thumbnail

Lebih Samar dari Jejak Semut di Atas Batu Hitam...

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-30

Lebih Samar dari Jejak Semut di Atas Batu Hitam...
Selasa, 30 April 2013 / 19 Jumadil Akhir 1434


     Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

   “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)

    Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

     Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’. Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

    ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

    Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar).

Syirik seperti ini ada 2 macam.

    Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.

    Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini.

    Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Ya Allah jauhkanlah kami dari kesyirikan baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

****
8 Rabiul Akhir 1430 H

Muhammad Abduh Tuasikal

Rumaysho.com
April 30, 2013
thumbnail

Maksud Hati Berdzikir, Ternyata Jin yang Saya Dapat

Posted by rumah ruqyah on

Maksud Hati Berdzikir, Ternyata Jin yang Saya Dapat
Selasa, 30 April 2013 / 19 Jumadil Akhir 1434 H

    Wiridan sih sah-sah saja. Bahkan wirid sendiri sangat dianjurkan dalam Islam. tentunya, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah. Lain halnya bila wiridan itu diembel-embeli dengan puasa beberapa hari atau ritual tertentu lainnya.

   Bukan apa-apa. Maksud hati ingin memperoleh ketenangan batin, tapi yang didapat justru sebaliknya. Diikuti oleh jin yang mengaku sebagai khadam. Istilah lain untuk pembantu atau pelayan dari bangsa jin. Inilah kenyataan yang idalami oleh Firmansyah (23 tahun), pemuda asli Betawi. Pemuda ini mengkisahkan pengalamannya kepada Majalah Ghoib di rumahnya Menteng, Jakarta Selatan.

    Sewaktu sekolah Aliyah dulu, sekitar tahun 1996, saya mengalami suatu peristiwa yang membawa saya ke dalam pengembaraan panjang. Sebagai seorang pemuda yang bergelut dengan dunia jin melalui wiridan.

     Peritiwanya terjadi pada suatu pagi yang cerah, saat saya sholat dhuha di masiid tua di daerah Kuningan. Saat itu, di dalam masjid tidak ada orang lain, hanya saya seorang diri. Kemudian mucul keinginan untuk belajar pidato. Maka dengan tenang layaknya seorang ustadz, saya melangkah ke mimbar.

     Lalu duduk sejenak di kursi. Saya raih tongkat yang ada kemudian bergaya seperti seorang khothib. Dan secara perlahan meski sedikit gemetar, saya latihan khutbah, “Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi ...”

     Nah, satu minggu setelah kejadian itu saya merasakan kehadiran seseorang yang tidak terlihat. Saya juga suka ngomong sendiri. Kalau di kelas badan terasa lemas dan tidak bergairah. Untuk menjawab soal pun terasa agak sulit. Selain itu, saya juga mudah kesurupan.

     Misalnya, ketika sedang mengikuti pengajian di sebuah masiid, tiba-tiba badan saya merinding. Merasa seperti itu, saya segera pulang. Begitu tiba di rumah saya langsung berteriak, “Hua ha ha ...” Saya kesurupan. Kemudian bapak membaca ayat kursi, tapi jinnya tidak merasa apa-apa. Sepuluh menit kemudian jinnya itu pergi begitu saia.

    Kesurupan ini seakan menjadi bagian dari hidup saya. Karena bisa dipastikan hampir tiap minggu saya selalu kesurupan. Kalau cuma sekali dua kali mungkin tidak terlalu masalah tapi bila berlangsung hingga satu tahun. Tentu sangat berat bagi saya. Akibatnya saya selalu hidup dalam ketakutan dan tidak punya gairah hidup.

     Keadaan saya ini, ternyata tidak luput dari perhatian guru-guru. Hingga guru sosiologi menghampiri, “Kenapa kok lemes terus?” Akhirnya saya disuruh ke rumahnya. “Sepertinya ada yang aneh dalam dirimu” komentarnya setelah menuangkan minuman ke gelas.

     “Saya tidak tahu, Pak.” Kemudian saya ceritakan apa yang saya alami. Dari tatapan matanya saya tahu bahwa ia berempati kepada saya. Kemudian dengan bijak ia banyak menasehati dan mengajarkan beberapa amalan yang katanya bisa mengurangi beban saya.

     Saya disuruh membaca Al-Fatihah untuk nabi Muhammmad, para wali dan para orang-orang tua saya. Kemudian membaca shalawat seratus kali dan Ya Lathif seratus kali. Lalu berdoa, “Ya Allah. Dengan kekuatan sayidina Umar berilah saya kekuatannya.”

    Saya gembira sekali hari itu. Dan bertekad untuk mengamalkannya agar rasa takut itu hilang dan kembali bersemangat. Tapi ketika saya mengamalkan wiridan itu di rumah, saya terkejut. Kok saya teriak-teriak terus, “Hoh hoh hoh” badan saya menggigil dan gemetaran. Meski demikian saya terus saja membaca wiridan itu. Hasilnya baru terasa seminggu kemudian. Ya, saya mulai tenang.

     Sudah agak lama saya tidak kesurupan, hingga akhirnya jin itu datang lagi. Peristiwanya kali ini terjadi di rumah sakit. Saat saya terkena penyakit typus dan sudah stadium tiga. Walau itu sudah seminggu saya tidak shalat, harus terbaring lemah di atas ranjang dan tidak bisa berdiri. Tapi tiba-tiba saya bisa berdiri tegak kemudian berjalan dengan cepat.

    Hingga para pasien dan keluarganya keheranan. Tak lama kemudian, saya berbicara keras dengan suara bergetar. Tapi suaranya itu bukan suara saya sendiri “Saya mau shalat. Anak ini sudah meninggalkan shalat berhari-hari. Dia harus shalat sekarang.”

    Kemudian jin yang merasuki tubuh saya itu berceramah, sambil sesekali menepuk dada. Melihat itu, orang-orang pada ribut dan akhirnya membiarkan saya shalat. Ulah jin yang merasuki saya itu tidak berhenti sampai disini. la ingin membawa saya melompat dan terjun dari rumah sakit bertingkat itu. “Saya mau terjun. Saya tidak kuat di sini. Saya mau pulang” sampai banyak suster yang mau saya cekik.

    Melihat itu, bapak berteriak. “Siapa kamu?” “Saya adalah syaikh Abdul Jabbar. Ha ha ha, saya selama ini yang mengikuti dia. Dan saya dihalangi khadam buyutnya. Saya tonjok mereka hingga babak belur. Saya adalah raja jin yang terkuat,” jawab jin yang merasuki saya.

     Akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan saya dibawa pulang. Namun, di tengah jalan mobil yang saya tumpangi mogok. Bapak saya menduga karburatornya yang rusak. Tapi setelah dibuka “cross” airnya muncrat ke muka bapak.

    Ketika sampai di rumah, saya melihat rumah yang selebar enam meter itu sepertinya kecil. Seakan hanya beberapa puluh senti saja. Kemudian saya tidak bisa tidur hingga beberapa hari.

Jin Abdul Jabbar keluar masuk tubuh

     Dalam kondisi demikian, ada seorang teman yang menjenguk sambil membawa katanya “air wali”. Setelah dia meminumnya sedikit ia kemudian menyemprotkannya kembali ke badan saya. “Panaas” teriak jin yang merasuki saya. “Kamu belajar sama siapa?”

    Tanya jin. “Sama habib,” jawab teman saya. “Oh, bagus, bagus teruskan saja belajarmu.” Seolah jin itu menasehatinya. Kemudian teman saya membaca “Ya Allah, Ya Rahman … sampai kepada Ya Jabbar.”

    Kemudian jin tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha. ltu nama saya. Kamu bacakan apa saja, pasti tidak mempan karena saya jin lslam. Saya hafal 30 juz.” Setelah merasa tidak marnpu mengobati,saya, akhirnya teman saya itu pulang.

    Dua hari kemudian, di pagi yang cerah saya dibawa ke rumah habib. Tapi anehnya habib itu sudah ada di depan rumah. Seolah dia sudah menunggu kedatangan saya. Pas ketika saya masih berdiri terpaku di depan rumahnya, “sreet” saya merasakan ada sesuatu yang keluar dari tubuh saya.

