifitas dan pengembangan kemampuan dalam proses yang dinamakan gelombang lambat atau slow waves, saat seseorang tidur nyenyak dan terjadi selama empat jam pertama dari siklus tidur

  Penelitian Jerman juga menjelaskan, daya ingat yang akan hilang bersamaan dengan pertambahan usia yang terkait dengan adanya  gangguan dan kondisi kurang tidur, khususnya tidur nyenyak yang sangat diperlukan untuk proses mempertajam memori.
--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel
Sumber : www.kaheel7.com/id


RRIAds - Shampo Ruqyah (Order via Tokopedia / KLIK GAMBAR) 


December 13, 2018