thumbnail

Fa alhamaha Fujuraha wa Taqwaha

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-26

  


  Hidup ini pilihan. Begitu kata banyak orang. Terserah kita, mau seperti apa alurnya. Terserah kita, mau ke mana arahnya. Terserah kita, akan bergaya seperti apa. Dan terserah kita, akan berakhir seperti apa.

  Gugatan sebagian orang kepada Tuhan, jelas tidak masuk di sini. Karena setiap kita sadar betul apa yang kita lakukan. Kita bukan wayang yang tidak punya kehendak dan terserah dalangnya. Kita mempunyai kehendak, dan kita sadar itu. Kita mampu memilih, dan kita tahu itu. Bahkan terkadang berhari-hari hingga berminggu-minggu kita memikirkan pilihan.

  Tetapi juga bukan berarti kita adalah segalanya. Semua kehendak yang kita miliki tidak pernah lepas dari kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Artinya, Allah Maha Tahu bahwa jika kita diberikan pilihan, kita akan memilih A. 

   Dengan ilmu Allah itulah, catatan taqdir ditorehkan untuk kita jalani. Yang kesemuanya terjadi di bawah ketentuan dan kehendak-Nya. Tidak ada yang keluar dari kuasa-Nya.

 Bukan masalah taqdir yang rumit, yang akan kita kaji pada kesempatan ini. Tetapi ini hanya untuk menegaskan bahwa kitalah yang memilih. Memilih corak hidup ini. Dan memilih kematian seperti apa yang kita inginkan.

   Seringkali, dua hal yang berlawanan hadir dalam satu waktu. Dalam satu bab. Yang satu pahala dan satunya lagi dosa. Keduanya disodorkan di hadapan hati kita. Kita yang menjadi hakimnya. Mana yang kita menangkan. Dengan hadirnya dua hal yang bertolak belakang, kita dan siapapun akan tahu seperti apa kualitas kita.

  Sebuah SMS masuk berbunyi, Dua berita, dua tokoh, yang satu sunnah yang satu dosa. Unik bunyi SMS tersebut, walau tidak djelaskan maksudnya. Tetapi, kita akan dengan sangat mudah menangkap maknanya. Keduanya telah sekian lama dilakukan. Tetapi bagian dari kehendak-Nya, keduanya muncul dalam waktu hampir bersamaan. 

  Begitulah, agar jelas buat semuanya. Pilihan masyarakat Muslim ini jatuh pada yang mana. Pada kasus yang mana protes orang lebih banyak. Pada hal yang mana, hukuman lebih berat dijatuhkan. Kasus mana yang mendapat label pengkhianatan cinta dan yang mendapat label atas nama cinta.

  Demikian pula pada kematian. Memang tidak pernah tahu kapan kita mati. Sementara kita diperintahkan agar yakin dengan kelslaman kita saat menghembuskan nafas terakhir. Ini artinya setiap detiknya kita harus yakin selalu dalam ketaatan. Agar saat malaikat pencabut nyawa hadir, kita masih Muslim.

  Karena Nabi hanya menyebut dua jenis pada tema kematian. Jenazah yang beristirahat atau masyarakat yang beristirahat darinya. Yang pertama orang shalih dan baik. Sementara yang kedua pelaku dosa dan orang jahat.

  Tidak ada pilihan ketiga. Tidak ada mati yang tengah-tengah. Husnul khotimah atau Suul Khotimah.

  Maka, tidak penting kita tahu kapan akan mati. Dan kita memang tidak akan pernah bisa tahu. Yang paling penting adalah kematian seperti apa yang kita inginkan. Kematian saat sujud atau kematian saat di meja judi. 

  Kematian di ujung peluru musuh Allah atau kematian di ujung jarum narkoba. Kematian saat memberi atau kematian saat merampas hak orang lain. Kematian saat melantunkan ayat atau kematian saat berlonjakan di konser musik. Kematian saat sedang bersama orang shalih atau kematian saat bercampur baur dengan orang yang dimurkai Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sekali lagi, karena tidak ada pilihan ketiganya.

Fa alhamaha Fujuroha wa Taqwaha “Maka Dia mengilhamkan (kepada setiap jiwa) jalan dosanya dan jalan taqwanya.” (Qs. Asy-Syams: 8)

Ustadz Budi Ashari Lc
May 26, 2018
thumbnail

Teman Syetan di Bulan Ramadhan

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-24

“Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamkan. 

Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasa dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Puasa memang bisa menekan banyak perilaku dosa. Apalagi di bulan Ramadhan. Puasa ramai-ramai, sahur ramai-ramai sekeluarga, berbuka pun beramai-ramai, di rumah, di kantor, di masjid dan di mana saja.

Tapi tetap saja, ada hal-hal yang sering menggagalkan kesempurnaan puasa. Dan itu artinya, celah-celah bagi munculnya dorongan hawa nafsu bisa muncul di tengah-tengah puasa kalau itu terjadi pada diri kita, akibatnya akan fatal. 

Kita tidak bisa meraih kesempurnaan puasa. Dan, bahkan justru bisa terjerumus kepada melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang tidak saja rugi, tapi menjadi teman-teman syetan. Berikut ini beberapa sebab yang bisa menjadi pintu bagi kegagalan meraih kesempurnaan puasa.

Pertama, Tidak Melakukan Puasa sesuai Tuntunan

Secara lahiriah, sekadar menahan makan, minum serta tidak berhubungan suami isteri di siang hari adalah perkara yang tidak sulit. Seperti perkataan ulama salaf, “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum.”

Namun puasa tidak hanya sampai di situ. Lebih jauh lagi adalah bagaimana memuasakan aspek lain dalam diri kita. Jabir berkata, “Jika kamu berpuasa, hendaklah pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan hal-hal yang diharamakan. 

Janganlah kamu menyakiti tetanggamu, hendaklah kamu tetap tenang di hari puasamu dan janganlah kamu menjadikan hari puasamu sama seperti hari di mana kamu tidak berpuasa.”

Perhatikanlah kisah yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad berikut. Bahwa pada masa Nabi Shallahu Alaihi Wassalam ada dua orang wanita berpuasa. Keduanya hampir saja mati karena kehausan. Lalu hal tersebut diceritakan kepada Nabi Shallahu Alaihi Wassalam Namun Rasul berpaling. 

Tak lama kemudian masalah tentang keduanya itu diceritakan kembali. Kemudian Rasul memanggil keduanya dan menyuruhnya untuk muntah. Ternyata kedua wanita itu memuntahkan semangkuk nanah, darah serta daging segar.

Setelah itu Nabi Shallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Sesungguhnya kedua wanita ini telah berpuasa dari hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, namun keduanya berbuka dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. 

Seorang dari mereka menghampiri temannya yang sedang duduk, lalu keduanya mulai memakan daging-daging manusia (membicarakan keburukan orang lain).” (Lathaif al-Ma’arif fi Ma li Mawasim al-‘Ammin al-Wadhaif, karya al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali)

Kedua, Berlebihan ketika Berbuka Puasa

Syetan punya jerat-jerat sendiri untuk mementahkan upaya perbaikan diri orang beriman. Jika lalai, bukan tidak mungkin seseorang tetap terjerat dalam jebakan syetan. Salah satu celah itu adalah saat orang berbuka dan memakan makanan hingga terlalu kenyang

Akibatnya ia menjadi sulit melakukan ibadah yang seharusnya dihidupkan di malam hari setelah puasa. Bentuk halangannya bisa bermacam-macam. Seperti malas, ngantuk, santai atau bahkan sakit perut. lni adalah jerat-jerat syetan.

lmam lbnul Jauzi rahimahullah mengutip perkataan Tsabit al-Bannany dalam kitab “Talbis lblis”, la berkata, “lblis pernah muncul di hadapan Nabi Yahya bin Zakariya AlaihiSalam. Beliau melihat banyak barang-barang yang menggantung pada diri lblis. 

Yahya bertanya, “Wahai iblis, apakah barang-barang yang menggantung pada dirimu itu?” la menjawab, “lni adalah nafsu-nafsu yang kupergunakan untuk mengail anak Adam.”

Yahya bertanya, “Apakah ada pula yang dituiukan untukku?” lblis menjawab, “Boleh jadi perutmu kenyang, lalu aku membuatmu merasa berat melaksanakan shalat dan dzikir.” “Adakah selain itu?” Tanya Yahya.

lblis meniawab, “Tidak ada, demi Allah.” Yahya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membuat perutku kenyang karena makanan untuk selama-lamanya.” lblis berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberi nasihat pada orang Muslim selama-lamanya.”

Ketiga, Menunda-nunda Amal Kebaikan hingga Akhirnya Lalai.

Bulan Puasa adalah bulan istimewa dan pelipatgandaan pahala amal kebaikan. Bayangkan salah satu bentuk keistimewaan bulan Ramadhan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam 

“Segala amal kebaikan manusia adalah untuknya. Satu kebaikan akan dibalas sepuluh hingga 700 kali-liPat. Allah Subhanau Wa Ta'ala berfirman, ‘Kecuali Puasa, karena ia adalah milik-Ku dan Aku pula yang akan membalasnya. La (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya karena Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tapi keistimewaan itu sedikit demi sedikit akan hilang ketika orang yang berpuasa pasif dari amal amal sholeh dan menunda-nunda kebaikan yang harusnya dikerjakan dan diperbanyak di bulan puasa. 

Imam lbnul Jauzi dalam kitab ‘Talbis lblis’ berkata, “Betapa banyak orang yang bertekad teguh, dibuat menanti-nanti”. Artinya adalah dibuat berkata “nanti saja” oleh syetan. lbnul Jauzi melanjutkan, “Betapa banyak pula yang berusaha untuk berbuat baik dipengaruhi syetan untuk menunda-nundanya.”

Keempat, Tidak Memanfaatkan Waktu Sebaik Mungkin untuk Beribadah.

Detik demi detik di bulan ini sangat bermanfaat. Maka jangan sekali-kali melewatinya dengan berbagai kegiatan yang tidak berguna. Jangan sampai kita keluar dari bulan Puasa dengan tangan kosong. Malamnya hanya diisi dengan canda tawa, bermain dan begadang, sementara siang harinya tidur pulas karena kelelahan dan kantuk yang berat.

Hari-hari Ramadhan penuh pahala tak terbilang, malamnya malam yang disaksikan. Tatkala datang Ramadhan, hendaknya kita dalam keadaan siap untuk sungguh-sungguh dalam menyambutnya, serta kita isi bulan itu dengan ketaatan dan ibadah, agar kelak mendapatkan kemenangan dan kenikmatan. 

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam menjelaskan, “Sungguh celaka orang yang sempat mendapati Ramadhan, kemudian tatkala Ramadhan berlalu, Allah masih juga belum mengampuninya.” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim).

Di samping memperbanyak ibadah, bulan Ramadhan merupakan ajang yang sangat pas untuk berhenti dari berbagai perbuatan negatif, (yang mungkin dianggap sepele), padahal efeknya tidak bisa dianggap remeh. 

Merokok misalnya. Jika pada siang harinya kita bisa menahan dari makan, minum dan juga merokok, maka seharusnya pada waktu malam pun bisa menahan diri dari menghisap rokok.

Begitu juga dengan kebiasaan mendengarkan musik dan lagu-lagu yang dapat merusak hati, terlebih lagu-lagu tentang nafsu dan syahwat yang akan menerabas rasa malu dan cemburu. Terlalu banyak menonton film atau sinetron, dan acara-acara lain yang tidak bermanfaat. 

Bergaul dengan orang yang perangainya buruk, karena sedikit banyak kita bisa terpengaruh perilaku mereka. Pergi ke pasar, supermaket, mall dan sejenisnya juga mempunyai pengaruh yang tidak baik. 

Sedapat mungkin jangan sampai terlalu sering pergi ke tempat-tempat seperti itu, kecuali jika ada keperluan untuk belanja. Pasar termasuk tempat buruk di muka bumi yang disana sering terjadi banyak fitnah dan tempat syetan-syetan berkumpul. Terlebih menggunakan waktu malam puasa untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang tidak dihalalkan.

Semua hal-hal di atas, bisa memalingkan kita dari mendekat kepada Allah. Akibatnya, puasa yang semestinya menjadi bulan mulia, tetap saja menjadi celah bagi syetan dan hawa nafsu yang bisa menjerumuskan. Alangkah meruginya orang-orang seperti itu.

Tim Rumah Ruqyah Indonesia
May 24, 2018
thumbnail

Hadzasy Syiblu min Dzakal Asad

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-20

Perkataan di atas bukanlah merupakan ayat juga bukan merupakan merupakan hadits. Tetapi lebih dikenal sebagai ungkapan Arab. 

Singa kecil ini dari singa besar itu, begitu artinya. Menarik sekali mengkaji ungkapan ini. Walau nampak sederhana tetapi dalam maknanya. 

Anak singa yang masih kecil ini lahir dari singa besar. Ungkapan ini sering dipakai untuk mengungkapkan tentang keturunan atau generasi yang hebat yang terlahir dari sepasang orangtua hebat pula.

Seperti ketika mengungkap tentang kehebatan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma yang sedemikian hebat, shalih dan sangat ketat dalam menjaga dan mengikut sunnah Nabi. Bahkan yang bukan sunnah pun dilakukannya, asalkan hal tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah. 

Disinilah biasanya ungkapan singa kecil dan singa besar di atas dikeluarkan. Karena singa kecil ini lahir dari singa besar, Umar bin Khattab. Umar yang juga disebut sebagai waqqaf ‘ala assunnah (Yang sangat menjaga sunnah) telah berhasil mengcopy kehebatan dirinya pada putranya Abdullah.

Dan memang sudah seharusnya singa melahirkan singa, bukan melahirkan serigala pecundang atau burung unta yang pengecut. Singa lahir dari singa. Atau kalau yang terlahir adalah serigala, yang jelas adalah bahwa serigala lahir dari serigala pula. 

Jadi bukan hanya karena salah didik; karena memang begitulah cara serigala membesarkan anaknya. Akan terlahir serigala pula.

Dan kata singa kecil pun menunjukkan bahwa sejak kecil pun sudah harus menjadi singa. Karena betapa sering orang berapologi tentang anak yang tidak karuan saat kecilnya, sementara orangtuanya adalah tokoh agamaa, orang akan berkata: memang begitu calon orang besar, nakal waktu kecilnya

Lebih aneh lagi ungkapan sebagian orangtua yang memberikan alasan mengapa mereka membiarkan anak-anak laki-lakinya berkeliaran bebas tanpa batas, dimana mereka berkata: ahh.., biarin gak hamil ini. Miris, mendengarnya.

Benar berarti pilihan di atas. Generasi rusak itu karena terlahir dari keluarga rusak. Atau kalaupun orangtuanya adalah tokoh agama berarti kesibukan mengajari orang lain melupakan rumah sendiri. Walaupun mungkin ada pilihan lain. Seperti anak Nabi Nuh, kata orang. Tetapi biarkan yang ini menjadi ibrah, tetapi jangan menjadi pembenaran.

Karena sejarah generasi lslam yang terbentang luas bisa kita baca. Tak akan terlahir kehebatan putra Abu Dawud di bidang hadits tanpa kehebatan sang ayah dalam ilmu hadits. Hanya saja, para ulama mengatakan bahwa sinar sang anak tertutup oleh sinar sang ayah. 

Seperti halnya Abdullah putra lmam Ahmad. Dialah yang meriwayatkan kitab musnad yang mencakup lebih dari 40.000 hadits langsung dari ayahnya. Demikian juga Ali bin Fudhail yang mempunyai hati sangat lembut di hadapan al-Qur'an. 

Bahkan dia disebutkan meninggal dalam shalat karena dibacakan ayat-ayat adzab, sehingga mendapatkan gelar Qotilul Qur’an (yang meninggal karena al-Qur'an). Dia terlahir dari seorang ayah yang mendapatkan gelar ‘abidul Haramain (Ahli ibadah di dua masjid suci). Dan masih banyak lagi contoh lain dalam sejarah.

Hari ini, masalah sangat serius bangsa ini adalah rusaknya generasi. Mereka yang terjungkal di narkoba. Mereka yang tidak kenal istilah hijrah. Mereka yang tidak pernah perhatian shalatnya apalagi ibadah lainnya. 

Mereka yang tidak tahu bagaimana harus berkata-kata dihadapan orangua. Mereka yang tempat berkumpulnya adalah tempat dosa atau tempat sia-sia. Mereka yang mengecap kebaikan dengan stempel kekolotan, tidak gaul, kurang macho. Dan merekalah yang kelak memimpin negeri ini!

Sangat mungkin karena salah didik, mengingat lingkungan hari ini tidak mendukung lahirnya generasi shalih yang hebat. Tetapi jangan-jangan, memang karena dari serigala lah lahir serigala-serigala kecil itu.

Ustadz. Budi Ashari Lc
May 20, 2018
thumbnail

Telapak Tangan Gatal, Pertanda Datangnya Rizki?

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-17

Katanya, bila telapak tangan gatal adalah pertanda baik, karena tidak lama lagi akan menerima uang yang cukup besar nilainya.

Bagi orang-orang yang percaya dengan mitos katanya ini, dia akan cengar-cengir bila tiba-tiba telapak tangannya gatal. “Wah … akan dapat rizki nomplok nih.” Dalam hatinya di bertanya-tanya darimana gerangan rizki itu datang sambil harap-harap cemas. 

Atau bahkan sudah membuat rencana, mau dikemanakan uang itu nantinya. Maklum rizki itu datang tanpa diduga alias tidak perlu bersusah payah.

Entahlah, apa hubungan antara gatal dan uang. Secara logika jelas tidak ada hubungannya. Keduanya seperti utara dan selatan, atau barat dan timur. Praktis tidak bisa disatukan. Tapi mengapa pula mitos ini berkembang di berbagai wilayah kepulauan Indonesia, mulai dari Jawa hingga Sulawesi.

Kalau mau diotak-atik biar mathuk, yang menjadi jembatan antara datangnya uang dan gatal hanyalah telapak tangan. Karena pemberian orang lain dalam bentuk apapun harus diterima dengan telapak tangan.

Memang, tidak mungkin orang menerima uang dengan kaki. Karena bila ada seorang diberi uang kemudian diterima dengan kaki, bisa dijamin sang pemberi uang akan mengurungkan niatnya. Atau bisa jadi dia langsung marah besar. Masih mending bila hanya dimarahi kalau sampai kaki dan tangan melayang, urusannya bisa gawat. Pak Polisi akan ikut campur tangan. Betul kan …

Tapi mengapa hanya telapak tangan yang dijadikan pathokan dan pula anggota badan lainnya. Kepala misalnya. Bukankah dari otak segala hal bisa dipola? Sedangkan otakkan bersemayam di kepala.

Nah, enakkan bila yang gatal itu kepala. Dengan mitos semacam ini tinggal sebut keinginannya. Dan tak lama kemudian apa yang terbayangkan itu akan terkabul. Tapi itulah kenyataannya, mitos yang mengasyikkan ini tidak ada kenyataannya. Karena si pembuat mitos tidak berani menyebarkan mitos ini, bisa dijamin kebohongannya akan langsung terbongkar.

Ngomong-ngomong tentang masalah rizki, sesungguhnya setiap orang sudah jelas ketentuan bagiannya. Hanya memang kita tidak tahu seberapa banyak rizki untuk kita kecuali setelah turun.

Kisah Umar bin Khottob sangat menarik untuk dijadikan pelajaran. Suatu hari di terpesona melihat seseorang yang khusyu’ berdoa di Masjid. Tapi kemudian rasa senangnya semakin pudar ketika melihat orang itu berhari-hari hanya duduk berdoa di Masjid tanpa mau bekerja. Sehingga keluarlah kata-kata bijak, “Sesungguhnya langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.”

Kisah ini sejalan dengan  mitos telapak tangan gatal. Artinya menunggu sampai satu bulan pun bila tidak diiringi dengan kerja tentu tidak ada yang memberi kita uang. Kalaupun ada, itu hanya karena belas kasihan dan sekedar untuk jajan. Karenanya jangan sampai membuat seseorang bermalas-malasan.

Nah, bagaimana pula kalau setelah telapak tangan gatal, benar-benar ada yang mengantarkan rizki? Tentu ini adalah kebetulan. Karena dari sekian kali telapak tangan kita gatal, mungkin hanya satu atau dua yang kebetulan benar dengan mitos katanya ini. Kebetulan bukanlah sandaran hukum.

Yang jelas, kalau gatal harus digaruk. Atau periksalah, jangan-jangan ada kutu air atau penyakit kulit lainnya. Harus segera dicarikan obatnya. Dan bukan dikait-kaitkan dengan mitos yang bisa membahayakan keimanan.

Ingatlah! Jangan sampai mitos ‘katanya’ ini merusak akhirat dan dunia kita, karena terlena oleh impian harta.

Ustadz Muswadi Ahmad, Lc
May 17, 2018
thumbnail

Jangan Nunjuk Kuburan..?

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-08

Katanya, kawasan pemakaman merupakan daerah angker yang tidak boleh berulah sembarangan di sana. Menunjuk dengan jari telunjuk misalnya. 

Bila itu terjadi, maka menurut mitos katanya, jari-jemarinya dikhawatirkan akan kithing. Itu lho jari-jemarinya yang kaku dan tertekuk ke telapak tangan, tidak lagi bisa digerakkan.

Mitos katanya ini tidak pelak lagi menakutkan kebanyakan anak-anak yang tumbuh berkembang di daerah yang mempercayainya. “Waktu kecil dulu menyembunyikan tangan di balik baju bila melewati kuburan. Saya khawatir bila tanpa sadar tangan saya bergerak dan menunjuk sesuatu di kuburan,” kenang seorang teman yang berasal dari Jawa Timur mengingat masa kecilnya.

Kasihan anak kecil tersebut. Hanya karena mitos yang tidak berdasar dia harus menyimpan kekahawatiran sedemikian rupa. Apalagi sebagian area pemakaman terletak persis di samping jalan raya. Jalan alternative pun tak ada, maka mau tidak mau ia harus tetap melewati kawasan pemakaman dengan dada berdebar-debar.

Memang aneh mitos ini. Alasan mengapa jari menjadi kithing belum diketahui dengan pasti. Penyikapannya juga menggelikan. Bayangkan, seseorang yang terlanjur menunjuk ke sana kemari ketika berada di area pemakaman, dia harus mengulum jari telunjuknya. 

Persis seorang bayi yang sedang kehausan dan minta susu. Kemudian jari telunjuknya diacungkan ke atas hingga kering. Ia harus tetap dalam posisi seperti itu hingga ludah yang menempel di jari telunjuk menjadi kering terkena sinar matahari atau hembusan angin. 

Ia tidak boleh mengusap dan mengeringkannya dengan benda apapun. Kasihan deh loe, hanya karena percaya pada mitos katanya ini, ia harus berpose bak Patung Liberty di New York. Ada juga yang menyikapinya dengan cara lain lagi.

Dalam kacamata Islam, sesungguhnya kawasan pemakaman tidak harus ditakuti. Karena kuburan adalah tempat persinggahan sementara. Toh, pada akhirnya semua makhluk yang bernyawa juga mengalami nasib yang sama, termasuk kita. 

Dimasukkan ke dalam liang lahat dan menjadi santapan binatang-binatang bawah tanah. Yang membedakan antara yang satu dengan lainnya hanyalah waktu semata. Saat ini mereka, para penghuni kuburan, telah mendahului kita. Dan siapa tahu esok atau lusa kita segera menyusul mereka, menjadi penghuni kuburan untuk sekian waktu lamanya.

Masalah kithing atau nggak kithing tidak berhubungan sama sekali dengan menunjuka kuburan. Tangan cacat itu bisa bawaan sejak lahir atau memang dia mempunyai penyakit. Jadi bukan karena kesalahan telunjuk menunjuk kuburan.

Padahal ada sesuatu lain yang layak untuk ditakuti dibandingkan mitos yang hanya bersumber katanya. Siksa kubur misalnya. Rasa takut semacam ini seyogyanya ditanamkan sejak dini. Karena keimanan kepada sesuatu yang bersifat ghoib akan menjadi rem yang mencegah kita berbuat buruk. Sejak empat belas abad yang lalu Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam Berpesan kepada para shahabat agar banyak mengingat kematian, “Perbanyaklah mengingat kematian.” (HR. Ibnu Majah).

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam dan para shahabat biasa masuk ke areal pemakaman dan tidak takut. Karena itu adalah tempat yang paling untuk mengingatkan kita pada akhirat. Bahkan terkadang Nabi sendirian datang ke kuburan di malam yang gulita untuk mendoakan shahabat beliau yang telah pergi dahulu.

Gara-gara takut menunjuk kuburan, akhirnya begitu lewat kita berpaling sebisa mungkin dan lupa sunnah Nabi. Seperti mengucapkan salam untuk para penghuni kubur. Seharusnya kita mendapatkan pahala, eh malah termakan mitos katanya yang tidak berdalil. Untuk itu, tetaplah waspada terhadap mitos yang hanya berdasarkan katanya. Jangan kotori akidah dengan debu-debu 'katanya'.

Ustadz Muswadi Ahmad Lc
May 08, 2018
thumbnail

Batu Pusaka Untuk Penjagaan

Posted by rumah ruqyah on 2018-05-05


Ibu Widya (bukan nama sebenarnya) berkisah, “Awal kepemilikan saya terhadap jimat ini saya dapatkan dari ayah saya, dan beliau pun mendapat warisan dari buyut yang katanya jagoan dan ngarti dengan hal-hal yang begituan

Ketika ayah saya sakit keras, kami sekeluarga khawatir kalau-kalau “aya nu ngabeung-beuratan” (memberatkan ) ayah saya ketika menghadapi sakaratul maut. Karena kata orang kalau punya ilmu-ilmu kadigdayaan atau jimat-jimat, biasanya matinya susah. 

Maka kami sekeluarga membongkar benda-benda jimat yang pernah dimilki oleh ayah dan ternyata ada beberapa jimat yang ayah miliki. Lalu sebagian ada yang dibakar, dimusnahkan dan yang ini (sebuah batu bulat) dibawa oleh uwa (paman) saya untuk “ditarekahan” diusahakan agar tidak ada lagi penunggunya. Lalu kata uwa saya bahwa benda ini sudah bersih, sudah tidak ada ‘isinya’ namun untuk lebih meyakinkan maka benda ini saya bawa dan saya serahkan ke kantor Rumah Ruqyah Indonesia.

Sebenarnya saya ngga percaya dengan hal-hal yang seperti itu, dan ayah sayapun ngga punya ilmu-ilmu yang begituan. Apalagi setelah saya membaca Majalah Ghoib semakin yakin dan mantap untuk tidak berhubungan dengan hal-hal seperti itu karena hal itu bisa membawa kemusyrikan, sedangkan kita tahu bahwa perbuatan syirik tidak akan diampuni dosanya kalau kita mati dalam kondisi mensekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Harapan saya semoga semua keluarga dan pembaca setia Majalah Ghoib terbebas dari gangguan jin-jin yang zalim dan terbebas dari perbuatan syirik. Aqidah kita yang benar hanya mengesakan Allah semata dan dibersihkan dari noda-noda syirik yang memang sudah mengakar di masyarakat kita.”

Bentuk Jimat

Jimat ini terbuat dari batu alam berbentuk bulat oval seperti telur, dengan warna dasar hitam dan garis-garis putih yang melingkari seluruh batu itu dan tampak indah jika dilihat dari jauh, seperti batu hiasan yang biasa di letakkan di atas meja atau di dalam rak lemari.

‘Kesaktian Jimat’

Jimat ini diyakini berkhasiat untuk menangkal bahaya yang akan datang atau memberikan pengamanan dan penjagaan kepada pemilik dan semua keluarganya.

Bongkar Jimat

Adalah fitrah manusia untuk selamat dan terbebas dari gangguan yang menghampiri dirinya dan orang-orang tercinta di sekitarnya, lalu mencari perlindungan dan sandaran kepada hal yang dia anggap lebih memiliki kekuatan daripada dirinya.

Memang hal itu sah-sah saja dilakukan, hanya saja jika mencari perlindungan dan tempat bersandar yang salah itulah yang jadi masalah. Boleh jadi hal itu akan menjerumuskan kita ke dalam kemusyrikan. Seperti yang dilakukan oleh ibu yang tinggal di Jawa Barat ini, yang menyimpan jimat untuk menolak bala dan menjaga keselamatan keluarganya yang ia dapatkan sebagai warisan dari kakek buyutnya.

Dalam ajaran Islam, memberikan warisan kepada anak keturunan memang sudah ada tuntunannya, bahkan begitu rinci Allah menjelaskan bagian tiap masing-masing ahli waris dimana Allah tidak menjelaskan secara rinci tentang suatu hukum seperti hukum warisan ini.

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar meninggalkan anak keturunan dalam keadaan kuat dan tidak menjadi beban buat orang lain. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9).

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Khaulah bin Sa’d: “Wahai Sa’d, sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka lemah dan menjadi beban manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun apa dulu yang diwariskan? Apakah benda-benda seperti itu layak dan pantas diwariskan kepada anak cucu kita?

Para pembaca budiman. Bukanlah jimat, benda keramat dan lain sebagainya yang diwariskan kepada anak cucu kita. Karena itu sama saja dengan mewariskan kesyirikan dan kemusyrikan kepada mereka. Yang Allah anjurkan adalah harta yang halal lagi bermanfaat dan diridhai oleh Allah.

Adalah benar sikap yang diambil oleh Ibu Widya tersebut, dengan menyerahkan jimat itu ke tempat yang tepat untuk dimusnahkan dan bertaubat dari kesyirikan.

Nah! Bagi siapapun yang ingin membersihkan aqidahnya dari noda-noda kesyirikan, tak ada salahnya mengikuti langkah yang ditempuh oleh Ibu Widya tadi dengan memusnahkan benda-benda syirik yang ada di rumah kita, baik dimusnahkan sendiri atau dengan mengantarkannya ke Rumah Ruqyah Indonesia. Siapa menyusul?

Tim Rumah Ruqyah Indonesia

***

Punya benda-benda yang serupa jimat atau memang diyakini sebagai Jimat? Jangan ragu! Silahkan datang ke Rumah Ruqyah Indonesia. Semoga dengan niat karena Allah semata, menjadikan asbab Ampunan dan Pahala dariNya.
May 05, 2018