Larangan Meminta Mati Bag 2

 Larangan Meminta Mati Bag 2

  Diriwayatkan dari Malik, dari Abu Zinad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda; "Kiamat tidak terjadi sebelum ada seseorang melewati kuburan orang lain, sehingga dia berkata, Alangkah baiknya andaikan aku menempati tempat dia." (Shahih Al Bukhari (7115) dan Shahih Muslim (157). 

   Seolah kontradiksi ya dengan pembahasan sebelumnya. Kali ini seolah membolehkah meminta mati, benarkah? Mari lihat jawabannya dari hadits berikut. Do'a Rasulullah; "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar mampu melakukan kebaikan-kebaikan, meninggalkan segala kemungkaran dan mencintai orang-orang miskin. Dan jika Engkau menghendaki -menurut riwayat lain: Engkau mengedarkan- bencana di tengah manusia, maka cabutlah (nyawa)ku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena bencana." (HR. Malik) (Shahih Sunan At-Tirmidzi (3233, 3235). 

   Sahabat Umar Ibnu Khattab pernah seperti itu dalam do'anya; "Ya Allah, kekuatanku benar-benar sudah lemah, usiaku sudah tua, sedang rakyatku sudah tersebar ke mana-mana. Maka, cabutlah (nyawa)ku dalam keadaan tidak menyia-nyiakan ataupun melalaikan kewajiban." 

   Tidak lebih dari sebulan sejak do'a itu dipanjatkan, maka Umar pun meninggal dunia. Semoga Allah senantiasa merahmatinya. 

   Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa' (Kitab Al-Qur'an, Bab Al-'Amal fi ad-Du'a)  Sudah jelas sekarang apa yang menyebabkan -boleh- ingin matinya orang-orang mulia tersebut. Tak lain lantaran dahsyatnya bencana  yang menimpa masyarakat, dan kerusakan yang menimpa agama, sementara dia sendiri tidak berdaya menghadapinya, dan khawatir agamanya sndri akan berganti. Jadi, bukan bencana yang menimpa tubuhnya atau lainnya, seperti hilangnya harta,yang semua itu bs mengurangi dosa-dosanya. 

   Hal ini dipertegas lagi dengan hadits berikut ini. Abu Umar bin Abdul Barr dalam At-Tamhid wa Al-Istidzkar, menyebutkan cerita Zadan Abu Umar, dari Alim Al-Kindi, dia berkata bahwa saya pernah duduk bersama Abul Abbas Al-Ghiffari di atas loteng. 

   Maka terlihat olehnya orang-orang menderita dan mati karena suatu wabah. Tiba-tiba dia berkata; "Hai wabah, ambillah aku kepadamu." Dia katakan itu tiga kali. Kemudian Alim bertanya; "Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah Rasulullah telah bersabda; "Jangan sekali-kali seorang dari kamu sekalian menginginkan mati, karena ketika itu terputuslah amalnya, dan tidak dikembalikan lagi. (umurnya) untuk meminta keridhaan (taubat)?" 

   Maka jawab Abul Abbas, Aku pun mendengar sabda Rasulullah; "Segeralah meminta mati jika telah terjadi enam perkara: Orang-orang bodoh jadi pemimpin, banyaknya tanda-tanda (kiamat), hukum dijual-belikan, pembunuhan dianggap remeh, silaturrahim diputuskan, dan generasi yang menjadikan Al Qur'an sebagai nyanyian,  mereka menyuruh seseorang tampil menyanyikan Al Qur'an padahal ia paling sedikit pengetahuan agamanya." (Shahih Al-Jami' (2812) 24. dan Ash-Shahihah (979) karya Al-Albani Rahimahullah. [At Tadzkirah, Imam Syamsuddin Al Qurthubi]

Dikutip ulang dari Official Twitter Rumah Ruqyah Indonesia; @RumahRuqyahID

Comments