Diburu Rezeki


Kisah Pak Budi membuka cakrawala berpikir kita tentang rezeki-rezeki yang selama ini kok tidak datang pada diri kita.

Malah yang datang adalah yang tidak kita inginkan. Bukan karena rezeki tidak ada, tapi karena fokus kita ke arah yang tidak tepat.

Kenyataannya, rezeki itu DIPAKSA kok masuk dalam hidup kita. Saat pikiran kita jernih, semuanya akan seperti keajaiban. Karena memang begitu desain sebenarnya kehidupan kita.

Pikiran kita yang TIDAK TEPAT, yang membuat hidup sepertinya menjadi TIDAK MUDAH untuk dijalani.

Saat saya wisuda SD anak saya yang kedua, Fadhilah, istri saya sudah tidak sabar mau pulang. Masih ada bayi kami kelima yang ada di rumah yang masih menyusui.

Umurnya masih 10 bulan. Istri saya sampai keringat dingin, ASI-nya sudah penuh dan harus menyusui bayi kami, Ziyya.

Akhirnya istri saya meninggalkan acara itu dengan tergesa-gesa untuk pulang ke rumah dan akan balik lagi setelah selesai menyusui.

Saat istri saya pulang, saya merenung dalam-dalam akan kejadian ini.

Rezeki itu dahsyat sekali. Takdirnya rezeki itu ya DIPAKSA MASUK. Ziyya sudah dijamin rezekinya. Malah manusia yang DITITIPI REZEKINYA yaitu ibunya, terburu-buru untuk memberikan rezeki ke Ziyya.

Begitulah rezeki. Desain yang sangat sempurna dari Allah. Antara orang YANG DIBERIKAN REZEKI (Ziyya) dan orang YANG DITITIPI REZEKI (Istri saya) SALING TERHUBUNG dan SALING MERINDU satu sama lain.

Yakinkah kita bahwa ada orang YANG DITITIPI REZEKI kita di luar sana, yang siap MEMBERIKAN REZEKINYA dengan tergopoh-gopoh pada kita?

Jika yang terjadi pada Ziyya, rezekinya datang dengan tergopoh-gopoh, itu karena bayi masih JERNIH PIKIRANNYA. Ziyya tentu TIDAK ADA SU'UDZON pada orang lain. Bagaimana dengan kita?

Kita meyakini, bukanlah berarti rezeki kita TIDAK ADA, tapi karena kita sendirilah MENGHAMBATNYA.

Dengan apa MENGHAMBATNYA? Dengan SU'UDZONnya kita pada orang lain.

Nasrullah

(Lihat Rahasia Magnet Rezeki, Bab II)

*****


Comments