Jangan Nunjuk Kuburan..?


Katanya, kawasan pemakaman merupakan daerah angker yang tidak boleh berulah sembarangan di sana. Menunjuk dengan jari telunjuk misalnya. Bila itu terjadi, maka menurut mitos katanya, jari-jemarinya dikahwatirkan akan kithing. Itu lho jari-jemarinya yang kaku dan tertekuk ke telapak tangan, tidak lagi bisa digerakkan.

Mitos katanya ini tidak pelak lagi menakutkan kebanyakan anak-anak yang tumbuh berkembang di daerah yang mempercayainya. “Waktu kecil dulu menyembunyikan tangan di balik baju bila melewati kuburan. Saya khawatir bila tanpa sadar tangan saya bergerak dan menunjuk sesuatu di kuburan,” kenang seorang teman yang berasal dari Jawa Timur mengingat masa kecilnya.

Kasihan anak kecil tersebut. Hanya karena mitos yang tidak berdasar dia harus menyimpan kekahawatiran sedemikian rupa. Apalagi sebagian area pemakaman terletak persis di samping jalan raya. Jalan alternative pun tak ada, maka mau tidak mau ia harus tetap melewati kawasan pemakaman dengan dada berdebar-debar.

Memang aneh mitos ini. Alasan mengapa jari menjadi kithing belum diketahui dengan pasti. Penyikapannya juga menggelikan. Bayangkan, seseorang yang terlanjur menunjuk ke sana kemari ketika berada di area pemakaman, dia harus mengulum jari telunjuknya. Persis seorang bayi yang sedang kehausan dan minta susu. Kemudian jari telunjuknya diacungkan ke atas hingga kering. Ia harus tetap dalam posisi seperti itu hingga ludah yang menempel di jari telunjuk menjadi kering terkena sinar matahari atau hembusan angin. Ia tidak boleh mengusap dan mengeringkannya dengan benda apapun. Kasihan deh loe, hanya karena percaya pada mitos katanya ini, ia harus berpose bak Patung Liberty di New York. Ada juga yang menyikapinya dengan cara lain lagi.

Dalam kacamata Islam, sesungguhnya kawasan pemakaman tidak harus ditakuti. Karena kuburan adalah tempat persinggahan sementara. Toh, pada akhirnya semua makhluk yang bernyawa juga mengalami nasib yang sama, termasuk kita. Dimasukkan ke dalam liang lahat dan menjadi santapan binatng-binatang bawah tanah. Yang membedakan antara yang satu dengan lainnya hanyalah waktu semata. Saat ini mereka, para penghuni kuburan, telah mendahului kita. Dan siapa tahu esok atau lusa kita segera menyusul mereka, menjadi penghuni kuburan untuk sekian waktu lamanya.

Maslah kithing atau nggak kithing tidak berhubungan sama sekali dengan menunjuka kuburan. Tangan cacat itu bisa bawaan sejak lahir atau memang dia mempunyai penyakit. Jadi bukan karena kesalahan telunjuk menunjuk kuburan.
Padahal ada sesuatu lain yang layak untuk ditakuti dibandingkan mitos yang hanya bersumber katanya. Siksa kubur misalnya. Rasa takut semacam ini seyogyanya ditanamkan sejak dini. Karena keimanan kepada sesutau yang bersifat ghoib akan menjadi rem yang mencegah kita berbuat buruk. Sejak empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW. berpesan kepada para shahabat agar banyak mengingat kematian, “Perbanyaklah mengingat kematian.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah SAW. dan para shahabat biasa masuk ke areal pemakaman dan tidak takut. Karena itu adalah tempat yang paling untuk mengingatkan kita pada akhirat. Bahkan terkadang Nabi sendirian datang ke kuburan di malam yang gulita untuk mendoakan shahabat beliau yang telah pergi dahulu.

Gara-gara takut menunjuk kuburan, akhirnya begitu lewat kita berpaling sebisa mungkin dan lupa sunah Nabi. Seperti mengucapkan salam untuk para penghuni kubur. Seharusnya kita mendapatkan pahala, eh malah termakan mitos katanya yang tidak berdalil. Untuk itu, tetaplah waspada terhadap mitos yang hanya berdasarkan katanya. Jangan kotori akidah dengan debu-debu 'katanya'.

Ust. Muswadi Ahmad Lc

Comments