thumbnail

Fatwa MUI tentang Perdukunan

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-24



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh                        

Ustadz, bagaimana fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang perdukunan dan peramalan yang banyak tersebar di tengah masyarakat kita terutama melalui media masa, baik elektronik, cetak, maupun film?

Hamba Allah

Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

  Sebenarnya, sejak lama MUI telah mengeluarkan fatwa tentang perdukunan dan peramalan yang waktu itu banyak terjadi dalam masyarakat kita dan sangat meresahkan umat Islam. Dalam Fatwa MUI yang bernomor 2/munasVII/MUI/6/2005 tentang perdukunan dan peramalan, MUI telah memfatwakan, segala bentuk praktik perdukunan dan peramalan hukumnya haram.

  Mempublikasikan praktik perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun hukumnya haram dan dalam fatwa itu ditegaskan bahwa memanfaatkan, menggunakan, dan atau mempercayai segala praktik perdukunan dan peramalan adalah haram. MUI mendasarkan fatwanya pada ayat-ayat Al-Qur`an yang dengan tegas mengharamkan syirik. Hanya Allah SWT yang mengetahui hal hal gaib.

  Ada juga hadis-hadis yang menjelaskan keharaman perdukunan dan peramalan. Di antara ayat dan hadis itu adalah,”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS.An-Nisa [4]:48).

  Ayat lainnya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang di kehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS.An-Nisa [4]:116).

  “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS Al-Hajj [22]:31).

  “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS An-Naml [27]:65).

   “Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan, sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”(QS Al-A’raf [7]:188).

  Nabi bersabda, ”Barang siapa yang mendatangi peramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak akan di terima selama 40 malam.”(HR Muslim dan Ahmad).  

  Beliau juga bersabda, ”Barang siapa mendatangi dukun dan peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, orang itu kufur terhadap apa yang diturunkan Muhammad.” (HR Ahmad dan Al-Hakim)

Abu Mas’ud Al-Anshari mengatakan, Rasulullah melarang pemanfaatan harga jual beli anjing, bayaran pelacur (perzinahan) dan upah dukun. (HR Bukhari dan Muslim). Berdasarkan kaidah fikih,segala jalan yang menuju pada sesuatu yang haram maka jalan (wasilah) itu juga haram. Mencegah kemafsadatan (kerusakan) lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan.

  Jelaslah sudah tentang haramnya praktik perdukunan dan peramalan, mempublikasikan dan menggunakan serta memercayainya. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama oleh Ustaz Bachtiar Nasir, harian REPUBLIKA
November 24, 2018
thumbnail

Bahagianya Hidup Sehat

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-20



"Pertanyaan pertama yang diajukan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak mengenai kenikmatan dunia adalah : Bukankah Aku telah memberimu badan yang sehat " (HR Tirmdzi)

  Sehat adalah pilihan, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang menginginkan sakit. Sebisa mungkin, penyakit harus dihindari. Wajar saja bila pemerintah mencanangkan program imunisasi dini bagi balita. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan seorang balita terkena suatu penyakit. 

  Dan sebagian dari kita berusaha menjaga kesehatan tubuh dan menghindari penyakit dengan berbagai cara;  olahraga, menjaga pola makan dan istirahat, diet khusus, me-manage stress, mengonsumsi suplemen, atau memperbaiki pola hidup.

  Orang-orang yang dengan sadar menjaga pola dan gaya hidup, aktivitas dan makanannya agar tetap bisa tampil bugar dan prima adalah mereka yang mengerti akan arti penting kesehatan. Bahkan, tidak jarang mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak demi menjaga kesehatan. Sebab mereka yakin, bila sakit, ongkos yang harus dikeluarkan akan lebih mahal dibandingkan dengan menjaga kesehatan. 


  Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam bersabda : "Tubuhmu mempunyai hak atas dirimu". Itu artinya, tubuh kita juga harus mendapatkan perhatian. Kasihan, kalau menit demi menit dia dimanfaatkan, dieksploitasi, tapi tidak mendapatkan perhatian yang semestinya.

  Ibarat mesin, tubuh juga memerlukan perawatan rutin dan kontinyu agar tidak cepat rusak. Termasuk dalam perawatan tubuh adalah tidak memberinya asupan makanan yang buruk dan berbahaya, semisal narkoba dan minuman berakohol.

  Kita baru merasakan betapa bahagianya hidup sehat ketika sedang sakit, atau ada sebagian anggota tubuh kita yang sakit. Berbagai rencana tiba-tiba muncul di benak kita apabila nanti kembali sehat. Kita akan rutin berolahraga, mengurangi makan makanan yang berlemak, berhenti merokok, mengurangi begadang dan lain sebagainya. Tapi, ketika kita sudah sehat, semua rencana itu segera terabaikan.

  Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam adalah teladan sempurna dalam berbagai hal, termasuk  dalam menjaga kesehatan. Itu terbukti dari jarangnya beliau sakit, sepanjang 63 tahun usia beliau. Beliau pernah sakit karena dizalimi oleh kaum kafir, dilempari batu hingga pelipis beliau berdarah, atau terkena senjata musuh kala berperang dan diracuni seorang wanita Yahudi.  

  Kalaupun sakit, maka beliau akan segera berobat dengan dibekam (hijamah). Selebihnya Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam hidup dalam keadaan sehat karena selalu menerapkan pola dan gaya hidup sehat, baik melalui aktivitas fisik yang seimbang, menjaga pola makan dan istirahat, serta terinteraksi sosial yang bermanfaat  Sebagai Muslim, sudah selayaknya kita meneladani Rasulullah dalam segala hal, termasuk menjaga kesehatan [].


Dokter Briliantono M Soenarwo

Sumber : Rubrik Hikmah, Harian Republika
November 20, 2018
thumbnail

Mengapa Ruqyah Mandiri?

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-17



  Pertanyaan ini muncul setelah penulis melakukan pengamatan terhadap pasien yang datang selama masa terapi. Pasien yang diterapi dengan pola pasif [ustadz (baca : peruqyah) membaca ayat dan doa ruqyah sementara pasien mendengar] cenderung memiliki ketergantungan yang agak berlebih terhadap ustadz yang meruqyah.  Kondisi ini tentu saja merupakan suatu hal yang sangat mengkhawatirkan.

  Ketergantungan pasien yang agak berlebih terhadap peruqyah menyebabkan bergesernya ruqyah dari tujuan utamanya. Pergeseran arah ini dikhawatirkan bisa menimbulkan benih-benih kesyirikan. Ruqyah sebagai salah satu dari warisan Nabi yang mulia Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bertujuan mewujudkan nilai tauhid yang paripurna. Sehingga tidak ada satu pun celah yang bisa dimanfaatkan syetan untuk menjerumuskan manusia kedalam lembah kesyirikan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك

  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda: “Diperkenankan melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan”. (HR. Muslim no 4079 dari sahabat Auf bin Malik al-Asyja`iy)

  Diantara nilai tauhid yang utama adalah tawakkal atau kepasrahan, yang sepenuhnya hanya kepada Allah Ta`ala. Ketika seseorang telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah maka tidak ada lagi yang pantas untuk dia khawatirkan. Allah Ta`ala memerintahkan kepada setiap Mukmin untuk bertawakkal kepadaNya:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Hanya kepada Allah sajalah setiap Mukmin bertawakkal” (QS 3 : 122)

  Seorang manusia memang tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya dari ikatan sosialnya. Dia tidak akan pernah bisa hidup memencilkan diri dari lingkungannya. Dia bukanlah  makhluk super hebat yang bisa melaksanakan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Demikianlah Allah menciptakan  manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

  Namun demikian setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjaga hatinya dari ketergantungan terhadap orang lain atau makhluk lainnya. Sahabat Abu Bakar radhiyallahu anhu dalam sebuah doanya mengungkapkan:

  “Ya Allah jadikanlah dunia ini dalam genggaman tangan kami dan janganlah engkau jadikan dunia ini dalam hati kami”

  Setiap manusia tidak akan bisa melepaskan dirinya dari dunia dan pernak-perniknya. Sebab manusia merupakan bagian dari kehidupan dunia itu sendiri. Namun setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan hatinya dari ikatan dunia. 

  Kemampuan ini baru akan dimiliki seseorang apabila dia menjadikan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagai pemandu hidupnya. Ketika seorang Muslim mampu bersikap demikian maka dunia tidak akan bisa memperdayanya.

