thumbnail

Gangguan Jin Bukan Hanya Kesurupan

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-24


Jin ada yang Muslim dan ada yang Kafir. Jin yang kafir dan tidak mengikuti petunjuk Allah disebut Syaitan. Sedangkan kepala syaitan adalah Iblis (lihat surat Al-Kahfi: 50). Jin kafir yang juga disebut syetan berusaha memalingkan manusia dari jalan Allah. Salah satu bentuk gangguan jin syetan adalah kesurupan.


Jin syetan masuk ke dalam fisik orang yang dirasukinya, lantas mencoba menguasainya. Jin syetan bisa menyerang keseimbangan saraf otak, dan mempengaruhi seluruh informasi saraf badan. 

Maka, ketika manusia kerasukan jin, ia bisa kehilangan kemampuan kontrol akalnya. Orang yang sedang dimasuki jin tidak bisa mengendalikan gerak langkah, olah pikir serta bicaranya dengan benar. 

Termasuk dalam pengertian ini adalah jin syetan yang digunakan para tukang sihir untuk merasuki orang-orang yang menjadi korbannya. Kondisi ini dalam istilah Al-Qur'an disebut al-massu minasyaithan, atau kerasukan syetan.


Namun, gangguan jin tidak hanya berbentuk seperti itu. Jin syetan juga akan mengganggu manusia dalam bentuk menjerumuskan mereka ke dalam kubangan dosa dan maksiat. Cara menggodanya bermacam-macam, antara lain bisa dideteksi melalui kondisi berikut:

1. Banyak Melamun dan Berangan-angan Kosong


Terlalu berlebihan memiliki angan-angan, banyak melamun, mengkhayal, Panjang angan-angan merupakan bentuk gangguan jin syetan. Lihatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala

“Maka syetan mengatakan, ‘Dan aku benar-benar akan menyesatkan dan melalaikan mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. Dan akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotong. Dan aku menyuruh mereka merubah ciptaan Allah, dan mereka benar-benar melakukannya.” (QS. An-Nisa: 119)

Apakah berarti kita tak boleh punya cita-cita, keinginan, target hidup? 

Tidak juga. 

Itu semua sangat manusiawi dan boleh-boleh saja. Tapi ingat, jangan sampai terjebak pada apa yang dinamakan angan-angan kosong atau berkhayal. Cara membedakan antara cita-cita dan angan-angan gampang.


Pertama cita-cita harus diiringi dengan usaha dan kerja keras untuk mencapainya. Sementara angan-angan hanya ada dalam pikiran tanpa usaha yang memadai untuk memperolehnya.

Kedua, cita-cita disusun dengan target dan tahapan yang jelas dan masuk akal. Sementara angan-angan cenderung berlebihan dan tidak masuk akal.


lngin memperoleh harta berlimpah, sementara kemampuan dari berbagai sisi jauh panggang dari api. lngin jadi orang kaya dalam waktu cepat. Tergoda dan terpana oleh kecantikan atau kebagusan seseorang sehingga tergila-gila. Lalu berangan-angan, berkhayal seandainya ini dan seandainya itu.


Hawa nafsu yang tak terkendali seperti itu akhirnya sering menjerumuskan manusia dalam lubang dosa dan kemusyrikan. Lantas? 

Hawa nafsu itu membuatnya lupa dan terlena dengan kesenangan semu yang telah diberikan jin dan syetan kepadanya.


Padahal, yang harus diingat dan digarisbawahi, setiap orang harus siap mental bila cita-citanya tidak kesampaian. Cita-cita bisa gagal, itu biasa. Keinginan tidak tercapai, biasa juga. 

Target hidup tidak kesampaian, biasa iuga. Apa perlunya harus pusing apalagi mengkhayal, melamun nggak karuan lalu stres? 

Ambillah sisi positif semua keadaan. Berusaha untuk lebih baik dan serahkan segala sesuatunya pada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui baik dan buruk untuk hamba-Nya.

2. Lalai dan malas beribadah

lni bisa jadi merupakan tahapan kedua, yang melanjutkan kondisi orang yang kerap berangan-angan. Orang yang berangan-angan kosong akan cenderung lalai dalam mengingat Allah atau melakukan hal-hal yang dilarang Allah sama saja dengan menyodorkan diri untuk dikuasai jin dari jenis setan.


Dengarlah nasehat ulama dulu yang sangat terkenal lbnu Qoyyim, “Hendaklah manusia gemar berdzikir. Sebab ia tidak akan bisa menjaga dirinya dari musuhnya (syetan) kecuali dengan dzikir. 

Sementara musuhnya tidak akan masuk kepadanya kecuali kalau ia lengah. Musuh itu selalu mengintainya. Bila hamba lengah, maka ia melompat dan memangsanya. Tapi kalau ia berdzikir, musuh akan sembunyi, merasa kecil dan terhina seperti burung atau lalat.” (Al-WabiI ash-Shayyib)


Orang yang lalai dan malas beribadah hatinya akan gelap, dan penuh keraguan. Enggan untuk membaca Al-Qur'an, sulit bangun malam, meninggalkan sholat jama’ah dan bahkan sholat wajib pun ditinggalkan.


Bahkan, orang yang baik pun dimusuhi terus oleh syetan. Seperti seorang sahabat Rasulullah, Utsman bin Abil Ash Radhiyallahu'anhu. la mengisahkan, “Ketika Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menugaskan aku ke Thaif, aku mengalami gangguan sesuatu dalam shalatku. Sehingga aku tidak tahu shalat apa yang aku lakukan. 

Lalu aku pergi ke Rasulullah. Beliau bersabda, ‘ltu adalah syetan (yang telah menguasai dirimu). Mendekatlah.’ Kemudian aku mendekat dan duduk di atas kedua kakiku. Kemudian Rasulullah memukul dadaku dengan tangannya dan meludah di mulutku seraya bersabda, ‘Keluarlah wahai musuh Allah.” (HR. lbnu Majah)


Hal yang sama juga terjadi pada Utsman bin Affan. Sahabat Rasulullah yang sangat terkenal itu pun tak luput dimusuhi syetan. Utsman pernah datang kepada Rasulullah dan mengadu tentang adanya sesuatu yang  menghalanginya sholat. 

Rasulullah bersabda, “ltu adalah syetan yang bernama Khanzab, jika engkau merasakannya maka mintalah perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (a'udzubillahi minasy syaithonirrajim) dan meniuplah ke arah kirimu tiga kali.” Utsman pun mengamalkannya dan Allah pun menghilangkan gangguan itu darinya." (HR. Muslim)


Karena itulah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam selalu memerintahkan kita untuk selalu berdzikir kapan pun dimanapun dan dalam kondisi apapun. Dari Zaid bin Arqom, Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Sesungguhnya semak-semak (yang dijadikan buang hajat) ada penghuninya. Jadi kalau salah seorang diantara kalian ke tempat buah hajat, maka bacalah, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan syetan laki dan syetan betina.” (HR. Bukhari Muslim)

3. Sering buruk sangka dan was-was


Buruk sangka (su'udzon) dan was-was (alwaswasah), merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa. Penyakit buruk sangka dan was-was ini seringkali dilatarbelakangi oleh adanya kesusahan, kesedihan, kegundahan dan kehimpitan jiwa yang mendalam pada seseorang. 

Akibatnya, ia selalu mencurigai segala sesuatu yang berada didekatnya. Selalu berpikir negatif, bersikap apatis, berjiwa labil, dan selalu meragukan seluruh apa yang dilihat dan didengarnya. 

Perasaan was-was inilah yang menjadikan seseorang merasa ketakutan atau marah yang luar biasa. Sehingga ia sering melamun, stres dan bahkan melantur.


Namun, ada juga rasa was-was yang memang ditimbulkan oleh godaan jin. la timbul karena bisikan syetan yang tersembunyi. Itulah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang tersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.” (QS. an-Naas: 1-6).

Sebab itulah, Rasulullah apabila memulai sholat selalu berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syetan (jin) yang terkutuk, dari hamazihi (penyakit gila yang ditimbulkannya), dari nafakhihi (tiupan) dan dari nafatsihi (syairnya).” 

Dalam lafadz yang lain Nabi menjelaskan, Hamazihi adalah kesurupan, nafatsihi ialah syair dan nafakhihi ialah kesombongan. (HR. AI-Hakim, Nasai, Abu Daud dan Turmudzi)


Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman, “Sesungguhnya orang-orang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was syaitan mereka mengingat Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. AI-A’raf: 201)

4. Menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala


Sudah kerap mengkhayal, lalai ibadah, pikiran kotor (negative thingking), bisa jadi ujung-ujungnya musyrik juga. ltulah yang banyak kita temukan menjadi fenomena saat ini. Betapa banyak orang yang datang ke dukun yang menggunakan jin. 

Mereka meminta kepada para dukun itu untuk mewujudkan segala macam keinginannya. Mulai ingin kaya, ingin tampil menarik, ingin mendapat jabatan, bahkan ingin mengejar pasangan.


Dalam kondisi seperti itu, orang benar-benar telah berada dalam jerat-jerat jin syetan. Hal itu telah menjadi sumpah para jin syetan, yang dikepalai oleh Iblis. Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur'an, 

“lblis berkata,  'Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua.” (QS. AI-Hijr: 39).

Lebih jauh, tidak jarang orang-orang yang sudah terkena jerat jin syetan, akhirnya menjadi sekutu jin syetan itu. Mereka rela dijadikan pelayan bagi jin syetan itu untuk menyesatkan manusia lain hanya demi kesenangan nafsu diri dan kesenangan harta dan syahwatnya. 

Hal ini akan terungkap kelak di akhirat. Allah telah berfirman, “Dan ingatlah diwaktu Allah menghimpun mereka semuanya (lalu Allah berfirman) “Wahai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.” 

Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia. “Wahai Tuhan, sesunguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan  kesenangan dari sebagian yang lain. Dan kami telah sampai kepada waktu yang telah engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman, “Neraka itulah tempat diam kamu, dan kamu kekal didalamnya, kecuali Allah menghendaki (yang lain).” (QS. Al-An'am: 128).


Para ulama menjelaskan, yang dimaksud “Sebagian dari kami mendapatkan kesenangan dari sebagian yang lain” adalah, bahwa syetan telah berhasil memperdaya manusia, sampai manusia mengikuti perintah dan petunjuknya. 

Dan, manusia pun telah mendapat hasil kelezatan duniawi, karena mengikuti bujukan syetan itu. Jadi, jelaslah. Bahwa gangguan jin syetan itu tidak hanya dalam bentuk kesurupan. Bisa jadi awalnya dari kondisi jiwa yang kosong dari cahaya iman, lalu jin syetan pun memperdayainya. Wallahu A’lam

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1, Th 2002

Selanjutnya, Silahkan Baca Artikel Terapi dari dalam Diri Sendiri
July 24, 2018
thumbnail

[Bongkar Jimat] Kain Merah dari Timika, Papua

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-21

Dari Timika, Papua, jimat ini dikirimkan via surat oleh seorang bernama Gadis. Ketika sampai di Jakarta jimat ini diterima dalam keadaan rusak/robek sehingga harus dilekat dengan Isolatif di SPP Jakarta 10000. 

Pemiliknya mengatakan dalam suratnya bahwa semenjak kerepotan menjalankan ritual yang disyaratkan oleh jimat-jimat ini. Dan membaca Majalah Ghoib, pengirim jimat ini meminta tolong kepada Majalah Ghoib untuk  memusnahkannya, karena untuk memusnahkannya sendiri tidak berani. 

“Mungkin Majalah Ghoib juga menerima benda-benda yang sama dari teman-teman yang lainnya, karena banyak teman-teman kita yang lain yang tertipu dengan kebohongan si dukun. 

Saya ucapkan terima kasih kepada Majalah Ghoib karena banyak sekali manfaat yang sudah saya dapat, terutama dalam memperkokoh iman dan tentang tipu daya syetan, semoga kita semua selalu dalam lindungan, dan bimbingan-Nya dan semoga Allah memberi petunjuk bagi hamba-Nya yang tersesat,” tulisnya panjang lebar.

Gadis menceritakan dalam suratnya bahwa jimat ini didapatkan berawal ketika dia membaca sebuah iklan yang mengatakan bisa merubah hidup seseorang dengan cara membuka inti qalbu dan ditegaskan bahwa jimat ini tidak syirik dan tidak bertentangan dengan agama manapun. 

Dia langsung tertarik karena ingin merubah hidup yang lebih baik. Kemudian via surat dia mengubungi pemasang iklan. Selanjutnya disuruh mengirim sejumlah uang untuk buku petunjuk dan sarana/alat penunjang. Setelah uang dikirim, jimat pun datang.

Bentuk Jimat

Ada tiga jimat yang dikirimkan: satu botol minyak aroma yang dimasukkan ke dalam gulungan hitam, selembar kain merah yang sudah ditulis dengan tinta emas dan sebuah koin dari kuningan dengan sebuah lambang.

Jimat pertama, satu botol minyak beraroma yang dimasukkan ke dalam gulungan hitam bentuknya seperti mercon atau petasan yang ada sumbunya. Sementara gulungan hitamnya dihiasi rajah-rajah yang tidak jelas maksudnya seperti terdapat empat belas kotak kecil yang bertuliskan bismi, Alloh, Arrohman dan Arrohiim yang ditulis secara acak pada tiap-tiap kotak tersebut. Kotak tersebut diapit oleh dua tulisan syahadat di sebelah kiri dan kanannya.

Jimat yang kedua, satu lembar kain merah yang ditulis dengan tinta emas. Kain tersebut panjang kira-kira 60 cm. kain tersebut disekat-sekat dengan 10 kotak kecil, yang masing-masing kotak tersebut bertuliskan rajah yang menggunakan bahasa Arab. Setiap kotak beda tulisan dan hiasannya antara kotak yang satu dengan yang lainnya.

Dan jimat yang ketiga adalah sebuah koin dari kuningan. Masing-masing sisi memiliki lambang yang berbeda. Pada sisi pertama terdapat sebuah lingkaran yang bertuliskan huruf yaa siin yang sebanyak tujuh buah bertingkat. Di sisi lain gambar seekor kupu-kupu yang bertuliskan satu ayat yaitu yaa siin.

‘Kesaktian’ Jimat

Menurut pengirimnya, ketiga jimat ini diyakini mempunyai kegunaan sebagi alat untuk merubah hidup seseorang agar lebih baik, dengan cara membuka inti qolbu. Tetapi ada tatacara atau ritual yang harus dilaksanakan untuk mencapai apa yang diinginkan yaitu membuka inti qolbu. 

Cara yang dianjurkan oleh dukun tersebut untuk menggunakan benda-benda ini adalah: pertama-tama minyak wangi itu dioleskan di dahi diantara kedua alis dan mengoleskannya pun harus dari atas kebawah. 

Kemudian koin dan kain merah yang dirajah harus digenggam dengan tangan kanan. Setelah itu dianjurkan membaca doa yang ada di buku petunjuk (pada saat jimat ini dikirimkan, tidak disertai dengan buku petunjuk).

 Tapi menurutnya, doa tersebut dalam bahasa Indonesia karena doa itu bisa dipakai untuk semua agama. Setelah membaca doa itu, disuruh untuk menyebutkan keinginan-keinginan, kemudian bersujud. lni dilakukan sebanyak 5 kali setiap sebelum tidur, dibawah jam 12 malam.

“Namun setelah saya melakukannnya selama satu bulan, perubahan yang diharapkan tak kunjung datang, malah kemalasan dan kerepotan yang didapat setelah melakukan ritual-ritual tersebut,” tulisnya mengungkap kekecewaannya.

Bongkat Jimat

  Satu lembar kain merah yang kita bongkar saat ini tidak seperti kain merah biasanya, selain di datangkan dari Timika, Papua. Jimat ini juga diyakini bisa merubah hidup seseorang kepada kehidupan yang lebih baik. Tulisan dalam jimat ini adalah rajah-rajah berbahasa Arab yang ditulis dengan tinta emas.

Maka seperti halnya jimat-jimat yang lain, seringkali kita jumpai tulisan-tulisan yang tidak bermakna dan hanya dapat dimengerti oleh si dukun saja. Juga pencantuman ayat atau tulisan lainnya tidak jelas mengapa dicantumkan di situ.

Seperti pada 18 kotak kecil yang terdapat dalam kain merah sepanjang 60 centi meter ini. Pada kotak pertama yang ukurannya paling besar dari kotak yang lainnya, terdapat dua buah lingkaran yang bertuliskan kalimat “Basmalah” dengan ditambah kata Muhammad didalamnya, tulisan-tulisan tersebut tidak jelas apa maksudnya. 

lnilah simbol-simbol yang dipakai oleh para dukun untuk berdialog dengan makhluk yang dilaknat oleh Allah yaitu para jin. Tentunya kesepakatan antara si dukun dengan jin tersebut tetap menjadi rahasia antara mereka yang tidak bisa kita fahami. Dan kesepakatan itu adalah kesesatan yang nyata.

Pada tujuh belas kotak lainnya yang lebih kecil-kecil, terdapat rajah-rajah yang ditulis dalam bahasa Arab. Tulisan masing-masing kotak berbeda. Contohnya adalah tulisan huruf abjad arab dari angka 111 sampai 116, yang terdapat dalam 9 kotak kecil. 

Lagi-lagi kita tidak bisa meraba apa maksud dukun dan jinnya menuliskan hal itu. Tetapi tidak jelas, mengapa harus angka-angka arab yang ditulis di situ. Lagi-lagi hanya dukun sesat dan jinnya yang mengerti.

Dan untuk meyakinkan dalam menipu kaum Muslimin, di salah satu kotak tersebut, tertuliskan asmaul husna. Agar orang mengira bahwa jimat ini diridhoi Allah, karena menyebut kebesaran-Nya. Padahal jimat ini adalah suatu kesesatan yang nyata, walaupun dicampur dengan kalimat thayyibah. Justru ini adalah pelecehan terhadap nama-nama Allah yang baik.

Ketidakjelasan yang banyak tercantum dalam kain merah dari Timika ini, sama dengan ketidakjelasan ukiran pada koin dan minyak wangi. lni semua diperparah dengan keyakinan syirik di balik itu semua. Lebih dari itu, ritual yang dianjurkan dengan cara bersujud merupakan sebuah ritual yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah lslam. 

Karena sebagai seorang Muslim sujud kita hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Seperti diterangkan dalam al-Qur'an surat Fushshilat ayat 37. “..... Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Sebagai pengingat kembali agar kita selalu berhati-hati, Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang memakai jimat, maka ia telah berbuat syirik.” ( HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani). Wallahu a’lam.

Tim Rumah Ruqyah Indonesia

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 25/2 

*****

Rumah Ruqyah Indonesia menyediakan sarana atau jasa pemusnahan Jimat. Punya Jimat yang ingin dimusnahkan? 

Jangan ragu lagi, silahkan datang ke Rumah Ruqyah Indonesia untuk dimusnahkan atau hubungi kami untuk informasi lebih lanjut di nomor WA 0851-0503-5459.
July 21, 2018
thumbnail

Pelajaran Terakhir Sekolah

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-19


Sebuah pesan pendek singgah. Tak tahu dari siapa. Yang jelas dari seorang guru. Karena bertanya soal permasalahan yang dihadapinya. Tentang pendidikan. Pendidikan negeri ini yang menyedihkan.

Guru yang malang itu bertanya tentang keharusan membocorkan jawaban soal-soal ujian nasional. 

Karena keharusan itu berasal dari kebijakan sekolah tempatnya mengajar. Sementara hati kecilnya menolak. Karena jelas ini dusta masal. Dan bukan perbuatan guru yang bisa digugu dan ditiru.

Kalau hanya berita seperti itu, biasa saja. Hitunglah satu kasus dari sekian banyak kasus yang ada, sangat kecil. Tetapi ternyata ini adalah perwakilan kasus yang banyak terjadi di tempat lain.

Tempat mulia tempat diajarkannya ilmu dan kebaikan itu keruh. Sekolah khawatir tentang pencitraannya. Sekolah khawatir kalau dibubarkan karena sekian persen siswanya tidak lulus ujian nasional. Akhirnya akan terdapat sekian guru kehilangan pekerjaannya. Sangat pendek visi yang dimilikinya.

Tak cukup sampai disitu, pungli pun terjadi. Setelah membocorkan kunci jawaban, terkadang guru menengadahkan tangan menerima recehan siswa. Pengajar ilmu dan kebaikan pun telah keruh.

Para siswa pun mulai terbentuk suatu rumor. Mereka menyatakan tidak perlu belajar, percuma. Karena akan diberikan jawabannya. Mereka mulai berpikir pragmatis. Kesenangan sesaat. 

Sangat tidak mudah menolaknya. Karena yang lain mendapat jaminan lulus, sementara yang menolak harus mengerutkan dahi berpikir keras untuk mengurai soal-soal ujian. Dan belum tentu lulus. Para siswa negeri ini juga keruh.

