Setelah Keluar dari ‘Pengajian’ (Tubuhku Berbau Busuk)

Setelah Keluar dari ‘Pengajian’ (Tubuhku Berbau Busuk)

   
Empat belas abad Islam tegak di muka bumi. Sebuah rentang waktu yang panjang sehingga melahirkan pemahaman dan penafsiran baru terhadap ajaran agama. Seringkali pemahaman dan penafsiran baru tersebut tidak sejalan dengan apa yang digariskan Rasulullah SAW.

     Karena itu, berhati-hatilah dalam menentukan pilihan di mana dan kepada siapa harus memperdalam ilmu agama agar tidak menyesal di kemudian hari. Seperti yang dialami Nurmala (nama samaran), bukan ketenangan yang ia dapatkan, tapi justru penderitaan yang tiada terperikan.

      Tubuhnya mengeluarkan bau busuk laksana sampah. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

      Sebagai seorang ibu muda yang telah mengalami pahit getirnya pernikahan, saya membutuhkan pijakan dan pegangan yang kuat agar bisa tetap bertahan. Karena itu sudah sewajarnya bila saya mencari pijakan dengan semakin mendekatkan diri kepada ajaran agama. 

    Bak gayung bersambut, niatan yang mulia itu cepat mendapat respon dari Rohadi (bukan nama sebenarnya), seorang teman dekat yang pada akhirnya menunjukkan dan mengajak saya mengikuti pengajian di kelompoknya.

    Rohadi menceritakan panjang lebar tentang kehebatan gurunya yang katanya bisa melihat apa yang terjadi di alam kubur. Apakah si mayat sedang mendapat siksa kubur atau sebaliknya memperoleh kenikmatan yang tiada terkira. Bahkan, masih menurut cerita Rohadi, orang yang tadinya meninggal dalam keadaan masih memeluk Kristen pun bisa di Islamkan.

     Saya yang masih awam akan ajaran agama ini, tentu dengan mudah terpengaruh dengan kisah demi kisah yang diceritakan Rohadi yang pada intinya semakin memperkuat ketokohan sang guru. Hingga tanpa pikir panjang, saya segera mengiyakan ketika Rohadi mengajak bergabung bersamanya.

     Hari pertama datang ke tempat pengajian, saya langsung diberi segelas air putih yang harus diminum dengan disertai wiridan-wiridan tertentu. Dalam hati saya berpikir bahwa semua orang yang baru datang mengalami perjamuan serupa, sehingga saya pun meminumnya begitu saja.

    Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan saya masih menjadi seorang santri yang aktif mengikuti pengajian di kantor cabang. Hingga pada suatu hari, seorang guru pembimbing menawarkan untuk menanam susuk di dagu saya.

     Awalnya saya menolak karena saya merasa tidak membutuhkan susuk itu. Tapi ketika guru pembimbing bersikeras untuk memasangnya, saya pun luluh juga. “Nggak apa-apa. ltu buat penjagaan biar tidak ada yang mengirim kamu yang bukan-bukan. Susuk itu sendiri akan keluar empat puluh hari sebelum kamu meninggal. Sehingga tidak akan menyulitkan kematianmu,” ujarnya panjang lebar.

     Hati saya semakin terbuka, setelah saya berpikir bahwa guru pembimbing lebih paham agama daripada saya. Setelah berwudhu, saya segera dipersilahkan masuk ke dalam ruangan seluas 2x3 meter. Saya disuruh terus melantunkan syahadat dan shalawat, kemudian pada detik-detik berikutnya guru pembimbing memasukkan susuk yang terbuat dari logam ke dagu saya dengan menggunakan alat pemotong kuku.

      Benda kecil itu pun masuk begitu saja ke dalam kulit saya tanpa menimbulkan rasa sakit. Semuanya biasa saja, seperti tidak ada benda apapun yang dimasukkan ke dagu saya. Waktu itu saya dipesan untuk tidak bercerita kepada siapa pun bahwa saya dipasangi susuk.

      Saya tidak tahu, mengapa ia melarangnya. Saya sendiri tidak begitu mempedulikannya, karena saya tidak meminta dan semua itu demi kebaikan saya, katanya.

      Setelah memakai susuk ada sedikit perubahan yang saya rasakan. Bila dulu ada beberapa teman kantor yang suka melecehkan saya, kini semua itu seakan bagian dari masa lalu. “Kalau sudah tidak betah tinggal di sini, kamu keluar juga tidak masalah,” ungkapan bernada sinis semacam ini tidak lagi saya dengar. Bahkan sebaliknya, teman-teman kantor semakin menaruh hormat kepada saya. Tidak ada yang jahil atau iseng.

      Teman kantor pun merasakan perubahan yang ada sehingga mereka sempat bertanya, “Nur, kamu itu dukunnya di mana sih, kok diapa-apain tidak mempan?” ledek teman-teman suatu siang. Saya hanya menanggapi semuanya dengan senyuman karena selama ini saya merasa tidak pernah pergi ke dukun.

       Meski waktu itu terbetik dalam pikiran saya bahwa selama ini ada orang-orang yang tidak senang dengan saya. Hal itu diperkuat dengan hilangnya uang kantor yang bilangannya menembus angka jutaan.

Awal Permasalahan

      Keterikatan saya dengan tempat pengajian terputus karena Ratih, istri guru pembimbing, cemburu. Ia menganggap keberadaan saya akan merusak kebahagiaan rumah tangganya. Hal ini tidak terlepas dari mimpi yang dialaminya bahwa akan muncul seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut sebahu yang akan meruntuhkan biduk rumah tangganya. Tuduhan itu pun mengarah kepada saya.

      Ratih semakin menemukan alibinya ketika suatu hari saya membawakan oleh-oleh dari luar kota untuk guru pembimbing. Di depan mata saya, Ratih membuang oleh-oleh itu. Saya kecewa dan tidak terima diperlakukan seperti itu karena selama ini saya menganggap bahwa hubungan yang ada di antara kami sebatas hubungan seorang guru dan murid. Tidak lebih dari itu.

      Karena kecewa, berbagai mustika seperti keris kecil dan batu berbentuk agak persegi, tidak bulat dan tidak persegi empat yang berwarna oranye yang saya dapatkan sewaktu mengikuti ritual berendam di Pantai Anyer pun saya bagi-bagikan kepada beberapa teman yang masih aktif di pengajian. Saya ingin mengakhiri semuanya tanpa menyisakan kenangan apapun.

       Selang beberapa minggu setelah keluar dari kelompok pengajian saya mengalami peristiwa ganjil yang terjadi berulang-ulang. Seperti yang terjadi pada suatu hari ketika sedang tiduran sambil menonton TV di rumah tante.

      Tiba-tiba saja, seperti ada binatang ngengat yang masuk ke telinga saya. Sayap dan cakarannya jelas terasa di gendang telinga. Cakaran yang sangat menyakitkan, hingga saya pun tidak kuasa menahan teriakan. Saya tutup telinga dan saya pukul-pukul kepala saya, tapi rasa sakit itu tidak juga hilang.

      Dokter yang memeriksa pun angkat tangan dan tidak menemukan satu binatang pun yang masuk ke telinga saya. Tapi rasa sakit itu terus merambat dan menggerogoti telinga hingga membentuk terowongan ke tenggorakan di bawah rahang. Kemudian berhenti di sana.

      Saya tidak tahu, apakah ada hubungan antara kemunculan binatang misterius itu dengan keinginan saya untuk konsultasi kepada mantan guru pembimbing atas masalah yang saya hadapi di kantor atau tidak. Jika saya datang konsultasi pasti bertemu lagi dengan istrinya yang sudah sangat marah kepada saya. Namun akhirnya, saya mengurungkan niat untuk konsultasi dengan guru pembimbing.

      Kehadiran binatang misterius ini terus berlanjut. Seperti semut atau ngengat yang masuk ke hidung atau sekadar berkutat di sekitar telinga. Yang menjadi tanda tanya adalah mengapa hal ini seringkali terulang.

       lni bukan suatu kebetulan semata, tapi memang ada orang yang berniat tidak baik kepada saya. Saya tidak berani menunjuk seseorang sebagai kambing hitam karena saya tidak punya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai barang bukti.

       Keanehan demi keanehan seakan tidak pernah berhenti. Bahkan semakin lama semakin meningkat. Bila sebelumnya hanya mengganggu secara fisik, kini gangguan itu mulai menggerogoti ibadah saya. Seperti yang terjadi pada bulan puasa tahun 2004. Ketika saya akan melaksanakan shalat tarawih, tiba-tiba saja kaki saya tidak bisa digerakkan.

       Seperti ada dua tangan besar yang memegang kedua kaki saya sehingga tidak bisa berjalan. la seperti orang yang tiduran sarnbil memegang kaki saya dengan dua tangannya. Saya terus memaksakan diri melepaskan diri dari cengkeramannya dengan sekuat tenaga dan disertai dengan dzikir.

Bau Busuk Sampah Menyebar dari Tubuh Saya

       Di penghujung malam tahun 2004 yang sekaligus menandai pergantian tahun baru 2005, saya mengikuti kegiatan I’tikaf di Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Saya ingin mengawali tahun 2005 dengan sesuatu yang positif. Saya ingin menjadikan malam itu sebagai tonggak baru dalam kehidupan saya. Tapi justru malam itulah awal penderitaan yang tiada terperikan. Sebuah derita yang pernah dialami Nabi Ayyub.

       Saat mendengarkan ceramah di lantai atas, orang-orang di sekeliling saya bertingkah aneh. Mereka mengendus bau busuk yang makin lama makin tajam, seperti bau sampah yang lama menumpuk. Satu dua orang di sekeliling saya mulai mengambil tissue dan menjadikannya sebagai penutup hidung.

     Tatapan mereka menyiratkan tandatanya kepada saya, hingga saya pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Hati saya gelisah dan tidak tenang, terlebih bila saya selalu bolak-balik berwudhu karena selalu batal. Di saat itulah saya iseng bertanya kepada seorang penjual makanan di halaman masjid.

“Pak, di sini ada timbunan sampah?”

“Nggak ada, Non.” Jawab penjual makanan.

“Bapak mencium bau sampah nggak?”

“Nggak, Non.” Jawabnya dengan muka keheranan.

      Dari sini saya berpikir bahwa bau itu berasal dari diri saya, terlebih mengingat berbagai kejanggalan yang pernah terjadi. Saya semakin pusing, gangguan itu seakan terus membuntuti saya. Berjalan mengelilingi Masjid At-Tin masih tetap tidak bisa menghilangkan kegalauan jiwa, hingga akhirnya saya putuskan untuk mengikuti I’tikaf di lorong bawah Masjid At-Tin.

      Untuk menjawab sekian pertanyaan itu, saya berobat ke dokter, tapi hasilnya tetap negatif. Saya tidak menderita penyakit apa-apa yang dapat mengeluarkan bau busuk. Tapi kejadian serupa sesekali terulang ketika saya berada di tempat umum, seperti di kendaraan. umum atau pun di lift, hingga orang-orang yang berada di sekitar saya pun kesal dan membanting jendela mobil dengan keras.

       Mereka memang tidak mengucapkan sepatah kata pun yang memojokkan saya, tapi dari tatapan mata dan gerak-gerik mereka, saya sadar bahwa saya menjadi tertuduh atas merebaknya bau sampah yang tidak wajar itu.

      Sedih dan minder tidak dapat saya tutupi, tapi mau berbuat apa? Menyangkal juga tidak ada gunanya. Bahkan ketika naik kereta pun bau busuk itu seakan menyertai saya, sehingga kereta yang penuh sesak itu membiarkan satu deretan bangku yang saya duduki tetap kosong.

      Mereka memilih berdesak-desakkan di bangku lain atau berdiri sambil bergelayutan. Bila sudah ada isyarat semacam itu, saya sadar bahwa bau sampah itu kembali hadir.

      Setelah sekian lama tidak muncul, ketika shalat bau busuk itu kembali hadir bersamaan dengan datangnya sosok tinggi besar. Dari jauh makhluk itu semakin mendekat. Was-was, takut, gemetar bercampur aduk menjadi satu. Tapi saya tidak mau mengalah.

     Saya berusaha melawan, tapi kekuatan makhluk itu lebih besar dari saya dan terjadilah apa yang harus terjadi. Makhluk itu masuk ke dalam diri saya dan mengalirkan bau busuk. Saya sampai tidak bisa membedakan apakah bau itu di dalam diri saya atau di sekitar saya.

       Secara reflek saya segera menutup hidung rapat-rapat. Namun ketika hal ini saya ceritakan kepada ibu, ia tidak percaya karena selama ini ia memang belum pernah mencium bau tersebut.