 Tawakkal adalah salah satu bentuk dari amalan hati. Karena itu seseorang boleh saja meminta atau menerima bantuan dari orang lain asalkan dia mampu menjaga hatinya untuk tidak bergantung pada orang yang memberi bantuan.

   Hatinya hanya menghadap kepada Rabbnya dan dia tidak akan pernah membagi hatinya untuk selain-Nya. Dia tak akan pernah menyerahkan tambatan hatinya kepada manusia lainnya atau pun makhluk lainnya. Dia akan bangkit dan berjuang dengan penuh keyakinan  untuk menyelesaikan permasalahan dirinya tanpa harus menggantungkan hatinya pada orang lain.

  Seorang Mukmin tidak akan berduka dan tidak akan khawatir ketika dia tidak mendapati orang yang bisa meruqyah dirinya. Dia yakin bahwa Allah akan membantu dirinya ketika dia sudah mengawali perubahan dirinya. Dia akan berbuat sekuat kemampuan yang dia miliki dan dia akan belajar. 

Allah Ta`ala Berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS 13 : 11)

  Dengan demikian, salah satu bentuk ketawakkalan adalah kemandirian hati dan sikap.Oleh karena itu, proses terapi ruqyah harus mengarah pada terbentuknya kemandirian hati dan sikap seorang pasien.

 Kemandirian pasien adalah kunci untuk memutus ketergantungan pasien yang berlebihan terhadap peruqyahnya. Karena itu seorang peruqyah harus berusaha mencari cara terbaik untuk mewujudkannya.

  Setiap peruqyah memang seringkali memberikan arahan pada setiap pasiennya untuk tawakkal dan pasrah pada Allah Ta`la. Namun seringkali ketawakkalan tersebut sulit untuk diwujudkan oleh pasien. Sehingga tidak memunculkan kemandirian.

  Menurut hemat penulis, pelaksanaan terapi ruqyah dengan pola pasif tidak memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengetahui dan mengalami cara pelaksanaan terapi ruqyah secara mandiri. Selama proses terapi, pasien hanya mendengar doa dan bacaan ruqyah atau menyaksikan peruqyah berdialog dengan jin. 

  Pasien tidak memiliki kesempatan untuk memahami tahapan demi tahapan dalam melakukan perlawanan dari dalam dirinya. Pasien hanya menjadi penonton dalam dirinya sendiri.

  Seorang peruqyah memiliki tanggung jawab besar terhadap perkembangan sikap diri pasiennya. Sikap diri yang merupakan wujud dari penerapan nilai tauhid. Kemandirian adalah salah satu bentuk terapan nilai tauhid.

 Ustadz yang bertugas dalam pelaksanaan terapi memang seringkali mengingatkan pasiennya agar menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah Ta`ala. Namun peringatan saja belumlah cukup. Tidak setiap pasien memiliki kemampuan untuk menerima dan memahami dengan baik setiap saran yang diberikan.

  Ada di antara pasien, bahkan banyak dari mereka yang bingung atau tidak percaya diri untuk melaksanakannya. Karena itu seorang peruqyah hendaknya berupaya menuntun pasien setahap demi setahap, selangkah demi selangkah, melewati berbagai pergolakan yang terjadi dalam diri mereka.

  Tuntunan ini diberikan pada saat terapi sedang berlangsung. Bahkan harus diberikan pada saat kesurupan itu sedang terjadi.

  Penulis berpendapat dan juga meyakini bahwa : “Mayoritas pasien yang mengalami kesurupan masih memiliki kesadaran dan bisa menerima saran atau masukan yang diberikan”.

  Kondisi diatas seringkali penulis alami selama aktif melakukan terapi ruqyah. Salah satu contohnya adalah;
Ketika penulis meruqyah seorang pemuda lajang berusia + 30 th. Pemuda tersebut mengalami gangguan sihir. Ketika kesurupan, jin yang mengganggunya seringkali berbicara melalui dirinya. 

  Ucapannya tidak senonoh dan tidak terkontrol serta tidak ada habis-habisnya. Ketika kesurupan itu sedang berlangsung penulis berkata pada pemuda tersebut:

  “Hai fulan sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepadamu kehendak dan keinginan. Ketahuilah lidahmu adalah bagian dari dirimu, karenanya syetan tidak akan pernah bisa mengendalikan lidahmu jika sekiranya kamu tidak mengizinkannya. Oleh karena itu jangan izinkan syetan berbicara dengan lidahmu. Ucapkan Allahu akbar”

  Ketika instruksi diberikan, Alhamdulillah terlihat upaya pasien untuk mengikuti saran yang diberikan sampai akhirnya dia bisa mengendalikan lidahnya.