Pihak berwenang bungkam.Diam. Tidak tahu, mungkin. Tapi rasanya tidak mungkin tidak tahu. Walau telah menurunkan para pengawas. Bahkan pengawas independen. 

Tetapi berita seperti ini telah menjadi hal yang biasa. Departemen Pendidikan semestinya bukan hanya bisa membuat soal di balik meja. Tapi juga segera menyikapi para guru dan anak didik jujur yang tertekan di negeri ini. Jangan-jangan mereka juga telah keruh.

Ujian Nasional adalah pelajaran terakhir untuk anak didik di negeri ini. Setelah sekian lama mereka menerima pelajaran dari para guru dan kebersamaan. 

Pesan terakhir untuk mereka sebelum meninggalkan sekolah dan para guru serta teman. Para generasi itulah yang akan menopang negeri besar ini. Dan inilah pelajaran terakhir bagi mereka.

Pelajaran : Dusta dan kebohongan masal.

Pelajaran : Pengkhianatan.

Pelajaran : Berpikir pragmatis tanpa visi dan misi.

Pelajaran : Korbankan kebaikan dan kejujuran.

Pelajaran : Korbankan dan singkirkan orang baik dan jujur.

Pelajaran : Kura-kura dalam perahu.

Negeri ini akan dipimpin oleh orang yang sekarang sedang belajar beberapa pelajaran terakhir di atas.

Ustadz Budi Ashari Lc
July 19, 2018
thumbnail

Dialog Ibnu Taimiyyah Dengan Jin Saat Meruqyah

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-17



Dialognya lbnu Taimiyyah dengan jin kasmaran dalam tubuh seorang laki-laki

  lbnul Qayyim bercerita: “Suatu saat Syekh lbnu Taimiyah membaca ayat 115 dari surat al-Mukminun di telinga orang yang kesurupan, ruh jahat (jin) di dalam tubuhnya menjerit kesakitan seraya berkata: ‘Ya’. 

  Lalu beliau mengambil tongkat dan memukuli urat lehernya hingga tangannya letih kecapekan. Para hadirin yang menyaksikan peristiwa tersebut yakin, bahwa orang tersebut akan mati akibat pukulan tongkat yang bertubi-tubi.

 Jin yang didalam tubuh orang tersebut berkata: ‘Saya mencintainya’. lbnu Taimiyah membantah: ‘Dia tidak mencintaimu’.

  Lalu jin itu menyahut lagi: ‘Aku ingin pergi haji bersamanya’. lbnu Taimiyah menyangkal: ‘Dia tidak mau pergi haji bersamamu’. Lalu jin tersebut menambahkan: ‘Saya tinggalkan dia demi kemuliaanmu’. Syekh lbnu Taimiyah menegaskan: ‘Tidak, tapi keluarlah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya’. 

  ‘Ya, aku akan keluar darinya’, sahut jin menyerah kalah. Tak lama kemudian orang yang kesurupan tersebut sadar, lalu duduk seraya menengok ke kanan dan ke kiri sambil bertanya keheranan: 

  ‘Apa yang menyebabkan aku berada di rumah syekh?’ Para hadirin balik bertanya: ‘Bagaimana dengan pukulan yang bertubi-tubi tadi?’ 

  Orang tersebut menjawab: ‘Kenapa syekh memukuli saya? Apa dosa saya?’ Ternyata orang tersebut tidak merasakan apa-apa ketika dipukuli syekh lbnu Taimiyah secara bertubi-tubi.” (Ath-Thibbun Nabawi: 53)


July 17, 2018
thumbnail

Praktik Perdukunan, dari Mistik sampai Intrik [Bag.1]

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-10

Dukun atau yang sering juga disebut dengan ‘orang pinter’, adalah suatu profesi yang tidak asing kedengarannya di telinga kita, atau di telinga masyarakat lndonesia pada umumnya. 

Walaupun nama atau istilahnya berbeda antar satu daerah dengan yang lainnya. Dukun adalah profesi yang sangat popular dan memasyarakat, keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat kita selama ini sangat kuat.

  Bagi orang yang belum pernah berinteraksi dengan dukun secara langsung, atau minta bantuannya dan memanfaatkan jasanya, tentu pernah mendengar profesi perdukunan ini dari radio atau dari mulut ke mulut. 

  Membaca iklan dan praktiknya di majalah, tabloid, koran atau buku-buku. Atau pernah melihat sosok di antara dukun yang bertebaran dalam tayangan layar kaca atau televisi. 

   Mereka memang akrab dengan rakyat, dan juga sebagian besar pejabat. Bagi orang yang pernah berurusan dengan dukun, sudah pasti akan tahu lebih banyak, tidak hanya namanya atau tempat praktiknya, mereka juga paham spesialisasi dan keahlian yang dimiliki dukun kesayangannya.

  Selama ini memang ada kelompok masyarakat yang merasa sangat terbantu atau diuntungkan dengan adanya praktik perdukunan. Ada yang merasa sakitnya telah tersembuhkan setelah berobat ke si dukun. 

  Ada yang merasa masalahnya telah terselesaikan (bablas) setelah konsultasi dengan dukun. Dan ada juga yang merasa usahanya telah berhasil, cita dan cintanya telah tercapai, dendamnya terhadap seseorang telah terbalaskan, sakit hatinya terobati, setelah mereka keluar dari ruang praktik si dukun.

