thumbnail

Kalung ‘Sakti’ Penebar Aroma Cinta

Posted by rumah ruqyah on 2018-09-27



 Seorang mahasiswa tingkat akhir, datang ke kantor Majalah Ghoib untuk menjalani terapi ruqyah, karena ia merasa sulit tidur. Bersamaan dengan itu, ia juga membawa beberapa buah jimat yang selama ini telah disimpannya, untuk diserahkan dan minta segera dimusnahkan. Melalui saluran telepon ia menceritakan proses mendapatkan jimat-jimat ini.

 “Awalnya saat kelas 3 SMA, saya trauma dengan sering terjadinya tawuran sesama murid SMA. Setelah seorang teman menawari saya ikut suatu perguruan, saya akhirnya tertarik untuk belajar ilmu yang dapat menjauhkan diri saya dari marabahaya. 

 Awalnya, kegiatan perguruan hanya membaca sholawat Nabi. Pada perkembangan selanjutnya, pada malam Jum’at Kliwon, kami pergi ke Bogor untuk mengaji. Aktifitas di sana tidak membaca Al-Qur’an, tapi hanya membaca dzikir dan membaca sholawat Ibnu Abbas. 

 Pengajian itu dimulai selepas Maghrib. Di tengah-tengah pengajian tersebut terdapat sebuah gentong yang berisi air dan kembang-kembang. Setelah pengajian selesai, air tersebut diperebutkan oleh anggota pengajian untuk diambil berkahnya.

 Lebih dari itu, setiap bulan, perguruan  ini mengeluarkan 13 lembar amalan untuk diamalkan secara mandiri. Yang dibaca setelah shalat wajib. Lembaran-lembara amalan tersebut hanya dihargai seribu rupiah per lembar.

  Setelah berjalan satu tahun, pengajian yang sekaligus sebuah perguruan ini, mengeluarkan jimat-jimat untuk diperjual-belikan kepada anggotanya, dengan membayar mahar. Saya pun membeli beberapa jimat untuk pegangan, termasuk jimat kalung ini.

 Pada mulanya, saya tidak merasa ganjil dengan aktivitas perguruan ini, karena semua yang dibaca adalah shalawat. Namun, ketika ada kegiatan pengajian ulang tahun perguruan ini di daerah Puncak Bogor, sebagian anggota kelompok pengajian ini tidak melaksanakan shalat Isya’.

 Katanya, shalat kita sudah ditanggung oleh guru besar perguruan ini yang tingkatannya sudah selevel Nabi. Walaupun kita juga dilarang berbuat jahat oleh perguruan ini, tapi hati saya sudah semakin tidak bisa menerimanya.

  Suatu ketika saya membaca Majalah Ghoib di sebuah toko buku. Dari situ saya semakin tahu, bahwa jimat yang selama ini saya simpang adalah barang terlaknat dan biang kemusyrikan. 

 Pada saat mengikuti pengajian dulu, saya sering bergadang. Sehingga sekarang merasa sulit tidur. Saya akhirnya memutuskan untuk diterapi ruqyah dan menyerahkan jimat tersebut”.

Bentuk Jimat

  Ada dua jimat yang diserahkan pemuda ini. Yang pertama, 4 lembar amalan yang di dalamnya terdapat tulisan Arab yang lebih banyak terdiri dari dua rangkai huruf hijaiyyah, seperti, lam dan ha, serta dho’ dan waw. 

  Pada bagian tengahnya terdapat tulisan ayat yang terpotong-potong disertai dengan rangkaian angka-angka Arab yang tidak jelas maksudnya. Sementara di bagian pinggir, terdapt 12 kotak yang secara bergantian bertuliskan angka Arab tiga digit dan satu huruf hijaiyyah. Untuk menambah keyakinan, tulisan ini sudah rapi di laminating.

 Yang kedua adalah sebuah kalung berbentuk segitiga berukuran 8x8 cm. pada ketiga sisi kalung tersebut, bertuliskan gabungan huruf lam dan ha. Pada bagian tengahnya, terdapat juga sebuah kotak kecil berukuran 4.5x3 cm. 

 Pada kotak ini, terdapat tulisan Allah dan Muhammad dalam segitiga yang lebih kecil ukurannya. Empat buah lingkaran kecil terdapat pada keempat sisi kotak ini. Tidak jelas benar, apa yang ditulis di situ. 

 Sementara tulisan Ya Allah dan Ya Muhammad mengelilingi seluruh sisi pinggir kotak ini. Yang lebih aneh lagi, pada pinggir kotak ini terdapat tulisan Allah dan Muhammad yang dipisah setiap hurufnya.

‘Kesaktian’ Jimat

  Jimat ini didapat dengan membayar mahar Rp. 113.000,-. Katanya, “Kalung ini manfaatnya untuk kebalikannya. Orang yang jahat kepada kita akan jadi baik, orang yang akan menagih hutang tidak akan jadi, orang yang membenci kita akan berbalik menyayangi kita.

 Jimat ini juga dapat menimbulkan rasa mahabbah atau cinta orang yang melihat kita. Sehingga setelah memakai jimat ini, kita akan semakin bertambah pede (percaya diri) saat mengahadapi siapa pun”.

Bongkar Jimat

  Rasa takut adalah fitnah asasi manusia. Takut terhadap marabahaya, takut akan kejahatan manusia, takut akan gangguan syetan dan makhluk jahat serta takut akan penyakit kronis yang menimpa orang-orang yang kita cintai. 

  Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kita salah dalam mencari perlindungan dalam menghadapi segala marabahaya yang akan menimpa kita itu.

  Mencari perlindungan dengan mengikuti pengajian atau perguruan yang menggunakan media jimat adalah sebuah pilihan yang fatal. Karena jimat yang telah dikeluarkan oleh perguruan tersebut sebagai alat perlindungan merupakan benda yang tidak memiliki manfaat apapun, bahkan menyesatkan. 

  Allah adalah sebaik-baik pelindung, karena Allah penguasa makhluk yang Nampak maupun yang tidak Nampak. “Hendaklah kamu berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98).

  Adapun tulisan-tulisan yang tertera pada kedua jimat tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Karena Allah tidak menjadikan benda semacam kalung baik yang bertuliskan huruf-huruf Arab atau huruf lain sebagai sarana untuk menolak marabahaya yang akan menimpa kita.

  Karena pada hakikatnya, yang telah mentaqdirkan adanya marabahaya adalah Allah. Oleh karena itu, segala perlindungan yang kita mohon harus kita tujukan kepada Allah semata. 

  Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an , “Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sedangkan orang-orang kafir pelindungnya adalah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan.” (QS. Al-Baqarah : 257).

  Huruf-huruf yang tertulis dalam jimat ini, merupakan potret kemusyrikan dan kesesatan. Huruf-huruf yang terangkai dari 2 huruf, seperti lam dan ha, tidak jelas apa manfaatnya. 

  Atau bahkan itu merupakan huruf-huruf yang biasa digunakan dukun untuk mengundang jin agar membantu orang yang mengamalkan atau menyimpan jimat tersebut. Bahkan pemenggalan tulisan Allah dan Muhammad merupakan bukti dari pelecehan terhadap kebesaran Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

  Lebih dari itu, manusia yang mengaku selevel dengan Nabi Muhammad adalah sebuah pengakuan yang mungkar. Karena pada hakikatnya tidak ada menusia yang dapat menyamai kemuliaan Nabi Muhammad. Oleh karena itu, waspadalah terhadap segala jenis praktik perguruan yang menyesatkan dan menyimpang dari aturan syariat Islam serta contoh dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam

  Semoga Allah memberikan ketenangan serta limpahan ampunan kepada pemuda ini, yang telah melepaskan segala bentuk aktivitas kemusyrikan. Dengan menyerahkan segala bentuk jimat yang selama ini dianggapnya mempunyai manfaat dan kekuatan.

Sumber : Majalah Ghoib
September 27, 2018
thumbnail

Kegagalan Makar Iblis di Suatu Muharram

Posted by rumah ruqyah on 2018-09-20



  Ketika para tokoh Quraisy berkumpul di Darun Nadwah (Gedung Parlemen mereka), Iblis menyusup dan menjelma sebagai seorang tokoh besar dengan baju kebesarannya. Saat mereka melihatnya, merekapun bertanya; Siapakah Anda? 

  la menjawab: Saya syekh (tokoh) dari kota Najed, saya mendengar kalian telah bersatu, karena itulah saya hadir ke sini agar kalian tidak kehilangan pendapat dan nasehat saya. 

 Mereka antusias menyambutnya; “Ya, silahkan masuk.” lblis pun masuk bersama mereka lalu berkata: “Perhitungkanlah keberadaan lelaki itu (Muhammad). Demi Allah, sepak terjangnya tak terbendung oleh kalian.”

  Diantara mereka ada yang berpendapat: “Penjarakan dia (Muhammad) dengan mengikatnya, sampai datang petaka yang menimpanya atau sampai mati sebagaimana para penyair seperti Zuhair dan An-Nabighah.” 

  lblis yang menjelma seorang tokoh kharismatik dari Najed berteriak; “Demi Allah, Tuhannya pasti mengeluarkannya dari penjara dan membawanya ke para shahabatnya. Mereka segera membela dan melindunginya, berarti pendapat ini sangat tidak tepat.”

