thumbnail

Fa alhamaha Fujuraha wa Taqwaha

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-26


Hidup ini pilihan. Begitu kata banyak orang. Terserah kita, mau seperti apa alurnya. Terserah kita, mau ke mana arahnya. Terserah kita, akan bergaya seperti apa. Dan terserah kita, akan berakhir seperti apa.

Gugatan sebagian orang kepada Tuhan, jelas tidak masuk di sini. Karena setiap kita sadar betul apa yang kita lakukan. Kita bukan wayang yang tidak punya kehendak dan terserah dalangnya. Kita mempunyai kehendak, dan kita sadar itu. Kita mampu memilih, dan kita tahu itu. Bahkan terkadang berhari-hari hingga berminggu-minggu kita memikirkan pilihan.

Tetapi juga bukan berarti kita adalah segalanya. Semua kehendak yang kita miliki tidak pernah lepas dari kehendak Allah SWT. Artinya, Allah Maha Tahu bahwa jika kita diberikan pilihan, kita akan memilih A. Dengan ilmu Allah itulah, catatan taqdir ditorehkan untuk kita jalani. Yang kesemuanya terjadi di bawah ketentuan dan kehendak-Nya. Tidak ada yang keluar dari kuasa-Nya.

Bukan masalah taqdir yang rumit, yang akan kita kaji pada kesempatan ini. Tetapi ini hanya untuk menegaskan bahwa kitalah yang memilih. Memilih corak hidup ini. Dan memilih kematian seperti apa yang kita inginkan.

Seringkali, dua hal yang berlawanan hadir dalam satu waktu. Dalam satu bab. Yang satu pahala dan satunya lagi dosa. Keduanya disodorkan di hadapan hati kita. Kita yang menjdi hakimnya. Mana yang kita menangkan. Dengan hadirnya dua hal yang bertolak belakang, kita dan siapapun akan tahu seperti apa kualitas kita.

Sebuah SMS masuk berbunyi, Dua berita, dua tokoh, yang satu sunnah yang satu dosa. Unik bunyi SMS tersebut, walau tidak djelaskan maksudnya. Tetapi, kita akan dengan sangat mudah menangkap maknanya. Keduanya telah sekian lama dilakukan. Tetapi bagian dari kehendak-Nya, keduanya muncul dalam waktu hampir bersamaan. Begitulah, agar jelas buat semuanya. Pilihan masyarakat muslim ini jatuh pada yang mana. Pada kasus yang mana protes orang lebih banyak. Pada hal yang mana, hukuman lebih berat dijatuhkan. Kasus mana yang mendapat label pengkhianatan cinta dan yang mendapat label atas nama cinta.

Demikian pula pada kematian. Memang tidak pernah tahu kapan kita mati. Sementara kita diperintahkan agar yakin dengan kelslaman kita saat menghembuskan nafas terakhir. Ini artinya setiap detiknya kita harus yakin selalu dalam ketaatan. Agar saat malaikat pencabut nyawa hadir, kita masih muslim.

Karena Nabi hanya menyebut dua jenis pada tema kematian. Jenazah yang beristirahat atau masyarakat yang beristirahat darinya. Yang pertama orang shalih dan baik. Sementara yang kedua pelaku dosa dan orang jahat.

Tidak ada pilihan ketiga. Tidak ada mati yang tengah-tengah. Husnul khotimah atau Suul Khotimah.

Maka, tidak penting kita tahu kapan akan mati. Dan kita memang tidak akan pernah bisa tahu. Yang paling penting adalah kematian seperti apa yang kita inginkan. Kematian saat sujud atau kematian saat di meja judi. Kematian di ujung peluru musuh Allah atau kematian di ujung jarum narkoba. Kematian saat memberi atau kematian saat merampas hak orang lain. Kematian saat melantunkan ayat atau kematian saat berlonjakan di konser musik. Kematian saat sedang bersama orang shalih atau kematian saat bercampur baur dengan orang yang dimurkai Allah SWT.

Sekali lagi, karena tidak ada pilihan ketiganya.