   Tapi banyak juga yang kecewa. Karena sakit yang diderita tak kunjung sembuh, bisnis yang dirintis tak kunjung laris, problematika yang mengusutkan pikiran tak juga terselesaikan, cita dan cinta tak juga kesampaian, dendam kesumat dan sakit hati tak juga terbalaskan, dan lain-lainnya.

  Bahkan malah sebaliknya. Sakit yang diderita semakin parah, bisnisnya makin terpuruk atau bangkrut, problematikanya makin ruwet. Padahal mereka telah membayar dukun dengan harga mahal, jutaan bahkan milyaran rupiah telah amblas. 

  Berbagai macam tumbal dan sesajen sudah dipersembahkan, beragam syarat yang diminta telah dipenuhi. Ada korban perdukunan yang dikuras hartanya, direnggut kegadisan dan kehormatannya, diteror, diancam atau dibunuh. Materi dihabiskan, akidah dan tauhid digadaikan. Sungguh menyakitkan dan menyedihkan.

  Walaupun begitu, mereka tidak kapok juga. Kalau pun ada yang sadar lalu bertaubat, itu hanya sedikit dari sekian banyak prosen korban yang berjatuhan. Naifnya, orang lain yang tidak pernah jadi korban dukun, atau belum menjadi korbannya, tidak juga mengambil pelajaran dari tindakan kriminal dan penipuan yang berkedok perdukunan dan telah banyak diungkap di media massa. 

  Kalau mereka punya masalah yang ruwet dan menurutnya tidak bisa diselesaikan dengan akal sehat, dukunlah yang menjadi alternatif pilihannya.

Praktik Perdukunan yang Berbau Mistik

  Selama ini praktik perdukunan selalu diidentikkan dengan mistik dan klenik, ruangan yang diselimuti bau kemenyan, dihiasi berupa-rupa kembang dan sesajen, dilumuri darah tumbal dan sesembahan, dilengkapi berbagai macam jimat dan benda pusaka, dinaungi kekuatan jin dan syetan, diterangi dengan cahaya temaram atau cenderung pada kegelapan, suasana yang mencekam dan mengerikan.

  Yang pernah dilakukan Gus Wachid misalnya. Banyak ilmu ‘karomah’ dan tenaga dalam yang ia pelajari agar bisa menjadi ‘orang hebat’. Wirid, lelaku, tirakat, melakukan ‘amalan’ dari guru-gurunya. Sampai akhirnya ada jin yang ikut dengannya. 

  Banyak keanehan yang dimilikinya dan sarat mistik. Walaupun tidak sengaja ia membuka praktik perdukunan, tapi pasiennya cukup banyak jumlahnya. Bahkan di antara mereka ada yang berasal dari kalangan terpelajar, orang akademik yang kualitas IQ-nya tidak jongkok. Dia sendiri termasuk orang terpelajar, punya gelar akademik yang diperoleh dari sebuah perguruan agama yang cukup terkenal di kota kelahirannya. Dan ia pun berhasil memperdayanya.

  Begitu juga masa lalu KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Awalnya ia tidak tahu bahwa jimat dan rajah apapun bentuknya, lslam melarang keras penyebarannya. Apalagi kalau diperjual belikan, hasil jual beli itu tentunya haram

  Sebagaimana uang hasil perdukunan, adalah uang panas dan haram digunakan. Rasulullah bersabda, “Abu Mas’ud al-Anshari berkata, “Rasulullah melarang hasil penjualan anjing, dan tips pelacur serta hasil praktik perdukunan.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hadits hasan shahih). 

  Obsesinya untuk membangun pondok pesantren dari hasil praktik perdukunan kandas di jalan. Bahkan jin telah mempermainkan dan mengelabuinya. Hingga akhirnya ia mendapatkan hidayah, menyadari kesalahannya lalu bertaubat kepada Allah. 

  Sungguh merupakan pilihan yang patut kita contoh. Dia berhenti dari praktik perdukunan bukan karena tidak laku lagi. Tapi atas dasar ilmu dan pemahaman, sehingga siap menanggung segala resiko.

  Yang lebih mistik adalah cerita Mas Tito. Benar-benar sarat mistik. Jin mengelabuinya dengan berubah wujud menjadi kakeknya, lalu mengajarinya berbagai macam ilmu kesaktian. Jin juga memperdayanya dengan berubah menjadi benda pusaka. 

  Mantra yang diwirid bisa membuatnya berubah laksana Cicak, merayap di tembok tanpa peralatan pendakian. Orang-orang di sekitarnya terkagum-kagum saat melihat kemampuannya. Dukun-dukun lain pun tunduk dan patuh kepadanya, karena merasa kalah ilmu. 

  Jin yang membantu Mas Tito lebih kuat daripada jin yang mereka miliki. Namun di tengah popularitasnya yang melambung, kekuatan ilmu mistiknya yang dianggap tanpa tanding. Ternyata ia sendiri tidak bisa memenuhi keinginan-nya. 

  Daftar sebagai angkatan atau prajurit negara selalu gagal. Ya, memang jin tidak mempunyai kekuatan yang mutlak. Mereka ada dalam kekuasaan Allah maka seharusnya kita tidak menyekutukan Allah apalagi dengan jin.

  Sebenarnya kasus yang hampir sama dengan Tito adalah kasus Mona. Keduanya ada unsur titisan. Syetan yang telah menjerumuskan kakeknya tidak puas, anak cucunya pun jadi obyek sasarannya. Berbagai macam ritual harus ia jalani untuk memenuhi hasrat si kakek, menjadi dukun hebat. 

  Kalau Tito merasa ada tombak yang menembus dadanya, sedangkan Mona merasa keris yang baru diterima dari seseorang menembus dadanya. Mungkin yang masuk itu adalah jin. Dengan bantuan jin itu, akhirnya Mona bisa melakukan pengobatan dan perdukunan. Bahkan ia terkenal sebagai dukun spesialis pelet, perjudian dan penglaris.

  Pengembaraan mistik yang ia jalani ke pantai selatan. Kejadian aneh dan spektakuler yang dialaminya, baru ia sadari bahwa itu adalah tipuan syetan setelah dia berinteraksi dengan Majalah Ghoib dan membaca isinya. Ulah jin dalam dirinya semakin jelas, setelah ia menjalani ruqyah syar’iyyah. 

  Kejadian ini membuktikan, bahwa klenik dan mistik memang tidak bisa dikikis dengan kecanggihan technologi, atau pudar seiring dengan kemajuan zaman. Hanya dengan kembali mempelajari syari'at yang telah dikumpul dalam al-Qur’an dan al-Hadits, kita bisa selamat dari tipudaya syetan. Membekali diri dengan tauhid yang lurus adalah senjata yang ampuh.

  Praktik perdukunan yang bau mistik dan klenik sudah ada sejak zaman dahulu. Mereka berkolaborasi dengan jin jahat, menjadi antek syetan dalam menyesatkan hamba-hamba Allah. Sekilas kerjasama seperti itu sama-sama menguntungkan. 

  Syetan diuntungkan dengan ketaatan dukun dalam menyebar kesyirikan dan menjerumuskan manusia beriman. Sedangkan dukun mendapat keuntungan duniawi. Paling tidak mereka mendapat popularitas, kebanggaan, ketenaran sebagai manusia ‘sakti’, dihormati dan dijunjung tinggi oleh para pasiennya.


  Kerjasama dukun dengan jin telah diungkap oleh Rasulullah melalui haditsnya, “Aisyah berkata, “Rasulullah pernah ditanya sekelompok orang tentang para dukun. Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu tidak ada apa-apanya’. Orang-orang tersebut berkata,’Terkadang mereka berkata tentang sesuatu (meramal), dan yang diomongkan itu ternyata benar’. Rasulullah menjawab, ‘Omongan yang benar itu dari Allah, dicuri oleh jin lalu dibisikkannya ke telinga walinya (dukun) dan dicampuraduk dengan seratus kebohongan’.” (HR. Bukhari).


Bersambung...
July 10, 2018
thumbnail

Bercermin kepada Figur Pejuang Melawan Syetan

Posted by rumah ruqyah on 2018-07-05


Mayoritas kaum muslimin telah mengetahui bahwa syetan adalah musuh utama mereka. Tapi hanya sedikit dari mereka yang betul-betul menjadikan syetan sebagai musuh. 

Allah berpesan“Sesungguhnya syetan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu).” (QS. Fathir: 6).

Disadari atau tidak, di antara kita masih banyak yang menjadikan syetan itu sebagai teman, bahkan ada juga yang menjadikan syetan sebagai Tuhan. Memohon bantuan kepada syetan dikala menghadapi kesulitan dan permasalahan, dengan melakukan ritual sendiri atau meminta bantuan dukun yang diyakini.  

Al-Qur'an telah mensinyalir keberadaan mereka, “Bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (QS. Saba’: 41).

lronis memang. Apa jadinya bila seseorang lebih percaya pada kekuatan musuhnya (syetan) daripada kekuatan Tuhannya (Allah). Tapi begitulah fakta di lapangan. Ritual pemujaan syetan dengan berbagai macam cara dan beragam nama, masih dilakukan banyak penduduk negeri ini. Praktik perdukunan tumbuh subur di seantero negeri. Alasannya melestarikan budaya, memelihara warisan nenek moyang.

Simaklah sikap tegas sosok pejuang sejati saat melihat tradisi dan budaya kemusyrikan yang telah berakar di tengah masyarakat. la tidak kenal kompromi, walaupun salah satu pelopornya adalah ayahnya sendiri. 

Dialah bapak kita dan panutan kita lbrahim  ‘alaihissalam. “Dan (ingatlah) di waktu lbrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. al-An’am: 74).

Nabi lbrahim memberantas kesyirikan tidak sebatas kata-kata. Dia telah menghancurkan simbol-simbol kesyirikan. “Maka lbrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. al-Anbiya’: 58).

Apa yang dilakukan Nabi lbrahim itu memang beresiko tinggi. Beliau melawan arus kesesatan yang besar dan telah berakar dan menialar ke mana-mana. Tidak hanya sekelompok orang, tapi seluruh negeri termasuk para penguasanya. Tapi dia yakin seyakin-yakinnya, bahwa Allah tidak akan membiarkannya sendirian.

Terakhir kali Nabi lbrahim berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syetan. Sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.” Lalu bapaknya berkata, “Bencikah kamu padada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam: 44 – 45).

Beliau telah diusir ayahnya dan dikucilkan kaumnya, bahkan penguasa juga beruasaha untuk melenyapkannya, yaitu dengan membakarnya hidup-hidup. 

Seakan mereka ingin memasukkan Nabi lbrahim ke neraka yang mereka miliki. “Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.’ Kami (Allah) berfirman, ‘Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya’: 68 – 69).

Yang dihadapi Nabi Ibrahim bukan hanya syetan-syetan yang berbentuk manusia, tapi juga syetan-syetan jin. Sebagaimana yang ditegaskan Allah, “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan jin …” (QS. al-An’am: 112).

Perhatikanlah kegigihan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam melawan gangguan syetan dari jin yang berusaha keras untuk menghalanginya dalam  menjalankan ibadah. Termasuk saat beliau hendak menunaikan perintah Allah melalui mimpi untuk menyembelih lsma’il.

Ka’ab berkata, “Ketika Nabi Ibrahim telah mimpi diperintahkan menyembelih lsma’il. Syetan berkata, ‘Demi Allah, kalau saat ini saya tidak membuat fitnah (menggoda) keluarga lbrahim, maka saya tidak akan bisa menggoda seorangpun dari mereka selamanya. 

Maka syetan menyerupakan diri menjadi seorang laki-laki yang bisa dikenal. la lalu beraksi. Ketika Ibrahim pergi bersama lsma’il untuk menyembelihnya, maka syetan pun mendatangi isteri lbrahim. Syetan berkata kepadanya, ‘Tahukah kamu ke mana Ibrahim pergi bersama lsma’il?’ Isterinya menjawab, ‘Dia pergi untuk keperluan tertentu.’

Syetan berkata, ‘Tidak, demi Allah, dia pergi bersama Isma’il bukan hanya untuk itu.’ Isterinya bertanya, ‘Lalu untuk apa dia pergi bersama Isma’il? 

Syetan menjawab, ‘Dia pergi untuk menyembelih Isma’il.’ lsterinya menjawab, ‘Hal itu tidak mungkin, dia tidak akan menyembelih anaknya sendiri.’ Syetan berkata, ‘Demi Allah, dia akan melakukan hal itu. Dia meyakini bahwa Allah telah memerintahkan hal itu’. Isterinya menimpali, ‘Jika memang ltu perintah Allah, maka merupakan kebaikan bila ia mentaatinya.’

Lalu syetan keluar meninggalkan lsteri lbrahim. Kemudian menghampiri lsma’il yang berjalan di dekat lbrahim. Ia berkata,’Tahukah kamu, untuk apa kamu dibawa ayahmu pergi?’

 lsma’il menjawab, ‘Dia mengajakku untuk suatu keperluan’. Syetan menyangkal, ‘Tidak, tidak sekadar itu. Dia mengajakmu pergi untuk menyembelihmu.’ 

Isma’il berkata, ‘Tidak, dia tidak akan menyembelihku’. Syetan berkata, ‘Dia akan menyembelihmu karena mengaku bahwa Allah telah memerintahkannya.’ 

Isma’il menjawab, ‘Kalau itu perintah Tuhan, maka seharusnya dia mentaatinya.’ Lalu syetan meninggalkannya dan bergegas menuju Nabi lbrahim, ‘Kemana kamu pergi dengan membawa anakmu?’ tanyanya. 

Ibrahim menjawab, ‘Aku pergi untuk suatu keperluan’. Syetan menyanggahnya, ‘Tidak, kamu pergi bersama untuk menyembelihnya. Karena kamu yakin bahwa Allah telah memerintahmu untuk melakukan itu.’ 

Ibrahim menegaskan, ‘Demi Allah, bila itu perintah Allah. Pasti aku akan melaksanakannya.” Maka syetanpun meninggalkannya dengan kegagalannya. (Tafsir at-Thabari: 33/82).

Dan dalam riwayat lain diceritakan, “Ketika Nabi lbrahim telah sampai di manasik (tempat ibadah), syetan menampakkan diri kepadanya di Jamratul Aqabah. 

Maka Nabi lbrahim melemparinya dengan tujuh kerikil sampai syetan itu lenyap di bumi. Lalu syetan menampakkan diri kembali di Jamratuts Tsaniyah, maka Nabi lbrahim melemparinya lagi dengan tujuh kerikil sampai syetan itu lenyap di bumi. 

Kemudian ia menampakkan diri lagi di Jamratuts Tsalitsah, maka Nabi lbrahim melemparinya dengan tujuh kerikil sampai syetan itu lenyap di bumi. 

lbnu Abbas berkata, “Syetan itu kalian rajam (lempari) dan seharusnya agama bapak kalian (lbrahim) kalian ikuti.” (HR. al-Hakim, no. 1713 dan dishahihkannya).

Pertarungan antara yang haq dan yang bathil akan terus berkobar, tidak hanya pada era Nabi lbrahim atau zaman Nabi Muhammad. Sampai saat ini, masih banyak praktik perdukunan dan ritual masyarakat yang menyimpang yang berbasis pada kekuatan syetan. 

Tidak hanya di Pulau Jawa, tapi masih merata keberadaannya di seantero nusantara. Dan naifnya, mereka masih saudara-saudari kita sendiri.

Sudahkah kita ikut berperan meneruskan dakwah Nabi lbrahim dan Nabi Muhammad? Sekaranglah saatnya kita mainkan peran sesuai dengan kemampuan. 

Tentunya dengan cara yang bijak tapi tegas. Termasuk dengan menyebarkannya media kita ini ke masyarakat yang lebih banyak dan lebih luas. Allahu Akbar…!!

July 05, 2018