  Para pemimpin Quraisy menyahut; “Benar kata syekh ini. Carilah cara lain!” Lalu ada seseorang mengusulkan; “Kita keluarkan saja dia dari negeri ini atau kita buang. Kalau kita berhasil mengusirnya dari negeri ini, jangan pedulikan kemana dia pergi, dan dimana dia singgah. Sehingga kita bebas dari masalah ini, kemudian kita bisa konsolidasi ke dalam untuk persatuan kita seperti sediakala.”

 lblis berkata; “Tidak! Demi Allah, tidaklah tepat pendapat kalian ini. Tidakkah kalian tahu ucapannya yang indah, tutur katanya yang manis, dan ia bisa menarik hati banyak orang dengan apa yang disampaikannya? 

  Demi Allah, kalau kalian lakukan ini, kalian tidak akan aman saat ia menempati suatu daerah Arab dan menguasai mereka dengan ucapan dan tutur katanya, akhirnya mereka pun mengikutinya. Kemudian ia mengajak mereka untuk menyerang kalian sampai kalian takluk, lalu merebut tampuk kepemimpinan dari tangan kalian, carilah usulan selain ini.”

 Abu Jahal bin Hisyam berpendapat: “Demi Allah saya punya pendapat yang belum pernah terbesit di benak kalian, yaitu kita memilih dari setiap kabilah seorang pemuda yang kuat, bernasab mulia, sebagai eksekutornya. 

  Masing-masing dari pemuda itu kita beri sebilah pedang sharim (pemenggal), kemudian mereka mengepung rumahnya dan membunuhnya, sehingga jika mereka berhasil membunuhnya, kita akan terbebas dari tuntutan. 

  Karena darah tebusan pasti dibebankan ke seluruh kabilah, dan Bani Abdul Manaf tidak mungkin memerangi kaumnya semua. Mereka pasti akan menerima diyat (harta tebusan) dari kita.”


  lblis yang menjelma syekh dari Najed berkata: “Pendapat laki-laki ini bagus sekali, inilah strategi yang jitu, saya kira tidak ada pendapat lain yang lebih bagus.” Mereka berpisah setelah bersepakat untuk membunuh Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam.

  Jibril alahis salam mendatangi Rasulullah dan berkata: “Janganlah kamu tidur malam ini ditempat tidurmu!” Ketika pertengahan malam tiba, mereka telah berkumpul di depan pintu rumah Rasulullah, sambil mengintip kapan beliau tidur lalu mereka akan menyergapnya. 

  Rasulullah mengetahui posisi mereka, sehingga memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di pembaringannya dengan berselimut jubah hijau dari Hadhramaut yang biasa dipakai tidur. “Sesungguhnya kamu tidak akan terkena suatu apapun yang tidak kamu senangi dari mereka,” tegas Rasulullah.

  Abu Jahal bin Hisyam pada malam itu juga berada di tengah mereka, ia berkata: “Sesungguhnya Muhammad mengaku, jika kalian mengikutinya, kalian akan menjadi penguasa Arab dan non Arab, kemudian kalian akan dibangkitkan setelah mati nanti, dan mendapatkan surga seperti taman-taman di Yordania. Kalau kalian tidak mau mengikutinya, maka ia berhak menyembelih kalian, dan kalian akan dibangkitkan setelah mati, lalu kalian mendapatkan siksa api Neraka dan dibakar didalamnya.”

  Rasulullah keluar menghampiri mereka, beliau ambil segenggam tanah dengan tangan kanannya,  kemudian berkata: “Ya, saya memang mengatakan demikian. Dan kamulah salah satu di antara mereka (yang masuk Neraka). 

  Allah menutupi penglihatan mereka, sehingga tidak bisa melihat Rasulullah. Kemudian Rasulullah menaburkan tanah itu ke atas kepala mereka seraya membaca surat Yasin ayat l-9. Kemudian beliau pergi menuju tempat yang diinginkan.

  Lalu mereka didatangi seseorang dan bertanya: “Siapa yang kalian tunggu disini?” Mereka menjawab: “Muhammad.” Ia berkata: “Allah telah membuat kalian merugi. Demi Allah, Muhammad telah keluar, dan berhasil menaburkan tanah di atas setiap kepala kalian.”

  Maka setiap orang meletakkan tangannya di atas kepala dan mendapati tanah di atasnya; Kemudian mereka mengintip ke dalam dan melihat Ali berselimutkan jubah Rasulullah. 

  Mereka berkata: “Itu Muhammad sedang tertidur dalam jubahnya.” Mereka pun terus menunggunya sampai pagi. Ali bin Abi Thalib bangun dari tempat tidurnya. Mereka baru sadar dan berkata: “Benar apa yang dikatakan orang tadi.” (Sirah lbnu Hisyam: 2/94 – 97 dan Tafsir lbnu Katsir: 2/379)

  Lihatlah gembong-gembong kafir Quraisy yang sudah kehabisan akal untuk membendung da’wah Rasululah. Berbagai macam cara telah digunakan, entah berapa intrik mereka yang telah gagal menghadang gerak laju da’wah lslam. 

  Beragam bujukan dan tipu muslihat tidak membuat Rasulullah dan para sahabatnya takut. Akhirryra mereka berkolaborasi dengan nenek moyang jin dan raja syetan, yaitu lblis si makhluk terlaknat.

  Agar suara lblis didengar, dia tampil layaknya orang besar kharismatik lengkap dengan atribut kebesarannya. Maka jangan tertipu dengan hanya melihat penampilan meyakinkan nama besar. Kalau ternyata dia adalah perpanjangan lidah Iblis.

  Kisah di bulan Muharram menjelang hijrah itu, juga menggambarkan jelas kepada kita bahwa syetan manusia yang ketika itu diwakili oleh Abu Jahal sangat cerdas. Setelah lblis menolak semua ide, dia tidak memaksakan idenya. Karena ide syetan manusia tidak kalah dengan ide-idenya.

  Tetapi, atas ijin Allah. Di hadapan peristiwa besar, hijrah, semua makar lblis dan agen-agennya gagal total. ltulah kekuaan Allah yang bisa kita raih dengan hijrah yang tulus. 

  Selain hijrah tempat, ada hijrah hati. Di mana hijrah yang benar, kembali kepada Allah, akan memberikan kekuaan yang tidak mungkin ditembus oleh kekuatan lblis sebesar apa pun. Sungguh benar apa yang difirmankan Allah: “Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.” (An-Nisa: 76).

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 13/2

September 20, 2018
thumbnail

Tangisan Syetan

Posted by rumah ruqyah on 2018-09-18



  MENANGIS dan tertawa itu hal yang biasa dalam hidup ini. Dunia tanpa tangisan terasa hambar. Dunia tanpa tawa juga terasa kaku. Tapi menjadi berbeda bagi manusia bila yang menangis dan tertawa itu adalah syetan. Musuh manusia.

  Syetan tertawa karena senang melihat orang yang menguap tanpa menutup mulutnya. Sebaliknya syetan menangis, karena melihat anak cucu Adam patuh dan taat pada perintah Allah.

  Taat untuk bersujud tatkala membaca ayat sajdah di dalam Al-Quran. Seperti surat Ar-Ra’du ayat 15, yang artinya : ”Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari” .

  Syetan menangis, karena teringat masa lalunya yang suram. Masa kelabu yang membawanya kepada kehancuran sepanjang masa, kelak di akhirat. Tatkala Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Nabi Adam.  

  Kala itu, Iblis tidak mau mematuhi perintah Allah. Hanya karena ia merasa bahan penciptaannya lebih baik dari bahan penciptaan Nabi Adam.

  Padahal, bahan penciptaan tidak layak dijadikan sebagai alasan menolak perintah Allah. Akhirnya, Iblis pun menerima akibatnya. Diceburkan ke dalam Neraka yang membara bersama pengikut-pengikutnya.

  Sekarang, saat manusia mematuhi perintah Allah untuk bersujud tatkala membaca ayat-ayat sajdah, maka syetan hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Mengapa dulu tidak mematuhi perintah Allah. 

  Tapi nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah ditetapkan dan palu sudah diketok. Pengadilan Allah telah menetapkan keputusan yang tidak bisa dirubah lagi.

  Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila anak cucu Nabi Adam membaca ayat sajdah kemudian mereka bersujud, maka syetan pun menangis. Ia (meratapi nasibnya) Aduuh..celaka.”(HR Muslim).

  Dalam riwayat lain syetan berkata, “Celakalah aku. Anak cucu Adam disuruh sujud lalu mereka bersujud maka dia masuk Surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk bersujud tapi aku tidak mau, maka bagiku Neraka. “ (HR Muslim).

  Biarkan syetan menangis. Karena tangisan syetan tanda kemenangan manusia. Buat mereka terus menangis, karena tangisan syetan isyarat ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada perintah Tuhannya.

  Rupanya untuk membuat syetan meneteskan air mata tidaklah sesulit yang dibayangkan. Sangat mudah. Tinggal membuka Al-Quran dan membaca ayat sajdah lalu bersujud.