     Kemudian bapak ngobrol agak lama dengan habib. Dan setelah meminum air dari habib, kami segera pulang. Tapi, hanya beberapa menit istirahat di rumah, saya kesurupan lagi. Jin Abdul Jabbar itu datang lagi. Katanya dia takut sama habib itu dan sempat keluar.

     Keesokan malamnya, sehabis shalat maghrib saya diantar seorang tetangga ke Cibinong untuk bertemu dengan seorang kiyai. Aneh, setelah keluar dari tol, sopir itu tidak lagi tahu arah. Berkali-kali ia bertanya, namun tetap tidak tahu arah.

     Sementara di luar, cuaca gelap, langit tak berbintang. Disertai dengan hembusan angin kencang yang terus mendesing di telinga, seakan hujan akan turun dengan lebatnya. Saat saya melihat ke arloji, ternyata sudah pukul 10 malam. Tak lama kemudian, lnnalillah, mobil itu mogok di perkebunan dan tidak bisa dihidupkan lagi, lalu saya kesurupan lagi.

     “Ha ha ha. Saya mogokin mobilnya.” Akhirnya kita berlima jalan kaki, walau hawa dingin terasa menusuk tulang. Dan, setelah memperhatikan sekeliling beberapa saat, akhirnya sopir itu tahu bahwa kita sudah hampir sampai di rumah kiyai. Kira-kira hanya berjarak 300 meter.

     Alhamdulillah, akhirnya sampai ke tempat tujuan juga, setelah tersesat beberapa jam. kira muat untuk sepuluh orang. Kamar itu beralaskan karpet plastik, dengan jendela dan pintu di belakangnya. Lalu bapak saya menyerahkan dua butir telur ayam kampung. Pak kiyai mengambilnya sebutir lalu memecahkan dan mencampurnya dengan minyak lulur, yang dipakai untuk pijat saya.

    Selama pemijatan itu, terdengar suara pintu “Gubrak gubrak”, padahal pintu itu sudah ditutup tapi selanjutnya terbuka lalu tertutup lagi, begitu seterusnya. Tak lama kemudian saya mulai kesurupan “Ha ha. Akulah Abdul Jabbar. Saya dari zaman syaikh Abdul Qadir Jailani.

     Saya berumur 900 tahun. Saya senang anak ini karena dia rajin ibadah. Tapi saya juga benci, sebab dia dulu berani naik mimbar. Padahal mimbar itu bukan tempatnya. Yang berhak naik ke mimbar itu adalah orang-orang yang berilmu.

      Dan jangan permainkan tempat saya. Kalau tidak. Saya bunuh anak ini.” Tak lama kemudian saya tidak sadarkan diri. Dan, setelah sadar tahu-tahu pengobatan itu sudah selesai. Sejak saat itu jin Abdul Jabbar entah karena apa, tidak datang lagi. Walau sebenarnya jin itu masih bersarang di tubuh saya.

Wiridan yang Ternyata Penuh Jin

     Dua bulan kemudian, saat kelas 3 Aliyah saya mempelajari wiridan miftahul hizb. Wiridan-wiridan itu saya baca semua kemudian saya berdoa “Ya Allah, hamba mohon diberikan ilmu dhahir batin dan ditunjukkan jalan ilmunya Rasulullah.” Setelah mengamalkan wiridan ini setiap hari maka pada hari ke 13, 14 dan 15 saya berpuasa seperti puasa Ramadhan.

     Katanya wiridan ini tanpa menggunakan khadam dari jin. Katanyaa, ilmu yang dihasilkan dari wiridan ini berasal langsung dari kemukjizatan Rasulullah. Mendengar penjelasan yang demikian – waktu itu – saya percaya begitu saja.

    Hasil pengamalan wiridan ini, diluar dugaan saya.Yang dulunya saya sering kesurupan, tapi sekarang berbalik. Saya bisa mengobati orang kesurupan. Selain itu, saya juga bisa menerawang. Ya, saya bisa menebak watak seseorang yang belum saya kenal sama sekali.

    Suatu hari saya bertemu seseorang kemudian saya menerawang dia, “Kamu orangnya pemarah, egois. Kamu juga sedang menghadapi masalah.” Dia bingung, “Lho kok kamu tahu gitu.” “Ya saya tahu saja. Kamu bermasalah dengan atasan kamu, kan?” kata saya lagi.

    Akhirnya dia makin terpana dan semakin tertarik dengan terawangan saya. Kemudian saya menerawang temannya, “Orangnya putih, hidungnya mancung dan rambutnya agak ikal.” “Lho kok kamu tahu!” Teman baru saya itu semakin terbengong-bengong. Sebenarnya semua yang saya katakan itu tergambar dengan jelas dipikiran saya begitu saja.

     Pada kesempatan lain, ada seorang tetangga yang kehilangan burung. Akhirnya dia bertanya kepada saya. Dan dengan reflek tangan saya bergerak, “Seeet”. “Tuh burungnya ada di situ.” Tangan saya menunjuk ke arah tertentu. Akhirnya tetangga itu menyebutkan nama satu persatu.

    “Namanya si Arman.” “Bukan” kata saya sambil tangan saya mengisyaratkan tidak benar. “Namanya si Atong” katanya lagi. “lya, benar itu dia.” Akhirnya burungnya dicari dan ketemu.

     Betapa malunya si pencuri yang ketangkap basah itu. Tapi anehnya keesokan harinya saya kehilangan motor. Kemudian saya coba menerawang dengan ilmu saya. Saya tunjuk ini dan itu. Tapi tidak bisa menemukan motor itu hingga sekarang.

     Rupanya keahlian saya itu, mengantarkan bapak dan adik untuk mempelajari ilmu sejenis. Meski mereka belajar dari guru yang berbeda. Nah, untuk membuktikan ilmu perguruan mana yang lebih hebat, akhirnya saya dan bapak sepakat untuk diadakan uji kekuatan. Tempatnya di rumah saya.

     Saat itu, ada tiga orang yang mengetes saya. Setelah pasang kuda-kuda kemudian saya dipukul. Ternyata pukulan itu mengenai wajah saya dan tidak bisa saya elakkan. Padahal sebelumnya saya bisa menghindari dan mementalkan pukulan siapa saja. Saya belum menyerah.

     Dan dilakukan pengujian ulang. Saya bertahan dengan cara lain, tapi saya tetap kena pukulan. Akhirnya saya mengaku kalah dan berguru dengan mereka, untuk mempelajari ilmu Karamah. Peristiwa ini terjadi pada tahun pertama ketika saya kuliah di UlN.

     Sebelum dibaiat atas keberhasilan mempelajari ilmu Karamah, saya disuruh puasa tiga hari dan membaca wiridan juga selama tiga hari, “Ya Allah. Ya Rasulullah. Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani disuhunkeun karamahna ku abdi gusti suryajana negara (Ya Allah. Ya Rasulullah. Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani dimintakan karamahnya kepada saya gusti suryajana negara) la haula wala quwata illa billahil ‘aliyil adhim” kemudian di test. Orang yang memukul gaya itu terpental semua.

    Setelah mengamalkan wiridan ini, saya merasakan adanya perubahan. Orang jadi takut sama saya. Sebaliknya, saya menjadi lebih berani. Pernah saya terjebak tawuran pelajar. Ketika saya ditimpuk dengan batu, tiba-tiba batu itu terpental sendiri sebelum mengenai saya.

    Akhirnya para pelajar itu kabur, ketakutan. Kondektur bis juga takut. Saya pernah marah dengan kondektur. Hanya gara-gara kurang ongkos. Waktu itu tarif bus untuk mahasiswa hanya seratus sementara penumpang umum membayar limaratus. Kebetulan, saya membayar tigaratus.

    Tapi, kondektur bis itu tidak percaya. “Kalau kamu mahasiswa bayar seratus juga saya terima,” kata kondektur itu. “Ya sudah kalau berani sini,” saya menantangnya. Ketika sudah dekat, dia ketakutan. Sepertinya dia melihat sesuatu yang menakutkan.

    Selain ilmu di atas, saya juga mempelajari dua ilmu lainya. Yang pertama adalah ilmu kebal dan yang kedua wirid Sakran. Saya tidak tahu, mengapa saya seperti haus berbagai macam jenis ilmu. Sehingga saya sering berguru dari satu tempat ke tempat lainnya.

