cookieChoices = {};
Home » » Andai Nabi Bersamaku

Andai Nabi Bersamaku

Written By Rumah Ruqyah on 2014-01-15 | 11:27:00 AM

Andai Nabi Bersamaku
   Hari ini adalah hari kelahiran nabi. Hari ini insya Allah saya akan berangkat ke Tanah Suci. Rinduku sudah begitu membuncah ingin segera ziarah ke makam orang yang sangat kucintai, dialah sang nabi. Seseorang yang saat hidup berjuang keras agar umatnya hidup bermartabat. Seseorang yang ketika hendak meninggal yang terucap adalah, umati… umati… umatku… umatku…

   Bahkan saat dibangkitkan di kehidupan nanti, lelaki yang agung ini langsung bersujud. Dalam sujudnya ia masih mengajukan satu permintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT). Permintaannya bukanlah untuk dirinya, permintaanya adalah agar umatnya diprioritaskan memasuki surga dibandingkan dengan umat-umat nabi yang lain.

  Oh, betapa agungnya kekasih Allah ini. Aku semakin rindu ingin memeluknya, akupun ingin menatapnya berlama-lama. Tapi, pantaskah aku? Layakkah aku? Kini suasana hatiku bergejolak antara harapan dan kekhawatiran. Berharap bisa memeluknya namun khawatir bekalku tak cukup untuk bisa berjumpa dengannya.

  Sebelum berangkat ke Tanah Suci, pagi ini aku berandai-andai. Andaikan nabi hadir ke rumahku, maka akan aku siapkan hidangan yang paling nikmat yang paling ia suka. Aku siapkan tempat tidur yang paling nyaman untuk dirinya. Dengan suka cita, aku akan menutup tubuhnya dengan selimut agar ia bisa tidur nyenyak. Akupun rela terjaga sepanjang malam untuk menjaganya.

  Akupun akan mengantarnya kemanapun ia pergi. Agar ia kerasan di rumahku, aku akan melakukan apa-apa yang ia cintai dan meninggalkan apa-apa yang ia benci. Iapun akan aku ajak ke tempat-tempat dimana aku biasa beraktivitas. Ia akan aku kenalkan dengan semua sahabat dan saudaraku.

  Berandai-andaipun aku sudah merasakan kebahagiaan. Air mata mengalir deras tiada henti. Aku puaskan menangis pagi ini di teras rumahku. Sembari menangis akupun merenung, pasti bila nabi di rumahku, aku akan menyibukkan diri membaca kitab suci dibandingkan menonton televisi. Aku akan lebih banyak berzikir dan berdoa dibanding berkelana di social media.

  Ah, andai nabi mengikuti semua aktivitasku, masihkan ia bersedia untuk aku peluk di kehidupan nanti? Andai nabi mendengar semua perkataanku, masihkah ia bangga punya umat seperti diriku? Andai nabi melihat langsung perilaku dan kebiasaanku, masihkah ia bisa tersenyum bangga punya pengikut seperti aku?

  Air mata mengalir semakin deras karena ternyata keinginanku memeluk Nabi belum diimbangi dengan sikap, perilaku, kebiasaan dan amal sholeh yang layak. Namun, ya Allah, dengan rasa malu yang amat sangat, hamba yang hina ini masih bermohon kepada-Mu, izinkan kelak aku bisa memeluk kekasih-Mu. Izinkan kelak aku bisa hidup bersamanya di surga-Mu. Ya Allah, kabulkanlah pintaku…

Salam SuksesMulia!

Jamilazzani.com
Share this article :

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran

 
Support : Public Relation Rumah Ruqyah Indonesia
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger