Belajar Sabar dari Orang-orang 'Ahli Surga


Satu kisah berikut ini menuntun kita untuk lebih mengedepankan sabar daripada emosi. Namun, seperti di zaman sekarang ini sabar memang mahal harganya, dan seringkali kita dihadapkan pada masyarakat pemarah akibat tekanan ekonomi, politik juga menepikan peran agama didalam kehidupan sehari hari. Padahal jika dirunut, kesabaran itu akan menghantarkan seseorang ke tempat yang indah, yakni surga.

Sabar adalah kalimat indah bagi penghantar masuk surga. Bukan perkara mudah untuk melakoninya. Ada batas yang tak terjangkau pada nalar manusia, ketika suatu keadaan memaksa untuk tidak bisa kendalikan emosi.

Apalagi dalam keadaan dianiaya, Allah telah menurunkan ayat yang sangat bijak untuk direnungi, “Jika ingin membalas, balaslah dengan siksaan seperti yang kalian terima. Tapi, jika kalian bersabar, itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (an-Nahl:126)

Sangat realitis anjuran-Nya itu, membalas seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang telah menganiaya, atau berbuat buruk, namun apabila kita bisa menahan diri, hal itu akan lebih baik, bahkan Allah menghadiahkan kita dengan surga. Sangat indah, upahnya. Dan ini terangkum dalam sebuah kisah.

Ada seorang bernama Ibrahim ibn Adham berpapasan dengan seseorang lelaki dijalanan. Lelaki itu bertanya tentang perkampungan yang terdekat. Ibrahim menunjuk kearah areal pemakaman.

“Itulah perkampungan yang paling dekat dari sini, dan itu perkampungan hakiki”

“Aku tanya perkampungan, bukan areal perkuburan, apakah kau ingin melecehkan dan mengina aku?” Lelaki itu sangat tersinggung dan marah.

Dengan emosinya yang tinggi, ia kemudian memukul Ibrahim tepat di kepalanya. Ia heran, Ibrahim tak membalas atau marah bahkan berkata,” Pukullah kepala yang telah lama berbuat dosa ini…” sambil memegangi kepalanya yang berdarah.

Seseorang yang melihat kejadian itu, langsung menyusul lelaki tersebut.

“Tahukah kau telah berbuat kesalahan kepada siapa?” Tanya seseorang itu dengan geram. “...Kau baru saja memukul seorang ahli ibadah dan ahli zuhud, Ibrahim ibn Adham”

Lelaki itu terkejut. Ia segera mengejar Ibrahim untuk meminta maaf. Apa yang ia terima sungguh tak terduga. “Aku telah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf,” kata bijak Ibrahim. “Aku juga berdoa semoga engkau masuk surga”

“Mengapa begitu, Tuan?” Tanya lelaki itu tampak tak paham, karena ia merasa telah berbuat yang tak terpuji pada ulama ini.

“Aku bersabar meski kau telah memukulku, dan tidak ada balasan bagi orang yang sabar kecuali surga. Karena ada dalam Al Qur’an al Insan ayat 76, bahwa Allah membalas kesabaran mereka dengan surga , jadi pantaskah aku mendoakanmu masuk neraka, sementara aku masuk surga karenamu...”

Sangatlah indah buah dari kesabaran, selain mencegah penyakit hati datang menghampiri, sabar merupakan kata kunci keberhasilan seseorang untuk meraih sesuatu yang terlihat angat sulit terjangkau. Maha Tahu Allah akan usaha hambanya yang berbulir kesabaran, dan selalu menahan diri bila tertimpa sesuatu.

Ada kisah tentang seorang wanita Khuludah binti Aud, yang telah diwahyukan kepada Nabi Daud bahwa dirinya kelak yang menjadi pendampingnya disurga. Tanpa kenal lelah Nabi Daud mencari wanita itu, akhirnya mereka dipertemukan, dan diutarakan maksud kedatangannya.

“Mungkin kau salah. Itu memang namaku, tapi barangkali bukan aku yang kau maksud. Bahkan, aku tidak tahu apa bisa aku masuk surga, jika perkataanmu memang benar.” Kata wanita itu.

“Kurasa saya tidak salah, kaulah wanita yang dimaksud itu, coba ceritakan kehidupan sehari-harimu” kata Daud mencoba menyakinkan keraguan wanita itu.

“Setiap aku mendapat musibah apapun, aku selalu bersabar, bahkan bersyukur…”

“Itulah amalan yang akan mengantar menuju surga”, kata Nabi Daud mantap.

Bersabar, memang berat apalagi menghadapi musibah . Bila kita bisa melewati ujian dan kita sabar serta ikhlas menerimanya akan menjadi hal yang sangat istimewa, dan surgalah ganjarannya. Lalu bagaimana cara bersyukur ketika tertimpa musibah? Yakni dengan melihat sisi positif dan kebaikan dalam musibah itu, seperti dalam doa Imam Ali Zainal Abidin pada saat ia sakit, “Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku. Sebab, berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai kenistaan dunia, aku lebih punya banyak waktu untuk berdzikir dan berkumpul dengan keluarga”. Subhanallah semoga kita bisa sampai pada derajat itu.

*Annida Online

Comments