Herbal Ampuh Meregenerasi Sel

Herbal Ampuh Meregenerasi Sel


Herbal tidak hanya menghilangkan rasa sakit, tapi juga berfungsi meregenerasi sel.

Minat masyarakat di Indonesia untuk menggunakan herbal terus meningkat. Penelitian tahun lalu (2011, edt) yang dilakukan oleh Pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Indonesia menunjukkan bahwa; 3. 54 persen masyarakat Indonesia menggunakan jamu.

Dari jumlah tersebut, 95 persen mengakui ada manfaatnya. Bahkan, mayoritas masyarakat menyakini bahwa menggunakan herbal lebih aman dibandingkan obat sintetik.

Sebut saja Abdulillah, pria yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat ini meyakini hal tersebut. Sedemikian yakinnya, ia menenggak madu lebih dari 1 gelas dalam sehari dengan maksud untuk kesehatan dan meningkatkan stamina.

Walhasil, pada malam harinya ia merasa kesakitan di bagian pencernaan, hingga akhirnya dibawa ke dokter. Bukan hanya itu, habbatussauda yang sudah dijamin oleh Nabi Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) sebagai obat segala penyakit pun ternyata bila dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan efek samping.

Hal tersebut dinyatakan oleh pakar herbal dari Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (Aspetri). Menurut Machendra, penggunaan herbal jika tidak sesuai dengan dosis dan anjuran herbalis, maka akan menimbulkan efek samping.

"Seperti habbatussauda, jika digunakan secara berlebihan akan menyebabkan gangguan jantung dan tidak lancar buang air besar," jelas pria yang sehari-hari sebagai Direktur Herbal Insani di Depok, Jawa Barat.

Lebih lanjut Machendra menjelaskan, untuk konsumsi habbatussauda secara normal 5 sampai 7 kapsul sekali minum. "Perbandingannya kalau habbatussauda yang masih bijian ditumbuk sebanyak satu sendok penuh atau lima kapsul serbuk," kata Machendra.

Nyatanya, banyak pengguna habbatussauda yang mengonsumsi tiga kali dalam sehari. "Kalau sekali minum masih lima kapsul, insya Allah tidak apa-apa. Tapi kalau sudah lebih dari tujuh kapsul sekali minum dan dalam jangka panjang, itu bisa memberikan efek samping. Saya banyak menjumpai kasus seperti itu," terang Machendra.

Meski demikian, lanjut Machendra, hal tersebut akan terjadi jika dikonsumsi tunggal. "Kalau diramu atau disinergikan dengan herbal lain, dia tidak akan memberikan efek samping," ungkapnya.

Sinergi atau ramuan itu justru memberikan efek netralitas terhadap toksin dan sifat panas dari bahan baku herbal. Machendra mengibaratkan sinergi herbal ini seperti konsep jamaah.

"Dalam jamaah ada keberkahan," ulasnya. Demikian juga herbal. Seperti habbatussauda jika dikonsumsi secara tunggal, efektivitasnya kurang, jika dibandingkan dengan sinergi.

Sebagai contoh, jika untuk penyakit hipertensi, habbatussaauda bisa disinergikan dengan sambiloto dan pegagan. Kalau untuk imunitas, habbatussauda bisa disinergikan dengan meniran dan sambiloto.

"Sebaiknya untuk fungsi pengobatan herbal sangat baik jika disinergikan," terang Machendra. Selain sinergi, yang juga perlu diperhatikan adalah soal dosis yang diberikan.

Dalam herbal, dosis harus berpatokan dengan berat tubuh. Pasalnya, berat tubuh itu berkaitan dengan kadar air dalam tubuh. "Kadar air seseorang yang berat badannya 50 kg dengan yang 80 kg sangat berbeda," ujar pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon ini.

Diibaratkan air di dalam cangkir dengan air di dalam gelas besar. "Air di dalam cangkir akan menjadi manis dengan gula satu sendok, tapi air di dalam gelas besar tidak akan terasa manis jika hanya dengan satu sendok," katanya.

Demikian juga penggunaan herbal dalam tubuh. Ketika dosisnya kecil masuk ke dalam tubuh orang yang kadar airnya banyak tidak akan berasa di darah, sebab setiap sel dalam tubuh banyak mengandung air.

Secara rata-rata, jelas Machendra, pada berat tubuh 55-60 kg diperlukan herbal rebusan dalam bentuk cair sekitar 200 cc atau 4-5 kapsul sekali minum untuk tujuan pengobatan.

Sementara untuk tujuan pencegahan, cukup minum 3 kapsul sekali minum per dua hari. "Kalau untuk pengobatan, sebaiknya mengonsumsi hebal setiap pagi, siang, dan sore," papar Machendra.

Herbal Meregenerasi Sel

Meski obat herbal relatif aman, sayangnya saat ini obat herbal masih belum mampu mengatasi penyakit yang sifatnya infeksi akut. "Kalau mendadak, seperti serangan jantung, herbal belum mencapai itu. Termasuk juga kolik atau kejang," kata Machendra.

Dalam kasus seperti ini, kata Machendra, obat sintetik lebih cocok. Namun, menurut Zaidul Akbar, pengasuh rubrik Konsultasi Syifa majalah Suara Hidayatullah, pada prinsipnya herbal bisa saja digunakan untuk mengatasi penyakit yang sifatnya mendadak.

Hanya saja, teknologi yang dimiliki oleh Indonesia saat ini belum menunjang ke arah sana, seperti herbal dalam bentuk suntikan, infus, atau yang langsung dimasukkan ke dalam dubur.

"China sudah melakukan hal itu," ujar dokter yang juga Direktur Thibbun Nabawi Indonesia ini. Maka, obat herbal kata Machendra sangat baik untuk penyakit-penyakit degeneratif (akibat kerusakan sel), seperti diabetes, hipertensi, dan lain-lain.

Pasalnya, herbal tidak hanya berfungsi mengobati faktor keluhan sakitnya, dia juga meregenerasi sel rusak yang menjadi pencetus penyakit tersebut. Misalnya, sakit diabetes yang pencetusnya karena kerusakan sel beta pankreas.

"Kalau minum obat herbal, selain menjaga kestabilan kadar gula, tapi juga memperbaiki kerusakan pankreas akibat diabetes," terang Machendra.

Contoh lain adalah hipertensi yang disebabkan adanya pengerasan pembuluh darah. Kata Machendra, obat sintentik hanya diarahkan untuk menurunkan tensi saja.

Namun, obat herbal melakukan peremajaan sel-sel pembuluh darah. Jika dia sudah kembali pada fungsinya, hipertensi hilang dan tidak akan kambuh lagi.

Demikian juga pada kasus alergi. Dokter biasanya akan memberikan obat anti alergi. Ketika nanti bersentuhan kembali dengan penyebab alergi, sakitnya akan kembali kambuh, terus begitu seumur hidup.

Namun, kalau herbal selain untuk anti alergi juga berperan menguatkan sistem imun secara alami dengan pembentukan sel dan meningkatkan metabolisme tubuh.

Menurut Machendra, kemampuan herbal dalam meregenerasi sel disebabkan adanya sistem saling menguatkan dan menyeimbangkan yang terdapat dalam kandungan herbal.

"Ketika Allah Ta'ala ciptakan buah yang di situ ada racun bagi tubuh, sesungguhnya di buah itu pula ada zat penetralnya," ujarnya. '"Namun, itu akan berbeda jika kandungan sebuah herbal itu yang dikenal vinblastine.

Obat itu merupakan salah satu zat aktif dalam herbal tapak dara yang sudah dimurnikan,"
terang Machendra. Ia akan bersifat tajam dan sangat berbahaya.

Pada dosis tertentu, kata Machendra, dapat merusak sel-sel tubuh yang lain. Tapi, kalau zat aktif itu masih dalam satu lingkup herbal, ia tidak akan merusak, sebab di herbal itu ada penawarnya.

Ahmad Damanik

Suara Hidayatullah Edisi Juni 2012, Hal 80-81

Dikutip ulang @RumahRuqyahID (Follow us!)

Comments