  Syetan menangis, meski kita tidak mendengar tangisannya. Yakinlah bahwa tangisan itu memang nyata. Sebagaimana diberitakan Rasulullah.

Sumber : Majalah Ghoib, edisi 51-Okt-2005
September 18, 2018
thumbnail

Setan Menakuti Dengan Keniscayaan

Posted by rumah ruqyah on 2018-09-06



  Kematian adalah keniscayaan. Tidak mungkin ada yang luput. Semua yang dihidupkan akan dimatikan. Termasuk kita. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an. Sampai tiga kali ayat dengan redaksional yang sama menegaskan, “Setiap jiwa pasti mati.” (QS. Ali lmran: 185, al-Anbiya: 35 dan al-Ankabut: 57).

  Seperti juga kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Keniscayaan perpindahan usia adalah sesuatu yang tidak mungkin kita hentikan. Waktu terus berjalan. Dulu kita masih kanak-kanak, terus menginjak usia indah remaja, selanjutnya dewasa dan akhirnya rambut mulai memutih. 

  Urusan rambut memutih mungkin bisa diselesaikan dengan cat rambut. Tetapi usia dan tulang yang mulai rapuh adalah keniscayaan. Begitulah waktu terus berjalan. 

  Biasanya kita melaluinya tanpa kegelisahan memikirkan perpindahan usia itu sendiri. Karena kita disibukkan dengan aktivitas, harapan, cita-cita ke depan dan segala kesenangan serta pernak pernik hidup pada setiap jenjangnya. Hidup adalah keniscayaan dengan fase-fase yang harus dilalui.

  Tapi ketika bicara masalah kematian, terasa sangat menakutkan. Wajarkah? 

  Bukankah kematian adalah keniscayaan yang harus kita lalui seperti fase-fase yang telah kita lalui saat hidup?

  Dalam ayat sendiri Allah mengungkap ketakutan manusia pada kematian. Seperti yang tersirat dalam pembahasan tentang jihad yang pada tingkatan Shahabat sendiri, sebagian dari mereka masih mempunyai rasa takut itu. 

  Bahkan setelah dijanjikan kemenangan pada perang itu sekalipun. Walaupun bisa jadi karena ini adalah perang pertama bagi mereka. “Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. al-Anfal: 6).

  Ketakutan kita pada kematian disebabkan tidak ada rencana dan tujuan jelas setelah kematian. Orang yang tidak tahu Allah saat hidup, akan bingung memikirkan kematian dan apa yang akan didapatnya setelah itu. 

  Untuk itu tangisan para ulama dahulu menghadapi kematian bukan menangisi indahnya kehidupan yang akan ditinggal dan juga bukan karena takut menghadapi kematian itu sendiri.

 Tetapi mereka takut akan kehidupan setelah kematian kelak, apakah termasuk orang yang bahagia atau sengsara. Karena setelah kehidupan itu tidak ada lagi kematian. 

  Abu Bakar bin Faurak saat sakit dijenguk oleh Abu Ali ad-Daqqaq. Terlihat Abu Bakar bin Faurak menangis. Abu Ali berkata, “Allah akan menyembuhkanmu.” Abu Bakar berkata, “Apakah kamu melihat aku takut akan kematian. Sesungguhnya yang aku takuti adalah sesuatu setelah kematian itu.”

  Dalam nasehat Hasan al-Bashri menjawab pertanyaan mengapa kita takut akan kematian menyebutkan, “Karena kalian hiasi kehidupan dunia kalian dan kalian hancurkan kehidupan akhirat kalian. Bagaimana mungkin kalian mau berpindah dari kehidupan yang indah kepada kehidupan yang hancur?”

Syetan Memanfaat Momen Kematian

  Syetan benar-benar masuk ke dalam kehidupan anak cucu Adam dalam berbagai urusan hingga tujuan utama mereka tercapai. Menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Dalam hal kematian, syetan juga memanfaatkan momen penting ini. 

  Momen yang menjadi kesimpulan dari keseluruhan perjalanan hidup ini, ingin diganjal oleh syetan agar orang mengakhiri hidupnya dengan Su'ul khatimah. Sebagaimana yang disebutkan Nabi dalam haditsnya, “Sesungguhnya syetan akan mendatangi kalian saat menjelang kematiannya. Ia menyeru: Matilah sebagai Yahudi, matilah sebagai Nasrani.” (HR Nasa'i).

  Bukan hanya saat orang sakaratul maut. Saat orang masih hidup pun ditakut-takuti dengan kematian. Semua usaha ini bertujuan satu yaitu menyesatkan dan menyengsarakan manusia. Siksaan dengan bisikan kematian yang menghantui seseorang. 

  Dan lihatlah efeknya setelah itu. Gelisah, tidak bisa tidur, mimpi-mimpi buruk dan hidup menjadi tidak bergairah. Dan pasti dengan keadaan seperti ini, ibadah menjadi berantakan, tidak khusyu' atau bahkan mungkin ada yang kelewat.

  Sebenarnya, rasa takut kepada kematian adalah merupakan perasaan syetan yang diturunkan kepada manusia. Mereka takut mati, karena mereka tahu akhir kehidupan mereka adalah Neraka. 

  Jadi, di dunia inilah Surga mereka dan tentu dunia hanyalah sebentar setelah itu sengsara selamanya di dalam Neraka. lblis sendiri dalam perang Badar lari terbirit-birit masuk ke laut begitu melihat para Malaikat telah turun untuk membantu kaum Muslimin. 

  Padahal lblis sendiri telah dijamin tidak akan mati sampai hari kiamat. Maka bagaimana dengan syetan lainnya yang pasti mati seperti manusia. Pasti mereka lebih takut.

  Rasa takut inilah yang dimanfaatkan oleh syetan untuk menyesatkan kita. Kita akhirnya sibuk memikirkan sesuatu yang niscaya dan tidak mungkin dihindari. Dan lupa dari hal yang harusnya kita usahakan maksimal, yaitu ibadah kepada Allah. Minimalnya, hidup di dunia yang bisa dinimati ini menjadi tidak nyaman lagi. Seperti hidup dalam bara api.

 Rasa takut kepada kematian juga merupakan senjata syetan untuk menghilangkan semangat berkorban dan berjihad dari hati Muslimin. Orang menjadi tidak mau berkorban untuk lslam dan takut berjihad ketika takut mati telah merayapi setiap lorong hati. 

  Kalau sudah begitu, maka syetan sukses besar menghancurkan agama kita. Buat seorang Muslim, sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat jauh lebih penting. 

  Dan itu akan bisa menggeser rasa takut kepada kematian. Toh, kematian pasti akan datang baik kita ada di tempat tidur ataupun kita di tengah deru senjata berat. Kematian itu satu, hanya sebabnya yang berbeda-beda, kata seorang penyair.

 Di saat kita sedang sibuk menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat, kemudian syetan datang menggoda, segera usirlah dia. Jangan dituruti bisikannya.

Rumah Ruqyah Indonesia
September 06, 2018
thumbnail

Stress: Gangguan Jiwa atau Gangguan Jin?

Posted by rumah ruqyah on 2018-09-04


Beny (bukan nama sebenarnya) bukan pengangguran. Pegawai negeri sipil di kota Sleman itu juga sebenarnya mempunyai penghasilan rutin untuk membiayai seorang istri dan dua orang anaknya. Tapi kondisi persaingan sosial, pergaulan, obsesi, membuatnya tak pernah merasa puas. Ditambah teman-temannya yang menggiringnya pada pencarian uang secara tidak halal. Dengan harapan memperoleh tambahan penghasilan, Benny keranjingan judi.

  Tapi dasar judi, selain jelas-jelas haram, juga tak pernah membuat orang semakin baik. Menang makin menambah rakus, kalah makin membuat penasaran. Jadi bukannya malah sejahtera, kehidupan Beny, makin tidak karuan. 

  Utang membengkak, rumah tangga kacau. Ia juga menuai kebencian dan jadi omongan oleh tetangga bahkan mertua. Beny benar-benar terisolir dari lingkungan rumahnya. Beny stres.

  Semua keadaan buruk yang dialami Beny dijawab dengan dalih yang dibuatnya sendiri. “Dasar mereka orang yang tak tahu kesulitan saya. Bisanya hanya marah, benci saja..,” seperti itu dalih yang dipakai Beny. la pun otomatis makin jauh saja dengan rutinitas ibadah wajib.

   Sholat lima waktu ditinggal, bahkan absen dalam  sholat Jum'at. Sudah tidak sholat, kegiatannya pun makin banyak tenggelam dalam dosa. Minuman keras dan wanita, menambahnya makin tak mampu beranjak dari meja judi.

Apa dan Kenapa Stres?

 Kisah nyata seperti yang ditemui Majalah Ghoib beberapa waktu lalu tersebut, bisa jadi tidak hanya menimpa Beny. Sangat mungkin ada Beny-Beny lain yang terguncang dan terjerembab dalam kubangan dosa. Kisah Beny menunjukkan bahwa stres bisa membuat orang malas beribadah, berburuk sangka, dan tenggelam dalam berbagai perbuatan dosa.

  Ada seribu satu keadaan yang bisa membuat seseorang stres. Hidup selalu diliputi ragam masalah. Tatkala seseorang tak siap menerima realitas atau ketika realitas itu tidak bisa diterima oleh seseorang, di sanalah terjadinya potensi stres. 

  Merasa gagal, tertimpa bencana, terlilit kesulitan ekonomi, persaingan sosial, sakit, putus hubungan dengan seseorang, harapan dan obsesi yang tinggi yang tidak kesampaian dan lain sebagainya. Para psikolog bahkan melihat penyebab stres bisa saja oleh suara keras, suhu udara yang kurang nyaman, hutang, bunyi bel telepon dan sebagainya.
  Apa sebenarnya yang disebut stres? Menurut pengamat kejiwaan Amerika Tim Rogers, definisi sederhana stres adalah perasaan tidak dapat mengatasi permasalahan yang muncul. 

  Dengan demikian orang yang stres adalah gambaran manusia yang tidak mampu keluar dari krisis diri, sehingga jiwanya menjadi labil. Dalam keadaan labil inilah manusia dapat melakukan tindakan yang di luar perilaku wajar; seperti cerita di atas.

  Gejala stres bisa diraba melalui perubahan secara psikologis, fisik maupun perilaku (lihat tabel 1). Orang stress cenderung lebih sensitif ketimbang orang lainya. Karena itu, sering terjadi salah persepsi dalam membaca dan mengartikan suatu keadaan, penilaian atau kritik, nasihat bahkan perilaku orang lain. 

  Orang stres juga cenderung mengaitkan segala sesuatu pada dirinya. Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi kehilangan percaya diri dan harga diri.

  Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah tersinggung, gampang marah dan sebagainya.

  Kalau sudah memiliki sikap seperti ini, tidak heran jika orang stres tidak disukai oleh lingkungan. Respon negatif dari lingkungan ini kemudian makin menambah stres yang diderita. 

  Karena persepsi yang selama ini ia bayangkan, ternyata sepertinya benar. la akan mengatakan, bahwa benar bahwa ia kurang berharga di mata orang lain. Benar bahwa ia kurang berguna. Benar bahwa ia kurang disukai. Benar bahwa dia kurang beruntung. Benar bahwa ia kurang ini dan itu.

  Stress yang berkepanjangan akan mengakibatkan stres kronis. Stress kronis umumnya terjadi seputar masalah kemiskinan, kekacauan keluarga, terjebak dalam perkawinan yang tidak bahagia, ketidakpuasan kerja, kegagalan yang terus menerus, ditambah dengan obsesi yang terlalu tinggi dan tidak pernah kesampaian. 

  Dalam tahapan selanjutnya, penderita stress kronis merasa stres sudah menjadi bagian dari hidupnya. la pun menjadi hopeless dan helpless. Di situlah maka tidak heran jika ada penderita stres kronis yang akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri, meninggal karena serangan jantung, stroke, kanker atau tekanan diri.

  Dalam kasus stres yang lebih parah menurut Psikiater Fuadi Jatim, penderita dapat mengalami gangguan jiwa berat atau skizoprenia sehingga harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit jiwa. Hanya saja menurut Fuadi kepada Majalah Ghoib, perawatan pasien skizoprenia biasa lebih dari sebulan.

  Sehingga wajar bila biaya perawatan orang terkena gangguan jiwa relatif mahal. “Untuk kelas tiga (saja) sebulan kurang lebih menghabiskan 2 juta rupiah. Kalau kelas-nya lebih baik maka lain lagi. Sekarang banyak memilih kelas tiga, karena pasien gangguan jiwa itu perawatan sakitnya lama, dan dia bukan orang produktif,” jelas Fuadi Jatim yang ditemui Majalah Ghoib di rumahnya di kawasan Cipinang.

Antara Gangguan Jin dan Stres

  Kestabilan, ketenangan jiwa, menerima keadaan (bukan pasrah dan pasif dangan keadaan) adalah kondisi yang bertolak belakang dengan stres. Kemunculan stres, intinya seperti diielaskan di atas adalah reaksi jiwa  menyikapi ketidaksinkronan antara harapan dan realitas. 

  Sikap inilah sebenarnya yang membuka pintu jin syetan untuk masuk dan mengganggu seseorang. Hal itu juga dijelaskan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam dalam Sabdanya, “Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allah dari Mukmin yang lemah. 

  Dan pada masing-masing keduanya ada kebaikan. Berusaha keraslah untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dirimu. Dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. 

  Jika engkau tertimpa sesuatu jangan berkata “jikalau”, jikalau aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu. Tapi katakanlah, ini adalah ketentuan Allah. Apa yang Dia kehendaki terjadi akan terjadi. Sesungguhnya kata-kata “jikalau” akan membuka pintu ulah syaitan. (HR. Muslim)

  Hadits ini menjelaskan bagaimana hubungan antara sikap tidak menerima keadaan dengan peluang masuknya jin syaitan kepada diri seseorang. Kata-kata “seandainya”, “jikalau” dan semacamnya merupakan kalimat-kalimat yang menunjukkan ketidakpuasan dan kekecewaan mendalam terhadap realitas yang terjadi. 

  Kondisi tidak puas seperti itu akan membawa ketidakstabilan jiwa. Dan ketika itulah, gangguan jin syetan akan lebih mudah datang kepada orang yang hidup dalam dalam kondisi labil, stres, penuh kekecewaan dan semacamnya.

  Godaan dan gangguan itu bisa semakin kuat, bila keadaan labil, tidak menerima keadaan dan stres itu diiringi dengan jauhnya seseorang dari tuntunan agama. Enggan dan malas melakukan sholat serta jauh dari dzikrullah adalah situasi mental yang hampir bisa ditemui di setiap orang yang dilanda jiwa yang tidak stabil. 

  Sebagaimana sebaliknya, kondisi tenang, yakin, optimis, ridha, puas dengan keadaan selalu muncul dari orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah, memelihara sholat dan suka berdzikir.

  lni salah satu kondisi yang harus diwaspadai. Fuadi Jatim tidak menampik adanya kaitan antara Stres yang  merupakan kelemahan jiwa dengan gangguan jin. 

  la mengatakan bisa saja, stress dan segala akibat buruknya itu disebabkan oleh gangguan jin. Bentuknya bisa kesurupan, hilang kesadaran, atau bahkan yang harus digarisbawahi adalah lemahnya keinginan untuk beribadah.

  Orang umumnya jarang menyadari bahwa lemahnya keinginan beribadah merupakan gangguan jin syetan. Padahal sebenarnya, inilah ujung tombak pertama dari segala godaan jin syetan. Lalu merembet cepat pada kondisi lain yang bermacam-macam. 

  Faktor inilah sebenarnya yang menjadi medan pertarungan antara godaan jin syetan untuk mendzalimi manusia dan kemampuan manusia sendiri secara mental untuk melawannya.

  Bagaimana cara melawan gangguan seperti itu? 

  Yang paling penting jelas setiap orang harus menanam kedisiplinan dan kebiasaan beribadah, minimal sholat wajib. Disamping itu, menjaga diri untuk tidak jatuh dalam kemaksiatan dan dosa. 

  Karena antara kemaksiatan dan semangat beribadah mempunyai korelasi timbal balik yang sangat kuat. Dosa akan memperlemah keinginan beribadah. Dan beribadah juga sebenarnya akan memperlemah keinginan melakukan dosa. Terjadi tarik menarik disini. Mana yang menang, akan menentukan episode berikutnya.

Cara Membedakan

  Stress memang tidak melulu dampak dari gangguan jin syetan. Meski proses dan bentuk kedua macam stres tersebut mirip. Ada juga stres yang memang merupakan kondisi psikologis atau gangguan kejiwaan. 

  Cara membedakannya bisa dilakukan dengan cara ruqyah. Yakni membaca firman Allah dan do'a-do'a yang diwariskan Rasulullah untuk mengusir jin syetan dari tubuh seseorang. ltulah yang nantinya akan membedakan.

  “Biasanya kalau yang terkena jin itu, maka bila di-ruqyah bisa cepat baik. Dan, biasanya perubahan itu cepat,” jelas Fuadi.

  Akan tetapi ruqyah yang dimaksud harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah. Sebab ada pula yang melakukan ruqyah tetapi bercampur dengan bentuk-bentuk kemusyrikan. Selain haram, cara seperti itu bisa jadi justru tidak menyembuhkan.

  Jadi, gangguan jin memang dapat berujud stres, namun sebaliknya ada pula stres yang merangsang timbulnya gangguan jin, seperti berperilaku buruk diluar kebiasaan yang ada. 

  Untuk itulah menurut Fuadi bila yang terkena stres lantaran gangguan jin, maka sebaiknya diruqyah sebagai metode penyembuhannya, sedangkan yang terkena stres medis disarankan untuk berobat secara medis.

  Kesimpulannya, stres mental maupun gangguan jin memang saling terkait. Bagaimana kita seharusnya? Jalani hidup yang sehat. Lahir maupun batin. Peroleh ketenangan jiwa, kedamaian batin, kestabilan mental dengan banyak mendekat pada Allah sesuai syari'at yang diturunkan.

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1/2002 M

Selanjutnya, Silahkan baca Artikel Gangguan Jin Bukan Hanya Kesurupan
September 04, 2018