Jangan duduk di pintu, Pamali!

Jangan duduk di pintu, Pamali!
Senin 20 Juni 2013 / 10 Rajab 1434 H

jangan di foto dalam jumlah ganjil, nanti salah satu mati 

jangan menyapu tengah malam, pamali nanti rezekinya seret

jangan bersiul di dalam rumah, pamali nanti kedatangan harimau
 

    Sebenarnya banyak lagi, kata-kata seperti itu yang katanya nantinya akan menyebabkan musibah. Dan tidak cuma kebiasaan/tingkah laku saja, ada juga yang dari ciri atau fisik orang misalnya :

Anak yang lahir kulitnya hitam
Anak yang lahir kulitnya bule
Anak yang lahir jam 12 siang

    Ini hanya beberapa contoh "Sukerta" yaitu jenis-jenis manusia yang akan dimakan oleh BATARA KALA. Batara kala menurut orang Hindu Bali yaitu Dewa pencipta bumi dan cahaya yang menguasai dunia bawah tanah. Dan untuk menghindari dimakan oleh Batara Kala mereka yang termasuk kriteria sukerta harus melakukan tolak bala atau disebut juga RUWATAN

Darimana itu mitos ini berasal ?

    Kriteria orang-orang sukerta diambil dalam kitab sastra "Serat Centhini" yang disampaikan dalam bentuk tembang/nyanyian oleh para sinden dalam acara Pagelaran Wayang. Kitab Serat Senthini itu ada 12 Jilid, tiap jilid berbeda-beda isinya, ada yang menceritakan kuliner, menceritakan santri yang melakukan petulangan santri berganti-ganti pasangan, cerita-cerita vulgar, tata cara persenggamaan juga dibahas dalam kitab tersebut. Naudzubillahi min dzalik.

    Dalam agama Islam, beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu disebut THIYAROH atau TATHOYYUR.

    Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.

    Thiyaroh atau beranggapan sial termasuk kesyirikan sebagaimana dinyatakan dalam hadits.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)

     Apa beda al fa’lu dan thiyaroh? Al fa’lu adalah berangan kebaikan. Sedangkan thiyaroh adalah berperasaan akan datangnya keburukan. Adapun contoh al-fa`lu misalnya dia mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan.

    Ketika Sahl datang, dia pun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala.

      Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

    “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

      Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa thiyaroh atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:

- Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.
- Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.

     Catatan: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar’i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah

     Budaya diatas adalah termasuk Budaya Kesyirikan. Dahulu orang musyrik di masa Nabi juga beralasan karena ini adalah budaya. Akhirnya, mereka terus melestarikan budaya kegelapan tersebut. Yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dahulu,

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

     "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka" (QS. Az Zukhruf: 22).

     Lihat mereka pun beralasan karena yang mereka lakukan itu budaya dan tradisi. Tidak ada hujjah dalil atau wahyu yang mereka sampaikan kecuali alasan itu.

     Sampai-sampai gara-gara ingin kokoh dengan tradisi, maka paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mati dalam keadaan kafir karena digoda oleh teman-temannya untuk tetap terus mempertahankan budaya. Coba renungkan kisah Abu Tholib saat-saat ia mau meninggal dunia.

     Mengenai RUWATAN atau Tolak Bala, bukanlah minta pada Allah. Namun jin dijadikan tempat meminta pertolongan. Jin atau setan itu dipanggil oleh dukun. Padahal meminta tolong pada jin untuk menolak bala telah disebutkan dalam Al Qur’an Al Karim,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. Al Jin: 6). Dari Al ‘Aufi, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Setan malah menambah dosa pada manusia”.

    Tak tahunya, jin pun tidak bisa menolak kehendak Allah. Kalau Allah takdirkan gagal, yah gagal walau dengan bantuan 1000 jin sekali pun.

    Kalau ritual ruwatan berisi do’a tulus pada Allah, mengapa harus pakai kembang bunga saat ruwat dari mana tuntunannya ataukah itu wasiat dari jin? Mengapa harus datangkan dukun, kenapa tidak meminta atau berdo’a pada Allah langsung? Dukun juga biasanya kagak shalat (itu yang umum ditemukan), mana mungkin ia meminta pada Allah dengan tulus?

Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

     Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala. Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ

“Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu."

Kenapa kita tidak cukup berdo’a pada Allah saja? Di antara do’a yang bisa kita panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

  "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu".
(HR. Muslim no. 2739).

Do’a ini berisi permintaan, di antaranya agar nikmat itu tetap ada.

Intinya Thiyarah dan ritual Ruwatan jelas sudah bahwa itu merupakan perbuatan syrik. di akhirat kelak berupa siksaan yang pedih bagi pelaku kesyirikan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

   “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).

Wallahul musta’an.

Semoga Allah memberi hidayah pada kita untuk terus bertauhid dan menjauhkan kita dari segala macam perbuatan syirik

Comments