cookieChoices = {};
Home » » Setelah Dua Tahun Antipati Dengan Ruqyah Syar’iyyah

Setelah Dua Tahun Antipati Dengan Ruqyah Syar’iyyah

Written By Rumah Ruqyah on 2013-04-02 | 11:24:00 AM

Setelah Dua Tahun Antipati Dengan Ruqyah Syar’iyyah
Selasa, 02 April 2013 / 21 Jumadil Awwal 1434 H

     
Tidak cepat berputus asa. Itulah kunci keberhasilan dalam berbagai hal. Termasuk mencari kesembuhan akibat gangguan jin. Ruqyah bukan permainan sulap. ‘Sim Salabim’ langsung sembuh. Ada dinamika tersendiri yang harus dipahami.

      Terkadang gangguan syetan semakin meningkat setelah menempuh jalur ruqyah syar’iyyah. Seperti kisah Alan (nama samaran, usia 26 tahun) yang sempat mundur dari jalur ruqyah syar’iyyah. Alan menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut kisahnya.

     Selepas SMA, saya melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Yogya. Di sanalah, saya mulai akrab dengan kegiatan lintas alam. Seperti yang terjadi sewaktu semester dua. Kakak kelas mengadakan kegiatan hiking untuk menjalin keakraban antara mahasiswa baru dan mahasiswa senior. Saya tertarik dan ikut bergabung.

    Lintas alam dilaksanakan di lembah Wonolelo, Yogya. Lembah yang masih satu wilayah dengan taman wisata Kali Urang. Lembah Wonolelo berada tidak jauh dari perkampungan penduduk. Tempatnya sepi. Dari kampung melewati jurang, menyusuri jalan setapak.

     Nun jauh di bawah terdapat tempat lapang. Rombongan meninggalkan tanah lapang. Kembali menyusuri jalan setapak di antara ladang persawahan. Sekitar dua kilo meter kemudian, rombongan sampai di sebuah air terjun. Waktu itu matahari tepat di atas kepala.

     Teman-teman segera berhamburan. Mereka berpadu dengan alam. Mandi dan bersenda gurau dengan percikan-percikan air. Saat itu, ada perasaan aneh menyelusuri jiwa. Ada keinginan untuk bermeditasi di bawah guyuran air terjun. Terbayang, tokoh-tokoh sakti yang bersemedi di bawah derasnya air terjun

   Saya tidak bisa menolak. Keinginan itu kuat sekali. Di bawah guyuran air terjun saya menenangkan diri. Mengatur pernapasan dan gerakan sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian teman-teman. Perlahan, saya membayangkan aliran energy yang masuk.

    Aliran angin berputar masuk ke kepala, terus mengalir dan berputar di tubuh. Rasanya nyaman. Lelah dan letih setelah satu jam berjalan kaki hilang begitu saja. Berganti dengan hawa segar yang menyejukkan. Sejak saat itu saya mulai senang berada di pertemuan antara dua sungai, delta, air terjun, lembah atau di bawah pohon yang rindang.

     Setahun kemudian, saya kembali ke lembah Wonolelo. Dengan suasana yang berbeda. Saya menjadi pemandu bagi mahasiswa-mahasiswa baru. Di sana, di lembah Wonolelo, saya kembali melakukan meditasi seperti dulu. Saya tidak kuasa untuk menahan diri dari keinginan itu.

    Meski saya tahu bila warga telah memperingatkan kami agar tidak berada di bawah air terjun tepat ketika matahari di atas kepala. “Jangan ke air terjun pada tengah hari. Saat matahari tegak lurus, karena air terjun itu tempat berkumpulnya makhluk halus,’ ujar salah seorang warga. Himbauan warga itu tidak kami hiraukan.

    Malam harinya, ketika teman-teman sedang berkumpul di tenda, saya keluar diam-diam. Saya mencari tempat yang sunyi untuk menyepi. Tidak jauh dari air terjun, saya menemukan sebuah pohon yang besar. Di sanalah saya kemudian bermeditasi. Saya ingin menghangatkan tubuh dan meningkatkan energy ‘CI’ (tenaga dalam).

     Malam semakin larut. Suara binatang malam kian jelas terdengar. Meneriakkan nyanyian menakutkan. Setelah badan terasa hangat, saya kembali ke tenda. Teman-teman sudah terkapar. Hanya satu dua orang yang duduk berselimutkan sarung. Nampaknya, mereka mendapat giliran jaga.

     Sepulang dari Lembah Wonolelo, mulai terasa ada yang berbeda. Saya tidak lagi aktif sepefti dulu. Sibuk di senat mahasiswa maupun dakwah kampus. Semuanya berubah sembilan puluh derajat. Di kelas ngantuk dan tidak bisa menangkap penjelasan dosen dengan baik.

    Alhasil nilai akademis saya jeblok. Dari lP 3,8 di semester pertama menjadi 1,7 di semester empat. Di semester pertama hanya satu mata kuliah yang mendapat nilai B, sisanya A. Namun hal itu tidak lagi terulang di semester empat. Semuanya berubah.

     Aktifitas dakwah kampus saya juga mengalami kebuntuan. Saya tidak lagi semangat seperti dulu. Kepala terasa berat, membaca Al-Qur’an juga terasa berat. Yang lebih menyakitkan lagi, perasaan malas muncul begitu mendengar suara adzan. Padahal sedari kecil, saya terbiasa shalat berjamaah. Saya beruntung, dalam kondisi jiwa yang labil, saya bergabung dengan teman-teman yang komitmen dalam memegang prinsip agama. Mau tidak mau saya dipacu untuk terus beribadah.

     Syetan tidak pernah membiarkan musuhnya senang. Mereka semakin meningkatkan gangguannya. Kondisi saya pun kian memprihatinkan. Puncaknya terjadi ketika saya duduk di semester enam. Sebuah pertarungan batin yang kuat.

     Pada satu sisi saya mengaji dan tahajud, tapi pada sisi lain saya tetap mempraktikkan ilmu pernapasan dan belajar tenaga dalam. Puncaknya, saya sampai sakit keras. Saya kram dan kejang sekujur tubuh.

    Waktu itu, saya puasa sunnah hari Senin. Sehari sebelumnya saya menghadiri pernikahan tante di Kebumen, Jawa Tengah. Dari Kebumen, saya balik ke Jakarta bersama adik naik bis. Tas saya taruh di bagasi belakang. Hujan deras mennguyur jalanan, memercikkan udara dingin ke dalam bis. Menambah dinginnya bus AC itu. Sementara perut, sudah keroncongan. Perjalanan yang melelahkan memang.

    Adzan Maghrib bergema. Waktu berbuka telah tiba. Tapi. Ah, … tas ransel yang berisi bekal berbuka itu terlanjur ditaruh di belakang. Rasa malas membuat saya enggan untuk mengambilnya. Saya diam terpaku. Berpikir sejenak. Akhirnya saya mendapatkan ide. Mengapa tidak menghangatkan badan dengan olah pernapasan?

     Saya menarik nafas. Menahannya di dada lalu mengalirkannya ke perut. Saya berusaha merasakan aliran energi ke seluruh tubuh. Baru sekian menit, jaringan syaraf di sekitar hidung mulai menebal. Makin lama makin kaku. Terus menjalar ke kepala, pundak dan mengalir ke sekujur tubuh. Badan saya kaku. Kram. Mulut terkunci dan tidak bisa berteriak.

     Penumpang di kiri kanan saya terusik. Mereka melihat perubahan yang tidak wajar. Ribut. Mereka berteriak. Ada yang mengambil minyak angin dan menggosokkannya di sekitar hidung. Ada yang mulai memijat-mijat lengan dan kaki. Badan saya tetap kaku. Pijatan itu justru menambah rasa sakit dan nyeri.

      Saya menghentikan olah pernapasan. Saya kembali bernapas seperti biasa sambil terus melantunkan syahadat dan doa dalam hati. Beberapa saat kemudian, badan saya mulai lemas. Napas saya kembali teratur. Dan semuanya berjalan seperti biasa. Tuntutan perut pun segera saya penuhi. Alhamdulillah perjalanan ke Jakarta itu berjalan lancar. Hanya saja kram itu sering muncul dalam keseharian saya.

Berada di antara Tiga Karakter yang Berbeda

     Setelah sering sakit-sakitan, saya bertanya kepada teman-teman. Barangkali ada yang tahu obatnya. “Fan, akhir-akhir ini saya sering kram. Kamu tahu obatnya nggak?” Saya bertanya kepada Fandi, teman kampus yang aktif di sebuah perguruan tenaga dalam.