  Kisah yang senada seringkali penulis alami pada kasus dan orang yang berbeda-beda. Karena itu penulis berkeyakinan bahwa;

  “Ketika seorang peruqyah memiliki kemampuan untuk menuntun pasien dalam mengendalikan kehendak dirinya saat kesurupan terjadi, maka ketika itu peruqyah sudah mendapatkan jalan untuk membangun kemandirin pasiennya. Dengan demikian ketawakkalan kepada Allah akan terwujud”.

  Pola yang seperti ini penulis sebut dengan nama Pola aktif yaitu: peruqyah menuntun pasien yang membaca doa dan ayat-ayat ruqyah. Ini merupakan sebuah upaya untuk terlaksananya Terapi Ruqyah Mandiri. Semoga Allah merahmati kita semua. Wallahu a`lam.

Ustadz Beni Amri Lc
November 17, 2018
thumbnail

Apa Hukum Hipnoterapi?

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-15



Pertanyaan:

Apakah hipnotis yang digunakan untuk pengobatan (hipnoterapi) termasuk sihir?


Jawab:

  Hipnotis (التنويم المغناطيسي أو التنويم الإيحائي) adalah termasuk jenis sihir, dimana penghipnotis meminta bantuan jin dalam melaksanakan aksinya. Dan jin akan membantu setelah penghipnotis tersebut mau berbuat syirik atau kekufuran.

  Saya pernah membaca sebuah kisah dari seorang Muslim yang belajar di luar negeri, dimana di Universitas sering diadakan acara hipnotis. Singkat cerita Muslim tersebut ingin meyakinkan bahwa hipnotis ini dari syetan maka dia mencoba untuk menjadi relawan untuk dihipnotis. Ketika detik-detik mau dihipnotis dia terus menerus membaca ayat kursi sehingga akhirnya penghipnotis ini pun gagal dalam menghipnotis dia.

  Komite Tetap Untuk Fatwa Saudi Arabia telah mengeluarkan sebuah fatwa berkaitan dengan hal ini, saya nukil berikut ini nash pertanyaan dan jawabannya:

Pertanyaan:

وما حكم الإسلام في التنويم المغناطيسي وبه تقوى قدرة المنوم على الإيحاء بالمنوم وبالتالي السيطرة عليه وجعله يترك محرما أو يشفى من مرض عصبي أو يقوم بالعمل الذي يطلب المنوم ؟

  “Apakah hukum hipnotis di dalam Islam, dimana dengan cara ini orang yang menghipnotis bisa lebih mampu untuk menguasai orang yang dihipnotis, sehingga membuat dia meninggalkan yang haram atau mengobati penyakit syaraf atau melakukan perbuatan yang diminta oleh penghipnotis? (Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah 1/345)

Jawabannya:

Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah:

التنويم المغناطيسي ضرب من ضروب الكهانة باستخدام جني حتى يسلطه المنوم على المنوم فيتكلم بلسانه ويكسبه قوة على بعض الأعمال بالسيطرة عليه إن صدق مع المنوم وكان طوعا له مقابل ما يتقرب به المنوم إليه ويجعل ذلك الجني المنوم طوع إرادة المنوم بما يطلبه منه من الأعمال أو الأخبار بمساعدة الجني له إن صدق ذلك الجني مع المنوم وعلى ذلك يكون استغلال التنويم المغناطيسي واتخاذه طريقا أو وسيلة للدلالة على مكانة سرقة أو ضالة أو علاج مريض أو القيام بأي عمل آخر بواسطة المنوم غير جائز بل هو شرك لما تقدم ولأنه التجاء إلى غير الله فيما هو من وراء الأسباب العادية التي جعلها سبحانه إلى المخلوقات وأباحها لهم .