Fa alhamaha Fujuroha wa Taqwaha “Maka Dia mengilhamkan (kepada setiap jiwa) jalan dosanya dan jalan taqwanya.” (Qs. Asy-Syams: 8)

Ust. Budi Ashari Lc
May 26, 2018
thumbnail

Teman Syetan di Bulan Ramadhan

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-24



“Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamkan. Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasa dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Puasa memang bisa menekan banyak perilaku dosa. Apalagi di bulan Ramadhan. Puasa ramai-ramai, sahur ramai-ramai sekeluarga, berbuka pun beramai-ramai, di rumah, di kantor, di masjid dan di mana saja.

Tapi tetap saja, ada hal-hal yang sering menggagalkan kesempurnaan puasa. Dan itu artinya, celah-celah bagi munculnya dorongan hawa nafsu bisa muncul di tengah-tengah puasa kalau itu terjadi pada diri kita, akibatnya akan fatal. Kita tidak bisa meraih kesempurnaan puasa. Dan, bahkan justru bisa terjerumus kepada melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang tidak saja rugi, tapi menjadi teman-teman syetan. Berikut ini beberapa sebab yang bisa menjadi pintu bagi kegagalan meraih kesempurnaan puasa.

Pertama, Tidak Melakukan Puasa sesuai Tuntunan
Secara lahiriah, sekadar menahan makan, minum serta tidak berhubungan suami isteri di siang hari adalah perkara yang tidak sulit. Seperti perkataan ulama salaf, “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”

Namun puasa tidak hanya sampai di situ. Lebih jauh lagi adalah bagaimana memuasakan aspek lain dalam diri kita. Jabir berkata, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamakan. Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasamu dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Perhatikanlah kisah yang diriwayatkan dalam musnad Ahmad berikut. Bahwa pada masa Nabi SAW. ada dua orang wanita berpuasa. Keduanya hampir saja mati karena kehausan. Lalu hal tersebut diceritakan kepada Nabi SAW. Namun Rasul berpaling. Tak lama kemudian masalah tentang keduanya itu diceritakan kembali. Kemudian Rasul memanggil keduanya dan menyuruhnya untuk muntah. Ternyata kedua wanita itu memuntahkan semangkuk nanah, darah serta daging segar.

Setelah itu Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya kedua wanita ini telah berpuasa dari hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, namun keduanya berbuka dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Seorang dari mereka menghampiri temannya yang sedang duduk, lalu keduanya mulai memakan daging-daging manusia (membicarakan keburukan orang lain).” (Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mawasim al-‘Ammin al-Wadhaif, karya al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali)

Kedua, Berlebihan ketika Berbuka Puasa
Syetan punya jerat-jerat sendiri untuk mementahkan upaya perbaikan diri orang beriman. Jika lalai, bukan tidak mungkin seseorang tetap terjerat dalam jebakan syetan. Salah satu celah itu adalah saat orang berbuka dan memakan makanan hingga terlalu kenyang. Akibatnya ia menjadi sulit melakukan ibadah yang seharusnya dihidupkan di malam hari setelah puasa. Bentuk halangannya bisa bermacam-macam. Seperti malas, ngantuk, santai atau bahkan sakit perut. lni adalah jerat-jerat syetan.

lmam lbnul Jauzi rahimahullah mengutip perkataan Tsabit al-Bannany dalam kitab “Talbis lblis”, la berkata, “lblis pernah muncul di hadapan Nabi Yahya bin Zakariya AS. Beliau melihat banyak barang-barang yang menggantung pada diri lblis. Yahya bertanya, “Wahai iblis, apakah barang-barang yang menggantung pada dirimu itu?” la menjawab, “lni adalah nafsu-nafsu yang kupergunakan untuk mengail anak Adam.”

Yahya bertanya, “Apakah ada pula yang dituiukan untukku?” lblis menjawab, “Boleh jadi perutmu kenyang, lalu aku membuatmu merasa berat melaksanakan shalat dan dzikir.” “Adakah selain itu?” Tanya Yahya.

lblis meniawab, “Tidak ada, demi Allah.” Yahya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membuat perutku kenyang karena makanan untuk selama-lamanya.” lblis berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberi nasihat pada orang Muslim selama-lamanya.”

Ketiga, Menunda-nunda Amal Kebaikan hingga Akhirnya Lalai.
Bulan Puasa adalah bulan istimewa dan pelipatgandaan pahala amal kebaikan. Bayangkan salah satu bentuk keistimewaan bulan Ramadhan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW. “Segala amal kebaikan manusia adalah untuknya. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh hingga 700 kali-liPat. Allah SWT. berfirman, ‘Kecuali Puasa, karena ia adalah milik-Ku dan Aku pula yang akan membalasnya. La (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya karena Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi keistimewaan itu sedikit demi sedikit akan hilang ketika orang yang berpuasa pasif dari amal amal sholeh dan menunda-nunda kebaikan yang harusnya dikerjakan dan diperbanyak di bulan puasa. Lmam lbnul Jauzi dalam kitab ‘Talbis lblis’ berkata, “Betapa banyak orang yang bertekad teguh, dibuat menanti-nanti”. Artinya adalah dibuat berkata “nanti saja” oleh syetan. lbnul Jauzi melanjutkan, “Betapa banyak pula yang berusaha untuk berbuat baik dipengaruhi syetan untuk menunda-nundanya.”

Keempat, Tidak Memanfaatkan Waktu Sebaik Mungkin untuk Beribadah.
Detik demi detik di bulan ini sangat bermanfaat. Maka jangan sekali-kali melewatinya dengan berbagai kegiatan yang tidak berguna. Jangan sampai kita keluar dari bulan Puasa dengan tangan kosong. Malamnya hanya diisi dengan canda tawa, bermain dan begadang, sementara siang harinya tidur pulas karena kelelahan dan kantuk yang berat.

Hari-hari Ramadhan penuh pahala tak terbilang, malamnya malam yang disaksikan. Tatkala datang Ramadhan, hendaknya kita dalam keadaan siap untuk sungguh-sungguh dalam menyambutnya, serta kita isi bulan itu dengan ketaatan dan ibadah, agar kelak mendapatkan kemenangan dan kenikmatan. Rasulullah SAW. menjelaskan, “Sungguh celaka orang yang sempat mendapati Ramadhan, kemudian tatkala Ramadhan berlalu, Allah masih juga belum mengampuninya.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim).

Di samping memperbanyak ibadah, bulan Ramadhan merupakan ajang yang sangat pas untuk berhenti dari berbagai perbuatan negatif, (yang mungkin dianggap sepele), padahal efeknya tidak tidak bisa dianggap remeh. Merokok misalnya. Jika pada siang harinya kita bisa menahan dari makan, minum dan juga merokok, maka seharusnya pada waktu malampun bisa menahan diri dari menghisap rokok.

Begitu juga dengan kebiasaan mendengarkan musik dan lagu-lagu yang dapat merusak hati, terlebih lagu-lagu tentang nafsu dan syahwat yang akan menerabas rasa malu dan cemburu. Terlalu banyak menonton film atau sinetron, dan acara-acara lain yang tidak bermanfaat. Bergaul dengan orang yang perangainya buruk, karena sedikit banyak kita bisa terpengaruh perilaku mereka. Pergi ke pasar, supermaket, mall dan seienisnya juga mempunyai pengaruh yang tidak baik. Sedapat mungkin jangan sampai terlalu sering pergi ke tempat-tempat seperti itu, kecuali jika ada keperluan untuk belanja. Pasar termasuk tempat buruk di muka bumi yang disana seringteriadi banyak fitnah dan tempat syetan-syetan berkumpul. Terlebih menggunakan waktu malam puasa untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang tidak dihalalkan.

Semua hal-hal di atas, bisa memalingkan kita dari mendekat kepada Allah. Akibatnya, puasa yang semestinya menjadi bulan mulia, tetap saia menjadi celah bagi syetan dan hawa nafsu yang bisa menjerumuskan. Alangkah meruginya orang-orang seperti itu.

Tim Rumah Ruqyah Indonesia
May 24, 2018
thumbnail

Hadzasy Syiblu min Dzakal Asad

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-20



Perkataan di atas bukanlah merupakan ayat juga merupakan merupakan hadits. Tetapi lebih dikenal sebagai ungkapan Arab. Singa kecil ini dari singa besar itu, begitu artinya. Menarik sekali mengkaji ungkapan ini. Walau nampak sederhana tetapi dalam maknanya. Anak singa yang masih kecil ini lahir dari singa besar. Ungkapan ini sering dipakai untuk mengungkapkan tentang keturunan atau generasi yang hebat yang terlahir dari sepasang orangtua hebat pula.

Seperti ketika mengungkap tentang kehebatan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma yang sedemikian hebat, shalih dan sangat ketat dalam menjaga dan mengikut sunnah Nabi. Bahkan yang bukan sunnah pun dilakukannya, asalkan hal tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah. Disinilah biasanya ungkapan singa kecil dan singa besar di atas dikeluarkan. Karena singa kecil ini lahir dari singabesar, Umar bin Khattab. Umar yang juga disebut sebagai waqqaf ‘ala assunnah (Yang sangat menjaga sunnah) telah berhasil mengcopy kehebatan dirinya pada putranya Abdullah.

Dan memang sudah seharusnya singa melahirkan singa, bukan melahirkan serigala pecundang atau burung unta yang pengecut. Singa lahir dari singa. Atau kalau yang terlahir adalah serigala, yang jelas adalah bahwa serigala lahir dari serigala pula. Jadi bukan hanya karena salah didik; karena memang begitulah cara serigala membesarkan anaknya. Akan terlahir serigala pula.
Dan kata singa kecilpun menunjukkan bahwa sejak kecilpun sudah harus menjadi singa. Karena betapa sering orang berapologi tentang anak yang tidak karuan saat kecilnya, sementara orangtuanya adalah tokoh agama, orang akan berkata: memang begitu calon orang besar, nakal waktu kecilnya

Lebih aneh lagi ungkapan sebagian orangtua yang memberikan alasan mengapa mereka membiarkan anak-anak laki-lakinya berkeliaran bebas tanpa batas, dimana mereka berkata: ahh.., biarin gak hamil ini. Miris, mendengarnya.

Benar berarti pilihan di atas. Generasi rusak itu karena terlahir dari keluarga rusak. Atau kalaupun orangtuanya adalah tokoh agama berarti kesibukan mengajari orang lain melupakan rumah sendiri. Walaupun mungkin ada pilihan lain. Seperti anak Nabi Nuh, kata orang. Tetapi biarkan yang ini menjadi ibrah, tetapi jangan menjadi pembenaran.

Karena sejarah generasi lslam yang terbentang luas bisa kita baca. Tak akan terlahir kehebatan putra Abu Dawud di bidang hadits tanpa kehebaan Abu Dawud sang ayah dalam ilmu hadits. Hanya saja, para ulama mengatakan bahwa sinar sang anak tertutup oleh sinar sang ayah. Seperti halnyaAbdullah putra lmam Ahmad. Dialah yang meriwayatkan kita musnad yang mencakup lebih dari 40.000 hadits langsung dari ayahnya. Demikian juga Ali bin Fudhail yang mempunyai hati sangat lembut di hadapan al-Qur'an. Bahkan dia disebutkan meninggal dalam shalat karena dibacakan ayat-ayat adzab, sehingga mendapatkan gelar Qotilul Qur’an (yang meninggal karena al-Qur'an). Dia terlahir dari seorang ayah yang mendapatkan gelar ‘abidul Haramain (Ahli ibadah di dua masjid suci). Dan masih banyak lagi contoh lain dalam sejarah.

Hari ini, masalah sangat serius bangsa ini adalah rusaknya generasi. Mereka yang terjungkal di narkoba. Mereka yang tidak kenal istilah hijrah. Mereka yang tidak pernah perhatian shalatnya apalagi ibadah lainnya. Mereka yang tidak tahu bagaimana harus berkata-katadihadapan orangua. Mereka yang tempat berkumpulnya adalah tempat dosa atau tempat sia-sia. Mereka yang mengecap kebaikan dengan stempel kekolotan, tidak gaul, kurang macho. Dan merekalah yang kelak memimpin negeri ini!

Sangat mungkin karena salah didik, mengingat lingkungan hari ini tidak mendukung lahirnya generasi shalih yang hebat. Tetapi jangan-jangan, memang karena dari serigala lah lahir serigala-serigala kecil itu.

Ust. Budi Ashari Lc
May 20, 2018