thumbnail

Karamah Versus Kahanah

Posted by rumah ruqyah on 2018-03-22





  Karamah (kemuliaan) yang datangnya dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang tidak selalu dihubungkan dengan yang ghaib. Begitu pula orang yang bisa berhubungan dengan yang ghaib tidak selalu sebagai hamba yang mendapatkan karamah.

  Karamah Umar bin Khaththab Radhiyallahu'anhu misalnya, ketika beliau sedang berkhuthbah di Madinah. tiba-tiba Allah tunjukkan kepadanya kondisi pasukan kaum Muslimin yang tengah terdesak di daerah Syam. Maka beliau spontan berteriak: ”Wahai Sariyah! Lari ke gunung, lari ke gunung!” 

  Teriakan beliau itu ternyata didengar jelas oleh mereka, dan mereka pun sangat mengenali suara siapa itu, mereka langsung lari ke gunung, dan selamatlah mereka. Setelah teriak itu pun Umar melanjutkan khuthbahnya dan tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka setelah itu. 

  Umar tidaklah tahu hal-hal yang ghaib, apa yang dia alami itu hanyalah sebuah 'firasatul Mukmin' yang Allah berikan pada saat itu sebagai karamah baginya.

  Tidak ada satu pun ulama yang mencatatkan bagaimana caranya mendapatkan karamah semacam itu, atau amalan apa yang dilakukan Umar sehingga pandangan mata dan suaranya menembus ribuan kilometer. Akhir kehidupan Umar bin Khaththab adalah bukti nyata bahwa dirinya tidak tahu yang ghaib, ketika dia memimpin shalat Shubuh, tiba-tiba Abu Lu’lu’ yang beragama majusi menikam beliau dengan beberapa tikaman dan melukai tiga belas shahabat yang berjamaah Shubuh pada waktu itu, kemudian Abu Lu’lu’ pun bunuh diri di depan Masjid.

  Tidak ada seorang pun dari para shahabat yang tahu rencana jahat Abu Lu’lu’, padahal mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah generasi lslam terbaik. Umar dan para shahabat yang terluka dalam kegelapan Shubuh berdarah itu, memang mereka tidak dijaga jin khadam dan tidak pemah dikenal ada amalan untuk mencari khadam.

  Kahanah (perdukunan) tidak pernah lepas hubungan dengan masalah ghaib. baik itu menyangkut kekuatan (energi) ghaib, berita (informasi) ghaib, melihat makhluk ghaib, bantuan ghaib, penyembuhan ghaib, bisikan ghaib. sampai pada masalah hubungan seksual dengan makhluk ghaib.

   Ada banyak pertanyaan seputar masalah kahanah yang mirip-mirip karamah dari berbagai negara lslam yang ditujukan kepada ldaratul Buhutsil ‘llmiyah wal lfta’ (kantor riset ilmiah dan fatwa) di Riyadh Arab Saudi yang dulu dipimpin oleh Almarhum Syekh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Di antara contoh-contoh kahanah (perdukunan) yang samar adalah:

Tanya : 1. Ada seorang yang membaca ayat-ayat tertentu dengan jumlah tertentu. dengan waktu tertentu untuk menarik kembali barang yang hilang atau untuk mengetahui keberadaan barang yang hilang, terkadang ada yang di ketemu kan dan ada yang bisa kembali, terkadang juga tidak bisa. 

  Bolehkah hal yang demikian itu dilakukan? 

Jawaban : Tentu saja menekuni sebuah amal yang tidak dianjurkan dalam lslam adalah munkar, tidak ada ayat untuk menarik barang yang hilang. Seandainya ada, kenapa kalung Aisyah Radhiyallahu'anhu., istri Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam yang hilang dalam perjalanan pulang ke Madinah tidak diketahui tempatnya? Kenapa tidak turun ayat untuk menarik kembali kalung itu? Melakukan amalan bid’ah hanyalah sebagai syarat datangnya bantuan ghaib, yaitu dari jin.

Tanya : 2.  Di Zambiya ada seorang Muslim yang tampaknya taat beribadah, ia mengaku punya teman dari jin yang pandai mengobati pasien, banyak orang yang datang kepadanya untuk berobat, kemudian jin itu menyampaikan resepnya melalui bisikan ghaib.

Jawaban :  lni juga bentuk perdukunan yang tidak sedikit di negeri kita. Yang dinilai bukan hanya sekedar apa obatnya, tetapi mendatangi seorang dukun untuk bertanya adalah haram. Sedangkan menggunakan obat atas saran dukun itu adalah berarti membenarkan dan mempercayai berita ghaib dari jin tentang obat itu. Ini adalah kemusyrikan yang sangat terselubung.

Tanya : 3. Ada seorang penanya mengatakan:  "Seorang thabib Arab dalam mengobati saya sebagai pasiennya dengan cara memasukkan saya ke dalam kamar yang gelap. Kemudian dia bacakan al-Qur'an dan beberapa ayat pilihan, kemudian ia panggiI nama-nama wali Allah yang shaleh, setelah itu saya mendengar suara burung besar masuk, saya dengar jelas kepakan sayapnya. tapi tidak terlihat sedikitpun. 

  Kemudian mengeluarkan suara keras dan menyampaikan salam kepada saya dengan memanggil nama saya, tapi tidak tampak wujud fisiknya, saya rasakan ada sentuhan di punggung saat saya diperiksa, sedangkan saya masih sakit sekali. 

  Suara itu mengatakan: “Berdzikirlah dengan menyebut asma Allah dan bershalawatlah kepada Nabi.” Setelah selesai pemeriksaan, suara itu mengatakan : “Penyakitmu itu demikian-demikian, penyembuhannya tidak bersama saya, tetapi pergilah ke dokter umum, kamu harus rawat inap di sana.” Setelah saya diperiksa, thabib itu tidak meminta upah sedikit pun, karena ia mengobati saya lillahi ta'ala. Maka saya ke dokter umum dan rawat inap di sana, sampai akhimya saya sembuh dengan izin Allah.

Jawaban : Memohon kepada arwah wali Allah berarti ibadah kepada mereka, karena berdoa adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. lnilah syarat datangnya bantuan jin untuk pengobatan, sehingga banyak orang awam menyangkanya sebagai karamah.

  Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan semacam itu dalam kitab Fatawa AI-Lajnah Ad-Daimah lil buhutsit ‘ilmiyyah wal lfta’dikategorikan kahin (dukun) dan ‘arraf (orang yang mengaku tahu hal yang ghaib) yang kita dilarang keras untuk mendatangi mereka, sebagaimana RasuIullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa mendatangi seorang ‘arraf atau kahin (dukun), kemudian ia membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam.(HR. Imam yang empat dan lmam Hakim).

Karamatul Auliya

  Orang yang memiliki keimanan yang bersih dan selalu melakukan Mujahadah dalam ibadahnya kepada Allah. la akan merasakan manisnya iman dalam dirinya. Seorang Mukmin yang demikian sifatnya, terkadang diberi firasat (ketajaman mata hati), mendapatkan mimpi yang baik, keistimewaan di luar kebiasaan orang pada umumnya. 

  Itu semua tidak boleh kita terima kecuali apabila selaras dengan prinsip Al Qur'an dan As Sunnah. Apabila bertentangan dengan keduanya atau salah satunya, maka itulah kahanah (perdukunan) yang dibantu oleh syetan.

  Karamah merupakan kemuliaan dari Allah bagi hamba tersebut untuk menyingkap bahaya atau mendatangkan manfaat, atau memberi pembelaan kepadanya dalam kebenaran. Tetapi seorang hamba tidaklah kuasa untuk mendatangkan perkara yang luar biasa tersebut saat ia inginkan atau diminta orang lain, sebagaimana seorang Nabi tidak mampu mendatangkan mu’jizat karena kehendaknya sendiri. 

  Tongkat Nabi Musa Alaihi Salam menjadi ular hanya saat diperintahkan oleh Allah untuk dilemparkan, ia bukan tongkat sakti yang bisa menjelma menjadi ular.

   Para wali Allah tidak mampu mendatangkan bahaya atau menyingkap bahaya, mendatangkan manfaat atau mencegah manfaat yang datangnya dari Allah. Bahkan mereka tidak punya kekuasaan ghaib sedikit pun. kecuali apa yang telah Allah tentukan baginya: seperti terkabulkan doanya, di terima nasihatnya, di berkahi iImunya, di berkahi hartanya, diberkahi keluarganya dan sebagainya dalam urusan yang biasa dilakukan orang lain dengan izin Allah. 

  Maka wali Allah bukanlah orang yang bisa memberi pagar benteng ghaib kepada orang lain agar tidak terkena bencana atau tergoda syetan. Kecuali hanya membacakan doa yang diajarkan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam

Tim  Rumah Ruqyah Indonesia
March 22, 2018
thumbnail

Dzikir itu Mudah, Tapi Luar Biasa Manfaatnya

Posted by rumah ruqyah on 2018-03-17



Suatu hari, Abdullah bin Yasrah datang kepada Rasulullah SAW. seraya berkata,”Ya Rasulullah, aku adalah seorang yang sudah tua renta. Aku sudah sangat lemah. Aku telah banyak mengamalkan syariat lslam. Sekarang tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memperkokoh iman dan amalku.” Rasulullah SAW. menjawab, “Sebutlah terus nama Allah sampai lidah dan bibirmu tidak sempat kering.” (HR. AtTirmidzi, Ahmad, lbnu Maiah dan Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Itulah tips yang diberikan Rasulullah SAW. kepada orang yang sudah renta dan lemah fisik itu. Berdzikir memang merupakan aktifitas fisik yang mudah dilakukan namun memiliki keutamaan yang luar biasa. Mudah dilakukan karena kapanpun dan di manapun, umumnya setiap orang bisa melakukan dzikir. Bisa di saat seseorang bepergian di atas kendaraan, saat ia bekerja, saat ia mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya. Bisa dilakutan ketika posisi duduk, berbaring, berjalan dan sebagainya.

Berbeda dengan aktifitas sholat yang hanya bisa dilakukan pada saat-saat yang telah ditentukan, tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, dan harus dilakukan dengan gerakan tertentu. Begitupun dengan ibadah lain, seperti puasa yang terkadang sulit dijalankan oleh seseorang. Meskipun sholat dan puasa tentu merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap Muslim. Bayangkanlah betapa banyaknya kemudahan dalam dzikir. Maka, sering-seringlah berdzikir.

Orang-orang yang berdzikir dalam segala keadaan, disebutkan oleh Allah SWT sebagai ulul albab, atau orang-orang yang cerdas. Allah SWT. berfirman, “(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptaka ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imron : 191)

Ada banyak faidah-faidah dzikir bagi seseorang, antara lain:

Pertama, menjadikan Allah ridha dan mengusir syaitan
Tak ada yang dapat mempengaruhi, menandingi dan melawan kekuatan syetan kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT.  lbnu Abbas mengatakan, ”Syetan itu laksana ular yang menunggui hati. Apabila seorang hamba berdzikir (mengingat) Tuhannya yang Maha Suci lagi Maha Luhur, maka ia akan jinak dan diam saja. Tapi apabila si hamba tadi lengah dari berdzikir kepada Allah, maka ia akan membikin hamba itu was-was.”

Kedua, memperbanyak amal sholeh, meningkatkan derajat dan membuat wajah berseri.
Pada hari kiamat, dzikir kepada Allah akan menjadi amalan yang akan memperberat timbangan dan meninggikan derajat di sisi Allah, bagi manusia. Abu Darda pernah mengatakan, “Barangsiapa yang senantiasa berdzikir kepada Allah, maka ia akan masuk syurga dengan tertawa.”

Ketika hari kiamat nanti, wajah orang-orang yang senang berdzikir pada Allah akan kelihatan berseri-seri. Allah SWT. berfirman, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang meniadi putih berseri dan ada pula muka yang meniadi hitam muram.” (QS. Ali lmron : 105). Dan wajah orang-orang yang biasa berdzikir adalah wajah-wajah yang putih berseri cemerlang

Hal ini sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak kehidupan di dunia. Orang yang dekat dengan Allah, selalu ingat kepada Allah dan bibirnya selalu basah dengan dzikir, selalu tampak tenang, simpatik dan berwibawa. Sebaliknya orang yang hidupnya dipenuhi dengan kesenangan duniawi, kepuasan materi, melakukan sesuatu yang bisa memuaskan nafsunya, maka wajahnya akan kelihatan muram, kerap dilanda kegundahan dan tidak simpatik.

Ketiga, membantu bersikap tabah dalam menghadapi persoalan hidup
Banyak sekali makna kalimat-kalimat dzikir yang diajarkan Rasulullah, yang sangat menggugah hati. Misalnya saja, Rasul mengajarkan ketika kita menaiki jalan yang menanjak, kita mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illa billah” yang artinya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Ketika kita menghadapi suatu tantangan kita dianjurkan mengatakan, “Hasbiyallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir,” yang artinya, Allah-lah yang mencukupi ku dan Dia adalah sebaik-baik yang dipercaya, sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik yang memberi pertolongan. Ketika teringat sebuah dosa, kita dianjurkan untuk mengucapkan, “Astaghfirullahal ‘azhiim..” yang artinya, aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Ketika mendapat mushibah dianjurkan untuk mengucapkan, “lnna lillaahi wa inna ilaihi rooii'uun,” yang artinya, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sebagainya.

Semua makna kalimat-kalimat yang diucapkan dalam dzikir dan do'a yang dianjurkan oleh RasuIuIlah itu bila dihayati akan menambah rasa optimis dan ketabahan dalam hati seseorang dan dapat membuatnya lebih tabah menghadapi berbagai persoalan dalam hidup.

Keempat, menjauhkan rasa was-was
Dzikir adalah benteng yang sangat kokoh untuk menghadapi serangan was-was. la laksana gunung yang berdiri tegar, dan tak mudah digoyahkan oleh kekuatan apapun. Pada hakikatnya, penyakit-penyakit psikolgis seseorang timbul karena ia jarang melakukan dzikir kepada Allah, enggan melaksanakan sholat, membaca Al-Qur'an atau tidak mau mempelajari sunnah Rasulullah dan tidak mau berdo'a. Akibatnya, orang seperti itu akan mudah ditimpa kebingungan. Laksana seorang pelaut yang terombang ambing oleh ombak dan arah angin tanpa tujuan, hingga akhirnya terdampar atau karam di tengah laut. ltulah kondisi orang yang kemudian menderita tekanan batin, stress, depresi, kecewa berat, frustasi menghadapi berbagai problema hidup yang mengguncangnya.

Semoga Allah memberi kita petuniuk dan pertolongan-Nya, agar kita senantiasa termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang berpredikat 'adz-dzaakiriin; dan 'adz-dzaakiroot', yakni orang laki-laki dan perempuan yang senantiasa berdzikir. Allah SWT, berfirman, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1/1
March 17, 2018
thumbnail

Hukum Selametan Ketika Pindahan Rumah

Posted by rumah ruqyah on 2018-03-15



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak Ustadz pengasuh konsultasi semoga selalu dalam keadaan sehat, dan dimudahkan segala urusannya. Amin.
Bapak Ustadz yang saya hormati, saya mohon kiranya Bapak Ustadz mau memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan berikut ini, sebelumnya kami ucapkan banyak-banyak terima kasih.
1.  Apa hukum melakukan selametan atau syukuran ketika pindahan rumah?
2.  Bagaimana sikap kita ketika menemukan tulisan-tulisan Arab yang ditempel di atas pintu masuk atau sesuatu yang ditanam di pekarangan rumah, dan bagaimana cara lslam membentengi rumah?
3.  Bolehkah melakukan shalat berjama’ah di rumah, padahal ada masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah kita?
Wassalam
A. Hamim, Jakarta
Jawaban :
Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh
Saudara A. Hamim yang semoga selalu dalam perlindungan Allah. Rumah adalah tempat berteduh, tempat beristirahat, bercanda dan bercengkerama dengan keluarga sekaligus tempat untuk melepaskan kepenatan. Setiap orang mendambakan rumah yang nyaman untuk dihuni bersama keluarga. Namun tidak ada dalam syari’at lslam bahwa seseorang yang menempati sebuah rumah atau melakukan pindahan harus selametan. Apalagi harus ada makanan khusus yang diperuntukkan bagi arwah nenek moyang, dengan dalih karena mereka akan pulang dan memakan makanan tersebut.

Tapi jika ada yang selametan atau syukuran sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. dan tidak ada ritual yang menyimpang maka itu dibolehkan. Prinsipnya adalah bahwa mensyukuri ni’mat itu suatu keharusan, kapan saja kita mendapatkannya. Karena dengan bersyukur kita akan mendapatkan tambahan nikmat itu. Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. lbrahim: 7).

Terlebih bila dalam syukuran itu diundang tetangga terdekat sebagai sarana silaturrahmi, sekaligus ta’aruf atau berkenalan dengan mereka. Kenalan adalah salah satu adab lslam dalam kehidupan ini, karena dengan kenalan ini akan terjadi saling memahami, saling menghormati dan setelah itu saling bahu membahu dan tolong menolong. Allah SWT. berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Selain itu lslam mengajarkan tentang hidup bertetangga. Nabi bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik pada tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhin hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim).

Saudara A. Hamim, yang semoga selalu dalam perlindungan Allah. Rumah yang terhias dindingnya akan terasa indah dipandang mata dan sejuk di hati. Apalagi bila kaligrafi ayat-ayat al-Quran. Namun jika ayat-ayat itu dijadikan sebagai jimat tolak bala’ atau penangkal mara bahaya, maka hal ini tidak sesuai dengan tuntunan lslam. Nabi bersabda, “Jangan kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya syetan itu akan lari dan menjauh dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Muslim). Hadits di atas mengajarkan, kepada kita bahwa yang ditakuti oleh syetan itu adalah ayat dan doa yang dibaca bukan yang dipasang, ditempel maupun yang ditanam.

Yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ketika menempati rumah atau tempat baru dan penjagaannya adalah:

Pertama, membaca doa, “A’udzu bikaIimatiIIahit taammati min syarri ma kholaq.” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya).” Seperti diceritakan K.haulah binti Hakim, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempati suatu tempat kemudian membaca doa, “A’udzu bikaIimatiIIahit taammati min syarri ma kholaq.” Maka tidak ada suatu apapun yang membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim)

Kedua, membaca salam ketika mau memasuki rumah sebagaimana firman Allah SWT, “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur: 61)

Ketiga, berdzikir ketika memasuki rumah. Nabi bersabda, “Jika seseorang memasuki rumahnya dengan menyebut nama Allah dan menyebut nama Allah ketika makan, maka syetan berkata, ‘Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam buat kalian.’ Dan jika ia tidak menyebut nama Allah ketika memasuki rumahnya, syetan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap.’ Dan jika jika ia tidak menyebut nama Allah ketika makan, syetan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan mendapatkan makan malam.” (HR. Muslim).

Keempat, membersihkan rumah dari patung-patung.

Kelima, membebaskan rumah dari anjing. Abu Thalhah berkata, “Nabi SAW. bersabda, “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar patung-patung.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Keenam, memperbanyak shalat sunnah di dalam rumah. Rasulullah bersabda, “Jadikanlah sebagian shalatmu di rumahmu, dan jangan kamu jadikan rumahmu seperti kuburan.” (HR. Muttafaq ‘alaih ).

Saudara A. Hamim, yang semoga selalu dalam perlindungan Allah. Hukum shalat jama’ah adalah sunnah muakkadah, siapa yang melakukannya dengan berjama’ah maka Allah akan melipat gandakan pahalanya. Nabi bersabda, “Shalat jama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh lima derajat.” (HR. Muslim).

Melakukan shalat wajib di rumah tidak dilarang, namun shalat di masjid lebih utama. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW, bahkan ketika ada orang buta yang meminta keringanan untuk tidak ke masjid karena tidak ada yang menuntun, Rasulullah tidak mengizinkannya. Rasulullah SAW. bertanya, “Apakah kamu mendengarkan adzan?” “Ya,” jawab orang itu. “Kalau begitu datangilah panggilan adzan itu.” (HR. Muslim).

Selain keutamaan-keutamaan di atas shalat berjarnaah juga bisa sebagai sarana silaturrahim dan memperkuat tali persaudaraan Ukhuwwah Islamiyyah. Wallahu A’lomu bis showab.

Ust. Akhmad Sadzali, Lc
Wakil Direktur Rumah Ruqyah Indonesia
March 15, 2018