Ruqyah Yang Penting Keyakinannya?

 
Selasa, 06 Oktober 2015 - 22 Dzulhijjah 1436 H

Di tempat kami mengajar di daerah Sukolilo, ada seorang Ustadzah lulusan pesantren yang pernah dimarahi oleh seorang peruqyah karena beliau mencoba memperbaiki bacaan peruqyah yang salah....

  Sambil berkata ketus si "ustat" instan ini berkata: "Kalau dibacakan quran itu diam dan perhatikan ! Jika spt ini berarti ibu GAK SIAP UNTUK DIRUQYAH....!!! Ruqyah yg penting itu keyakinannya !!!"

  Sekilas jawaban peruqyah itu memang benar.... Karena jika syarat tersebut disandarkan pada kata "ruqyah" , maka kata "ruqyah" itu sifatnya lebih umum dibandingkan "membaca al-quran"...

  Ruqyah secara umum tidak membutuhkan tajwid, contohnya adalah jika kita meruqyah dengan doa-doa yang bersumber dari Nabi, dari dzikir-dzikir yang ma'tsur, atau dengan asma dan sifat Allah, atau dengan doa yang isinya tidak menyelisihi alquran dan assunnah, maka hal ini tidak berlaku hukum tajwid di dalamnya...

  Namun jika ruqyahnya kok menggunakan bacaan al-Quran, maka sangat dianjurkan membacanya dengan TARTIL... bahkan sebagian ulama ada yang mengatakan WAJIB membacanya dengan tartil sesuai kaedah tajwid sbagaimana firman Allah Ta'ala :

و رتل القرآن ترتيلا

"Dan bacalah al-Quran dengan tartil.." (QS.Muzammil : 4 juz 29)

Imam Jazari menuliskan nadzom dalam matan Al-Jazariyah nya :

والأخذ بالتجويد حتم لازم

من لم يجود القرآن آثم

فإنه به الإله أنزلا وهكذا منه إلينا وصلا

  Membaca al-Qur'an dengan tajwid adalah sebuah keharusan.. Siapa yang tidak men-tajwidkan al-Qur'an maka ia BERDOSA Karena dengan Tajwid Allah menurunkannya Dan demikianlah ia sampai kepada kita juga dengan tajwid

Al-Hafidz As-Suyuthi berkata :

ولو قال القائل بوجوب الترتيل لكان أقرب إلي ظاهر ما يدل عليه اﻷمر القؤآني، فإن اﻷصل اﻷوامر القرآنية أنها تفيد الوجوب، و الخطاب في اﻵية للنبي صلي الله عليه و سلم أصلا، و لﻷمة تبعا...

  "Apabila ada seseorang yang berkata bahwa membaca alquran dengan tartil adalah wajib, niscaya hal itu lebih mendekati kepada perintah yang dzahir dari al-Quran... karena sesungguhnya pokok dari perintah-perintah yang ada di dalam Al-Quran adalah menunjukkan pada yang WAJIB.... khitob dalam ayat tersebut asalnya adalah untuk nabi shallallahu'alaihi wa sallam, tapi juga mengekor pada ummatnya..."

Imam Az-Zarkasyi berkata :

علي كل مسلم قرأ القرآن أن يرتله

"Hendaknya setiap muslim membaca al-Quran dengan men-tartil-kannya..."

(Al-Burhan jilid 1 hal.449)

Apa sih makna tartil ??

Dalam kitab (كيف نتعامل مع القرآن العظيم) Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan :

و معني الترتيل في القراءة : التأني و التمهل فيها، و تبيين الحروف والحركات

  "Makna tartil dalam bacaan adalah melembutkan dan memperlahan pada bacannya, MEMPERJELAS huruf-huruf dan juga harokatnya..."

Inilah gunanya tajwid untuk menjaga lisan dari lahn...

Apa itu "lahn" ??

 Lahn adalah kesalahan dalam bacaan... lahn terbagi menjadi DUA... yakni lahn jali dan lahn khofi (bisa dilihat di kitab Ar-Roudhotun Nadiyah hal.67)

Lahn Jali ada 7 :

1.Mengganti satu huruf dengan huruf lainnya...

Semisal :

لو أنزلنا هذا القرآن علي جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

"Law anzalna hadzal qurana 'ala jabalil-laro-aytahu khosyi'am- mutashoddi'am- min khosyatillah......" (benar)

"Law ANJALNA haZal qurana 'ala ZABALIL laroaytahu khosyi'am mutashoddi'am min khosyatillah... (salah)

Atau :

أفحسبتم أنما خلقناكم

"Afahasibtum annama kholaqnaakum...." (benar)

"APAHASIPTUM annama kholaqnaakum..." (salah)...

Dsb...

2. Mensukunkan huruf yang berharokat

3. Mengharokatkan yang sukun

4. Menghilangkan huruf mad (panjang)

5. Meringankan bacaan tasydid

6. Mentasydidkan bacaan ringan

7. Memanjangkan huruf yg pendek...

Sedangkan Lahn khofi adalah kesalahan bacaan yang berkaitan dengan hukum tajwid semacam idzgham, izhar, ikhfa, dsb...

Dalam (النشر في قراءات العشر) para pembaca alquran itu dibagi menjadi tiga :

1. Muhsin Ma’jur : Orang yang baik dalam membaca Al-Quran dan mendapat pahala, yaitu orang-orang yang membaca Al-Quran dengan baik dan sempurna sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah Ta'ala kpada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka orang seperti ini akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام بررة والذي يقرؤه و يتتبع فيه و هو عليه شاق له أجران

  "Orang yang pandai dalam membaca Al-Quran itu akan bersama dengan para malaikat yang mulia, dan barangsiapa yang membaca Al-Quran dengan tersendat-sendat dan merasa keberatan maka baginya dua pahala....” (HR.Bukhari dan Muslim)

2. Musi’ Ma’jur : Orang yang kurang bacaannya tapi dimaklumi dan bahkan mendapat pahala, yaitu orang-orang yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk belajar Al-Quran tetapi dia tidak mampu membaca dengan baik

3. Musi’ Atsim : Orang yang jelek bacaannya dan mendapatkan dosa dari Allah Ta'ala, yaitu orang-orang yang merasa cukup dengan dirinya, mengandalkan otaknya atau hanya bersandar pada buku-buku yang ada dan merasa SOMBONG untuk kembali kepada orang yang mengetahui ilmu ini (tajwid) secara mendalam. Maka tidak diragukan lagi bahwa orang seperti ini akan mendapatkan dosa dan kesalahannya tidak bisa dimaklumi...

Maka masuk di golongan manakah kita ???

  Dan masuk golongan manakah orang yang sudah jelas SALAH bacaannya tapi TAK MAU DISALAHKAN ???

  Wahai raqi... tanggalkan kesombonganmu karena sesungguhnya engkau membaca AL-QURAN yang memiliki keindahan dengan tajwid... bukan membaca injil, taurat, zabur, lebih-lebih kitab PRIMBON.....

  Semoga ini bisa menjadi acuan kita untuk sama-sama memperbaiki bacaan quran kita agar kita kelak masuk surga bersama-sama... aamiin...

Muhibbukum fillah


★Sokaraja, 30 September 2015★

Comments