    Misalnya, saat itu saya juga belajar wirid sakran. Wiridan itu diamalkan setiap selesai shalat wajib selama tujuh minggu dan puasa Senin-Kamis selama tujuh minggu juga. Dengan niat “Aku niat puasa sunnah karena Allah untuk amalan wirid syaikh Habib Ali Abu Bakar As-Sakran.”

     Sesudah seluruh ritual dalam tujuh minggu itu selesai, malamnya saya bermimpi sampai dua kali. Mimpi pertama adalah mimpi basah. Dan setelah bangun kemudian tidur kembali saya bermimpi berada di sebuah masjid yang besar di wilayah Tarim, salah satu daerah di Hadhramaut, Yaman.

    Di dalam masjid itu saya bertemu dengan orangtua. Yang memperkenalkan dirinya sebagai Habib Muhammad bin Abdul Rahman Assegaf. Kemudian ia menuntun saya berdoa di samping makam habib Ali bin Abu Bakar As-Sakran.

     Beberapa hari kemudian, saya ceritakan mimpi itu kepada guru. Katanya mimpi itu menjadi wangsit bahwa wiridan saya sudah disahkan. Selang beberapa hari kemudian, ketika sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba saya mendengar suara yang tidak saya ketahui darimana sumbernya, “Assalaamu’alaikum. Sekarang tuan adalah majikan saya. Dan saya adalah khadam tuan.”

    Beberapa hari berikutnya saya sering kesurupan setelah tarawih di mushola. Di tengah kerumunan jamaah laki-laki. “Assalaamu’alaikum. Kenalkan nama saya Abdul Lathif.” Anehnya banyak jamaah yang bahkan menjadikan jin yang merasuk ke tubuh saya sebagai teman bercanda.

    “Namanya siapa ki?” Tanya sebagian jamaah. “Nama saya Abdul Lathif. Saya dari Baghdad. Saya khadamnya Firmansyah.” Terus banyak yang minta macam-macam. “Saya minta jodoh dong?” pinta seorang dari mereka. “Lu, yang cocok sama lu orangnya yang pendek,” kata Abdul Lathif melalui mulut saya. Mendengar jawaban itu, sontak jamaah tertawa terpingkal-pingkal.

    “Saya minta nomer togel nih,” Tapi jin itu langsung menggerakkan tangan saya untuk mengambil buah dan melempar yang meminta, “Maksiat nanya-nanya sama gue,” kata jin Abdul Lathif.

    Pernah iuga jin yang merasuk ke tubuh saya itu mengambil kopi dan meminumnya, “Nih, air bekas saya ini berkah” tak tahunya jamaah yang berada di sekitar saya langsung berebut meminum kopi itu. Peristiwa seperti ini terjadi sekitar sepuluh kali selama Ramadhan.

    Dan waktunya selalu setelah tarawih. Sebelum pergi jin itu pamitan dulu, “Sudah tidak ada perlu lagi dengan saya? Saya pergi dulu ya. Assalaamu’alaikum”. Setelah peristiwa demi peristiwa itu, akhirnya banyak yang konsultasi dengan saya. Dan, untuk menjawabnya, saya gabungkan saja berbagai keilmuan yang saya miliki.

    Sehabis Ramadhan, jin Abdul Lathif masih sering merasuk ke tubuh saya. Bahkan saat saya sedang mengajar anak-anak remaja. Disini dia mulai mengisi anak-anak remaja itu. “Ki, saya sering lewat daerah-daerah tawuran. Minta penjagaan dong?” pinta seorang anak.

    “Ya, sini! Kamu baca “Asyhadu alla ilaha ilallah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. La haula wala quwwata ila billah.” lalu ia menjabat tangan anak yang diberi ilmu. Pada mulanya, jin Abdul Lathif baru datang setelah saya panggil.

     Dengan membaca Al-Fatihah untuk nabi. Kemudian shalawat untuk habib yang menciptakan wiridan ini. Setelah itu, saya memanggil “Ya Lathif” sambil menjejak bumi tiga kali. Setelah itu Jin Abdul Lathif datang dan merasuk ke tubuh saya. Tapi lama kelamaan kedatangannya tidak lagi bisa saya kendalikan.

Awal Datangnya Hidayah.

     Aktifitas di pengajian anak remaja, terus menggiring saya untuk berkenalan dengan beberapa aktifis dakwah lainnya. Nah, dari sini saya sering tukar pengalaman dan berbagi cerita. Sejujurnya, saya katakan pada mereka bahwa saya punya ilmu-ilmu teftentu. Yang waktu itu, saya menyebutnya llmu kemukjizaatan.

     Saya juga punya khadam dari jin dan menurut pendapat saya meminta bantuan jin juga tidak apa-apa. Pendapat saya ini dibantah oleh teman-teman. “Lho, itukan bacaan-bacaan lslami. Bacaan shalawat. Bacaan-bacaan Alquran,” saya mencoba beradu argumentasi. “Walaupun itu Asmaul Husna, tapi kalau itu buat kebal saya tidak percaya,” kata teman saya.

     Seiring dengan semakin lama berinteraksi dengan mereka, saya merasa ada keanehan. Badan saya panas setiap hari. Saya juga sakit flu tidak henti-hentinya. Dan, setelah membaca artikel di majalah Ghoib, saya mulai meragukan kebenaran jalan yang saya tempuh selama ini.

    Hal ini semakin diperparah dengan situasi rumah tangga yang sedikit mengalami goncangan. Dari sini saya mulai tidak yakin akan kebenaran ilmu saya. Akhirnya saya pergi ke Majalah Ghoib. Saat tiba di kantor Majalah Ghoib, saya merasa takut sekali.

     Kepala saya bergetar tanpa dapat saya kendalikan. Tidak seperti biasanya. Kemudian saya diterapi Ustadz Achmad Junaidi (Team VVIP Ruqyah). Saat itulah jin yang bersarang di tubuh saya dikeluarkan. Pada ruqyah pertama saja, kata ustadz Junaidi ada sekitar sepuluh jin yang keluar, tentu menurut pengakuan jin itu. Ada jin Abdul Jabbar, jin Konghuchu, jin Kristen, jin Budha dan yang paling bandel keluarnya adalah jin Abdul Lathif.

      Ketika jin Abdul Lathif diruqyah ia berbicara dengan ustadz Junaidi dengan bahasa Arab. “Saya dari Baghdad. Cuma saya lama di Surabaya,” katanya. “Kenapa kamu masuk ke orang ini?” tanya Ustadz Junaidi. “Siapa suruh. Yang baca wiridan itu dia. Ya, saya masuk. Kalau wiridan itu tidak dibaca, saya tidak masuk,” kata jin Abdul Lathif lagi.

     “Berarti kamu telah sesat dan menyesatkan” bentak Ustadz Junaidi. Mendengar bentakan itu, jin Abdul Lathif hanya bisa diam. Kemudian jin itu berdoa seraya meminta pertolongan kepada Ali. “Ya Ali. Anqidzni (tolonglah aku).” “Jin, doamu ini syirik,” kata ustadz Junaidi. “Saya kan tawasul, ustadz,” ujar jin itu mempertahankan diri.

    “Tawasul dengan dzat selain Allah itu berarti syirik,” kata Ustadz Junaidi. “Tidak. lni tidak syirik. Saya berpegang teguh dengan manhaj Zainal Abidin,” kata jin Abdul Lathif masih membandel. Dia susah dikeluarkan. Karena badan saya sudah kecapekan, akhirnya ruqyah hari itu diakhiri juga.

    Meski sebenarnya saya masih merasa bahwa jin Abdul Lathif itu belum bisa dikeluarkan. Karena itu Ustadz Junaidi menyuruh saya untuk datang lagi minggu depan. Disamping itu saya dianjurkan untuk terus berdzikir dan melakukan terapi ruqyah secara mandiri.

    Alhamdulillah setelah terapi ruqyah yang keenam, sekarang saya sudah baik kembali tinggal sedikit pusing di kepala bagian belakang.

    Begitulah sepenggal kisah yang saya yakin banyak dialami oleh orang lain, bergelut dengan dunia jin tanpa disadarinya. Atau bahkan sebagian orang menganggap ini merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah. Namun, pada akhirnya saya harus mengakui bahwa pendapat yang demikian itu salah. Saya berharap kisah ini dapat menjadi renungan tersendiri, bagi siapapun yang berkenan.
April 30, 2013
thumbnail

Kajian Tematik Bulanan: Sihir dan Solusinya, part 1

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-29




Alhamdulillah, berjalan juga Kajian Tematik Bulanan Rumah Ruqyah Indonesia yang bekerja sama dengan Forum Komunitas Muslim MyQuran. Dengan Narasumber Ustadz Aris Fathoni S.pd, materi tersampaikan dengan baik dan Insya Allah bermanfaat.

***

Kunjungi kami di

www.rumahruqyah.com

Informasi dan Free Konsultasi Online:

WA 081282171204, pin Bb 2901EE02 (Only Chatting)

Hotline Service: 021- 8087-2602, 0851-0503-5459

April 29, 2013
thumbnail

Bagaimana SIHIR berpengaruh pada korban ?

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-26

Bagaimana SIHIR berpengaruh pada korban ?
Jum'at, 26 April 2013 / 15 Jumadil Akhir 1434 H

    Sihir bekerja setelah adanya sentuhan benda sihir dengan korban, sehingga sihir berpengaruh pada badan korban, sentuhan benda sihir ke badan korban terjadi antara lain :

1. Melalui makanan atau minuman, benda (media) sihir termakan atau terminum oleh korban.

2. Melalui sesuatu yangg mengalir, diatas debu, benda sihir ditebar di tempat yang akan dilalui korban, jika benda sihir dilewati korban maka sihir akan bekerja.

3. Melalui rambut, kuku, baju yang mengandung bau keringat korban. Jenis ini biasanya benda sihirnya dikubur di kuburan, ditempat kosong (puing-puing), digantung di pohon yang tertiup angin, dilempar di laut atau sungai.

   Jin pelaku sihir mengetahui target (korban) melalui bau keringat yg pernah disentuh korban, jin memiliki kekuatan penciuman yang tajam. Ya Allah lindungi kami dan keluarga kami dari sihir. aamiin.

Ustadz Achmad Junaedi
April 26, 2013
thumbnail

Hukum Pawang Hujan

Posted by rumah ruqyah on

Hukum Pawang Hujan
Jum'at, 26 April 2013 / 15 Jumadil Akhir 1434 H


Tanya :

Apa hukumnya mengikuti kegiatan yang didalamnya ternyata menggunakan pawang hujan?

Jawab :

   Pawang Hujan, merupakan salah satu bentuk jasa Paranormal (baca: perdukunan) yang –mengklaim bahwa- bekerja untuk mengalihkan hujan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Sementara Allah ta’ala dengan tegas berfirman di dalam al-Qur`an:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَ‌ٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”(QS. al-A'raf 57)

    Mempercayai dan membenarkan amalan para pawang hujan ini, termasuk di antara kesyirikan. Demikian juga berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan pawang hujan, tergolong dalam konteks saling membantu dalam dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَعاَوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالعُدْواَنِ
“Dan janganlah kalian saling tolong menolong di atas dosa dan permusuhan.”

Ustadz Rishky AR
April 26, 2013
thumbnail

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-25

Kupu-Kupu Masuk Rumah, Benarkah akan datang Tamu?
Kamis, 25 April 2013 / 14 Jumadil Akhir 1434

    Katanya, bila ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah berarti ada tamu yang segera datang. Entah malam ini, esok atau lusa. Kepercayaan yang berkembang di berbagai daerah. Tak tahulah. Entah kenapa kedatangan kupu-kupu menjadi sinyal kalau rumah itu akan didatangi tamu.

     Tidak jarang seorang ibu yang meyakini mitos ini segera berbenah, bila melihat kupu-kupu hinggap di pintu rumahnya. Mulai dari membersihkan rumah, hingga menyiapkan menu makanan yang sedikit istimewa.

    Maklum kedatangan kupu-kupu itu memberinya harapan untuk bertemu dengan seseorang yang barangkali sangat istimewa. Sang suami yang kebetulan bekerja juga sudah dipesan untuk segera pulang.

    Namun, ... gawat nih. Makanan sudah selesai dimasak, rumah juga selesai dibersihkan. Kamar pun telah disiapkan. Tinggal menyisakan rasa capek dan pegal di badan. Tapi ternyata tamu misterius yang ditunggu tak kunjung datang. Malam pun telah menjelang. Ya, akhirnya hidangan untuk  sang tamu, segera disantap ramai-ramai. Mendingan begitu daripada basi.

     Itulah realita di sebagian warga. Hanya karena hinggapnya kupu-kupu di pintu, seluruh anggota keluarga sudah ribut. Kasihaan sekali. Emang ee..nak dikerjai oleh kupu-kupu. Belum lagi kalau kupu-kupu itu terlanjur masuk rumah dan ‘oh, mati’.

    Awalnya kupu-kupu itu biasa saja, tapi karena menjadi rebutan anak-anak akhirnya kupu yang malang itu terkapar tak bernyawa. Malang benar nasib sang kupu.

    Lalu apa artinya itu? konon kata mereka yang percaya dengan dunia katanya, kematian kupu-kupu itu memberikan kabar bahwa ada salah seorang anggota keluarga sedang sakit atau mengalami musibah. Gawat kan? Kematian kupu itu menjadi derita tersendiri.

    Rasa cemas dan khawatir pasti akan menyeruak masuk rongga dada. Siapa gerangan yang akan mengalami musibah?. “Jangan-jangan, jangan-jangan ....” pusing dibuatnya.

     Lain lagi bila sang kupu itu masuk rumah di malam hari. Katanya sang tuan rumah akan mendapat uang tak terduga dalam waktu dekat. Entah dari mana. Tidak ada yang tahu.

     Namun, apapun penafsiran orang kepada sang kupu yang hinggap di pintu atau masuk ke dalam rumah, sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dipercaya. ltu hanya bersumber dari ‘katanya’ yang jelas menyimpan banyak kesalahan daripada benarnya.

     Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dari sang kupu. la hanyalah binatang bebas yang punya kemauan untuk terbang atau hinggap di mana saja. Tak terkecuali bila ia mau hinggap di pintu rumah atau bahkan masuk ke dalam, barangkali tiupan angin kencang yang menghempaskan dirinya ke dalam rumah. Jadi mengapa harus diartikan macam-macam.

    Dalam kaca mata lslam, kepercayaan kepada hal-hal yang berbau ‘katanya’ itu bisa merusak aqidah. Sebab seseorang telah meyakini bahwa sesuatu yang dalam pembahasan kita sekarang berwujud kupu-kupu itu bisa mendatangkan madharat atau manfaat.

     Padahal kupu-kupu tadi tidak memiliki hubungan sebab akibat. Tidak ada hubungan antara sang kupu dengan sang tamu atau sang musibah. Terlebih lagi tidak ada orang yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi.

     Dan, kalaupun ada seorang tamu yang kedatangannya setelah ada kupu-kupu yang hinggap di pintu rumah, itu hanya faktor kebetulan belaka. Tldak ada, yang perlu dan layak untuk dihubung-hubungkan.

     Tetaplah berhati-hati dengan segala kepercayaan yang sumbernya adalah katanya. Karena bisa-bisa merusak aqidah kita.
April 25, 2013
thumbnail

Strategi-strategi Syetan!

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-24

Strategi-strategi Syetan!
Rabu, 24 April 2013 / 13 Jumadi Akhir 1434 H



1. Was - was. Membisikkan keraguan saat manusia hendak melakukan kebaikan atau amal shalih



الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

  "Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia" (QS. An-Naas (114): 5)

 2. Tazyin. Membungkus kemaksiatan dengan keindahan.


قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya"(QS. Al Hijr (15): 39)

 3. Tamanni. Memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan kosong


يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا

"Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka."
(Qs. An Nisaa (4):120).

 4. 'Adawah. Menanamkan permusuhan


إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)."(Qs. Al Maidah (5) - 91)

5. Takhwif. Menakut nakuti sehingga tdk melaksanakan perintah Allah

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman."(Qs. Ali Imran (3) - 175).

 6. Shaddun. Menghalangi manusia menjalankan perintah Allah.

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

"Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk."(Qs.Az Zukhruf (43) - 37).

7. Wa'dun. Memberikan janji-janji palsu

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ إِنَّ اللّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُواْ أَنفُسَكُم مَّا أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَآ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih."(Qs.Ibrahim (14) - 22).

8. Kaidun. Melakukan tipu daya

الَّذِينَ آمَنُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُواْ أَوْلِيَاء الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang- orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah."(Qs. An Nisaa (4) - 76).

9. Nisyan. Membuat lupa

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُوْلَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi." (Qs.Al Mujaadila (58) - 19).

   Hati-hati musuh selalu mengintai dan memiliki banyak strategi untuk menjerumuskan hamba yang beriman. Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari gangguan setan yang terkutuk. Aamiin.

Ustadz Achmad Junaedi
April 24, 2013
thumbnail

Kajian "Sihir dan Solusinya"

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-23

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Hadirilah...

Kajian Perdana Bulanan Tematik

"Sihir dan Solusinya"

Narasumber:

Ustadz Aris Fathoni, S.Pd

Waktu: Ahad 28 Maret 2013

Jam: 10.00 s/d 12.00 WIB

Tempat: Jl. Manunggal Gg Berkah II Rt 014/02 No 26, Kel Makasar Jaktim (Rumah Pak Anis Wn)

Karena tempat hanya menampung 30 orang, mohon konfirmasi kehadirannya dengan mereply postingan dibawah ini
April 23, 2013
thumbnail

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian

Posted by rumah ruqyah on

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian
Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H

   
     Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah.

    Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

    Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

     Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna bersamaan dengan berjalannya waktu. Hingga muncullah suatu perasaan aneh yang menyebar dalam jiwa. Perasaan takut pada kematian, itulah awal derita yang sempat menghimpit dada sebulan lamanya.

Februari yang Menegangkan.

    Berawal dari dirawatnya salah seorang kerabat tante di rumah sakit yang biasa saya panggil dengan nenek. Keadaannya sudah semakin kritis. Sehingga tante kembali berniat membesuk nenek. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah sempat menjenguk nenek, tapi karena keadaannya yang saat itu boleh dibilang sudah sangat kritis, saya berniat kembali menengoknya.

    Bertiga dengan tante dan anaknya, Zulfa, kami berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali berpapasan dengan perawat yang tergopoh-gopoh mendorong pasien yang sudah kritis. Hingga ketika sampai di ruangan nenek, saya tidak diizinkan masuk. Itu memang peraturan rumah sakit bahwa selain keluarga pasien tidak sembarang orang dibolehkan masuk.

     Tidak masalah, pikir saya. Dengan santai saya berjalan ke ruang tunggu, sementara Tante dan Zulfa bergegas masuk ke dalam ruangan. Senyap, saya tenggelam dalam lamunan. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat tante berjalan tergopoh-gopoh dari ruangan nenek. Raut mukanya sendu, menyiratkan sesuatu telah terjadi di sana.

     Benar saja, “Nenek telah meninggal,” ujar tante lirih. “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” gumam saya kemudian. Nenek yang baik hati itu telah pergi mendahului kami, Meski berbeda agama, tapi saya merasa kehilangan.

     Setelah menyampaikan berita itu, tante kembali masuk ke dalam ruangan nenek. “Masih banyak yang harus dikerjakan di sana,” katanya. Sementara saya, masih duduk terpaku dalam keheningan.

     Satu menit, sepuluh menit berlalu, saya masih tetap dalam kesendirian. Hingga perasaan aneh menyeruak ke dalam jiwa. Perlahan namun pasti, perasaan aneh itu semakin kuat. Saya pun mulai kehilangan nalar sehingga yang terjadi kemudian di luar perkiraan saya.

     “Di sini, saya mati. Di rumah sakit ini saya akan mati,” seru suara dalam relung jiwa saya. Perasaan takut pada kematian segera menghantui saya. Saya merasa kepergian nenek tidak berselang lama akan disusul oleh yang lain. Dan ia adalah saya.

    Saya gelisah. Ketakutan yang tidak berdasar itu semakin menguasai saya. Hanya dalam hitungan menit, nafas saya mulai sesak. Saya semakin kalut tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Butiran-butiran keringat dingin mulai bercucuran.

    Dalam ketidaktenangan itu terlintas dalam benak saya bahwa saya harus dirawat. Saya harus diberi pernafasan pembantu untuk mengurangi sesak di dada yang semakin parah. Saya mendekati seorang satpam yang tidak jauh dari tempat duduk saya.”Pak, di mana ruang UGD? Sepertinya saya sesak nafas. Saya butuh oksigen,” tanya saya dengan nada tersekat.

     “Kenapa bu? Asma ya?” tanya satpam itu sebelum menjawab pertanyaan saya. “Tidak tahu, pokoknya saya sesak nafas”. “Di mana ruangan UGDnya” tanya saya kembali. Satpam itu pun menunjukkan  lorong mana yang harus saya lewati sebelum akhirnya sampai diruangan UGD.

      Bergegas, saya mengikuti petunjuk satpam itu. Namun, setibanya di depan ruangan UGD, saya mengurungkan diri untuk masuk ke dalam. Ada perasaan malu yang tersirat. Beli balsem saja, pikir saya kemudian.

     Saya menuruti kata hati. Kembali melangkah dengan gontai ke halaman. Celingukan ke kiri dan kanan, dimana kiranya dijual balsem gosok. Setelah membeli balsem, saya mencoba menenangkan diri dengan duduk di pelataran rumah sakit. Tapi itu masih tidak bisa menolong.

     Bisikan, “Mati, mati,” masih terus terngiang di telinga. Hangatnya balsem tidak lagi bermanfaat. Saya semakin kalut, hingga saya putuskan untuk kembali ke ruang UGD. Saya tidak mungkin sembuh kalau tidak diobati seseorang atau tidak dekat dengan seseorang. Akhirnya saya masuk ke ruang UGD.

       Selang oksigen pun segera tersalurkan melalui hidung saya. Lima, sepuluh menit saya mencoba bertahan. Menunggu reaksi positif dari oksigen itu. tapi yang terjadi kemudian sangat di luar perkiraan. Bantuan pernafasan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sesak nafas dan bisikan kematian masih terus berdengung. “Sudah waktunya kamu mati sekarang. Kamu mati sekarang. Di sini kamu mati,”

       Saat-saat yang menegangkan. Seandainya saya bisa melewati masa yang kritis ini, saya merasa itu adalah kemenangan yang hebat. Sejenak, saya merenung dan terbetiklah keinginan untuk berbicara terbuka kepada dokter jaga atas semua yang menimpa saya.

      “Dok, sebenarnya saya ke sini membesuk nenek, tapi sekarang beliau sudah meninggal. Sementara tante saya masih menunggu di kamar nenek.” Saya berbicara apa adanya kepada dokter. “Saya merasa tidak mungkin sembuh, bila saya tidak dipertemukan dengan mereka,” jelas saya lebih lanjut. Setelah melihat tidak ada perkembangan yang berarti dari bantuan pernafasan itu, akhirnya saya diantar seorang perawat menemui tante yang masih berada di kamar nenek.

      Plong rasanya melihat tante. Saya segera berhambur dan mendekapnya. “Silfi kenapa?” tanya tante heran melihat sikap saya yang tidak seperti biasanya. “Silfi takut mati, tante,” hanya kalimat itu yang sempat terucap. Saya pun menangis bercucuran air mata.

      “Silfi, Umur kan di tangan Allah, kalau kita sudah tahu mau mati, ya enak duluan. Jadi sama sekali tidak ada yang tahu kapan ia mati,” ujar tante menenangkan saya. “Berdzikirlah! Jangan terbawa emosi!” tante berusaha menenangkan saya.

     Perlahan, saya mulai bisa menguasai diri. Saya mencoba merenung sejenak. Benar memang apa yang dikatakan tante. Mungkin waktu itu hati saya sedang gersang sehingga mudah tergoda syetan, karena sudah beberapa lama saya tidak menghadiri majlis ta’lim. Ini teguran dari Allah atas kelalaian ini.

      Saat-saat berikutnya saya bergegas ke mushalla untuk menenangkan diri. Sementara tante dan Zulfa mengiring jenazah nenek yang akar disemayamkan di rumah duka. Saya merasa tidak sanggup mengiringi jenazah, karena bagi saya kematian itu sesuatu yang menyakitkan.

     Saya sendiri tidak tahu, bagaimana perasaan ini muncul, apakah karena saya sering menonton film-film horor? Entahlah saya jadi pusing bila memikirkannya. Lebih baik, menenangkan diri dengan membaca al-Qur’an, pikir saya setelah sekian lama termenung di mushalla rumah sakit.

Malam-Malam yang Mengerikan

      Peristiwa kelabu di rumah sakit itu tidak hilang begitu saja. Hari-hari berikutnya saya hidup dalam ketakutan. Saya merasakan hidup saya tidak lagi normal. Suasana malam yang hening menjadi momok tersendiri bagi saya. Nyaris tiap malam saya tidak berani tidur sendirian.

       Meski sudah tidur bersama tante, tapi bayang-bayang kematian masih menghantui. Perasaan ini memang sulit dijelaskan. Dalam kesendirian itu seolah-olah ada yang menakut-nakuti saya, padahal saya tidak melihat apa-apa. Cuma perasaan saya yang memang ketakutan luar biasa.

     Dalam balutan ketakutan, saya mendekap bantal sambil duduk meringkuk di bawah kaki tante yang sudah tertidur lelap. Saya tidak berani membangunkan tante. Kasihan, ia sudah seharian bekerja dan sekarang adalah saatnya istirahat untuk menyambut hari esok.

     Saya ingin memejamkan mata, tapi tetap saia mata ini enggan terpejam. Hanya harapan yang terpatri bahwa saya bisa melewati malam ini dengan baik dan melihat matahari esok hari. Saya terus berdzikir supaya bisa melewati malam itu. Tanpa terasa keringat dingin pun bercucuran. Saya tidak sanggup lagi membendung air mata.

     Detik demi detik berjalan lambat dalam keheningan. Sunyi. Senyap, binatang malam enggan bersuara. Hanya desahan nafas tante yang terdengar teratur. Dalam keadaan seperti itu, saya teringat kembali dengan sosok ibu yang jauh di pulau seberang.

      Karena selama ini ibu adalah orang yang paling mengerti diri saya. lbu yang pandai menghibur saya dalam keadaan kritis semacam ini. Tapi apa boleh dikata, ibu memang tidak berada di samping saya.

     Jam satu atau bahkan jam dua dinihari, saya baru bisa memejamkan mata setelah melewati drama yang panjang. lronisnya, bila tiba-tiba saya terbangun kembali sebelum sembuh, maka bayang-bayang kematian kembali muncul menggantikan mimpi yang baru beberapa saat.

     Malam-malam yang terlalu berat bagi saya, karena ketakutan pada kematian itu sangat menyiksa. Pikiran negatif akan kematian terus menumpuk dalam benak. Seakan pikiran ini tertanam kuat dengan akar-akarnya yang menghujam ke dalam jiwa.

    Sakit batuk yang bagi orang lain tergolong penyakit ringan dan tidak berbahaya, buat saya itu sudah sangat menyiksa. Saya menganggap sakit batuk merupakan pintu gerbang menuju kematian, sementara masih belum ada amal yang bisa di banggakan untuk menyambut datangnya kematian. Maka yang terjadi kemudian batuk-batuk kecil itu berubah menjadi sesak nafas.

     Semakin lama semakin berat, sehingga saya merasa seperti ada orang yang mencekik leher saya. Saya merasakan ajal saya sudah semakin dekat. Saya berusaha melepaskan diri dari cekikan itu tapi tetap sia-sia. Tangisan yang saya anggap menjadi senjata pamungkas pun tidak bisa dikeluarkan. Saya benar-benar tidak bisa menangis, hingga jalan terakhir saya harus membangunkan tante yang tidur pulas.

    Tante bangun dengan mata yang sayu. Matanya semakin sayu, saat melihat wajah saya yang pucat pasi dalam ketidakberdayaan. Dengan berlinang air mata, saya mengadu kepada tante. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga saya harus mengalami penderitaan ini. Seperci biasa tante kemudian menenangkan saya.

     Siang hari, saya merasa lebih tenang. Bisikan-bisikan kematian tidak terlalu sering terbetik. Mungkin karena pikiran saya teralihkan oleh aktifitas harian yang menyita waktu dan perhatian. Hanya sesekali ketakutan itu muncul begitu saja tanpa didahului oleh tanda apa-apa. Tiba-tiba saja saya merasa takut mati dan sesak nafas yang hebat. Bila sudah demikian biasanya saya segera mengambil balsem atau menenangkan diri dengan minum air putih.

     Suatu hari, bisikan kematian itu muncul ketika saya sedang shalat. “Wah, setelah shalat ini  saya akan mati.” Saya bingung, mengapa bisikan itu kemudian munculdi dalam shalat. Detik-detik berikutnya, kembali terjadi dialog dalam batin.

     “Mati nih, tapi bagus kamu mati dengan husnul khatimah’. “Mati, mati, matiii ...” Akhirnya shalat saya terganggu. Saya tidak bisa konsentrasi karena dialog kematian terus terjadi hingga shalat selesai.

     Kebetulan waktu itu ibu sedang ke Jakarta, sehingga saya ceritakan apa yang saya alami selama ini kepadanya. “lbu, kalau nafas itu bagaimana? Kok nafas saya sering sesak sih?” lbu terperangah mendengar keluhan itu sehingga jalan pintas segera diambil.

     “Ya sudah, kita bawa ke dokter saja,” jawab ibu serius. Sejurus kemudian, saya ke dokter dengan ditemani ibu. Namun, diagnosa dokter semakin membingungkan. Karena hasil tes jantung dan paru-paru semuanya normal. Tidak ada masalah yang perlu dirisaukan.

     Melihat perkembangan itu, saya pun memutuskan untuk konsultasi dengan ustadz ngaji saya melalui telepon. “lni merupakan ujian buat Silfi. Semakin tinggi keimanan seseorang semakin hebat ujiannya,” nasehat ustadz melalui telepon itu semakin menguatkan diri saya agar tidak menyerah dan hanya berpangku tangan.

      Karena itu saya memberanikan diri untuk melayat tetangga yang meninggal. Meski sejujurnya saya akui bahwa hati saya belum siap. Saya masih memaksakan memaksakan diri, karena saya berpikir bahwa ini merupakan salah satu bagian dari pengobatan juga.

      Dengan berat, saya melangkahkan kaki ke sana dan melihat wajah orang yang meninggal sebelum dikafani. Sebenarnya saya tidak tahan melihat wajahnya tapi saya tetap bersikeras. Akibatnya sungguh di luar dugaan.

     Bayangan wajah yang memutih itu tertanam kuat di benak saya. Sekian cara yang saya tempuh untuk menghapus bayangan itu masih sia-sia. “Wah, giliran berikutnya adalah saya. Saya bakalan mati dalam waktu dekat. Saya bakalan mati dalam waktu dekat,” detik-detik berikutnya nafas saya kembali sesak.

     Momok malam yang mengerikan itu tidak terbatas pada kesulitan tidur dan dicekam ketakutan. Karena pada saat tertidur pun sesekali mimpi menyeramkan datang menghampiri. Sering saya bermimpi didatangi orang-orang yang sudah meninggal.

     Seperti yang terjadi pada suatu malam. Dalam keremangan lampu, saya melihat ibu dikejar-kejar hantu. Sosok manusia dengan wajah biasa, tapi saya tahu bahwa orang itu sudah mati. Hantu itu menakut-nakuti dengan berjalan biasa. Saya terbangun dengan nafas tersengal-sengal.

     Sebenarnya, jauh sebelum saya menderita takut mati seperti sekarang, saya telah sering mengalami rep-repan (tindihan). Waktu itu, saya masih belum menyadari bahwa rep-repan itu merupakan indikasi seseorang terkena gangguan jin. Sehingga saya menanggapinya dengan biasa saja. Tidak panik atau cemas.

     Saat tidur lelap itu tiba-tiba seperti ada kekuatan besar yang menindih badan saya. Dada saya dihimpit berton-ton barang. Saya berusaha berontak, tapi kekuatan itu tetap tidak bergeser. lngin rasanya tangan ini meraih pintu, tapi tangan saya sulit digerakkan.

     Semakin keras berusaha, semakin kuat kekuatan itu menindih saya. sementara mulut yang seharusnya mampu berteriak dan meminta tolong, seakan terkunci.

     Dada saya semakin sesak, dan seperti biasa reaksi yang kemudian saya temukan setelah sekian lama dalam himpitan kekuatan besar itu adalah nafas yang tersengal-sengal. lronisnya, rep-repan ini tidak hanya menyerang saat sedang tertidur. Dalam kondisi terbangun dan dalam kesadaran penuh, saya pernah mengalami hal serupa. Usaha keras saya untuk meraih pintu juga sia-sia.

Saya Sadar Kematian itu Harus Dipersiapkan

     Kejadian-kejadian inilah yang kemudian mengantarkan saya untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Terapi ini saya ketahui secara tidak sengaja, ketika saya bercerita kepada seorang teman, ia justru menyarankan saya mengikuti terapi ruqyah, karena gangguan yang saya alami selama ini terkesan memang tidak wajar. Pengobatan secara medis yang telah saya tempuh juga menemui jalan buntu.

     Sementara kondisi kejiwaan saya sudah lelah, bila tidak ada perubahan dalam waktu dekat, saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan. Saya khawatir bila akhirnya semakin parah dan menjadi gila. Saya tidak sanggup lagi dihantui ketakutan setiap malam.

     Berbekal alamat yang saya peroleh dari seorang teman, saya mencari kantor Majalah Ghoib. Namun, sayang ketika tiba di sana, saya harus menunggu giliran terapi tiga minggu lamanya. Tiga minggu bukan waktu yang pendek, segala kemungkinan bisa saja terjadi.

    Saya merasa beruntung dalam masa penantian itu teman-teman ngaji banyak memberi semangat dan dorongan kepada saya agar bertahan dan tidak menyerah. Membaca al-Qur’an semakin saya  tingkatkan intensitasnya. Dan hasilnya pun terasa, berangsurangsur keadaan saya semakin membaik.

     Tanggal 13 Maret, saya berangkat ke kantor Majalah Ghoib untuk menglkuti terapi seperti yang telah dijadwalkan. Saya bersyukur bahwa saat mengikuti terapi saya tidak bereaksi keras seperti  pasien-pasien lain.

     Hanya rasa deg-degan yang mengaliri badan saya saat mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an. Sewaktu tiba giliran saya untuk diterapi satu persatu pun sayatidak bereaksi apa-apa. Saya hanya diam dan tidak kepanasan atau menjerit-jerit seperti beberapa pasien yang lain. Saat itu saya terus berdoa dalam hati, semoga saya bisa hidup normal menghadapi masa depan.

    Saya memang hanya sekali mengikuti terapi di kantor Majalah Ghoib, karena saya merasa gangguan yang saya derita sekarang sudah jauh berkurang. Rep-repan yang dulu bisa datang dua minggu sekali itu, sekarang sudah tidak ada. Pada sisi lain, saya lebih mengedepankan terapi ruqyah mandiri dengan banyak membaca al-Qur’an, al-Ma’tsurat serta melaksanakan shalat dan perintah-perintah agama lainnya.

     Saya sadar bahwa kematian bukan sesuatu yang harus ditakutkan, karena semua orang akan mati. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin menjemput kematian yang datangnya tidak terduga. Saya hanya berharap pada akhirnya bisa mengakhiri hidup ini dengan husnul khatimah.

     Secara lebih jauh saya mencoba introspeksi ke dalam diri saya sendiri, mengapa takut akan kematian itu bisa menjadi momok yang menakutkan. Kesimpulan dari kesemuanya itu mungkin berpangkal pada kepribadian saya yang suka menyendiri.

     Saya suka melakukan apa saja sendiri, karena saya tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin karena perasaan merasa kuat, sehingga sepertinya tidak membutuhkan orang lain.

     Akibatnya saya hidup dalam kesendirian saya, peristiwa ini seolah-olah menyadarkan saya bahwa manusia itu membutuhkan orang lain. Sangat butuh dan jangan merasa sombong dengan kebisaan dan kemampuan diri sendiri. Kita butuh orang lain.
April 23, 2013
thumbnail

Misteri Batu Krobu di Probolinggo

Posted by rumah ruqyah on

Misteri Batu Krobu di Probolinggo
Selasa, 23 April 2013 / 12 Jumadil Akhir 1434 H

   Batu Krobu yang menjadi mitos di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Batu sebesar rumah ini diyakini sebagai jelmaan seorang ratu kerajaan.

    Menurut pemilik tanah tegal tempat batu sebesar rumah itu berada, Sutali (40), dirinya memang tidak tahu sendiri kepastian hikayat soal kesakralan batu itu. Tapi, dia sempat diceritakan orangtuanya bernama Ba'i. Orangtuanya mengaku jika batu krobu itu merupakan wujud salah seorang ratu.

   "Pada zaman dahulu katanya ada salah seorang ratu yang hendak ke pulau Madura yang diantar oleh prajuritnya. Namun, karena perjalanan mereka kesiangan, akhirnya berhenti di tempat itu," cerita kata Sutali saat ditemui di rumahnya.

    Wujud dari keberadaan prajurit yang mengawal perjalanan sang ratu, dibuktikan banyaknya batu-batu kecil sebesar kepala kerbau yang bertaburan di lahan tegal miliknya. Bahkan, batu-batu yang dianggap sebagai prajurit itu umurnya hingga mencapai ratusan.

   "Nah, semua batu-batu kecil yang bertaburan itu menurut sejarahnya para prajurit yang mengawal sang ratu," katanya.

   Sakralnya keberadaan batu krobu itu memang sudah sejak zaman dahulu. Ini dibuktikan, menurut cerita warga setempat jika batu tersebut pernah dijadikan tempat persembunyian para tentara Indonesia saat dikejar-kejar tentara Belanda.

    "Ada sekitar 1 kompi tentara Indonesia pada saat itu sedang dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Pada saat dikejar tentara Belanda, mereka kebingungan. Sehingga kemudian berembunyi dibalik batu itu," kata Sutali.

    Anehnya, begitu bersembunyi di balik batu itu para tentara Belanda kehilangan jejak. Mereka tidak melihat para tentara Indonesia lagi. "Memang batu itu sejak dulu katanya wingit. Tidak mau dirusuhi (dikotori,red)," jelasnya.

    Pernah, cerita dia, ada salah seorang warga sekitar yang mengaku tidak percaya dengan adanya mitos batu tersebut. Dia kemudian memanjat batu ke atas. Melihat warga itu naik ke atas batu, para tetangganya beramai-ramai menyuruhnya turun.

   Tapi orang itu tetap ngotot menaiki batu tersebut. Begitu orang itu turun ke bawah, warga terkejut. Karena orang yang berani memanjat batu itu tiba-tiba tak sadarkan diri. Bahkan, setelah sadar dia menjadi gila.

     Melihat kejadian itu, warga yang rumahnya berada di dekat batu itu semakin percaya. Mereka melarang anak kecil agar tidak bermain di dekat batu tersebut. "Wejangan agar kita tidak sembrono main di dekat batu itu sejak orang-orang tua dulu sampai sekarang," katanya. (viva/26/3/13)

****

Rumah Ruqyah Indonesia: Segala sesuatu yang diawali dengan kata misteri sering membuat orang penasaran tapi juga sekaligus takut. Seperti halnya batu krobu ini, diawali dari berita hikayat tidak mendasar kebenarannya (mitos) membuat warga sekitar segan untuk mendekati batu itu.

Dengan sakralnya batu itu, hingga ketika ada yang kesurupan saat ada yang nekat menaiki batu tersebut kian merusak aqidah yang mempercayainya. Karena mempercayai ada kekuatan mistik dibalik batu tersebut. Waspadalah, kesyirikan bisa merusak aqidah keislaman kita.
April 23, 2013
thumbnail

Apakah Jin Bisa Mati

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-22

Apakah Jin Bisa Mati?
Selasa, 30 Oktober 2012/14 Zulhijjah 1433 H



Kematian Jin


Pertanyaan:

Salam.