     Saya menangis. Orangtua yang selama ini meniadi sandaran kekuatan saya tidak percaya dengan semua yang saya ceritakan. Semuanya dianggap seperti angin lalu. Saya berdoa kepada Allah agar menunjukkan kepada orangtua atas apa yang terjadi.

       Doa saya dikabulkan Allah. Buktinya ibu mencium sendiri bau tersebut, awalnya ketika saya mau melaksanakan shalat Dhuha, ibu masuk ke dalam kamar saya. “Baunya Nuur, kayak bau di cubluk (sepiteng) baunya apek campur pahit,” kata ibu. lbu yang belum lama mencium bau busuk itu pun pusing.

     Jam empat sore bau itu muncul kembali. lbu sampai meminjam bayfresh. “Pinjam dong bayfresh,” kata ibu. Setelah semua ruangan selesai disemprot, dari kamar saya tercium bau harum yang sangat menyengat. Seperti minyak wangi yang sengaia ditumpahkan ke tanah, padahal selama ini saya tidak pernah menggunakan minyak wangi.

       Memang, yang mengatakan secara terbuka mencium bau busuk hanyalah ibu semata, sementara saudara-saudara saya tidak ada yang secara terang-terangan mengakuinya. Mereka hanya memasang kipas angin. Tapi dari sini, saya menyadari bahwa mereka juga menciumnya, hanya saia mereka tidak mau menyinggung perasaan saya.

       Dalam kondisi demikian, mereka menganjurkan saya untuk berobat ke orang Pintar. Saya menurut begitu saja, karena saya sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi. Oleh orang pintar itu pun saya disuruh minum air daun kelor dan dimandikan dengan air daun kelor serta disuruh banyak berdzikir. Saya juga diajari bagaimana merasakan datangnya makhluk halus serta mengeluarkannya sendiri melalui pendeteksian dengan tangan.

Bisak-Bisik Tetangga Yang Merisaukan

      Tetangga kanan kiri akhirnya pada ribut, “lni bau apa sih?” teriak mereka kepada satu sama lain. Awalnya mereka tidak menyadari bahwa bau busuk itu berasal dari sekitar diri saya, tapi lama kelamaan semuanya itu tentu tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Akhirnya mereka mengetahui darimana sumber bau busuk itu.

      Ketika melihat saya menyapu di halaman rumah, mereka segera mengambil langkah aman dengan menutup kembali pintu dan jendela yang terbuka. Yang lebih menyakitkan lagi, mereka segera menyemprot kan bayfresh di dalam rumah begitu bau busuk itu mulai mereka cium.

      Sebagai orang yang merasa tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa atas apa yang terjadi, saya sangat terpukul dengan perlakuan mereka. Meski saya juga tidak bisa menyalahkan mereka.

      Keesokan harinya saya kembali menyapu di halaman dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan buruk. Benar saja, saya merasakan diri saya diserang oleh jin dari berbagai penjuru dan saya pun kembali masuk ke dalam.

     Saya tidak bisa mengobati diri saya lagi, karena ilmu yang pernah saya pelajari dari orang pintar itu seakan hilang begitu saja. Rasanya hambar lagi. Tangan saya tidak bisa digunakan untuk mendeteksi serangan jin.

      Perjalanan inilah yang kemudian menimbulkan tanda Tanya dalam diri saya, kalau saya bisa merasakan jin, apakah di dalam diri saya juga tidak ada jinnya? Sebuah pertanyaan yang baru terjawab setelah ada seorang teman yang member saya kaset ruqyah yang katanya bisa mendeteksi apakah seseorang terkena gangguan jin atau tidak.

      Sedangkan kalau saya diam saja, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal saya memiliki anak yang harus dibiayai. Akhirnya saya memutar kaset ruqyah di malam hari. Badan saya gemetar, kepala seakan dibentur-benturkan. Namun, tanpa saya duga sebelumnya, tetangga yang sayup-sayup mendengar kaset ruqyah dari dalam rumah saya menjadi ribut.

     Mereka marah-marah karena saya dianggap menimbulkan kebisingan. Aneh, saya mengaji di rumah pun dibilang sedang menyanyi. Mereka seakan terusik dengan kaset ruqyah dan suara mengaji saya.

    Sejak memutar kaset ruqyah di bulan Maret itu saya berani keluar rumah dan bertemu matahari. Saya bersyukur, kekhawatiran dan ketakutan saya selama ini berangsur-angsur hilang.

      Hanya saja, bau korek api terbakar atau bau busuk itu masih saja tercium dari tubuh saya setiap pagi. Satu hal yang membuat saya takut untuk bangun dan shalat shubuh di awal waktu. Selain itu, suara binatang buas yang mencakar-cakar dinding kamar saya sesekali juga terdengar.

      Sementara keluarga yang lain tidak ada yang mendengarnya. Aneh memang, ketika saya berteriak keras pun seakan tidak ada yang mendengar. Saya melempar pintu atau membuat kegaduhan di kamar pun tidak ada yang tahu. Saya sedih sekali karena dianggap berbohong ketika hal ini saya ceritakan kepada keluarga.

Menjalani Terapi Ruqyah Syar’iyyah

      Awal bulan April, saya mengikuti terapi ruqyah di rumah Ustadz Febri sebagai bentuk lanjutan dari terapi dengan kaset. Di sana, saya memberontak dan meronta-ronta. Ustadz yang menerapi saya pun tidak luput dari amukan saya. Saya menendang dan memukul sebisanya sebelum akhirnya badan saya lemas. Setelah itu mulailah terjadi dialog dengan jin yang merasuk ke dalam diri saya.

      Cukup banyak jin waktu itu yang katanya keluar, meski ada beberapa yang masih membandel dan tidak mau keluar. Jin-jin itu mengatakan bahwa mereka memang dikirim untuk menyakiti saya oleh orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan saya dan keberanian saya keluar dari Pengajian.

       Memang, semua itu hanyalah pengakuan jin yang tidak begitu saja bisa dipercayai, tapi setidaknya dari sini saya bisa melakukan introspeksi dan kembali memperbaiki diri.

       Sepulang dari ruqyah yang pertama, saya merasakan badan terasa lebih ringan. Beban yang selama ini menghimpit terasa jauh berkurang, meski saya sadar bahwa proses penyembuhan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

      Karena itu ketika keluar dari pagar rumah Ustadz Febri dan terdengar bisikan di telinga saya berupa suara tertawa yang melecehkan saya, saya pun biasa saja. “Ha ha ha, cuma begitu saja.”

      Sesampainya di rumah saya berusaha untuk shalat, tapi entahlah seakan ada sesuatu yang masih menghalangi saya. Saya pun berdoa di dalam hati, “Ya Allah tolonglah saya mau beribadah. Masih banyak dosa yang harus diampuni.”

      Keesokan harinya, satu dua hari masih tercium bau-bau yang tidak enak. Tapi beberapa hari kemudian, bau itu berangsur-angsur semakin berkurang. Setelah ruqyah itu saya punya keberanian keluar rumah, walau belum berani sendiri. Tapi setidaknya saya sudah tidak seperti dulu lagi dengan mengurung diri di dalam rumah.

      Pada ruqyah yang kedua, jin tidak mau mendengar ayat-ayat ruqyah. Air ruqyah yang dicampur garam pun berubah rasanya. Air itu terasa seperti ingus yang menjijikkan. Bahkan air itu berubah laksana air panas ketika saya mencuci tangan dan kaki di baskom dan beberapa detik kemudian terjadilah keanehan.

     Ketika Ustadz Febri memijat daerah leher karena tenggorokan saya masih terasa sakit, keluarlah sosok makhluk besar seperti seekor Kingkong dengan rambutnya yang panjang. Apakah itu sosok makhluk yang selama ini mengalirkan bau busuk dari dalam diri saya? Saya tidak tahu.

       Sekarang bau busuk itu sesekali masih tercium tapi setidaknya dengan ruqyah ini banyak kemajuan yang telah saya alami. Saya sadar bahwa untuk menuntaskan gangguan bau busuk itu masih membutuhkan waktu yang entah sampai kapan. Tapi saya berbahagia karena kini telah menemukan pengobatan yang lslami yang tidak menyimpang dari lalur agama. Bagi saya itu adalah keberuntungan tersendiri.

       Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Agar kita berhati-hati dalam mempelaiari di mana dan kepada siapa kita menimba ilmu. Dan niatan untuk meraih surga pun tidak berganti bencana. Alih-alih mendapat surga, neraka dunia justru menjadi imbalannya.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 39/2

Comments