Dari Mana Metode Ruqyah Didapat

Dari Mana Metode Ruqyah Didapat

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak Ustadz semoga dilindungi Allah, saya berharap Pak Ustadz mau menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1. Darimanakah sistim ruqyah didapatkan?

2. Bagaimana mengimani yang ghaib sesuai syariat?

3. Bagaimana cara mengetahui seseorang terkena gangguan jin, bagaiman cara mengatasinya?

4. Penyakit apa saja yang bisa diruqyah apa hanya gangguan jin saja?

5. Saya punya kelainan di mata apakah dapat diruqyah biar normal seperti orang lain?

Wassalam.

Agus S,
 Bandar Lampung

Jawaban :

Wa’alaikumusalamWarahmatullah Wabarakatuh

   Saudara Agus S dan pembaca yang dirahmati Allah, setiap orang harus mempunyai pijakan atau tuntunan dalam hidupnya. Dan sesungguhnya seorang Muslim mempunyai dua pedoman hidup yaitu Al-Qur'an dan As- Sunnah. Nabi bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.”

  Dalam hal Ruqyah ini, beberapa ayat Al-Qur'an menunjukkan bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat penyembuh, seperti Firman Allah Swt, “Dan kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al lsra: 82), juga pada ayat yang lain seperti pada (QS. Yunus: 57), (QS. Fusshilat: 44).

Adapun dalil dari hadits, di antaranya sebagai berikut:

1. Hadits dari Ummul Mukminin Aisyah bahwa Rasulullah berkata kepada Aisyah saat ia sedang mengobati seorang wanita, “Obatilah ia dengan Al-Qur'an.” (HR. lbnu Flibban dalam shahihnya).

2. Hadit dari Utsman bin Abil Ash dia berkata, “Rasulullah menjengukku saat aku sakit dan berkata, ‘Usaplah dengan tangan kananmu tujuh kali dan ucapkan: “Audzu bi'izzatillahi waqudrotihi, wa sulthonihi min syarri maa ajidu.” Kemudian aku lakukan dan Allah menghilangkan penyakit itu dariku, dan aku selalu sampaikan tentang ini kepada keluargaku dan yang lain.” (HR.lmam Ahmad, Muslim dalam Shahihnya.).

Adapun tentang bagaimana mengimani yang ghaib sesuai syariat.

   Beriman kepada yang ghaib adalah sifat pertama yang dimiliki oleh orang yang bertaqwa, Allah berfirman, “Al-Qur'an itu tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa, yaitu orang- orang yang beriman kepada yang ghaib dan rnendirikan shalat dan membayar zakat, dan mereka menginfaqkan sebagaian rizki yang Allah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 2-3)

   Abu Ja'far Ar Razi dalam Tafsir lbnu Katsir berkata: bahwa yang dimaksud dengan Al Ghaib dalam ayat di atas adalah, "Beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surga, neraka. bertemu Allah dan beriman kepada kebangkitan kembali setelah hidup.” 

    Sedangkan menurut Qatadah, “Sesuatu yang ghaib bagi manusia seperti tentang masalah surga, neraka dan semua yang ghaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an.” Sedangkan menurut Zaid bin Aslam, Al Ghaib adalah taqdir. Dan semua pendapat itu adalah satu makna yang berdekatan, karena semua yang disebutkan di atas termasuk yang ghaib yang wajib diimani.

   Sehingga mengimani yang ghaib sesuai syariat adalah mengimani yang ghaib yang diberitakan oleh Al-Qur’an maupun oleh hadits Rasulullah. Dengan demikian semua berita dan informasi tentang yang ghaib termasuk tentang dunia jin bisa diterima dan bisa ditolak. Diterima jika selaras dengan Al-Qur’an dan al hadits dan ditolak jika bertolak belakang dengan keduanya.

   Sedangkan cara mengetahui orang yang terkena gangguan jin, prinsip lslam yang benar mengenai hal ini adalah bahwa manusia tidak bisa melihat hakikat jin. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-Araf:27). 

    Dalam hal ini lmam Syafi'i mengatakan, “Barangsiapa yang mengaku dirinya bisa melihat jin (dalam bentuk aslinya), maka kesaksiannya ditolak.” Sehingga ketika kita menyatakan bahwa seseorang terindikasi gangguan adalah dengan mengetahui tanda-tanda gangguan itu pada seseorang. Bukan karena bisa melihat jin yang ada dalam tubuh seseorang.

   Adapun di antara tanda-tanda itu adalah sebagi berikut. Di antara tanda-tanda saat terjaga: gelisah, susah tidur, mudah marah, malas beribadah, makan banyak tidak kenyang atau makan sekali rasanya kenyang dua hari, linglung, sering lesu dan malas, rasa sakit yang berkepanjangan atau pusing pada waktu-waktu tertentu.

   Diantara tanda saat tidur adalah: tindihan, mimpi buruk atau menyeramkan, suara gigi beradu, sering terbangun saat tidur, seakan-akan jatuh dari tempat tinggi.

    Adapun cara mengatasinya adalah dengan berlindung kepada Allah, menjaga shalat lilna waktu dengan berjama’ah di masjid atau di mushalla, membacaAl-Qur’an dan Anda juga bisa melakukan dzikir pagi dan sore serra mengamalkan doa-doa penjagaan, untuk hal ini Anda bisa memiliki kaset Ma’tsurat dan doa penjagaan terbitan Ghoib Ruqyah.

Ruqyah sendiri terbagi menjadi dua; ruqyah penjagaan dan ruqyah pengobatan.

   Ruqyah penjagaan yaitu ruqyah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap cucunya Hasan dan Husein padahal keduanya tidak sakit. Juga ruqyah yang dilakukan Nabi dengan membaca doa sayyidul istighfar tiga kali di pagi dan sore hari.

   Adapun penyakit yang bisa diruqyah adalah seluruh penyakit; akhlak atau moral medis atau non medis, fisik atau non fisik. Karena hakikat yang memberi kesembuhan adalah Allah. Allah berfirman, “Dan ketika aku sakit Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syuara: 80). Di dalam pengobatan dengan methode ruqyah ini kita memohon kepada Allah dari penyakit yang kita rasakan maupun yang dirasakan oleh pasien.

   lbnu Qoyyim Berkata, “Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari segala penyakit hati, jasmani, duniawi dan ukhrawi. Barang siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dengan keimanan, dan keyakinannya yang kuat, maka penyakit itu tidak mampu menandingi Al-Qur’an. Bagaimana penyakit akan menandingi kalamullah yang menciptakan langit dan bumi yang seandainya diturunkan di atas gunung pasti dia akan tertunduk, atau diturunkan di atas bumi, maka ia akan membelahnya .....”

   Kesembuhan ada ditangan Allah, dengan demikian kewajiban kita hanyalah berikhtiar, dengan cara yang tidak melanggar tentunya. Dan sekalipun nampak jelas bahwa seseorang mengalami penyakit fisik, tidak ada salahnya untuk melakukan ruqyah, karena antara pengobatan ruqyah dengan pengobatan medis itu tidak bertolak belakang. Mudah-mudahan bermanfa'at.

Wallahu a'lam bis showab

Ustadz Akhmad Sadzali, Lc


Comments