Stress: Gangguan Jiwa atau Gangguan Jin?


Beny (bukan nama sebenarnya) bukan pengangguran. Pegawai negeri sipil di kota Sleman itu juga sebenarnya mempunyai penghasilan rutin untuk membiayai seorang istri dan dua orang anaknya. Tapi kondisi persaingan sosial, pergaulan, obsesi, membuatnya tak pernah merasa puas. Ditambah teman-temannya yang menggiringnya pada pencarian uang secara tidak halal. Dengan harapan memperoleh tambahan penghasilan, Benny keranjingan judi.

Tapi dasar judi, selain jelas-jelas haram, juga tak pernah membuat orang semakin baik. Menang makin menambah rakus, kalah makin membuat penasaran. Jadi bukannya malah sejahtera, kehidupan Beny, makin tidak karuan. Utang membengkak, rumah tangga kacau. Ia juga menuai kebencian dan jadi omongan oleh tetangga bahkan mertua. Beny benar-benar terisolir dari lingkungan rumahnya. Beny stres.

Semua keadaan buruk yang dialami Beny dijawab dengan dalih yang dibuatnya sendiri. “Dasar mereka orang yang tak tahu kesulitan saya. Bisanya hanya marah, benci saja..,” seperti itu dalih yang dipakai Beny. la pun otomatis makin jauh saja dengan rutinitas ibadah wajib. Sholat lima waktu ditinggal, bahkan absen dalam  sholat Jum'at. Sudah tidak sholat, kegiatannya pun makin banyak tenggelam dalam dosa. Minuman keras dan wanita, menambahnya makin tak mampu beranjak dari meja judi.
Apa dan kenapa stres?
Kisah nyata seperti yang ditemui Majalah Ghoib beberapa waktu lalu tersebut, bisa jadi tidak hanya menimpa Beny. Sangat mungkin ada Beny-Beny lain yang terguncang dan terjerembab dalam kubangan dosa. Kisah Beny menunjukkan bahwa stres bisa membuat orang malas beribadah, berburuk sangka, dan tenggelam dalam berbagai perbuatan dosa.

Ada seribu satu keadaan yang bisa membuat seseorang stres. Hidup selalu diliputi ragam masalah. Tatkala seseorang tak siap menerima realitas atau ketika realitas itu tidak bisa diterima oleh seseorang, di sanalah teriadinya potensi stres. Merasa gagal, tertimpa bencana, terlilit kesulitan ekonomi, persaingan sosial, sakit, putus hubungan dengan seseorang, harapan dan obsesi yang tinggi yang tidak kesampaian dan lain sebagainya. Para psikolog bahkan melihat penyebab stres bisa saja oleh suara keras, suhu udara yang kurang nyaman, hutang, bunyi bel telepon dan sebagainya.

Apa sebenarnya yang disebut stres? Menurut pengamat kejiwaan Amerika Tim Rogers, definisi sederhana stres adalah perasaan tidak dapat mengatasi permasalahan yang muncul. Dengan demikian orang yang stres adalah gambaran manusia yang tidak mampu keluar dari krisis diri, sehingga jiwanya menjadi labil. Dalam keadaan labil inilah manusia dapat melakukan tindakan yang di luar perilaku wajar; seperti cerita di atas.

Gejala stres bisa diraba melalui perubahan secara psikologis, fisik maupun perilaku (lihat tabel l). Orang stress cenderung lebih sensitif ketimbang orang lainya. Karena itu, sering terjadi salah persepsi dalam membaca dan mengartikan suatu keadaan, penilaian atau kritik, nasihat bahkan perilaku orang lain. Orang stres juga cenderung mengaitkan segala sesuatu pada dirinya. Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi kehilangan percaya diri dan harga diri.

Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah tersinggung, gampang marah dan sebagainya.

Kalau sudah memiliki sikap seperti ini, tidak heran jika orang stres tidak disukai oleh lingkungan. Respon negatif dari lingkungan ini kemudian makin menambah stres yang diderita. Karena persepsi yang selama ini ia bayangkan, ternyata sepertinya benar. la akan mengatakan, bahwa benar bahwa ia kurang berharga di mata orang lain. Benar bahwa ia kurang berguna. Benar bahwa ia kurang disukai. Benar bahwa dia kurang beruntung. Benar bahwa ia kurang ini dan itu.

Stress yang berkepanjangan akan mengakibatkan stres kronis. Stress kronis umumnya terjadi seputar masalah kemiskinan, kekacauan keluarga, terjebak dalam perkawinan yang tidak bahagia, ketidakpuasan kerja, kegagalan yang terus menerus, ditambah dengan obsesi yang terlalu tinggi dan tidak pernah kesampaian. Dalam tahapan selanjutnya, penderita stress kronis merasa stres sudah menjadi bagian dari hidupnya. la pun menjadi hopeless dan helpless. Di situlah maka tidak heran jika ada penderita stres kronis yang akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri, meninggal karena serangan jantung, stroke, kanker atau tekanan diri.

Dalam kasus stres yang lebih parah menurut Psikiater Fuadi Jatim, penderita dapat mengalami gangguan jiwa berat atau skizoprenia sehingga harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit jiwa. Hanya saja menurut Fuadi kepada Majalah Ghoib, perawatan pasien skizoprenia biasa lebih dari sebulan.

Sehingga wajar bila biaya perawatan orang terkena gangguan jiwa relatif mahal. “Untuk kelas tiga (saja) sebulan kurang lebih menghabiskan 2 juta rupiah. Kalau kelas-nya lebih baik maka lain lagi. Sekarang banyak memilih kelas tiga, karena pasien gangguan jiwa itu perawatan sakitnya lama, dan dia bukan orang produktif,” jelas Fuadi Jatim yang ditemui Majalah Ghoib di rumahnya di kawasan Cipinang.

Antara Gangguan Jin dan Stres
Kestabilan, ketenangan jiwa, menerima keadaan (bukan pasrah dan pasif dangan keadaan) adalah kondisi yang bertolak belakang dengan stres. Kemunculan stres, intinya seperti diielaskan di atas adalah reaksi jiwa  menyikapi ketidaksinkronan antara harapan dan realitas. Sikap inilah sebenarnya yang mem buka pintu jin syetan untuk masuk dan mengganggu seseorang. Hal itu juga dijelaskan Rasulullah SAW. dalam sabdanya, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allah dari mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya ada kebaikan. Berusaha keraslah untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu. Dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu jangan berkata “jikalau”, jikalau aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu. Tapi katakanlah, ini adalah ketentuan Allah. Apa yang Dia kehendaki terjadi akan terjadi. Sesungguhnya kata-kata “jikalau” akan membuka pintu ulah syaitan.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan bagaimana hubungan antara sikap tidak menerima keadaan dengan peluang masuknya jin syaitan kepada diri seseorang. Kata-kata “seandainya”, “jikalau” dan semacamnya merupakan kalimat-kalimat yang menunjukkan ketidakpuasan dan kekecewaan mendalam terhadap realitas yang terjadi. Kondisi tidak puas seperti itu akan membawa ketidakstabilan jiwa. Dan ketika itulah, gangguan jin syetan akan lebih mudah datang kepada orang yang hidup dalam dalam kondisi labil, stres, penuh kekecewaan dan semacamnya.

Godaan dan gangguan itu bisa semakin kuat, bila keadaan labil, tidak menerima keadaan dan stres itu diiringi dengan jauhnya seseorang dari tuntunan agama. Enggan dan malas melakukan sholat serta jauh dari dzikrullah adalah situasi mental yang hampir bisa ditemui di setiap orang yang dilanda jiwa yang tidak stabil. Sebagaimana sebaliknya, kondisi tenang, yakin, optimis, ridha, puas dengan keadaan selalu muncul dari orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah, memelihara sholat dan suka berdzikir.

lni salah satu kondisi yang harus diwaspadai. Fuadi Jatim tidak menampik adanya kaitan antara Stres yang  merupakan kelemahan jiwa dengan gangguan jin. la mengatakan bisa saja, stress dan segala akibat buruknya itu disebabkan oleh gangguan jin. Bentuknya bisa kesurupan, hilang kesadaran, atau bahkan yang harus digarisbawahi adalah lemahnya keinginan untuk beribadah.

Orang umumnya jarang menyadari bahwa lemahnya keinginan beribadah merupakan gangguan jin syetan. Padahal sebenarnya, inilah ujung tombak pertama dari segala godaan jin syetan. Lalu merembet cepat pada kondisi lain yang bermacam-macam. Faktor inilah sebenarnya yang menjadi medan pertarungan antara godaan jin syetan untuk mendzalimi manusia dan kemampuan manusia sendiri secara mental untuk melawannya.

Bagaimana cara melawan gangguan seperti itu? Yang paling penting jelas setiap orang harus menanam kedisiplinan dan kebiasaan beribadah, minimal sholat wajib. Disamping itu, menjaga diri untuk tidak jatuh dalam kemaksiatan dan dosa. Karena antara kemaksiatan dan semangat beribadah mempunyai korelasi timbal balik yang sangat kuat. Dosa akan memperlemah keinginan beribadah. Dan beribadah juga sebenarnya akan memperlemah keinginan melakukan dosa. Terjadi tarik menarik disini. Mana yang menang, akan menentukan episode berikutnya.

Cara Membedakan
Stress memang tidak melulu dampak dari gangguan jin syetan. Meski proses dan bentuk kedua macam stres tersebut mirip. Ada juga stres yang memang merupakan kondisi psikologis atau gangguan kejiwaan. Cara membedakannya bisa dilakukan dengan cara ruqyah. Yakni membaca firman Allah dan do'a-do'a yang diwariskan RasuIullah untuk mengusir jin syetan dari tubuh seseorang. ltulah yang nantinya akan membedakan.

“Biasanya kalau yang terkena jin itu, maka bila di-ruqyah bisa cepat baik. Dan, biasanya perubahan itu cepat,” jelas Fuadi.
Akan tetapi ruqyah yang dimaksud harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah. Sebab ada pula yang melakukan ruqyah tetapi bercampur dengan bentuk-bentuk kemusyrikan. Selain haram, cara seperti itu bisa jadi justru tidak menyembuhkan.

Jadi, gangguan jin memang dapat berujud stres, namun sebaliknya ada pula stres yang merangsang timbulnya gangguan jin, seperti berperilaku buruk diluar kebiasaan yang ada. Untuk itulah menurut Fuadi bila yang terkena stres lantaran gangguan jin, maka sebaiknya diruqyah sebagai metode penyembuhannya, sedangkan yang terkena stres medis disarankan untuk berobat secara medis.

Kesimpulannya, stres mental maupun gangguan jin memang saling terkait. Bagaimana kita seharusnya? Jalani hidup yang sehat. Lahir maupun bathin. Peroleh ketenangan jiwa, kedamaian batin, kestabilan mental dengan banyak mendekat pada Allah sesuai syari'at yang diturunkan.

Rumah Ruqyah Indonesia
Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1/1

Comments