Membentak Jin Agar Segera Keluar, Bolehkah?

Membentak Jin Agar Segera Keluar, Bolehkah?
 Rabu, 15 Muharram 1437 H - 28 Oktober 2015


   Ada seorang remaja laki usia 17 th (seperti diakuinya), menanyakan beberapa hal terkait ruqyah kepada kami.

'Mas, saya mempunyai teman. Sering kumpul jika malam, dan setiap malam pun dia sering kesurupan.

Saya nekat saja meruqyah dengan hafalan sedikit yang saya punya. Dan saya sering membentak agar jinnya keluar, kira-kira benar gak mas cara saya?

Teman saya itu mengaku mempunyai khodam, dan mengaku juga sering mengobati orang yang kesurupan dengan dibantu khodamnya. Itu gimana mas?"

¤¤¤

Semangat menjadi bermanfaat untuk sesama, salah satunya dengan membantu meruqyah bagi yang membutuhkan merupakan suatu kebaikan dan patut disyukuri.

Apalagi, ada salah satu stasiun tv yang salah satu program acaranya khusus tentang ruqyah. Dan salah satu inti dari acara tersebut, bahwa meruqyah itu mudah.

Segala sesuatunya butuh ilmu. Dan sebaik-baik ilmu jika ada gurunya atau Talaqqi. Termasuk meruqyah.

Meruqyah yang terlihat mudah (dengan cukup membacakan ayat-ayat ruqyah standard, jika terjadi reaksi diberikan sedikit 'treatmen' dan sembuh, Insya Allah) memang cukup menggoda bagi siapapun yang melihatnya.

Namun ada hal lain yang terlupakan. Nasehat yang baik. Karena agama merupakan nasehat. Ruqyah pun yang merupakan sarana dakwah pun tidak luput akan nasehat-menasehati.

Seperti contoh kasus ini aja, sejatinya remaja itu harus mampu menasehati temannya agar 'rela' melepas khodamnya. Bahaya dan buruknya 'memelihara' khodam. Anjuran untuk bertaubat dan menyarankan agar kian mendekatkan diri kepada Allah dsb.

Tidak sekedar membentak saja. Adapun membentak tidak asal membentak, apalagi memakai dalil berikut:

“Keluarlah wahai musuh Allah, dari dada Utsman. “ (HR.Ibnu Majah)

Di Hadits tersebut Rasulullah tengah meruqyahnya sahabatnya Utsman Bin Abil Ash, kalimat perintah beliau tidak sekedar bentakan. Tapi merupakan kekuatan iman kepada Allah yang terpancarkan melalui suara.

Saya pun menyarankan remaja tersebut untuk menyerahkan pada ahlinya, karena ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan peruqyah pengalaman.

Berarti membatasi ruqyah hanya orang tertentu donk? Kembali, segala sesuatu perlu ilmu, tidak asal nekat.

Tidak asal 'jika ketemu musuh, pantang bagi saya melarikan diri' (begitu bantahan remaja tersebut kepada saya).

Juga tidak asal bertindak. Perlu perhitungan. Kira-kira pertolongan kita bermanfaat kah? Atau malah memperparah? Atau malah justru berbalik mencelakai kita?

Bermanfaat itu juga termasuk menyerahkan suatu hal pada ahlinya. Bukan sebaliknya.

Bersabarlah. Kuasai suatu ilmunya terdahulu. Jadilah ahlinya. Belajarlah pada ahlinya.

Tidak usah terburu-buru. Karena bertindak tanpa ilmu hanya akan membawa kehancuran.

Wallahu'alam Bishowab


Comments