Praktik Perdukunan, dari Mistik sampai Intrik [Bag.1]

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-10

Dukun atau yang sering juga disebut dengan ‘orang pinter’, adalah suatu profesi yang tidak asing kedengarannya di telinga kita, atau di telinga masyarakat lndonesia pada umumnya. 

Walaupun nama atau istilahnya berbeda antar satu daerah dengan yang lainnya. Dukun adalah profesi yang sangat popular dan memasyarakat, keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat kita selama ini sangat kuat.

  Bagi orang yang belum pernah berinteraksi dengan dukun secara langsung, atau minta bantuannya dan memanfaatkan jasanya, tentu pernah mendengar profesi perdukunan ini dari radio atau dari mulut ke mulut. 

  Membaca iklan dan praktiknya di majalah, tabloid, koran atau buku-buku. Atau pernah melihat sosok di antara dukun yang bertebaran dalam tayangan layar kaca atau televisi. 

   Mereka memang akrab dengan rakyat, dan juga sebagian besar pejabat. Bagi orang yang pernah berurusan dengan dukun, sudah pasti akan tahu lebih banyak, tidak hanya namanya atau tempat praktiknya, mereka juga paham spesialisasi dan keahlian yang dimiliki dukun kesayangannya.

  Selama ini memang ada kelompok masyarakat yang merasa sangat terbantu atau diuntungkan dengan adanya praktik perdukunan. Ada yang merasa sakitnya telah tersembuhkan setelah berobat ke si dukun. 

  Ada yang merasa masalahnya telah terselesaikan (bablas) setelah konsultasi dengan dukun. Dan ada juga yang merasa usahanya telah berhasil, cita dan cintanya telah tercapai, dendamnya terhadap seseorang telah terbalaskan, sakit hatinya terobati, setelah mereka keluar dari ruang praktik si dukun.

   Tapi banyak juga yang kecewa. Karena sakit yang diderita tak kunjung sembuh, bisnis yang dirintis tak kunjung laris, problematika yang mengusutkan pikiran tak juga terselesaikan, cita dan cinta tak juga kesampaian, dendam kesumat dan sakit hati tak juga terbalaskan, dan lain-lainnya.

  Bahkan malah sebaliknya. Sakit yang diderita semakin parah, bisnisnya makin terpuruk atau bangkrut, problematikanya makin ruwet. Padahal mereka telah membayar dukun dengan harga mahal, jutaan bahkan milyaran rupiah telah amblas. 

  Berbagai macam tumbal dan sesajen sudah dipersembahkan, beragam syarat yang diminta telah dipenuhi. Ada korban perdukunan yang dikuras hartanya, direnggut kegadisan dan kehormatannya, diteror, diancam atau dibunuh. Materi dihabiskan, akidah dan tauhid digadaikan. Sungguh menyakitkan dan menyedihkan.

  Walaupun begitu, mereka tidak kapok juga. Kalau pun ada yang sadar lalu bertaubat, itu hanya sedikit dari sekian banyak prosen korban yang berjatuhan. Naifnya, orang lain yang tidak pernah jadi korban dukun, atau belum menjadi korbannya, tidak juga mengambil pelajaran dari tindakan kriminal dan penipuan yang berkedok perdukunan dan telah banyak diungkap di media massa. 

  Kalau mereka punya masalah yang ruwet dan menurutnya tidak bisa diselesaikan dengan akal sehat, dukunlah yang menjadi alternatif pilihannya.

Praktik Perdukunan yang Berbau Mistik

  Selama ini praktik perdukunan selalu diidentikkan dengan mistik dan klenik, ruangan yang diselimuti bau kemenyan, dihiasi berupa-rupa kembang dan sesajen, dilumuri darah tumbal dan sesembahan, dilengkapi berbagai macam jimat dan benda pusaka, dinaungi kekuatan jin dan syetan, diterangi dengan cahaya temaram atau cenderung pada kegelapan, suasana yang mencekam dan mengerikan.

  Yang pernah dilakukan Gus Wachid misalnya. Banyak ilmu ‘karomah’ dan tenaga dalam yang ia pelajari agar bisa menjadi ‘orang hebat’. Wirid, lelaku, tirakat, melakukan ‘amalan’ dari guru-gurunya. Sampai akhirnya ada jin yang ikut dengannya. 

  Banyak keanehan yang dimilikinya dan sarat mistik. Walaupun tidak sengaja ia membuka praktik perdukunan, tapi pasiennya cukup banyak jumlahnya. Bahkan di antara mereka ada yang berasal dari kalangan terpelajar, orang akademik yang kualitas IQ-nya tidak jongkok. Dia sendiri termasuk orang terpelajar, punya gelar akademik yang diperoleh dari sebuah perguruan agama yang cukup terkenal di kota kelahirannya. Dan ia pun berhasil memperdayanya.

  Begitu juga masa lalu KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Awalnya ia tidak tahu bahwa jimat dan rajah apapun bentuknya, lslam melarang keras penyebarannya. Apalagi kalau diperjual belikan, hasil jual beli itu tentunya haram

  Sebagaimana uang hasil perdukunan, adalah uang panas dan haram digunakan. Rasulullah bersabda, “Abu Mas’ud al-Anshari berkata, “Rasulullah melarang hasil penjualan anjing, dan tips pelacur serta hasil praktik perdukunan.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hadits hasan shahih). 

  Obsesinya untuk membangun pondok pesantren dari hasil praktik perdukunan kandas di jalan. Bahkan jin telah mempermainkan dan mengelabuinya. Hingga akhirnya ia mendapatkan hidayah, menyadari kesalahannya lalu bertaubat kepada Allah. 

  Sungguh merupakan pilihan yang patut kita contoh. Dia berhenti dari praktik perdukunan bukan karena tidak laku lagi. Tapi atas dasar ilmu dan pemahaman, sehingga siap menanggung segala resiko.

  Yang lebih mistik adalah cerita Mas Tito. Benar-benar sarat mistik. Jin mengelabuinya dengan berubah wujud menjadi kakeknya, lalu mengajarinya berbagai macam ilmu kesaktian. Jin juga memperdayanya dengan berubah menjadi benda pusaka. 

  Mantra yang diwirid bisa membuatnya berubah laksana Cicak, merayap di tembok tanpa peralatan pendakian. Orang-orang di sekitarnya terkagum-kagum saat melihat kemampuannya. Dukun-dukun lain pun tunduk dan patuh kepadanya, karena merasa kalah ilmu. 

  Jin yang membantu Mas Tito lebih kuat daripada jin yang mereka miliki. Namun di tengah popularitasnya yang melambung, kekuatan ilmu mistiknya yang dianggap tanpa tanding. Ternyata ia sendiri tidak bisa memenuhi keinginan-nya. 

  Daftar sebagai angkatan atau prajurit negara selalu gagal. Ya, memang jin tidak mempunyai kekuatan yang mutlak. Mereka ada dalam kekuasaan Allah maka seharusnya kita tidak menyekutukan Allah apalagi dengan jin.

  Sebenarnya kasus yang hampir sama dengan Tito adalah kasus Mona. Keduanya ada unsur titisan. Syetan yang telah menjerumuskan kakeknya tidak puas, anak cucunya pun jadi obyek sasarannya. Berbagai macam ritual harus ia jalani untuk memenuhi hasrat si kakek, menjadi dukun hebat. 

  Kalau Tito merasa ada tombak yang menembus dadanya, sedangkan Mona merasa keris yang baru diterima dari seseorang menembus dadanya. Mungkin yang masuk itu adalah jin. Dengan bantuan jin itu, akhirnya Mona bisa melakukan pengobatan dan perdukunan. Bahkan ia terkenal sebagai dukun spesialis pelet, perjudian dan penglaris.

  Pengembaraan mistik yang ia jalani ke pantai selatan. Kejadian aneh dan spektakuler yang dialaminya, baru ia sadari bahwa itu adalah tipuan syetan setelah dia berinteraksi dengan Majalah Ghoib dan membaca isinya. Ulah jin dalam dirinya semakin jelas, setelah ia menjalani ruqyah syar’iyyah. 

  Kejadian ini membuktikan, bahwa klenik dan mistik memang tidak bisa dikikis dengan kecanggihan technologi, atau pudar seiring dengan kemajuan zaman. Hanya dengan kembali mempelajari syari'at yang telah dikumpul dalam al-Qur’an dan al-Hadits, kita bisa selamat dari tipudaya syetan. Membekali diri dengan tauhid yang lurus adalah senjata yang ampuh.

  Praktik perdukunan yang bau mistik dan klenik sudah ada sejak zaman dahulu. Mereka berkolaborasi dengan jin jahat, menjadi antek syetan dalam menyesatkan hamba-hamba Allah. Sekilas kerjasama seperti itu sama-sama menguntungkan. 

  Syetan diuntungkan dengan ketaatan dukun dalam menyebar kesyirikan dan menjerumuskan manusia beriman. Sedangkan dukun mendapat keuntungan duniawi. Paling tidak mereka mendapat popularitas, kebanggaan, ketenaran sebagai manusia ‘sakti’, dihormati dan dijunjung tinggi oleh para pasiennya.


  Kerjasama dukun dengan jin telah diungkap oleh Rasulullah melalui haditsnya, “Aisyah berkata, “Rasulullah pernah ditanya sekelompok orang tentang para dukun. Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu tidak ada apa-apanya’. Orang-orang tersebut berkata,’Terkadang mereka berkata tentang sesuatu (meramal), dan yang diomongkan itu ternyata benar’. Rasulullah menjawab, ‘Omongan yang benar itu dari Allah, dicuri oleh jin lalu dibisikkannya ke telinga walinya (dukun) dan dicampuraduk dengan seratus kebohongan’.” (HR. Bukhari). [Bersambung]


Artikel Selanjutnya...

Previous
« Prev Post

Related Posts

July 10, 2018

0 comments:

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran