Sihir Ada, Tapi......


Sepanjang menjalani kegiatan terapi ruqyah syar'iyyah, sekali pun saya tidak pernah memvonis seorang pasien terserang sihir....
Meskipun saya mengakui bahwa sihir itu ada dan memiliki eksistensi (hakikat) sebagaimana disepakati ulama...

Sudah tercatat lebih dari 20.000-an pasien saya datang dan pergi tapi mereka hanya tahu bahwa mereka sakit dan terkena gangguan jin atau gangguan bersifat medis...

Pasien-pasien itu sesungguhnya ingin ketenangan melalui ucapan seorang terapis, bukan vonis atau tekanan....
Sering sekali ada pasien yg bertanya "Apakah saya disihir, ustadz?"..
Ada pula yg bersikeras mengatakan "Saya disihir oleh bibi saya, ustadz"..

Tidak jarang ada yg memvonis dirinya sendiri "Inilah akibat sihir yg saya alami selama ini"....
Bisa jadi diantara mereka ada yg terkena sihir, santet, teluh, guna-guna dan sebagainya...
Tapi sebagai seorang peruqyah, saya berkewajiban menenangkan bukan memprovokasi atau menjustifikasi...
Saya selalu mengatakan bahwa perasaan seseorang terkena gangguan sihir, dapat menambah penyakit yg dideritanya...
Tidakkah anda tahu bahwa larangan pergi ke dukun punya hikmah tersendiri, yaitu untuk menghindari vonis seorang dukun...

Ratusan pasien saya pernah divonis dukun bahwa diantara mereka ada yg disihir mantan pacarnya, mantan istri atau suaminya, keluarga dekat, keluarga jauh, teman sekantor, tetangga dan sebagainya...
Ada yg divonis sihir gila, sihir pemisah suami-isteri, sihir utk menjatuhkan karir dan sebagainya...
Akibatnya, ada yg tidak mau keluar rumah, tidak mau makan, memendam dendam, mengisolasi diri dan sebagainya...

Jika anda seorang peruqyah, jauhi sifat suka memvonis bahwa seseorang terkena gangguan sihir...
Peruqyah harus cerdas mengatakan sesuatu terkait penyakit pasiennya. Jangan asal bicara sebab itu akan menjadi pegangannya dan sangat mungkin jika ucapan itu akhirnya menjadi mindset yg sulit dirubah..
Masalah sihir adalah masalah ghaib, bukan sesuatu yg dapat diketahui via panca indera dan sebagainya...
Saya meyakini bahwa "Sihir itu ada, tapi jangan sampai isu sihir diobral kemana-mana sehingga menimbulkan rasa takut dan sebagainya".

Jadi, sekali lagi, sihir itu ada tapi jangan memvonis dengan gampangnya bahwa setiap penyakit itu sihir.
Nah, disinilah bedanya SIHIR dan 'AIN....

***

Mari kita duduk sebentar, memikirkan dan menelaah. Akan postingan yang kami kutip dari Ustadz Musdar Bustamam Tambusai.
"Sihir Ada, Tapi..." Sepaham dengan teknis yang kami lakukan di Rumah Ruqyah Indonesia. Memberikan kenyamanan dan ketenangan.
Nyaman tidak hanya tempat dan suasana, tapi juga sang penerapi. Memberikan keteduhan, kelegaan dan membawa senyum saat keluar dari klinik, meskipun belum sembuh.

Kok bisa? Ini resep ampuh dari Rasulullah Shallahu Allaihi Wassalam:
"Laa ba'sa Thohuruun Insya Allah" yang artinya "Tidak mengapa, (penyakitmu) akan menjadi penggugur dosa jika Allah Menghendaki".
Karena, satu ucapan: 'Gak apa-apa, Insya Allah sembuh" dari sang penerapi/dokter sangat berarti bagi pasien.
Dibanding 1000 teknik/threatmen yang diberikan tetapi menginformasikan sesuatu yang membuat pasien gak tenang, gak bisa tidur, khawatir, gundah dan menjadi pesimis.

Wallahu'alam


Comments