cookieChoices = {};
Home » » Dalil-Dalil dari As Sunnah (Adanya Kesurupan)

Dalil-Dalil dari As Sunnah (Adanya Kesurupan)

Written By Rumah Ruqyah on 2013-10-22 | 11:11:00 AM

Dalil-Dalil dari As Sunnah (Adanya Kesurupan)

   A. Imam Al Hakim meriwayatkan di dalam Mustadraknya; "Dari Mathar bin Abdurrahman Al-A'naq, dia berkata; 'Ummu Aban binti Wazi' bin Zari' bin Amir Wazi' pergi menjumpai Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) dengan membawa salah seorang anaknya.

   Saya berkata; 'Tatkala kami berjumpa dengan Rasulullah SAW di Madinah, saya berkata; 'Wahai Rasulullah, saya membawa anak saya -atau anak dari saudara perempuannya- yang tertimpa kegilaan.

  Saya bawa ke sini supaya Baginda berkenan mendoakannya agar sembuh. Rasulullah SAW Bersabda; 'Bawalah dia kemari!'

    Kemudian saya hampiri dia yang masih di kendaraan. Lalu saya melepaskan tali pengikatnya (penjelasan; Dia mengikatnya karena dia takut kalau anaknnya ini kabur melarikan diri) dan saya mengganti pakaian safarnya dengan memakaikan dua lapis pakaian yang bagus untuknya, lalu saya menuntun tangannya hingga kami berada di hadapan Rasulullah SAW.

   Beliau bersabda; 'Dekatkan dia kepadaku dan palingkan dia hingga punggungnya menghadapku!'. Dia berkata, "Maka beliau memegang semua sudut pakaiannya dari atas hingga bawah, lalu beliau memukul punggungnya hingga saya melihat dua ketiak beliau putih, dan beliau bersabda, 'Keluarlah engkau wahai musuh Allah! Keluarlah engkau wahai musuh Allah!'

   Setelah itu, anak ini bisa melihat dengan pandangan yang wajar, tidak sebagaimana cara dia memandang sebelum didoakan Rasulullah SAW.

   Lalu, Rasulullah SAW menyuruhnya duduk dihadapan beliau. Beliau mendoakan dan mengusap wajahnya. Setelah Rasulullah SAW mendoakannya, tidak ada yang seorang pun dari rombongan yang ikut mengantarnya kepada Rasulullah SAW dapat mengungguli kebaikannya.

   Al Haitsami berkata, "Hadits ini diriwayatkan Imam Thabrani, sedangkan yang meriwayatkannya dari Ummu Aban hanya Mathar saja". (Majma'uz Zawa'id:9/3)

   Saya berkata, "Al Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Ummu Aban adalah maqbulah (bisa diterima) (Taqribut Tahdzib: 2/619). Di dalam kitab shahihnya Imam Bukhari meriwayatkan pula hadits dari Ummu Aban.

Berdasarkan hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa hal:

* Setan dapat mengganggu manusia sehingga membuatnya gila. * Gangguan (kesurupan) jin semacam ini dapat disembuhkan dengan pukulan. *Setan dapat masuk ke dalam diri manusia dan tinggal disana.

   B. Ya’la bin Murrah ra berkata; “Saya melihat tiga hal dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam (SAW) yang belum pernah dilihat oleh seorang pun sebelum dan sesudah saya. Pada suatu hari, saya pernah melakukan safar (bepergian) bersama Rasulullah SAW.

  Di tengah perjalanan, kami melewati seorang perempuan yang sedang duduk bersama anaknya yang masih kecil. Kemudian perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah, anak saya ini menderita penyakit, dan kami menjadi terganggu dengan penyakitnya dengan penyakitnya. Setiap harinya dia selalu kumat beberapa kali, sampai saya tidak tahu berapa kali’. Beliau bersabda; ‘Berikanlah anak itu kepadaku!’

  Maka perempuan itu pun membawa bayinya kepada Rasulullah SAW. Dia meletakkan di antara Rasulullah dan pelana kuda. Kemudian Rasulullah membuka mulut anak itu, lalu meniup ke dalamnya sebanyak tiga kali dan mengucapkan, ‘(Bismillah) Dengan menyebut nama Allah, aku adalah hamba Allah, enyahlah engkau wahai musuh Allah!’

   Kemudian beliau menyerahkan kembali bayi itu kepada ibunya dan berkata, ‘Temuilah kami kembali di tempat ini, ketika kami kembali, dan beritahukanlah kepada kami apa yang dilakukan anak ini!’

   Dia berkata, ‘Maka kami pun berlalu, dan ketika kami kembali, kami mendapati perempuan tersebut sudah berada di tempat tadi dengan membawa tiga ekor kambing’.

   Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa yang dilakukan bayimu?’ Perempuan itu berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, hingga saat ini kami tidak lagi merasakan sesuatu yang aneh darinya, maka ambillah salah satu dari ketiga kambing dan tinggalkanlah yang lainnya,’

   Kemudian perawi menyebutkan hadits ini secara lengkap. (Majma’uz Zawwa’id:9/4. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani dengan dua isnad. Rijal dari salah satu isnad Ahmad adalah rijal shahih. Saya berkata: di dalam Al Mustadrak: 2/617, Hakim juga menyebutkannya dia menganggapnya shahih, dan disepakati oleh Dzahabi.) (Ruqyah, Syekh Wahidabdussalam Bali)

Berdasarkan hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa hal:

* Contoh Ruqyah yang dilakukan Rasulullah

* Bolehnya mendapat upah sewajarnya setelah meruqyah

# Kesabarannya yang Menuntunnya ke Surga #

   C. Atha’ bin Abu Rabah ra berkata, Abdullah bin Abbas ra berkata kepada saya; “Maukah kamu saya tunjukkan seorang perempuan penghuni surga?” Saya berkata “Tentu”. Dia berkata; “(Yaitu) Perempuan hitam ini, dia pernah menghampiri Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) dan berkata, ‘Saya adalah orang yang menderita penyakit ayan, dan setiap kali saya kambuh saya tidak sadar hingga aurat saya terbuka, berdoalah kepada Allah agar saya sembuh.’

   Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika kamu mau bersabar, niscaya kamu kan meraih surga, dan jika kamu sembuh, saya akan berdo’a kepada Allah.’ Perempuan ini berkata, ‘Saya akan bersabar.’ Dia berkata, ‘Setiap kali kambuh, tanpa sadar aurat saya terbuka, maka do’akanlah saya supaya aurat saya tidak terbuka lagi’. Maka Rasulullah SAW pun mendo’akannya (HR Bukhari: (6/114 – Fathul Bari) dan Muslim (16/131 – Syarah an Nawawi)

   Perempuan beriman ini bernama Ummu Zufar ra, sebagaimana riwayat Imam Bukhari dalam shahihnya dari Atha’. Sebenarnya, gangguan yang dialami perempuan ini berasal dari jin.

   Dalam menjelaskan hadits ini Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan; “Menurut riwayat Bazzar, dari Abdullah bin Abbas ra yang serupa dengan kisah ini, bahwa perempuan itu berkata, ‘Saya khawatir kalau si buruk rupa menelanjangi saya’. (Fathul Bari: 10/115)

   Maksud dari buruk rupa di sini adalah setan. Setelah menyebutkan periwayatan hadits ini, Al Hafiz berkata, “Dari hasil periwayatan yang ada dapat diketahui bahwa gangguan yang dialami Ummu Zufar adalah gangguan jin (kesurupan) bukan gangguan penyakit ayan biasa (Fathul Bari 10/115) (Ruqyah, Syekh Wahid Abdussalam Bali)

   D. Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata; “Apabila Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) melaksanakan shalat, beliau mengucapkan:

Allahumma innaa a’udzubika minasysyaithaa nirrajiimi wa HamziHi wa nafkhiHi wanafatshiHi

‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk, dari hamz, nafakh dan nafts-nya.”

Ibnu Mas’ud menerangkan, “Hamz berarti Al Mautah (gangguan yang membuat tidak sadarkan diri), Nafakh berarti untaian kata-kata tipuan, dan nafts berarti sifat sombongnya.” (HR. Hakim, dia menganggapnya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

   Maksud Al Mautah adalah sejenis penyakit gila dan kesurupan yang menimpa manusia. Jika sadar, akalnya kembali berfungsi seperti biasa. Seperti orang yang tidur dan mabuk. (Lisanul A’rab: (6/4296)

   Ibnu Katsir berkata; “Maksud dari Al Mautah adalah penyakit gila dan cekikan yang berupa kesurupan.” (Al Bidayah wan Nihayah: (1/61)

   Abdul Karim Naufan berkata, “Hadits ini menyatakan adanya kesurupan jin pada manusia. Sebab, dalam hadits di atas Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah dari hamz.

   Sedangkan maksud dari hamz adalah ketidaksadaran yang terkadang dialami manusia di saat hidupnya, yaitu kesurupan. Karena, kondisi orang yang kesurupan seperti ini bisa menyebabkan kematian, disebabkan rasa sakit yang dialaminya ketika kesurupan.” (Alamul Jinni fi Dhau’il Qur’an was Sunnah: (269)

   E. Shafiyah binti Huyay ra berkata; Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda; “Sesungguhnya setan berpindah pada diri (anak) Adam melalui jalan darahnya.” (HR Bukhari: 4/282 – Fathul Bari) dan Muslim: (14/155 – Syarh An Nawawi)

   Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa setan mampu merasuk ke dalam diri manusia, dan bahwa kesurupan jin benar terjadi. Dalam kitab Al Fatawa Al Haditsah, setelah menyebutkan hadits ini, Ibnu Hajar Al Haitsami menjawab pendapat yang menolak bahwa setan dapat merasuk ke diri manusia, seperti kaum Muktazilah (Dinukil dari kitab Rududun ‘ala Bathil: (2/138)

   F. Dari Ubay bin Ka’ab rahimahumullah, dia berkata; “Ketika saya bersama Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam, tiba-tiba seorang Arab Badui datang dan berkata; “Wahai Nabi Allah, saya mempunyai saudara yang sedang menderita sakit”.

   Beliau bertanya, ‘Apa penyakitnya?’ Dia berkata, ‘Dia seperti orang gila (kesurupan).’ Maka beliau bersabda, ‘Bawalah dia kemari!’

    Setelah datang, Badui itu menyuruh saudaranya untuk duduk di hadapan Rasulullah. Kemudian Rasulullah memintakan perlindungan untuknya dengan membacakan:

# Surat Al Fatihah
# Empat ayat dari awal surat Al Baqarah
# Dua ayat dari pertengahan surat Al Baqarah (163 – 164)
# Ayat kursi (Al Baqarah: 255)
# Tiga ayat dari akhir surat Al – Baqarah
# Satu ayat dari surat Ali Imran (ayat ke 18)
# Satu ayat dari surat Al – A’raf (54 – 56)
# Ayat-ayat terakhir dari surat Al Mukminun (116 – 118)
# Satu ayat dari surat Al Jin (3)
# Sepuluh ayat pertama dari surat Ash-Shaffat
# Tiga ayat terakhir dari surat Al Hasyr
# Surat Al Ikhlas
# Surat Al Falaq dan
# Surat An Nas

::..Bolehnya Memungut Bayaran Pada Ruqyah Syar’iyyah..::

   G. Dari Kharijah bin Shalt dari pamannya ra, mendatangi Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam untuk masuk Islam. Kemudian dia beranjak pulang dari sisi Rasulullah SAW. Lalu dia melewati sekelompok kaum yang sedang mengitari seorang lelaki gila yang diikat dengan besi.

    Kemudian keluarganya bertanya kepada orang-orang, “Sesungguhnya kami diberitahu bahwa saudara kalian ini membawa kebaikan. Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk mengobatinya?” Saya pun meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah, kemudian dia pun sembuh.

   Lalu mereka memberikan seratus ekor kambing kepada saya. Maka saya mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Beliau bertanya, “Apakah kamu membacakan (mantra) selain Al Fatihah ini?”

   Saya berkata, “Tidak.” Beliau bersabda, “Ambillah! Demi Allah, haram hukumnya orang yang makan (berusaha) dari hasil ruqyah yang batil (jampi-jampi), tetapi kamu makan dari hasil ruqyah yang benar.”

   Pada riwayat lain dikatakan, “Maka shahabat yang baru masuk Islam ini (Kharijah) meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah selama tiga hari, pada waktu siang dan malam.

   Dan setiap kali selesai membacanya, dia mengumpulkan ludahnya, lalu meludahnya ke mulut orang tersebut.” (HR Abu Dawud) dan dianggap shahih oleh Imam Nawawi di dalam Al Adzkar: 87.

Share this article :

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran

 
Support : Public Relation Rumah Ruqyah Indonesia
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger