cookieChoices = {};
Home » » Teknik "Memukul" Dalam Terapi Ruqyah

Teknik "Memukul" Dalam Terapi Ruqyah

Written By Rumah Ruqyah on 2014-06-24 | 2:20:00 PM

Teknik "Memukul" Dalam Terapi Ruqyah 

 Dalam masalah ini, ada tiga pendapat yang beredar :

1. Menolak adanya teknik memukul. Pendapat ini menyelisihi perbuatan Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam  ketika beliau memukul (baca : menepuk) sahabat Usman ibn Abi al-Ash saat datang ke Madinah mengadukan masalahnya. 

 2. Membolehkan teknik "memukul" tapi tidak memiliki dhawabit syar'iyyah. Pendapat ini dapat merusak citra ruqyah syar'iyyah dan menimbulkan perbuatan yg melampaui batas. 

3. Membolehkan teknik "memukul" tapi dengan aturan main yang sesuai syariat. Pendapat ketiga ini, dipilih oleh mayoritas ulama dan masyayikh yang peduli dengan ruqyah syar'iyyah, baik dengan tulisan maupun dengan menjadi praktisi ruqyah. 

   Di Indonesia, peruqyah yang tergabung dalam ARSYI juga memilih dan mempraktikkan pendapat ketiga ini. Dalilnya bisa dilihat dalam Sunan Ibnu Majah (no. 3548) tentang sahabat Usman ibn al-Ash dan juga dalam Mu'jam Kabir ath-Thabrani (no. 5313) tentang anak gila yang diruqyah Nabi Muhammad SAW.

    Dhawabit (kaidah) memukul dalam praktik ruqyah, antara lain : 

a. Boleh memukul jika memang diperlukan. Jika tidak, maka cukupkan dengan membacakan ayat-ayat dan doa ruqyah. Karena hakikat ruqyah ada pada bacaannya, bukan pada pukulan.

 b. Boleh memukul jika sudah dipastikan ada gangguan jin. Jangan sampai pukulan hanya dirasakan pasien, bukan jinnya. 

c. Pada prinsipnya, pukulan itu pelan (khafif) sehingga lebih cocok disebut dengan tepukan. Namun, boleh dengan sedikit lebih keras jika peruqyah mampu mengukur kadar penting atau tidaknya memukul dengan keras. 

d. Menghindari bagian wajah untuk dipukul, begitu juga tengkuk dan bagian yang dapat mencederai pasien.Khusus pasien perempuan, jauhi memukul bagian sensitif seperti dada dan sebagainya.

 e. Jika perlu memukul atau menepuk, pukulan pada bagian dada (untuk laki-laki saja), punggung dan telapak kaki adalah tempat yang pas. 

f. Khusus untuk pasien perempuan, jika diperlukan memukul, pukul atau tepuklah dengan bagian punggung tangan, bukan telapak tangan. 

   Teknik memukul ini tidak ditafsirkan dengan cara dan metode yang jauh dari makna "memukul" seperti menyepak, menendang atau menampar dan sebagainya. 

   Teknik memukul juga tidak dengan kaifiat-kaifiat khusus, misalnya memukul dengan cara memutar, dengan jumlah pukulan khusus dan sebagainya.

   Teknik memukul juga sebaiknya tidak dinamakan dengan istilah-istilah yang jauh dari substansi, misalnya Pukulan Halilintar Menerjang Bumi, Pukulan Tongkat Nabi Musa, Pukulan Ayat Memecah Gunung dan sebagainya. 

    Hal ini untuk menghindari tasyabbuh (menyerupai) dengan metode pengobatan lain yang jauh dari syariat yang menggunakan istilah-istilah aneh agar terlihat hebat dan mujarrab.

    Mudah-mudahan ini bermanfaat dan ajang saling memberi nasehat. Jangan dianggap untuk memancing berdebat sehingga dianggap sebagai sifat hasad. 

Ustadz Musdar Bustamam Tambusai

Direktur Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Medan
Share this article :

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran

 
Support : Public Relation Rumah Ruqyah Indonesia
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger