Skip to main content

Bepergian Pada Hari Kelahiran, SIAL?

Kamis, 3 Dzulhijjah 1436 H - 17 September 2015

  Siang itu, salah seorang pegawai lapangan baru saja datang di kantor pusat yang berada di Jakarta. Ia terlihat kecapekan. Kemaren dirinya berangkat dari kampung yang berada di Jawa Timur. Baru tadi pagi ia sampai di Jakarta. Sehari semalam berada dalam bis memang sangat menguras tenaga dan melelahkan.

"Aduh mba, badan saya sakit semua! Kepala saya pusing, perut mual-mual. Biasanya kalau bepergian saya nggak pernah mengalami sampai seperti ini lho mba. Baru kali ini saja." katanya kepada salah seorang manager yang kebetulan perempuan.

   "Memangnya kenapa bu?" tanya manager itu sambil membereskan map-map yang bergeletakan di mejanya.

   "Kata orang dulu kan kalau bepergian pada hari kelahiran itu nggaak baik, banyak sial. Dan kemarin pas hari kelahiran saya. Padahal sebenarnya sebelum berangkat saya sudah ragu-ragu lho mba. Akhirnya saya paksakan untuk berangkat juga, eh sampai Jakarta malah sakit!".

Apa hubungannya??

   Kisah di atas mirip dengan kisah-kisah yang sering terjadi pada masyarakat Jahiliyyah dulu. Hanya saja wasilah (sarana) yang dipakai berbeda. Hal seperti di atas dalam kajian agamanya disebut dengan Tathoyyur.

   Kata Tathoyyur berasal dari kata thoir, artinya burung. Berawal dari kepercayaan yang sudah 'kadung' kental diyakini oleh masyarakat  Jahiliyyah kepada burung.

   Dahulu mereka 'hampir' menggantungkan sebagian urusan hidupnya kepada burung. Jika mereka keluar untuk sebuah urusan, lantas melihat seekor burung terbang dari arah kanannya, maka mereka optimis dan melanjutkan perjalanannya.

   Namun sebaliknya, jika mereka melihat burung itu terbang di sisi kirinya, maka mereka pesimis kemudian mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. Capek deh!

   Selain itu, masyarakat Jahiliyah suka memilih awal bulan untuk memulai pekerjaan, dan mereka tidak menyukai bepergian pada saat rembulan mengecil (pada akhir bulan). Dan adat Jahiliyah tersebut masih dibawa-bawa setelah sebagian dari mereka masuk Islam. Hingga pada akhirnya Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam melarangnya.

   Tapi kok apa yang diyakini seorang pegawai dalam kisah di atas benar-benar terjadi? Ya, dan bukan hanya pegawai itu saja yang keyakinannya terjadi, tapi keyakinan orang-orang Jahiliyah pada burung pun 'kadang' juga terjadi. Dan yang namanya 'kadang' itu tidak selamanya terjadi. Dan yang namanya tipu daya setan, bisa juga sebuah kebetulan.

   Ibnu Hibban meriwayatkan hadits shahihnya dari Anas yang marfu'. "Tidak ada pertanda buruk. Dan pertanda buruk itu (akan menimpa) orang yang mempercayainya."

   Kadang terlintas dalam benak kita bersit-an pikiran yang menyerupai perihal di atas. Mungkin itu adalah sebuah perasaan tak enak atau yang semisal. Lalu apa yang harus kita lakukan?

   Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud: "Meyakini tanda buruk itu adalah syirik. Dan tidak ada dari kita melainkan pernah mempercayainya. Akan tetapi Allah telah menghilangkannya dengan tawakkal (kepada-Nya)."

   Tawakkal kepada Allah, itu langkah pertama. Serahkan semua urusan kepada-Nya. Yakinlah bahwa apa yang akan menimpa kita (baik maupun buruk dalam pandangan kita) pada hakekatnya adalah yang terbaik bagi kita.

   Dan ketika kita berada dalam situasi seperti itu, jangan lupa untuk berdoa. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Amr

"Barangsiapa dihadapkan padanya pertanda buruk, maka hendaklah berdo'a;

اللَّهُمٌّ لَا طَيْرَ لأ طَيْرَ كَ ، ؤَ لآ خَيْرَ اِ لّأّ خَيْرَ كَ ، ؤَ لَأ اِ لَه غَيْرَ كَ

  "Ya Allah, tidak ada pertanda buruk selain dari-Mu, dan tidak ada pertanda baik selain dari-Mu, dan tidak ada Tuhan selain-Mu." (Hadits Mauquf dikeluarkan oleh Baihaqi dari Abdullah bin Amr).

   Aqidah adalah sesuatu paling mahal yang kita miliki, Bersihkan selalu jika ada debu-debu 'katanya' yang menempel padanya. Waspadalah! Waspadalah! Jangan biarkan debu-debu katanya mengotori aqidah kita!

Majalah Al Iman bil Ghoib (Majalah Ghoib dalam kenangan), Edisi 06 Th 4/19 Jumadil Akhir 1429 / 23 Juni 2008 M.

Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu? Kamis, 25 April 2013 / 14 Jumadil Akhir 1434

    Katanya, bila ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah berarti ada tamu yang segera datang. Entah malam ini, esok atau lusa. Kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah. Tak tahulah. Entah kenapa kedatangan kupu-kupu menjadi sinyal kalau rumah itu akan didatangi tamu.

     Tidak jarang seorang ibu yang meyakini mitos ini segera berbenah, bila melihat kupu-kupu hinggap di pintu rumahnya. Mulai dari membersihkan rumah, hingga menyiapkan menu makanan yang sedikit istimewa.

    Maklum kedatangan kupu-kupu itu memberinya harapan untuk bertemu dengan seseorang yang barangkali sangat istimewa. Sang suami yang kebetulan bekerja juga sudah dipesan untuk segera pulang.

    Namun, ... gawat nih. Makanan sudah selesai dimasak, rumah juga selesai dibersihkan. Kamar pun telah disiapkan. Tinggal menyisakan rasa capek dan pegal di badan. Tapi ternyata tamu misterius yang ditunggu tak …

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat? Selasa 09 April 2013 / 28 Jumadil Awwal 1434 H

     Katanya, kalau saat tidur malam kita diusik oleh mimpi bertemu ular, berarti akan ada jodoh yang datang. Kalau ular itu menggigit atau melilit, berarti jodohnya sudah dekat. Sebentar lagi jodoh itu akan datang melamar. Asyik ya.

     Terus kalau dikejar, katanya kita lagi dikejar-kejar oleh jodoh kita yang entah dimana. Mungkin sebentar lagi dia juga akan menyatakan kesediaannya datang ke rumah dengan segala kesungguhannya untuk melamar. 

      Nah, kalau dalam mimpi kita ternyata mampu membunuh ular, aduh kita membunuh jodoh kita donk. Alias jodoh semakin menjauh dan mungkin orang yang sudah dilamar bisa dibatalkan atau jangan-jangan yang sudah menyebar undangan gagal menikah. Kasihan ya …

       Itu semua gara-gara ular yang hadir dalam mimpi kita di malam hari. Atau bahkan hadir dalam mimpi tidur siang kita. Tidak pernah disebutkan dalam buku-buku penafsir mimpi tentang asal mu…

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H


     Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah.

    Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

    Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

     Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna b…