  “Hipnotis adalah termasuk jenis tenung (sihir) dengan menggunakan jin dimana penghipnotis menguasakan jin kepada orang yang dihipnotis, kemudian berbicara (jin tersebut) lewat lisannya, dan memberinya kekuatan untuk bisa mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu, kalau jin tersebut jujur dan patuh kepada penghipnotis sebagai imbalan dari tugas yang sudah dikerjakan oleh penghipnotis tersebut kepada jin.

  Jin tersebut akan menjadikan orang yang terhipnotis menuruti apa yang diinginkan penghipnotis baik melakukan pekerjaan tertentu atau memberitahu sesuatu dengan bantuan jin, kalau jin tersebut jujur kepada penghipnotis.

  Oleh karena itu, menggunakan hipnotis dan menjadikannya cara untuk mengetahui tempat barang yang dicuri atau barang yang hilang, atau penyembuhan penyakit, atau melakukan pekerjaan tertentu dengan perantaraan orang yang dihipnotis adalah tidak boleh, bahkan termasuk syirik sebagaimana telah berlalu, dan juga ini termasuk bergantung kepada selain Allah di dalam perkara-perkara diluar sebab-sebab yang biasa, yang Allah jadikan dan bolehkan untuk makhluknya (Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah 1/348)

  Dari fatwa di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hipnoterapi (pengobatan dengan hipnotis) tidak diperbolehkan dan termasuk pengobatan dengan sihir.

  Seandainya masih ada keraguan dalam diri kita apakah hipnoterapi itu menggunakan jin atau tidak maka seorang Muslim diperintahkan untuk meninggalkan perkara-perkara yang meragukan, apalagi dalam masalah aqidah seperti ini, demi keselamatan agama dan akhirat kita, dan hendaknya kita menggunakan cara-cara yang syar’i yang tidak meragukan dalam pengobatan.

  Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua kepada jalan yang lurus dan memberikan kekuatan untuk istiqamah diatasnya. Amin.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam blogspot
November 15, 2018
thumbnail

Batu Karang Pembangkit Gairah

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-11

  Awal Maret 2007. Seorang ibu muda asal Jawa Timur mengirimkan sebuah surat kepada redaksi Majalah Ghoib. Dalam amplop yang dikirimkannya itu, terdapat sebuah benda yang selama ini diyakininya sebagai jimat


  Ia meminta agar jimat ini dimusnahkan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Majalah Ghoib yang telah menyadarkannya dari kekeliruan. “Sebagai seorang Muslim kita harus menjalankan kesucian Islam dengan tidak mengotori kaidah-kaidahnya,” tulis ibu muda ini mengawali kisahnya.

 Selanjutnya ia menceritakan asal muasal jimat yang didapatkannya tersebut dalam sebuah tulisan.

  Sejak masih gadis, ibu muda ini disukai para pemuda di kampungnya. Wajahnya boleh dibilang cantik. Di atas rata-rata. Persaingan untuk mendapatkannya cukup ketat. Walaupun tidak lewat sayembara. Para pemuda kampung itu, berlomba-lomba mendapatkan cintanya. 

  Mereka seakan berusaha meraih simpati orangtua ibu muda ini dengan segala barang bawaan yang tidak sedikit jumlahnya.

  Dari sejumlah pemuda yang antri itu, ibu muda ini jatuh hati kepada seorang pemuda alim anak mantan kepala desa. Pemuda itu begitu bersahaja, meski hidup dalam kesederhanaan. Sikapnya yang santun, membuat pertahanan hatinya jebol kepada pemuda ini. Mereka pun menikah. Mengikat janji seiya sekata, dalam biduk cinta rumah tangga.

  Dua tahun pertama, kehidupan mereka berjalan dengan baik. Bahkan telah dikaruniai seorang anak yang lucu. Suaminya sangat sayang dan hangat. Memasuki tahun ketiga, kehidupan rumah tangganya mulai mengalami goncangan. Sang suami berubah drastis. Mudah marah dan tidak sehangat dulu. Ibu muda ini bingung. Hatinya gundah.

  Seorang teman lamanya menganjurkan, agar ia pergi ke orang pintar. Ibu muda ini awalnya tidak menggubris ajakan tersebut. Lama-kelamaan setuju juga. Dengan dalih menyelamatkan biduk cinta harmonisnya, ia pergi menemui seseorang yang sering di panggil Mbah Sakti oleh warga sekitar.

   Menurut penerawangan si Mbah, perubahan sikap suaminya iru, disebabkan sihir dari seorang pemuda yang patah hati karena cintanya pernah ditolak oleh ibu muda ini. Dengan dimandikan kembang tujuh rupa, tubuh si ibu muda ini diruwat. Agar segala jenis sihir hilang. Si Mbah juga membekali ibu muda ini sebuah jimat yang telah didapatkannya melalui pertapaan.

  Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dua musim rambutan telah dilaluinya. Kehidupan rumah tangganya semakin berantakan. Mereka akhimya bercerai tanpa sebab yang jelas. Selepas bercerai ibu muda ini lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

  Sampai akhimya ia mengenal Majalah Ghoib, melalui sang adik yang masih aktif kuliah di Jakarta. Kini ia berharap mendapatkan ketenangan lewat ibadahnya yang lebih total kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Bentuk Jimat


  Jimat ini berasal dari pecahan batu karang laut yang berwama putih. Beratnya sangat ringan. Pada bagian tengahnya terdapat gompalan-gompalan yang sengaja dl buat seperti alami. Pada saat dikirimkan, jimat ini dibungkus dalam sebuah kantong kain berukuran kecil. Bagian luarnya diikat oleh sehelai benang berwarna-wami.


‘Kesaktian’ Jimat

Menurut Si Mbah Sakti. Jimat ini memiliki kekuatan untuk merekatkan kembali keharmonisan rumah tangga. Gairah hubungan suami istri akan semakin bertambah erat. Bahkan hangat sekali. Jimat ini harus disimpan di bawah kasur, yang harus ditiup setiap malam Jum’at lewat tengah malam.


Bongkar Jimat


  Peristiwa pernikahan bukanlah peristiwa kecil dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Akad nikah yang pernah kita laksanakan berdua sama tingginya dengan perjanjian Bani Israil di bawah Bukit Thur yang bergantung di atas kepala mereka. 

  Peristiwa akad nikah tidak saja disaksikan oleh orang tua, saudara+audara, dan sahabat-sahabat kita, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala penguasa alam semesta. 

  Peristiwa pernikahan seperti ini sangat tidak disukai oleh syetan, karena itu merupakan perintah Allah. Kebahagiaan dalam rumah tangga setelah menikah merupakan dambaan setiap keluarga. Ia  adalah syurga dunia bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya. Karenanya, setiap pasangan suami istri berusaha mendapatkannya dengan berbagai hal.

  Sebagai seorang Muslim, kita harus senantiasa waspada akan gangguan syetan yang datang. Karena pada hakikatnya, syetan tidaklah menyukai perbuatan baik. Apalagi itu adalah titah Allah. 

  Syetan berusaha memecah belah keutuhan rumahtangga dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan sihir tafriq yaitu sihir yang digunakan untuk memisahkan dan menjauhkan antar orang yang saling berdekatan dan saling mencintai. Dalam kasus ibu ini, sang suami terindikasi terkena sihir kiriman dari seseorang. Dan itu bisa saja terjadi. Masalahnya kemudian adalah penyikapannya.

  Pergi ke dukun bukanlah solusi tepat. Malah itu merupakan tindakan kemusyrikan. Seharusnya kita lebih berusaha menjadi Muslim yang terbaik dan paling dekat dengan Allah dengan cara yang diajarkan-Nya. Banyak berdoa dan menggantungkan sepenuhnya harapan hanya kepada Allah. Karena begitulah kita diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya.

  Sihir akan berkembang pada sebuah masyarakat atau seseorang yang jauh dari wahyu Allah. Karena mereka kehilangan kendali sekaligus kehilangan kekuatan Maha Dahsyat yang mereka perlukan dalam hidupnya. Mereka jauh dari Tuhan. 

  Untuk memenuhi kekurangan itu mereka mencari kekuatan yang dianggap mampu menghadirkan kedahsyatan itu, maka mereka terjebak kepada sihir. Siapa pun orang yang mempergunakan ilmu sihir untuk mencelakakan orang maka ia telah berbuat dosa besar.

  Untuk mereka Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. memberikan hukuman penggal leher, seperti yang pernah beliau sabdakan dalam sebuah haditsnya. Karena sihir itu membuat seseorang yang mempelajarinya menjadi keji, rendah dan hina. 

  Mereka selalu meyakini apa pun yang diyakini tuan mereka, yakni syetan. Karena itu mereka menjadi musuh orang beriman. Mereka selalu bersedia melakukan perbuatan bejat, kapan pun syetan menghendaki-nya. Maka sangatlah jelas bahwa para penyihir itu telah bersekutu dengan syetan.

  Kita harus waspada akan tipuan syetan yang terkutuk dan menjadikannya musuh abadi. Maka tidak ada kata lain, selain terus mempertebal kualitas keimanan yang kita miliki. 

“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6).

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 80/4

Punya jimat yang ingin dimusnahkan? Silahkan datang bawa jimat antum, Insya Allah akan kami bantu. Caranya bisa dilihat DISINI
November 11, 2018
thumbnail

5 Faktor Penyebab Perempuan Rawan Gangguan

Posted by rumah ruqyah on 2018-11-08


1. Faktor Populasi

  Bisa jadi karena populasi perempuan lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Sehingga jumlah kuantitas perempuan yang terkena gangguan terlihat lebih banyak dibanding laki-laki. Bisa jadi prosentase gangguan itu sama antara perempuan dan laki-laki, tapi jumlah perempuan lebih banyak jumlahnya dibanding laki-laki. 

 Misalnya, jumlah perempuan di suatu daerah lima juta orang, sedangkan laki-laki jumlahnya dua juta orang. Kalau prosentase gangguannya sama yaitu fifty-fifty, maka angkanya masih lebih banyak perempuan. 

 Lima puluh persen dari lima juta adalah dua juta lima  ratus. Sedangkan lima puluh persennya dua juta adalah satu juta. Jadi wajar saja kalau yang datang ke praktik pengobatan lebih banyak wanita daripada laki-laki.

2. Faktor Keagamaan

  Yang dimaksud keagamaan adalah aktifitas menjalankan ibadah. Ada beberapa dalam lslam yang mensyaratkan pelakunya harus suci dari hadats. Baik hadats besar seperti, haidh, nifas dan junub. 

  Atau pun hadats kecil seperti, buang air besar dan air kecil atau buang angin. Di saat seorang wanita  sedang haidh atau nifas, maka ia dilarang untuk melaksanakan shalat atau puasa. 

  Aisyah berkata, “Kami mengalami haidh pada zaman Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, maka beliau memerintahkan kami untuk mengqadha’ puasa, tapi beliau tidak menyuruh kami untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Bukhari). 

  Inilah yang dimaksud oleh Rasululah Shallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Bukhari dan Muslim bahwa wanita itu “naqishatu din” (kurang agamanya). Karena ketika ia lagi haidh atau nifas, dia tidak boleh shalat dan puasa. Dan hal itu tidak berlaku bagi laki-laki.

  Banyak wanita yang salah paham dalam menyikapi dirinya saat haidh atau nifas. Mereka putuskan hubungannya dengan Allah sehingga memberi peluang bagi syetan untuk mengganggunya. 

  Padahal sebenarnya tidaklah seperti itu, wanita masih diperbolehkan untuk berdzikir atau membaca wirid yang sudah dihafal di setiap saat termasuk pagi dan sore, atau membaca buku-buku agama yang bisa mendekatkan diri kepad Allah. 

  Dengan, berdzikir sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam seseorang akan mempunyai benteng yang kuat walaupun saat haidh.

3. Faktor Biologis

  Perempuan mempunyai organ tubuh yang berbeda dengan laki-laki. Sehingga mereka mengalami sesuatu yang tidak dialami laki-laki, begitu pula sebaliknya. Seperti haidh, nifas atau melahirkan. 

  Banyak perempuan saat mengalami haidh atau nifas, ia mengalami kesakitan yang sangat. Kalaupun sakit yang dialaminya tidak terlalu parah, rasa sakit tersebut akan berpengaruh ke emosi dan tingkah lakunya. 

  Terkadang ia jadi pemarah dan suka termenung. Dan ada juga wanita yang menutup diri, atau suka menyendiri saat mengalami haidh. Karena ia tidak terlalu percaya diri untuk bergaul dengan orang lain, atau tidak bisa beraktifitas secara normal.

Banyak pasien yang bercerita kepada Majalah Ghoib, bahwa gangguan jin yang diderita mulai terasa atau semakin kuat saat haidh atau nifas. Ini termasuk momentum yang harus diwaspadai oleh kaum hawa. Dan kondisi seperti itu tidak dialami oleh laki-laki. Tapi kalau wanita tetap menjaga hubungannya dengan Allah pada masa-masa seperti itu, syetan tidak akan menemukan peluang lebih banyak untuk mengganggu wanita, sebagaimana laki-laki yang senantiasa berdzikir. Insya Allah.

4. Faktor Psikologis

  Karena struktur biologis yang berbeda, maka factor psikologi antara perempuan dan laki-laki pun berbeda. Dr. Ed Keogh, seorang psikolog dari Universitas Bath Inggris yang telah mengadakan penelitian tentang perbedaan rasa sakit yang dialami perempuan dan laki-laki menyimpulkan, “Emosional perempuan yang sangat dominan menyebabkan mereka tidak kuat untuk menahan rasa sakit. 

  Otak perempuan menunjukkan aktifitas lebih besar pada wilayah limbic yang merupakan pusat dari emosi, sedangkan kaum pria aktifitas otak terluasnya pada wilayah kognitif atau pusat analitis. 

  Wanita yang menderita rasa sakit tidak akan bisa menoleransi rasa sakitnya. Kemungkinan hal itu terjadi karena kaum pria lebih mampu untuk menahan rasa sakit. Karena factor psikologis.”

  Kemudian Psikolog Inggris itu menambahkan, “Pada umumnya para pria lebih banyak melakukan pendekatan terhadap rasa sakit itu. Mereka berpikir tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap sakit itu dan menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya. 

  Sedangkan wanita, mereka lebih banyak merasakan rasa sakit dibanding memikirkan bagaimana mengatasinya dan kembali beraktifitas.” Begitulah hasil penelitian seorang psikolog sebagaimana yang dipublikasikan oleh Koran Tempo Edisi no. 1492.

5. Faktor Sosial

  Faktor ini lebih didominasi oleh pola didik yang banyak diterapkan dalam bermasyarakat dan bersosial, terutama di saat kecil atau di masa pertumbuhan.

 Karena begitu kuatnya pola didik yang tertanam di masa pertumbuhan itu, akhirnya hal itu terus melekat dalam benaknya dan menjadi pola pikirnya. 

  Kita sering menjumpai orangtua yang menjumpai anaknya yang laki jatuh kemudian menangis, mereka mengatakan: “Anak laki-laki kok cengeng”. 

  Atau bila ada anak laki-laki jatuh dan menangis orang sekitarnya mengatakan: “Lho … jatuh gitu saja kok menangis”. 

  Ungkapan-ungkapan seperti itulah yang membuat anak laki-laki cenderung untuk bertahan dan menahan rasa sakit. Sikap orangtua atau masyarakat tersebut akan berbeda jika yang jatuh adalah anak perempuan.

  Karena sejak kecil ia dituntut untuk menunjukkan kejantanan dan kekuatannya untuk bertahan, akhirnya ia terbiasa untuk menahan rasa sakit dan tidak terlalu menanggapinya. 

  Sehingga ia akan bersikap dengan sikap yang sama saat mengalami rasa sakit dalam kesehariannya. Tidak begitu dirasa, bahkan cenderung tidak dirasakan demi menjaga imej kelelakiannya.

  Dr. Ed Keogh memberikan kesimpulan, “Wanita cenderung memberitahu rasa sakitnya, bahkan ketika diambang sakit, ketimbang laki-laki. Sebagaimana kita lihat, sejauh ini lebih banyak perempuan yang datang ke klinik pengobatan daripada laki-laki.”

  Demikian juga masalah gangguan jin pada kaum hawa. Bisa jadi, jumlah kaum laki-laki yang terkena gangguan syetan sama banyaknya dengan kaum perempuan. 

  Tapi karena banyak kaum laki-laki yang menahan rasa sakit yang dialami dan cenderung acuh, akhirnya jumlah perempuan, yang berobat lebih banyak daripada laki-laki.

  Itulah beberapa faktor yang menyebabkan perempuan lebih banyak terdaftar sebagai pasien ruqyah di kantor ruqyah Majalah Ghoib pusat ataupun cabang-cabangnya. Semoga Allah melindungi para Muslimah, rahim-rahim peradaban lslam dari godaan syetan.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 46/3
November 08, 2018