Shalat yang Berdimensi Sosial


“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu AI Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlaih sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs. 29: 45)

Ayat ini mengandung makna sosial yang cukup dalam, bagaimana ibadah sholat yang merupakan ibadah "tertua" dan berumur panjang yang diperintahkan Allah SWT. Melaiui proses perjalanan panjang Rasulullah SAW pada peristiwa isra' dan mi'raj mampu dijadikan solusi (penolong) dari berbagai problematika sosial yanrg semakin banyak mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sekadar untuk memenuhi aspek fiqih teoritis semata, "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (Qs. 2: 153).

Secara vertikal, sholat memang diperintahkan oleh Allah SWT di antaranya untuk membangun komunikasi yang efektif dengan sang Kholiq. Komunikasi ini penting dibangun agar pertolongan dan perunjuk Allah senantiasa menyertai kehidupanya. "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak acla Tuhan (yane hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku"  (Qs. 20:14). Perintah mengingat “Aku” dalam ayat ini merupakan prinsip agar perilaku dalam sholat juga bisa tampil di luar sholat; perilku jujur, amanah, tawadhu’, toleran, disiplin, komitmen serta perilaku akhlak yang terpuji lainnya turut hadir tercermin dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim, apapun jabatan dan posisinya di tengah masyarakat.

Namun secara horisontal, melalui ayat ini dengan tegas Allah SWT menunjukkan karakteristik sholat yang berkualitas, yaitu sholat yang mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar” (Qs. 29:45). Sehingga merupakan suatu yang ironis, sekian lama umat Islam mendirikan sholat, sekian banyak juga kemaksiatan dan kemunkaran terjadi di tengah-tengah mereka.

Ibnu Asyur mengajukan jawaban ironisasi kenyataan ini bahwa sholat hanya mampu mencegah dan mengingatkan pelakunya agar menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar, bukan menghalangi atau memalingkannya dari perilaku tersebut. 

Akumulasi dari seluruh gerakan, bacaan dan perbuatan dalam sholat yang dibingkai dalam nuansa ketundukan yang totalitas kepada Allah itulah yang akan menjadi pengingat yang efektif bagi seseorang dari terjerumus dalam lubang kemaksiatan. Apalagi perintah sholat terus dilakukan berulang-ulang, memenuhi waktu siang dan malam, sepanjang kehidupan manusia tanpa kecuali selama hayat dikandung badan. Seorang yang sholat juga berarti ia menjadi hamba Allah yang siap menjalankan seluruh aturan-Nya. Sedangkan orang yang tidak sholat berarti ia masuk perangkap syaitan. Sehingga mustahil orang yang sholat menanggalkan status penghambaannya kepada Allah dengan menjadi pengikut dan taat dengan bujuk rayu syaitan. Demikian lmam Ar-Razi mengemukakan pandangannya terhadap ayat ini.

Berdasarkarr redaksinya, perintah sholat selalu menggunakan ungkapan “Dirikan atau tegakkan (Aqiimuu)", sehingga menurut Sayyid Quthb maknanya jeias "Hanya sholat yang ditegakkan dengan benar yang akan mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, karena sholat itu merupakan hubungan dengan Allah yang di dalamnya orang akan malu jika ia membawa dosa-dosa besar dan perbuatan keji ketika ia berhadapan dengan Allah SWT. Padahal, sholat itu merupakan ritual untuk membersihkan diri dan mensucikannya sehingga tidak sesuai dan bertentangan dengan kotoran perilaku keji dan kemungkaran.

Sholat yang benar juga seperti yang dirumuskan oleh Ibnu Katsir harus menghasilkan dua hal; "Meninggalkan perbuatan keji dan mungkar, serta membangun komunikasi 'dzikir' yang berkesinambungan dengan Allah seperti yang tertuang dalam pefnyataan ayat secara berurutan". Abul Aliyah mengemukakan bahwa dalam sholat yang benar terangkum tiga karaker; keikhlasan yang menyuruh berbuat yang ma'ruf, kekhusyu'an dan ketundukkan yang menuntut untuk menghindari perbuatan yang mungkar, serta dzikrullah yang mengharuskan mengikuti aturan-Nya dalam perintah dan larangan.

Demikian makna sosial yang diisyaratkan dari ayat di atas yang secara korelatif memiliki hubungan dengan surah Hud ayat 87, "Mereka (kaum Syu'aib) berkata, 'Apakah sholatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami dan apa yang kami perbuat dengan harta kami sesuka hati kami?". Ternyata sholat yang selalu mewarnai kehidupan nabi Syu'aib itulah yang menjadi motivasi beliau untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar di tengah-tengah kaumnya.

Sungguh satu penegasan sekaligus peringatan Allah SWT, bagaimana seluruh ibadah mahdah (ritual) yang diperintahkan-Nya turut member warna dan nilai yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. Sa'id Hawwa menyimpulkan bahwa semua ibadah mahdah yang diperintahkan seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya merupakan obat penyembuh dan suplemen makanan yang layak dljadikan bekal yang mendasar bagi seorang mukmin. Bekal ini harus menjadi prinsip dalam kehidupannya agar bisa hidup sesuai dengan aturan Allah SWT, karena hanya dengan aturan Allah kehidupan ini akan terasa nyaman, indah, damai dan membawa kebahagiaan bagi semua pihak. Rasulullah SAW. melabeli seseorang yang tidak mampu menjaga perilaku sosialnya sebagai seorang yang muflis (pailit) yang akan dijerumuskan ke dalam neraka, meskipun ia sholat, puasa, dan berzakat. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).  

Dalam hadits yang lain, yang banyak disebut oleh para mufassir bersamaan dengan ayat di atas, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa yang sholatnya tidak mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka tidaklah sholatnya itu menambah apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah SWT.” (HR. Thobroni dari lbnu Abbbas). Sudah saatnya di usia sholat kita yang sudah berlangsung berpuluh tahun lamanya, kita beranjak dari dimensi ritual teoritis menuju dimensi sosial aplikatif yang memberi kebaikan bagi semua. Saatnya menjadikan sholat sebagai solusi efektif dalam menghadapi berbagai problematika sosial. 

Saatnya menjadikan sholat sebagai upaya menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar sehingga terbangun keseimbangan antara mutu internal sholat dengan dampak eskternalnya. Inilah makna sosial dari ayat "..Dan dirikanlah sholat. Sesung-guhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar"..

* Disarikan dari berbagai sumber

Comments