Mengapa Ruqyah Mandiri


Pertanyaan ini muncul setelah penulis melakukan pengamatan terhadap pasien yang datang selama masa terapi. Pasien yang diterapi dengan pola pasif [ustadz (baca : peruqyah) membaca ayat dan doa ruqyah sementara pasien mendengar] cenderung memiliki ketergantungan yang agak berlebih terhadap ustadz yang meruqyah.  Kondisi ini tentu saja merupakan suatu hal yang sangat mengkhawatirkan.
Ketergantungan pasien yang agak berlebih terhadap peruqyah menyebabkan bergesernya ruqyah dari tujuan utamanya. Pergeseran arah ini dikhawatirkan bisa menimbulkan benih-benih kesyirikan. Ruqyah sebagai salah satu dari warisan Nabi yang mulia Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, bertujuan mewujudkan nilai tauhid yang paripurna. Sehingga tidak ada satupun celah yang bisa dimanfaatkan syetan untuk menjerumuskan manusia kedalam lembah kesyirikan.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Diperkenankan melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan”. (HR. Muslim no 4079 dari sahabat Auf bin Malik al-Asyja`iy)
Diantara nilai tauhid yang utama adalah tawakkal atau kepasrahan, yang sepenuhnya hanya kepada Allah Ta`ala. Ketika seseorang telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah maka tidak ada lagi yang pantas untuk dia khawatirkan. Allah ta`ala memerintahkan kepada setiap mukmin untuk bertawakkal kepadaNya:
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Hanya kepada Allah sajalah setiap mukmin bertawakkal” (QS 3 : 122)

Seorang manusia memang tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya dari ikatan sosialnya. Dia tidak akan pernah bisa hidup memencilkan diri dari lingkungannya. Dia bukanlah  makhluk super hebat yang bisa melaksanakan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Demikianlah Allah menciptakan  manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Namun demikian setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjaga hatinya dari ketergantungan terhadap orang lain atau makhluk lainnya. Sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu dalam sebuah doanya mengungkapkan:
“Ya Allah jadikanlah dunia ini dalam genggaman tangan kami dan janganlah engkau jadikan dunia ini dalam hati kami”
Setiap manusia tidak akan bisa melepaskan dirinya dari dunia dan pernak-perniknya. Sebab manusia merupakan bagian dari kehidupan dunia itu sendiri. Namun setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan hatinya dari ikatan dunia. Kemampuan ini baru akan dimiliki seseorang apabila dia menjadikan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai pemandu hidupnya. Ketika seorang muslim mampu bersikap demikian maka dunia tidak akan bisa memperdayanya.
Tawakkal adalah salah satu bentuk dari amalan hati. Karena itu seseorang boleh saja meminta atau menerima bantuan dari orang lain asalkan dia mampu menjaga hatinya untuk tidak bergantung pada orang yang memberi bantuan.
Hatinya hanya menghadap kepada Rabbnya dan dia tidak akan pernah membagi hatinya untuk selain-Nya. Dia tak akan pernah menyerahkan tambatan hatinya kepada manusia lainnya ataupun makhluk lainnya. Dia akan bangkit dan berjuang dengan penuh keyakinan  untuk menyelesaikan permasalahan dirinya tanpa harus menggantungkan hatinya pada orang lain.
Seorang mukmin tidak akan berduka dan tidak akan khawatir ketika dia tidak mendapati orang yang bisa meruqyah dirinya. Dia yakin bahwa Allah akan membantu dirinya ketika dia sudah mengawali perubahan dirinya. Dia akan berbuat sekuat kemampuan yang dia miliki dan dia akan belajar. Allah ta`ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS 13 : 11)
Dengan demikian, salah satu bentuk ketawakkalan adalah kemandirian hati dan sikap.Oleh karena itu, proses terapi ruqyah harus mengarah pada terbentuknya kemandirian hati dan sikap seorang pasien.
Kemandirian pasien adalah kunci untuk memutus ketergantungan pasien yang berlebihan terhadap peruqyahnya. Karena itu seorang peruqyah harus berusaha mencari cara terbaik untuk mewujudkannya.
Setiap peruqyah memang seringkali memberikan arahan pada setiap pasiennya untuk tawakkal dan pasrah pada Allah ta`la. Namun seringkali ketawakkalan tersebut sulit untuk diwujudkan oleh pasien. Sehingga tidak memunculkan kemandirian.
Menurut hemat penulis, pelaksanaan terapi ruqyah dengan pola pasif tidak memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengetahui dan mengalami cara pelaksanaan terapi ruqyah secara mandiri. Selama proses terapi, pasien hanya mendengar doa dan bacaan ruqyah atau menyaksikan peruqyah berdialog dengan jin. Pasien tidak memiliki kesempatan untuk memahami tahapan demi tahapan dalam melakukan perlawanan dari dalam dirinya. Pasien hanya menjadi penonton dalam dirinya sendiri.
Seorang peruqyah memiliki tanggung jawab besar terhadap perkembangan sikap diri pasiennya. Sikap diri yang merupakan wujud dari penerapan nilai tauhid. Kemandirian adalah salah satu bentuk terapan nilai tauhid.

Ustadz yang bertugas dalam pelaksanaan terapi memang seringkali mengingatkan pasiennya agar menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah ta`ala. Namun peringatan saja belumlah cukup. Tidak setiap pasien memiliki kemampuan untuk menerima dan memahami dengan baik setiap saran yang diberikan.

Ada di antara pasien, bahkan banyak dari mereka yang bingung atau tidak percaya diri untuk melaksanakannya. Karena itu seorang peruqyah hendaknya berupaya menuntun pasien setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, melewati berbagai pergolakan yang terjadi dalam diri mereka.

Tuntunan ini diberikan pada saat terapi sedang berlangsung. Bahkan harus diberikan pada saat kesurupan itu sedang terjadi.

Penulis berpendapat dan juga meyakini bahwa :

“Mayoritas pasien yang mengalami kesurupan masih memiliki kesadaran dan bisa menerima saran atau masukan yang diberikan”.
Kondisi diatas seringkali penulis alami selama aktif melakukan terapi ruqyah. Salah satu contohnya adalah;

Ketika penulis meruqyah seorang pemuda lajang berusia + 30 th. Pemuda tersebut mengalami gangguan sihir. Ketika kesurupan, jin yang mengganggunya seringkali berbicara melalui dirinya. Ucapannya tidak senonoh dan tidak terkontrol serta tidak ada habis-habisnya. Ketika kesurupan itu sedang berlangsung penulis berkata pada pemuda tersebut:

“hai fulan sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepadamu kehendak dan keinginan. Ketahuilah lidahmu adalah bagian dari dirimu, karenanya syetan tidak akan pernah bisa mengendalikan lidahmu jika sekiranya kamu tidak mengizinkannya. Oleh karena itu jangan izinkan syetan berbicara dengan lidahmu. Ucapkan Allahu akbar”
Ketika instruksi diberikan, Alhamdulillah terlihat upaya pasien untuk mengikuti saran yang diberikan sampai akhirnya dia bisa mengendalikan lidahnya.
Kisah yang senada seringkali penulis alami pada kasus dan orang yang berbeda-beda. Karena itu penulis berkeyakinan bahwa;
“Ketika seorang peruqyah memiliki kemampuan untuk menuntun pasien dalam mengendalikan kehendak dirinya saat kesurupan terjadi, maka ketika itu peruqyah sudah mendapatkan jalan untuk membangun kemandirin pasiennya. Dengan demikian ketawakkalan kepada Allah akan terwujud”.
Pola yang seperti ini penulis sebut dengan nama Pola aktif yaitu: peruqyah menuntun pasien yang membaca doa dan ayat-ayat ruqyah. Ini merupakan sebuah upaya untuk terlaksanya Terapi Ruqyah Mandiri. Semoga Allah merahmati kita semua. Wallahu a`lam.

Ust Beni Amri Lc

Comments