Skip to main content

Jimat Pusaka, Jimat Andalan Dukun?

Jimat Pusaka, Jimat Andalan Dukun?
Bila kita mendengar kalimat “Jimat Pusaka” ini pasti yang terbersit dalam pikiran kita adalah sakti, hebat, kebal bacok, dan lain sejenisnya. Dengan jimat pusaka, bisa menerawang, bisa cepat sukses dalam dagang atau karir di kantor.

  Konon, hampir semua dukun memiliki ‘pegangan’ pusaka, atau orang Jawa mengistilahkan dengan ‘cekelan’ atau ‘gembolan’ bisa berupa keris, pedang, tombak, badik, batu akik, batu kristal, besi kuning, jenglot, (dipercaya sebagai tubuh orang sakit yang mati) dan lain sebagainya. Inilah yang di sebut dengan jimat, atau dalam bahasa Arab di sebut ‘tamimah’.

  Jimat adalah benda-benda keramat atau benda-benda pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan ghaib sehingga dapat membantu menyelesaikan segala persoalan hidup.

  Namun benda-bena yang di anggap keramat ini tidak saja berbentuk benda mati, makhluk hidup juga ada yang dikeramatkan seperti: kerbau putih, burung pelatuk bawang, ayam cemani, dan lain sebagainya. Seperti kerbau bule di Keraton Solo yang setiap malam 1 Syuro (Muharam) dikirab di alun-alun. Bahkan kerbau itu diberi nama Kyai Selamet.

  Agar tuahnya tetap ada maka biasanya dilakukan penjamasan atau ritual perawatan dan pembersihan. Ritual jamasan pusaka merupakan salah satu momen penting bagi seseorang yang memiliki benda-benda pusaka. Dalam ritual tersebut, barang-barang pusaka seperti keris, tombak, pedang dan benda-benda lain yang di anggap berkekuatan diluar nalar dibersihkan dengan miyak wangi tertentu.

  Seseorang kolektor keris dan benda-benda keramat St Sukirno menjelaskan, tujuan jamasan tersebut agar bebas dari sengkala (marabahaya) karena setiap pusaka diakui memiliki kekuatan diluar nalar yang dapat membahayakan pemiliknya jika tidak dirawat. Hari ini benda-benda keramat oleh para ahli syirik itu diIlmiyahkan dengan istilah-istilah ‘keren’ seperti “Radiasi positif, medan energi” agar dapat diterima oleh masyarakat banyak.

  Pemakaian jimat tak hanya dipakai oleh dukun, tetapi juga para pelanggan yang memanfaatkan jasa para dukun, terutama dukun hitam, dukun jawa. Dan kebanyakan dukun berprofesi sebagai penjual jimat. Sampai sekarang masih banyak dipercaya sebagian masyarakat Indonesia dengan menggantungkannya pada bagian badan tertentu. 

  Tujuannya sangat bervariasi. Ada tolak bala, hajaz (penjagaan) hijab (penyekat), gaman, penglaris, mendatangkan rizki, menolak penyakit, menolak musuh, menolak pencuri, menolak tuyul, kewibawaan, agar dicintai orang lain, untuk kekebalan, untuk keharmonisan rumah tangga, untuk kemudahan urusan, menaklukan lawan dan lain-lain.

  Film-film laga dan mistik di TV masih kental dengan ilustrasi benda-benda bertuah, senjata ampuh maupun jimat keramat. Terkadang berupa batu akik, gelang tangan, kalung, keris dan bahkan biji tasbih. Tontonan seperti itu memang mampu memanjakan khayalan pemirsa, sekaligus efektif untuk menggerogoti akidah dan melestarikan budaya syirik.

  Semua cara seperti itu tidak dibenarkan oleh agama Islam karena dapat mengantar umat menjadi umat yang sesat dan terbelenggu kesesatan. Sebuah riwayat menerangkan sebagai berikut :

  Pada suatu hari datang sepuluh orang menghadap Rasulullah SAW hendak membaiat beliau. Sembilan orang mengikrarkan baiatnya masing-masing, sedangkan yang seorang tetap diam. Ketika ditanya kenapa ia bersikap seperti itu, ia menjawab “pada bagian atas lengannya terdapat jimat”. Ia lalu memasukan tangan ke dalam lengan bajunya, jimat itu ditanggalkan dan dibuang. Pada saat itu dia menerima pembaiatnya, beliau dengan tegas berkata, “Barangsiapa menggantungkan jimat ia telah berbuat syirik.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan AbuYa’la.)

  Nabi juga bersabda, "Siapa yang mengalungkan jimat maka semoga Allah tidak menyempurnakan baginya (akan kesembuhannya)”. (HR Ahmad)

  Nabi sangat keras perlakuannya terhadap pemakai barang-barang yang dijadikan jimat. Ketika Nabi melihat dilengan seseorang terdapat gelang dari kuningan, lalu Nabi bersabda, “Celaka, apa ini?” Orang itu menjawab, “jimat penguat” beliau bersabda, "Sesungguhnya benda itu tidak menambah melainkan kelemahanmu, tanggalkanlah ia. Karena jika kamu mati sedang barang itu masih ada pada dirimu niscaya engkau tidak akan beruntung selamanya,” (HR Ahmad.)

  Tindakan Nabi itu diteladani oleh para sahabat beliau Sahabat Hudzaifah juga pernah menengok orang sakit, beliau melihat ada gelang melingkar dilengan si sakit lalu beliau memotongnya, atau menanggalkannya sembari membaca Firman Allah: “Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mensekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS Yusuf 106)

Bagaimana jika jimat itu hanya bertuliskakan Ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak ada yang lain?

  Adapun jika jimat tersebut berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis dalam kertas atau benda lain lalu ditempel pada suatu tempat ada dua pendapat di kalangan ulama.

  Pendapat pertama mengatakan boleh, di antara yang berpendapat demikian menyandarkan pada pendapat Abdullah bin Amru bin Ash.

  Namun menurut Imam Suyuti, kebolehan tersebut ada manakala memenuhi persyaratan, yakni hendaknya benar-benar dari Al-Qur’an, dari bahasa Arab yang dipahami maknanya dan hendaknya tidak meyakini bahwa benda tersebut berpengaruh karena zatnya, namun haruslah diyakini bahwa segalanya terjadi karena takdir Allah.

Dan juga tak boleh ada unsur kesyirikan di dalamnya.

Pendapat kedua mengatakan haram. Pendapat ini diambil oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah dan yang lain. Inilah pendapat yang benar-benar menurut jumhur ulama salaf dan khalaf, termasuk syeikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz berdasarkan tiga alasan:

Pertama, hal itu masuk dalam keumuman hadits Nabi tentang jimat yang diharamkan.

Kedua, sebagai tindakan saddu dzari’ah (antisipasi dari yang haram). Karena nantinya akan terjadi mukhtalath (kesamaran dan kekaburan) dikalangan awam tentang pembatas antar yang syirik dan yang diperbolehkan. 

  Seperti yang kita lihat mereka hanya melihat tulisan Arabnya saja, tanpa mengetahui maknanya dan bahkan tidak tau apakah tulisan tersebut bermakna atau tidak. Terkadang ada juga yang menjadikan jimat tersebut untuk memeragakan permainan sulap dan semacamnya yang hal ini jelas merupakan bentuk pelecehan terhadap Ayat-ayat Allah.

  Ketiga, menyandarkan kebolehan pada sahabat Abdullah bin Amru adalah lemah. Karena beliau mengalungkan tulisan Ayat-ayat Al-Qur’an pada papan dileher anaknya yang masih kecil hanya sekedar memudahkan anaknya untuk menghafal A-Qur’an dan bukan bermaksud menjadikannya sebagai jimat.

  Hal ini berbeda dengan pengobatan kesurupan atau yang lain dengan cara membacakan Ayat Allah. Yang demikian ini masyru’ (disyari’atkan) sebagaimana ditunjukan dalam hadits dan atsar yang sangat banyak. Walhasil, keyakinan seseorang kepada khasiat benda tertentu atau amaliah tertentu yang secara ilmiah tak terkait atau Allah tidak menjadikan hal itu sebagai sebab termasuk dalam kategori kesyirikan.

  Dan hal itu merupakan bentuk menyandarkan nasib dan bertawakal kepada selain Allah. Bisa berwujud tawakal kepada hari-hari tertentu, rumus fengshui atau jimat yang dikalungkan. Sedangkan Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu maka urusannya akan diserahkan kepada sesuatu tersebut.” (HR An-Nasa’i)

  Allah tidak lagi melindungi mereka, tidak akan menjamin keselamatan, rejeki dan keberuntungan di dunia dan akherat. Urusannya diserahkan pada sesuatu tersebut padahal ia tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat mencegah dari datangnya bencana. Semoga manfaat tulisan ini dan mudah mudahan kita terlindung dari perbuatan syirik. [yudhistra adi maulana/bekamruqyahcenter/islampos]

Source: Islampos.com

Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu? Kamis, 25 April 2013 / 14 Jumadil Akhir 1434

    Katanya, bila ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah berarti ada tamu yang segera datang. Entah malam ini, esok atau lusa. Kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah. Tak tahulah. Entah kenapa kedatangan kupu-kupu menjadi sinyal kalau rumah itu akan didatangi tamu.

     Tidak jarang seorang ibu yang meyakini mitos ini segera berbenah, bila melihat kupu-kupu hinggap di pintu rumahnya. Mulai dari membersihkan rumah, hingga menyiapkan menu makanan yang sedikit istimewa.

    Maklum kedatangan kupu-kupu itu memberinya harapan untuk bertemu dengan seseorang yang barangkali sangat istimewa. Sang suami yang kebetulan bekerja juga sudah dipesan untuk segera pulang.

    Namun, ... gawat nih. Makanan sudah selesai dimasak, rumah juga selesai dibersihkan. Kamar pun telah disiapkan. Tinggal menyisakan rasa capek dan pegal di badan. Tapi ternyata tamu misterius yang ditunggu tak …

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat?

Mimpi Bertemu Ular, Jodoh Sudah Dekat? Selasa 09 April 2013 / 28 Jumadil Awwal 1434 H

     Katanya, kalau saat tidur malam kita diusik oleh mimpi bertemu ular, berarti akan ada jodoh yang datang. Kalau ular itu menggigit atau melilit, berarti jodohnya sudah dekat. Sebentar lagi jodoh itu akan datang melamar. Asyik ya.

     Terus kalau dikejar, katanya kita lagi dikejar-kejar oleh jodoh kita yang entah dimana. Mungkin sebentar lagi dia juga akan menyatakan kesediaannya datang ke rumah dengan segala kesungguhannya untuk melamar. 

      Nah, kalau dalam mimpi kita ternyata mampu membunuh ular, aduh kita membunuh jodoh kita donk. Alias jodoh semakin menjauh dan mungkin orang yang sudah dilamar bisa dibatalkan atau jangan-jangan yang sudah menyebar undangan gagal menikah. Kasihan ya …

       Itu semua gara-gara ular yang hadir dalam mimpi kita di malam hari. Atau bahkan hadir dalam mimpi tidur siang kita. Tidak pernah disebutkan dalam buku-buku penafsir mimpi tentang asal mu…

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H


     Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah.

    Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

    Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

     Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna b…