Karamah Versus Kahanah



Karamah (kemuliaan) yang datangnya dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang tidak selalu dihubungkan dengan yang ghaib. Begitu pula orang yang bisa berhubungan dengan yang ghaib tidak selalu sebagai hamba yang mendapatkan karamah.

Karamah Umar bin Khaththab ra. misalnya, ketika beliau sedang berkhuthbah di Madinah. tiba-tiba Allah tunjukkan kepadanya kondisi pasukan kaum muslimin yang tengah terdesak di daerah Syam. Maka beliau spontan berteriak: ”Wahai Sariyah! Lari ke gunung, lari ke gunung!” Teriakan beliau itu ternyata didengar jelas oleh mereka, dan mereka pun sangat mengenali suara siapa itu, mereka langsung lari ke gunung, dan selamatlah mereka. Setelah teriak itupun Umar melanjutkan khuthbahnya dan tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka setelah itu. Umar tidaklah tahu hal-hal yang ghaib, apa yang dia alami itu hanyalah sebuah 'firasatul mukmin' yang Allah berikan pada saat itu sebagai karamah baginya.

Tidak ada satupun ulama yang mencatatkan bagaimana caranya mendapatkan karamah semacam itu, atau amalan apa yang dilakukan Umar sehingga pandangan mata dan suaranya menembus ribuan kilometer. Akhir kehidupan Umar bin Khaththab adalah bukti nyata bahwa dirinya tidak tahu yang ghaib, ketika dia memimpin shalat shubuh, tiba-tiba Abu Lu’lu’ yang beragama majusi menikam beliau dengan beberapa tikaman dan melukai tiga belas shahabat yang berjamaah shubuh pada waktu itu, kemudian Abu Lu’lu’ pun bunuh diri di depan masjid.

Tidak ada seorangpun dari para shahabat yang tahu rencana jahat Abu Lu’lu’, padahal mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah generasi lslam terbaik. Umar dan para shahabat yang terluka dalam kegelapan shubuh berdarah itu, memang mereka tidak dijaga jin khadam dan tidak pemah dikenal ada amalan untuk mencari khadam.

Kahanah (perdukunan) tidak pernah lepas hubungan dengan masalah ghaib. baik itu menyangkut kekuatan (energi) ghaib, berita (informasi) ghaib, melihat makhluk ghaib, bantuan ghaib, penyembuhan ghaib, bisikan ghaib. sampai pada masalah hubungan seksual dengan makhluk ghaib.

Ada banyak pertanyaan seputar masalah kahanah yang mirip-mirip karamah dari berbagai Negara lslam yang ditujukan kepada ldaratul Buhutsil ‘llmiyah wal lfta’ (kantor riset ilmiah dan fatwa) di Riyadh Arab Saudi yang dulu dipimpin oleh Almarhum Syekh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Di antara contoh-contoh kahanah (perdukunan) yang samar adalah:

1.  Ada seorang yang membaca ayat-ayat tertentu dengan jumlah tertentu. dengan waktu tertentu untuk menarik kembali barang yang hilang atau untuk mengetahui keberadaan barang yang hilang, terkadang ada yang di ketemu kan dan ada yang bisa kembali, terkadang juga tidak bisa. Bolehkah hal yang demikian itu dilakukan? Tentu saja menekuni sebuah amal yang tidak dianjurkan dalam lslam adalah munkar, tidak ada ayat untuk menarik barang yang hilang. Seandainya ada, kenapa kalung Aisyah ra., istri Rasulullah SAW. yang hilang dalam perjalanan pulang ke Madinah tidak diketahui tempatnya? Kenapa tidak turun ayat untuk menarik kembali kalung itu? Melakukan amalan bid’ah hanyalah sebagai syarat datangnya bantuan ghaib, yaitu dari jin.

2.  Di Zambiya ada seorang muslim yang tampaknya taat beribadah, ia mengaku punya teman dari jin yang pandai mengobati pasien, banyak orang yang datang kepadanya untuk berobat, kemudian jin itu menyampaikan resepnya melalui bisikan ghaib. lni juga bentuk perdukunan yang tidak sedikit di negeri kita. Yang dinilai bukan hanya sekedar apa obatnya, tetapi mendatangi seorang dukun untuk bertanya adalah haram. Sedangkan menggunakan obat atas saran dukun itu adalah berarti membenarkan dan mempercayai berita ghaib dari jin tentang obat itu. Lni adalah kemusyrikan yang sangat terselubung.

3.  Ada seorang penanya mengatakan:  "Seorang thabib Arab dalam mengobati saya sebagai pasiennya dengan cara memasukkan saya ke dalam kamar yang gelap. Kemudian dia bacakan al-Qur'an dan beberapa ayat pilihan, kemudian ia panggiI nama-nama wali Allah yang shaleh, setelah itu saya mendengar suara burung besar masuk, saya dengar jelas kepakan sayapnya. tapi tidak terlihat sedikitpun. Kemudian megeluarkan suara keras dan menyampaikan salam kepada saya dengan memanggil nama saya, tapi tidak tampak wujud fisiknya, saya rasakan ada sentuhan di punggung saat saya diperiksa, sedangkan saya masih sakit sekali. Suara itu mengatakan: “Berdzikirlah dengan menyebut asma Allah dan bershalawatlah kepada Nabi.” Setelah selesai pemeriksaan, suara itu mengatakan : “Penyakitmu itu demikian-demikian, penyembuhannya tidak bersama saya, tetapi pergilah ke dokter umum, kamu harus rawat inap di sana.” Setelah saya diperiksa, thabib itu tidak meminta upah sedikitpun, karena ia mengobati saya lillahi ta'ala. Maka saya ke dokter umum dan rawat inap di sana, sampai akhimya saya sembuh dengan izin Allah.

Memohon kepada arwah wali Allah berarti ibadah kepada mereka, karena berdoa adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. lnilah syarat datangnya bantuan jin untuk pengobatan, sehingga banyak orang awam menyangkanya sebagai karamah.

Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan semacam itu dalam kitab Fatawa AI-Lajnah Ad-Daimah lil buhutsit ‘ilmiyyah wal lfta’dikategorikan kahin (dukun) dan ‘arraf (orang yang mengaku tahu hal yang ghaib) yang kita dilarang keras untuk mendatangi mereka, sebagaimana RasuIullah SAW. bersabda: “Barangsiapa mendatangi seorang ‘arraf atau kahin (dukun), kemudian ia membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Imam yang empat dan lmam Hakim).

Karamatul Auliya
Orang yang memiliki keimanan yang bersih dan selalu melakukan mujahadah dalam ibadahnya kepada Allah. la akan merasakan manisnya iman dalam dirinya. Seorang mukmin yang demikian sifatnya, terkadang diberi firasat (ketajaman mata hati), mendapatkan mimpi yang baik, keistimewaan di luar kebiasaan orang pada umumnya. Itu semua tidak boleh kita terima kecuali apabila selaras dengan prinsip Al Qur'an dan As Sunnah. Apabila bertentangan dengan keduanya atau salah satunya, maka itulah kahanah (perdukunan) yang dibantu oleh syetan.

Karamah merupakan kemuliaan dari Allah bagi hamba tersebut untuk menyingkap bahaya atau mendatangkan manfaat, atau memberi pembelaan kepadanya dalam kebenaran. Tetapi seorang hamba tidaklah kuasa untuk mendatangkan perkara yang luar biasa tersebut saat ia inginkan atau diminta orang lain, sebagaimana seorang nabi tidak mampu mendatangkan mu’jizat karena kehendaknya sendiri. Tongkat Nabi Musa AS menjadi ular hanya saat diperintahkan oleh Allah untuk dilemparkan, ia bukan tongkat sakti yang bisa menjelma menjadi ular.

Para wali Allah tidak mampu mendatangkan bahaya atau menyingkap bahaya, mendatangkan manfaat atau mencegah manfaat yang datangnya dari Allah. Bahkan mereka tidak punya kekuasaan ghaib sedikitpun. kecuali apa yang telah Allah tentukan baginya: seperti terkabulkan doanya, d iterima nasihatnya, di berkahi iImunya, di berkahi hartanya, diberkahi keluarganya dan sebagainya dalam urusan yang biasa dilakukan orang lain dengan izin Allah. Maka wali Allah bukanlah orang yang bisa memberi pagar benteng ghaib kepada orang lain agar tidak terkena bencana atau tergoda syetan. Kecuali hanya membacakan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Tim  Rumah Ruqyah Indonesia

Comments