     Fandi kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil segelas air. “Minum nih, semoga sembuh,” ujarnya sambil menyodorkan segelas minuman. Air itu mengaliri tenggorokan saya. Dingin rasanya. Saya merasakan badan saya agak membaik setelah minum air putih. Dari sini, saya tertarik dengan perguruan Fandi.

     Saya bertanya macam-macam. Dan diajari ilmu pernapasan gaya perguruannya. Tarik nafas lalu ditahan sambil membaca doa. Nafas kemudian dialirkan ke seluruh tubuh. Katanya, kalau dapat mengalirkan udara ke titik di antara kedua mata, dia akan sakti. Orang itu akan mampu melihat jin. Tak ayal saya pun mempraktekkan aliran pernapasan ini.

      Memang badan terasa lebih segar. Tapi lama kelamaan, saya makin alergi mendengar suara adzan. Telinga rasanya mau pecah. Dada berdebar-debar. Membaca al-Qur’an semakin menyiksa. Pengajian mingguan yang biasa saya ikuti sekarang makin jarang. Hawanya itu malas dan malas. Kalau dipaksakan untuk berangkat pun bukan lagi mengharap ridha Allah. Saya hanya malu kepada teman-teman.

    Selain itu, mulai muncul karakter ganda dalam diri saya. Kadang saya bersikap seperti seorang kakek yang berwibawa. Di lain waktu berubah seperti kekanak-kanakan. Di kesempatan lain, perasaan berubah feminim.

     Di saat sedang mengisi kajian keislaman, saya berubah menjadi orang yang bijak. Saya dapat menerangkan sesuatu yang belum pernah saya baca. Al-Qur’an itu seperti tergambar dengan jelas. Dan saya menyampaikannya dengan yakin. Saya tidak pernah tahu itu surat apa dan ayat berapa. Tapi saya yakin apa yang saya sampaikan ada di dalam al-Qur’an.

     Dalam suasana santai, perilaku saya seperti anak tiga belasan tahun. Tapi di lain waktu saya bersikap feminim. Saya merasakan gerakan saya lemah gemulai. Saya mulai tertekan dengan karakter ini hingga saya sempat konsultasi dengan seorang psikolog.

     Dari hari ke hari, perkembangan jiwa saya tidak kunjung membaik. Akhirnya teman-teman menyarankan saya mengikuti ruqyah. “Sudah deh, kamu diruqyah saja,” ujar Adi. Saran Adi itu membawa pengaruh yang tidak terduga. Perut saya langsung mual. Kepala pusing disertai desiran udara yang tidak mengenakkan. “Yalah, saya pikir-pikir dulu,” jawab saya acuh tak acuh.

      Kalau mau berangkat ngaji, badan saya tidak enak. Saya menghubungi ustad, “Maaf ustadz, saya tidak bisa datang lagi. Kurang enak badan.” Kata saya mencari alasan. Anehnya, tidak lama setelah menghubungi ustadz, badan saya terasa segar kembali. Saya bahkan ikut nongkrong bersama teman-teman.

      Pernah saya tetap memaksakan diri untuk datang ke tempat pengajian. Dalam perjalanan itu sakit kepala semakin meningkat. Kadang saya nyaris terjatuh karena tidak kuat menahan rasa nyeri di kepala. Dari berbagai situasi itu teman-teman semakin yakin bahwa saya harus ikut ruqyah ke Ustadz Fadhlan di Yogya.

      Saya sepakat. Dengan ditemani seorang teman saya berangkat ke rumah Ustadz Fadhlan. Satu kilo sebelum sampai ke rumah Ustadz Fadhlan, dada saya berdegup kencang. Nafas sesak. Hawa mengancam begitu kuat terasa. Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah, saya merasakan banyak jin yang tersiksa.

     Saya ikut berempati dengan nasib mereka. Dalam hati timbul ketakutan. “Wah, saya akan seperti ini.” Dada saya semakin berdesir. Bulu kuduk merinding. Membawa ketakutan tersendiri. Saya tidak mau masuk ke dalam. Tapi teman menarik saya ke dalam.

     Saya duduk. Begitu Ustadz Fadhlan masuk ruangan, saya mau marah. Ada dorongan kuat untuk menyerangnya. Saya berusaha menahan diri sebisa mungkin. Akibatnya  saya merasakan badan kaku. Kram dan mual kembali terasa begitu mendengar ayat-ayat al-Qur’an. Meski demikian,  saya berusaha untuk tetap menguasai diri.

     Mata saya melotot, memperhatikan Ustadz Fahdlah yang menerapi seseorang. Reaksinya memang keras. Ustadz Fadhlan terus membangun dialog dengan jin yang merasukinya. Sesekali nada ancaman keluar dari Ustadz Fadhlan.

     Saya semakin tidak bisa menguasai diri. Saya melangkah, mendekati Ustadz Fadhlan. lngin rasanya menendang dang dan memukulnya. Ustadz Fadhlan tetap tidak mengindahkan saya. Ia terus berdialog dengan jin yang  merasuki pasien itu.

     Saya berbalik. Emosi yang tidak tertahan saya tumpahkan ke mana saja saja. Pintu kayu jati menjadi sasaran. Berganti menjadi  sansak tinju. “Jeder. Jederr … “ tangan saya berdarah. Kulitnya terkelupas. Tapi luka itu tidak terasa sakit. Ustadz Fadhlan berpaling. Ia mendekat dan mendorong saya.

     Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Begitu tangannya menyentuh kulit saya, saya langsung balik menyerang. Ustadz Fadhlan terdorong ke belakang. Beberapa peserta ruqyah yang saat itu berada di dalam ruangan bertindak cepat.Mereka segera melumpuhkan saya.

     Sejurus kemudian terjadi pergumulan. Jumlah mereka yang berlipat berhasil meringkus saya. Tangan-tangan dipegangi dua orang. “Kamu sadar apa yang kamu lakukan?” tanya Ustadz Fadhlan tidak jauh dari kepala Saya.

     ”Saya sadar, tapi saya tidakbisa mengendalikan diri,”jawab saya terus terang. Saat itu saya menyadari apa yang terjadi, Hanya saya tidak mampu menguasai diri saya sendiri. Itulah mengapa saya sampai berani menyerang Ustadz Fadhlan.

     Akhirnya saya disuruh membaca ayat Kursi beberapa kali. Perlahan, kesadaran saya pulih kembali. Badan saya kembali rileks seperti semula.

     Sejak itu saya selalu melakukan ruqyah mandiri melalui kaset. Tapi seiring dengan itu, gangguan yang saya alami semakin meningkat. Badan gemetaran dan mudah marah. Badan rasanya lemas dan tidak bersemangat. Beberapa  minggu kemudian, saya mengikuti terapi yang kedua. Saya berharap kekuatan jin itu terus melemah.

    Namun, setelah ruqyah kedua justru apa yang saya alami semakin parah. Seminggu lamanya saya tidak bisa tidur. Bayangan menyeramkan berkelebatan di kamar. Seonggok kepala sempat menggelinding. Mulutnya menyeringai.

     Ia terus mendekati saya. Di lain kesempatan, saya seperti berada di tengah pasar. Suara yang berisik tanpa henti menderu di telinga. Padahal saat itu saya tidur di dalam kamar. Tidak ada siapa-siapa. Hanya saya sendirian.

     Lain waktu, suara monyet dari jauh makin mendekat. Awalnya satu suara. Lama-lama makin banyak. Mereka bergerak cepat dan ‘weeess...’ deru angin membawa suara mereka menerpa wajah saya.

Tersingkir Dari Jalan Ruqyah

     Saya heran. Setelah mengikuti ruqyah, gangguan yang saya alami semakin parah. Mereka benar-benar tidak ingin saya menempuh jalur ini. Saya mulai berpikir, setelah ruqyah gangguan semakin meningkat, apakah itu berarti jin di dalam tubuh saya bertambah?

     Pertanyaan yang membuat saya menghentikan ruqyah. Di sinilah, saya kemudian menyerah. lbaratnya saya telah mengangkat bendera putih. Dan meninggalkan ruqyah secara perlahan.

    Saya kembali bergabung dengan teman-teman di pinggir jalan. Nongkrong bersama dan malas pergi mengaji. Saya mulai membenci teman-teman aktifis dakwah. Orang-orang yang selama ini banyak mengisi kehidupan saya.

     Sebaliknya, saya berkumpul dengan mahasiswa yang senang dengan dunia klenik. Sejak mulai anti dengan ruqyah, kemampuan saya meningkat. Saya bisa menerawang, mengobati orang, atau melihat jin. Saya juga bisa merasakan kehadiran jin.

      Seperti ketika ikut tadarusan keliling. Sebelum dimulai, saya merasakan tekanan udara berubah. Semakin besar. Badan saya menggeliat seperti mau marah. Saya ingin bergerak dan mengamuk. Saya penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

     Saya berkonsentrasi sejenak. Saya memperhatikan sekeliling. Rupanya ada kehadiran jin di antara jamaah. Akhirnya saya mengundurkan diri dan tidak jadi tadarusan keliling. Saya balik dan mengurung diri di kamar.

      Hal ini terus berlanjut sampai lulus kuliah. Jujur, saat itu seharusnya orangtua mendampingi saya. karena itu adalah moment yang membahagiakan bagi seorang mahasiswa. Tapi apalah daya. Ada masalah yang membuat orangtua tidak bisa hadir. Saya gelisah, ternyata bapak sedang sakit. Bapak selalu menyebut nama saya berulang-ulang sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

      Begitu mendarat di Bandara Soekarno Hatta, saya melihat kabut hitam. Pekat sekali. Firasat saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di rumah. Benar saja begitu sampai di rumah, saya merasakan kehadiran jin di dalam tubuh bapak. Saya shalat hajat. Memohon kepada Allah agar memberikan ketabahan kepada kami. Dan semoga bapak segera sembuh.

     Saya mengambil segelas air. Saya bacakan ayat Kursi dan beberapa ayat lainnya lalu saya minumkan kepada bapak. Di sinilah syetan kembali berperan. Tangan kiri saya bergerak. Saya seakan menyedot sesuatu dari tubuh bapak. Waktu itu saya memang menggunakan tenaga dalam untuk mengobati bapak. Beberapa saat kemudian bapak memang kelihatan membaik. Tapi selanjutnya mengigau lagi.

     Setelah mengobati bapak, saya merasakan diri saya terancam. Jin yang berada di dalam tubuh bapak mengadakan perlawanan. Mereka meminta bantuan kepada teman-temannya untuk menyerang saya. Serangan itu saya rasakan kuat sekali. Ketika saya sedang tidur pun tidak luput dari gangguan mereka. Saya merasakan kehadirannya. Mereka berdiri tidak jauh dari tempat saya berbaring.

      Saya diam. Saya biarkan mereka mendekat. Hanya dzikir dalam hati yang saya lakukan. Terus terang saat itu saya tidak berani membuka mata. Saya melawannya dengan dzikir dalam hati. Begitu saya rasakan kepergian mereka. Saya segera menoleh dengan cepat. lbu yang saat itu tidak jauh dari saya terkejut. “Ono opo leh (ada apa)?” “Ah, tidak ada apa-apa kok bu,” jawab saya menenangkan ibu.

     Saya pun menyerah. Bapak dibawa ke rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit, saya sempat melihat penampakan jin di sana. Sosok anak kecil. Mukanya seperti anak idiot. Badannya kurus. Rambutnya acak-acakan. Saya juga sempat melihat sosok kakek-kakek. Ketika saya ceritakan kepada bapak, katanya itu adalah kakek. Entahlah.

    Setelah menggunakan tenaga dalam untuk mengobati bapak, saya gelisah, perasaan malas kembali muncul. Saya suka menyendiri. Meski telah lulus kuliah, saya belum juga mendapat pekerjaan. Orangtua sering memperingatkan hal ini. Namun semuanya tidak bisa merubah keadaan. Kondisilah yang memaksa saya untuk tetap bertahan di rumah. Setahun lamanya saya hanya di rumah.

     Bapak yang sudah membaik, memanggil temannya untuk mengobati saya. Katanya dia sudah mencapai tingkat ma’rifat. Doanya mudah dikabulkan. Allah. Namanya Ki Tejo. Dengan air putih dicampur garam dia menterapi saya.

     Memang, badan saya rasanya lebih ringan. Sakit kram dan kejang-kejang jarang muncul. Hanya seorang jin yang katanya masih membandel dan tetap bertahan. Jin perempuan yang selama ini sering hadir di dalam mimpi itu dia mengaku sebagai Istri saya.

    Sesekali jin itu membawa beberapa anak balita yang katanya adalah anak-anak saya. Entahlah, dalam mimpi itu saya bersikap layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya.

     Saya katakan kepada orangtua bahwa saya sudah menikah. Saya tidak ingin lagi menikah dengan wanita lain. Perempuan yang selalu hadir dalam mimpi itulah istri saya. Sebagai orang tua, wajar bila mereka sedih mendengar pernyataan saya.

     Ki Tejo menyerah. Ia memanggil anaknya untuk mengobati saya. Katanya ia lebih sakti dari Ki Tejo. Memang, saya sempat melihat ia menunjukkan kehebatannya. Ia memelintir kertas di tangan. Beberapa saat kemudian kertas itu berubah menjadi uang du puluh ribuan.

    Dari sini, saya melihat ia tak ubahnya dengan seorang pesulap. Ada kekuatan jin yang membantunya melakukan pengobatan. Saya pun sudah tidak suka lagi dengan cara pengobatannya. Terlebih bila ia tidak melaksanakan shalat Ashar. Kami berbincang-bincang sampai jam lima sore. Dan ketika saya tinggal untuk shalat Ashar, Ki Tejo dan anaknya justru memilih untuk membaca buku daripada shalat.

     Sejak itu, saya ingin kembali mengikuti terapi ruqyah, tapi karena waktu itu di kantor Majalah Ghoib harus menunggu satu bulan, akhirnya saya melakukan terapi mandiri melalui kaset. Saya matikan tape bila reaksi tidak lagi terkendali.

     Dua hari menjelang Idul Fitri, persaan saya tidak enak. Getaran-getaran hawa jin yang mulai berkeliaran kembali terasa. Puncaknya di malam takbiran, emosi saya meningkat. Meledak-ledak nyaris tak terkendali.

     Terlebih suara takbiran yang hanya berjarak dua puluhan meter dari rumah saya kian menyiksa. Kepala terasa berat. Saya berusaha untuk menahan diri agar tidak kesurupan di malam Idul Fitri. Saya mengurung diri di kamar.

      Aneh, di malam tahun hari raya itu saya tidak mau bertemu orang. Saya muak dan sebal melihat mereka. Hal itu masih berlanjut hingga keesokan harinya. Saya mengurung diri di kamar dan tidak ikut shalat hari raya. Saya juga enggan untuk bersilaturahmi. Orangtua heran melihat perkembangan saya yang semakin tidak wajar. Mereka mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam diri saya.

Akhirnya Saya tempuh Ruqyah Syar’iyyah Kembali

     Setelah kasak-kusuk ke tetangga, orangtua sepakat untuk membawa saya mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Bagi saya keinginan dan perhatian mereka merupakan dukungan moral tersendiri bagi saya. 10 Desember 2005, akhirnya saya kembali menempuh jalur ruqyah syar’iyyah setelah terhenti dua tahun lamanya.

   Saya sadar bahwa ruqyah sya’iyyah merupakan solusi yang islami untuk menyelesaikan gangguan yang saya alami. Kini saya tidak boleh cepat berputus asa bila nantinya gangguan itu semakin meningkat seperti dulu. Yang jelas, sejak awal saya persiapkan mental dengan baik. Agar kesalahan yang lalu tidak lagi terulang.

    Saat Ruqyah pertama, saya yakin bahwa jin perempuan yang mengaku sebagai istri saya telah keluar. Buktinya, saya kembali berpikir untuk menikah. Tidak lagi dihantui bayangan istri dan anak yang sering muncul dalam mimpi. Hari-hari berikutnya, saya terus memaksa diri melakukan terapi mandiri di rumah melalui kaset. Hasilnya kian terasa. Gangguan jin itu kian melemah. Hanya suhu badan yang meningkat. Tapi semuanya terkendali.

    Di pertengahan bulan Desember saya ruqyah untuk kedua kalinya. Saat itu terjadi dialog dengan bahasa Jawa. Jin itu mengaku masuk ke dalam tubuh saya. Dia akan mewariskan ilmunya. Karena saya dianggap mampu mengembannya.

    Kakek-Nenek saya tergolong tokoh yang disegani di masyarakat. Jin itu bernegosiasi. Untuk itu saya harus menghentikan ruqyah, karena jin yang mengaku sebagai kakek, menganggap saya sebagai cucu kurang ajar. Karena berani mengusirnya. Alhamdulillah, Jin itumakin lemah.

     Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi setiap orang yang mengikuti terapi ruqyah syar’iyyah. Jangan cepat berputus asa bila gangguan tidak kunjung hilang. Ruqyah bukanlah sulap. Ada proses yang harus di ikuti.

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 56/4
Share this article :

Post a Comment

Postingan antum akan tampil setelah diseleksi dan layak tampil. Jazakumullah Khairan Katsiran

 
Support : Public Relation Rumah Ruqyah Indonesia
Copyright © 2011. Rumah Ruqyah Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger