Skip to main content

Aku Ingin Bebas

 Jum'at, 17 Muharram 1437 H - 30 Oktober 2015

"Aku ingin bebas" seru sang putri

"Bebas seperti apa?" Tanya ibunya. "Bebas boleh, tapi ada batasannya. Tidak sembarang" sambung ibunya sambil muka memerah menahan emosinya tatkala bercerita kepada kami di Rumah Ruqyah Indonesia.

¤¤¤

Itulah penggalan seorang ibu ditemani keponakannya yang ingin meruqyah putrinya.

  Sang putri yang suka melawan pada ibunya. Bahkan tak jarang membuat lebam muka sang ibu dan memar-memar pada sekujur tubuhnya.

Apakah salah sang putri? Atau malah kedua orang tuanya?

Banyak kenakalan remaja putra putri yang susah direm, hingga meniatkan meruqyahnya di Rumah Ruqyah Indonesia.

Besar harapan bisa terselesaikan dengan ruqyah syar'iyyah.

Padahal tidak sesederhana itu. Ibarat gunung yang berada didalam lautan, pucuknya tidak lebih besar daripada dalamnya.

Jadi butuh kerjasama yang apik seluruh keluarga yang rela merendahkan ego masing-masing, meski hasilnya yang diharapkan kadang tidak sebesar yang diinginkan.

Jika diibaratkan, orang tua yang menyerahkan putra-putrinya ke Rumah Ruqyah Indonesia seperti menyerahkan buku bergambar yang sudah penuh warna dan oretan.

Tentu akan jauh lebih mudah, jika buku bergambarnya masih putih bersih. Bisa diisi sesuka pengisinya (baca orang tua)

Pertanyaan besarnya, bisakah orangtua menanamkan kebaikan pada saat mengisinya?

Tidak selalu. Hanya orangtua yang mau belajar cara mendidik yang baik, menanamkan akhlak baik dsb tentu yang bisa.

Jadi, bagi kita orang tua atau anda yang akan menjadi orangtua. Luangkan waktu sejenak untuk serius belajar menjadi orangtua yang baik.

Karena bentuk keseriusan kita belajar menjadi orang tua yang baik berimplikasi kepada anak-anak kita.

Jangan sampai, kenakalan anak-anak kita ternyata kitalah yang berjasa didalamnya.


Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu? Kamis, 25 April 2013 / 14 Jumadil Akhir 1434

    Katanya, bila ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah berarti ada tamu yang segera datang. Entah malam ini, esok atau lusa. Kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah. Tak tahulah. Entah kenapa kedatangan kupu-kupu menjadi sinyal kalau rumah itu akan didatangi tamu.

     Tidak jarang seorang ibu yang meyakini mitos ini segera berbenah, bila melihat kupu-kupu hinggap di pintu rumahnya. Mulai dari membersihkan rumah, hingga menyiapkan menu makanan yang sedikit istimewa.

    Maklum kedatangan kupu-kupu itu memberinya harapan untuk bertemu dengan seseorang yang barangkali sangat istimewa. Sang suami yang kebetulan bekerja juga sudah dipesan untuk segera pulang.

    Namun, ... gawat nih. Makanan sudah selesai dimasak, rumah juga selesai dibersihkan. Kamar pun telah disiapkan. Tinggal menyisakan rasa capek dan pegal di badan. Tapi ternyata tamu misterius yang ditunggu tak …

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat? Selasa 09 April 2013 / 28 Jumadil Awwal 1434 H

     Katanya, kalau saat tidur malam kita diusik oleh mimpi bertemu ular, berarti akan ada jodoh yang datang. Kalau ular itu menggigit atau melilit, berarti jodohnya sudah dekat. Sebentar lagi jodoh itu akan datang melamar. Asyik ya.

     Terus kalau dikejar, katanya kita lagi dikejar-kejar oleh jodoh kita yang entah dimana. Mungkin sebentar lagi dia juga akan menyatakan kesediaannya datang ke rumah dengan segala kesungguhannya untuk melamar. 

      Nah, kalau dalam mimpi kita ternyata mampu membunuh ular, aduh kita membunuh jodoh kita donk. Alias jodoh semakin menjauh dan mungkin orang yang sudah dilamar bisa dibatalkan atau jangan-jangan yang sudah menyebar undangan gagal menikah. Kasihan ya …

       Itu semua gara-gara ular yang hadir dalam mimpi kita di malam hari. Atau bahkan hadir dalam mimpi tidur siang kita. Tidak pernah disebutkan dalam buku-buku penafsir mimpi tentang asal mu…

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H


     Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah.

    Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

    Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

     Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna b…