Pengalaman Meruqyah Tidak Bisa Jadi Kaidah

Pengalaman Meruqyah Tidak Bisa Jadi Kaidah 

  Menurut saya, kaidah ruqyah sudah baku dan prinsip-prinsip dasarnya sudah terbangun secara permanen (ats-tsawaabit). Hal-hal yang bersifat tsawaabit inilah yang seharusnya jadi pegangan bagi peruqyah yang ingin memantapkan kesyar'ian ruqyah diawal kiprahnya.

  Sedangkan kasus per-kasus yang ditangani oleh para peruqyah dan seabrek pengalaman yang mereka pernah lakukan dengan berbagai inovasi yang mereka buat, itu bukanlah prinsip tapi sesuatu yang terjadi secara spontanitas.

   Hal-hal yang terjadi secara spontanitas dalam praktik ruqyah dilapangan, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ruqyah, merupakan inovasi yang boleh dilakukan. Karena ia terkait dengan sesuatu yang dapat berubah sesuai kebutuhan (al-mutaghayyiraat).

   Hanya saja, seorang peruqyah tidak boleh dengan serta merta memantapkan suatu inovasi dan pengalamannya menjadi sebuah aturan atau kaidah yang harus dibakukan. Menganggap sesuatu bagus belum tentu bagus menurut syari'at.  

   Dalam ilmu ushul fiqh ada kaidah istihsan (menganggap sesuatu baik) tapi tidak semua ulama menjadikannya sebagai dalil. Bahkan Imam Syafi'i mengatakan "Barangsiapa menganggap baik sesuatu, sesungguhnya ia telah membuat syari'at" (manistahsana faqad syara'a).

   Oleh karena itu, bagi seorang peruqyah seharusnya tidak melakukan inovasi-inovasi dalam praktik ruqyahnya selama belum dapat memastikan kesyar'iannya. Jika menurut pengalamannya, inovasi itu bagus dan mujarrab, maka itu hanyalah sesuatu yang bersifat furu'iyah juziyyah (cabang) yang tidak dapat dijadikan sebagai kaidah pokok yang baku dan mengikat. Wallahu a'lam.

Ustadz Musdar Bustamam Tambusai

Rumah Sehat Thibbun Nabawi Al-Iman, Medan

Comments