Teman Syetan di Bulan Ramadhan



“Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamkan. Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasa dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Puasa memang bisa menekan banyak perilaku dosa. Apalagi di bulan Ramadhan. Puasa ramai-ramai, sahur ramai-ramai sekeluarga, berbuka pun beramai-ramai, di rumah, di kantor, di masjid dan di mana saja.

Tapi tetap saja, ada hal-hal yang sering menggagalkan kesempurnaan puasa. Dan itu artinya, celah-celah bagi munculnya dorongan hawa nafsu bisa muncul di tengah-tengah puasa kalau itu terjadi pada diri kita, akibatnya akan fatal. Kita tidak bisa meraih kesempurnaan puasa. Dan, bahkan justru bisa terjerumus kepada melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang tidak saja rugi, tapi menjadi teman-teman syetan. Berikut ini beberapa sebab yang bisa menjadi pintu bagi kegagalan meraih kesempurnaan puasa.

Pertama, Tidak Melakukan Puasa sesuai Tuntunan
Secara lahiriah, sekadar menahan makan, minum serta tidak berhubungan suami isteri di siang hari adalah perkara yang tidak sulit. Seperti perkataan ulama salaf, “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”

Namun puasa tidak hanya sampai di situ. Lebih jauh lagi adalah bagaimana memuasakan aspek lain dalam diri kita. Jabir berkata, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamakan. Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasamu dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Perhatikanlah kisah yang diriwayatkan dalam musnad Ahmad berikut. Bahwa pada masa Nabi SAW. ada dua orang wanita berpuasa. Keduanya hampir saja mati karena kehausan. Lalu hal tersebut diceritakan kepada Nabi SAW. Namun Rasul berpaling. Tak lama kemudian masalah tentang keduanya itu diceritakan kembali. Kemudian Rasul memanggil keduanya dan menyuruhnya untuk muntah. Ternyata kedua wanita itu memuntahkan semangkuk nanah, darah serta daging segar.

Setelah itu Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya kedua wanita ini telah berpuasa dari hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, namun keduanya berbuka dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Seorang dari mereka menghampiri temannya yang sedang duduk, lalu keduanya mulai memakan daging-daging manusia (membicarakan keburukan orang lain).” (Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mawasim al-‘Ammin al-Wadhaif, karya al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali)

Kedua, Berlebihan ketika Berbuka Puasa
Syetan punya jerat-jerat sendiri untuk mementahkan upaya perbaikan diri orang beriman. Jika lalai, bukan tidak mungkin seseorang tetap terjerat dalam jebakan syetan. Salah satu celah itu adalah saat orang berbuka dan memakan makanan hingga terlalu kenyang. Akibatnya ia menjadi sulit melakukan ibadah yang seharusnya dihidupkan di malam hari setelah puasa. Bentuk halangannya bisa bermacam-macam. Seperti malas, ngantuk, santai atau bahkan sakit perut. lni adalah jerat-jerat syetan.

lmam lbnul Jauzi rahimahullah mengutip perkataan Tsabit al-Bannany dalam kitab “Talbis lblis”, la berkata, “lblis pernah muncul di hadapan Nabi Yahya bin Zakariya AS. Beliau melihat banyak barang-barang yang menggantung pada diri lblis. Yahya bertanya, “Wahai iblis, apakah barang-barang yang menggantung pada dirimu itu?” la menjawab, “lni adalah nafsu-nafsu yang kupergunakan untuk mengail anak Adam.”

Yahya bertanya, “Apakah ada pula yang dituiukan untukku?” lblis menjawab, “Boleh jadi perutmu kenyang, lalu aku membuatmu merasa berat melaksanakan shalat dan dzikir.” “Adakah selain itu?” Tanya Yahya.

lblis meniawab, “Tidak ada, demi Allah.” Yahya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membuat perutku kenyang karena makanan untuk selama-lamanya.” lblis berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberi nasihat pada orang Muslim selama-lamanya.”

Ketiga, Menunda-nunda Amal Kebaikan hingga Akhirnya Lalai.
Bulan Puasa adalah bulan istimewa dan pelipatgandaan pahala amal kebaikan. Bayangkan salah satu bentuk keistimewaan bulan Ramadhan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW. “Segala amal kebaikan manusia adalah untuknya. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh hingga 700 kali-liPat. Allah SWT. berfirman, ‘Kecuali Puasa, karena ia adalah milik-Ku dan Aku pula yang akan membalasnya. La (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya karena Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi keistimewaan itu sedikit demi sedikit akan hilang ketika orang yang berpuasa pasif dari amal amal sholeh dan menunda-nunda kebaikan yang harusnya dikerjakan dan diperbanyak di bulan puasa. Lmam lbnul Jauzi dalam kitab ‘Talbis lblis’ berkata, “Betapa banyak orang yang bertekad teguh, dibuat menanti-nanti”. Artinya adalah dibuat berkata “nanti saja” oleh syetan. lbnul Jauzi melanjutkan, “Betapa banyak pula yang berusaha untuk berbuat baik dipengaruhi syetan untuk menunda-nundanya.”

Keempat, Tidak Memanfaatkan Waktu Sebaik Mungkin untuk Beribadah.
Detik demi detik di bulan ini sangat bermanfaat. Maka jangan sekali-kali melewatinya dengan berbagai kegiatan yang tidak berguna. Jangan sampai kita keluar dari bulan Puasa dengan tangan kosong. Malamnya hanya diisi dengan canda tawa, bermain dan begadang, sementara siang harinya tidur pulas karena kelelahan dan kantuk yang berat.

Hari-hari Ramadhan penuh pahala tak terbilang, malamnya malam yang disaksikan. Tatkala datang Ramadhan, hendaknya kita dalam keadaan siap untuk sungguh-sungguh dalam menyambutnya, serta kita isi bulan itu dengan ketaatan dan ibadah, agar kelak mendapatkan kemenangan dan kenikmatan. Rasulullah SAW. menjelaskan, “Sungguh celaka orang yang sempat mendapati Ramadhan, kemudian tatkala Ramadhan berlalu, Allah masih juga belum mengampuninya.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim).

Di samping memperbanyak ibadah, bulan Ramadhan merupakan ajang yang sangat pas untuk berhenti dari berbagai perbuatan negatif, (yang mungkin dianggap sepele), padahal efeknya tidak tidak bisa dianggap remeh. Merokok misalnya. Jika pada siang harinya kita bisa menahan dari makan, minum dan juga merokok, maka seharusnya pada waktu malampun bisa menahan diri dari menghisap rokok.

Begitu juga dengan kebiasaan mendengarkan musik dan lagu-lagu yang dapat merusak hati, terlebih lagu-lagu tentang nafsu dan syahwat yang akan menerabas rasa malu dan cemburu. Terlalu banyak menonton film atau sinetron, dan acara-acara lain yang tidak bermanfaat. Bergaul dengan orang yang perangainya buruk, karena sedikit banyak kita bisa terpengaruh perilaku mereka. Pergi ke pasar, supermaket, mall dan seienisnya juga mempunyai pengaruh yang tidak baik. Sedapat mungkin jangan sampai terlalu sering pergi ke tempat-tempat seperti itu, kecuali jika ada keperluan untuk belanja. Pasar termasuk tempat buruk di muka bumi yang disana seringteriadi banyak fitnah dan tempat syetan-syetan berkumpul. Terlebih menggunakan waktu malam puasa untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang tidak dihalalkan.

Semua hal-hal di atas, bisa memalingkan kita dari mendekat kepada Allah. Akibatnya, puasa yang semestinya menjadi bulan mulia, tetap saia menjadi celah bagi syetan dan hawa nafsu yang bisa menjerumuskan. Alangkah meruginya orang-orang seperti itu.

Tim Rumah Ruqyah Indonesia

Comments