Apakah Jin Bisa Mati? dan bagaimana dengan iblis? berapa usianya.

Dari: Bocah

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Pertama, sesungguhnya semua makhluk bisa mati dan binasa. Dan itu keyakinan kita sebagaimana yang telah Allah firmankan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ 26 وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ  27 فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  28
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahmaan (55) : 26 – 28 )

    Semua makhluk, apapun dan siapapun dia, bisa mati dan binasa, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

     Kedua, diantara golongan jin, ada yang bernama Iblis. Dalil bahwa iblis termasuk golongan jin dan bukan malaikat adalah firman Allah

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam [884], maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al Kahfi (18) : 50 )

[884] lihat no. 36.

    Untuk makhluk yang satu ini, telah Allah berikan jaminan, tidak akan mati sampai kiamat. Allah mengkisahkan dalam Alquran. Setelah Iblis diusir untuk turun ke bumi karena sikapnya yang sombong, Iblis minta syarat kepada Allah:

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ 36  قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ 37 إِلَى يَومِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ  38


     Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan [797], Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,  sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan [798] (QS. Al Hijr (15): 36 – 38 )

[797] Maksudnya Iblis memohon agar dia tidak diazab dari sekarang melainkan diberikan kebebasan hidup sampai hari berbangkit.

[798] Ya'ni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.

Dalam Tafsir al-Jalalain dinyatakan:

“Yaitu waktu tiupan sangkakala yang pertama.” (al-Jalalain, Al-Hijr: 38).

    Berdasarkan firman Allah di atas, Iblis ditetapkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak akan mati sampai hari kiamat.

    Ketiga, golongan jin selain Iblis, bisa mati sebelum kiamat. Karena jin termasuk keumuman firman Allah di surat Ar-Rahman di atas.

     Sedangkan beberapa dalil sunah yang menunjukkan bahwa jin bisa mati sebelum kiamat,

1. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu doanya, beliau melantunkan:


     “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang  tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

2. Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah.

    Setelah Khalid bin Walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Kembali, kamu belum melakukan apapun.”

    Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya.

    Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Itulah Uzza.” (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866).

3. Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.

Allahu a’lam

Referensi: Alamul Jinni wa asy-Syayathiin, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar.


Ustadz Ammi Nur Baits

(Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Konsultasisyariah.com | Apakah Jin Bisa Mati
April 22, 2013
thumbnail

Apa Benar Garam Bisa Mengusir Syetan?

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-19

Apa Benar Garam Bisa Mengusir Syetan?
Jum'at, 19 April 2013 / 8 Jumadil Akhir 1434 H

<

Assalamualaikum Wr Wb


   Ustadz Akhmad  Sadzali yang saya hormati, apakah  benar jika kita menaruh garam di atas pintu dapat menetralisir kejahatan syetan? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Jamaludin MS,

Cikarang, Kabupaten Bekasi

Jawaban:

Waalaikumsalam Wr Wb

    Saudara Jamaluddin dan pembaca rubrik konsultasi keghoiban semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Ada salah pemahaman terjadi di masyarakat kita, seperti agar terhindar dari gangguan syetan, maka ia memasang tulisan Arab diatas pintu rumah, menanam atau mengubur telur angsa di pojok-pojok rumah, atau memasang ayat kursi yang tujuannya untuk menghalangi gangguan syetan termasuk meletakkan garam di sudut rumah di atas lemari dsb.

    Semua kita pasti tahu rasa dan manfaat garam dalam kehidupan, ia menjadikan masakan menjadi sedap dan lezat. Kemudian apakah garam bisa mengusir syetan? Untuk mengetahui boleh atau tidaknya, mari kita simak kisah  ini:

    Ketika Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam (SAW) sedang sujud dalam shalat, seekor kalajengking menyengat jari tangan beliau, maka Rasulullah keluar dan berkata, “Semoga Allah melaknat kalajengking, ia tidak membedakan antara nabi dan orang lain.”

    Kemudian Rasulullah meminta diambilkan bejana berisi air dan garam lalu merendam  bagian yang disengat itu kedalam bejana tersebut sambil membaca, Al-Kafirun dan muawwidzatain  (surah Al Falaq dan An Nas) hingga sakitnya hilang.

    Selain itu, maka tidak ada tuntunan dari Nabi yang mengajarkan agar membentengi rumah dengan garam.

Mari kita perhatikan dua hadits berikut ini

Anjuran untuk membaca doa di bawah ini 3x di pagi dan 3x di sore hari

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فىِ اْلاَرْضِ وَلاَ فىِ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ.

"Dengan nama Allah yang tidak membahayakan bersama namaNya akan sesuatu di bumi dan di langit, dan Dia-lah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

 Sumber doa

من قال حين يمسي : بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فىِ اْلاَرْضِ وَلاَ فىِ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ ، ثلاث مرات ، لم يصبه فجأة بلاء حتى يصبح ، ومن قالها حين يصبح ثلاث مرات ، لم يصبه فجأة بلاء حتى يمسي.

   "Barangsiapa yang ketika sore membaca : “ Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaeun fil ardhi wa laa fis samaai wa huwas samii’ul ‘aliim ” tiga kali, maka tidak akan terkena musibah secara mendadak sampai pagi, dan barangsiapa yang membacanya ketika pagi tiga kali, maka tidak akan terkena musibah secara mendadak sampai sore."(HR. At-Tirmidzi dan selainnya, dan hadits ini derajatnya hasan sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.dan dishahihkan oleh   Al-Albany)

   Adapun hadits yang kedua, Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surah Al Baqarah."(H.R Muslim).

   Hadits yang pertama berkaitan dengan perlindungan untuk diri dan hadits yang kedua pembentengan rumah atau pengusiran syetan dari rumah dengan bacaan surat Al Baqarah. Itulah yang diajarkan Nabi SAW kepada kita.

   Adapun memohon perlindungan dari  gangguan syetan dari rumah baru, kamar hotel, atau tempat yang dianggap seram adalah dengan membaca doa ini:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya."(HR. Muslim)

Sumber Doa

    "Diriwayatkan dari Sa'd bin Abi WaqqashRadhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Khaulah binti Hakim al-Salamiyah Radhiyallahu 'Anha berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda:

    "Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca: A'udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya) maka tak ada sesuatu pun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut."(HR. Muslim)

Ustadz Akhmad Sadzali Lc

***

Ingin Konsultasi langsung dengan Ustadz Akhmd Sadzali, yuk gabung disini
April 19, 2013
thumbnail

Malam Jum’at Kliwon Syetan Gentayangan?

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-18

Malam Jum’at Kliwon Syetan Gentayangan?
Kamis, 18 April 2013 / 7 Jumadil Akhir 1434 H

   
   Malam Jum'at Kliwon menebar ancaman. Ada sebagian orang yang merinding bila keluar rumah di malam Jum'at Kliwon. la ketakutan lantaran mendengar mitos keangkeran yang terjadi di malam itu. Katanya, di malam Jum'at Kliwon syetan bergentayangan.

    Jagad perfilman lndonesia kembali diramaikan film horor yang mengambil tema malam Jum'at Kliwon. Seorang wanita penyihir yang tewas dihakimi massa menuntut balas. Di malam Jum'at Kliwon, ‘arwahnya yang penasaran’ digambarkan menyembul dari alam ghaib dan menebar ancaman. la bergentayangan mencari mangsa.

    Tempat di mana ia meninggal, telah dibangun penginapan. Di malam Jum'at Kliwon keganjilan demi keganjilan menghampiri tamu penginapan. Ada yang kesurupan, ada pula yang meninggal dunia.

     Sebuah film yang memanfaatkan mitos yang berkembang di masyarakat untuk mendongkrak pendapatan. Judul film itu telah menggugah rasa penasaran.

   Dukun juga memanfaatkan malam Jum'at Kliwon untuk memperkuat ilmunya. Ada yang melakukan ritual-ritual khusus ada pula yang memandikan benda-benda pusaka. Bahkan ada sebagian ilmu sihir yang memanfaatkan jasad perawan yang meninggal di malam Jum'at Kliwon untuk kekuatan ilmunya. Makamnya dibongkar. Kain  kafannya diambil. Semua itu dilakukannya di malam Jum'at Kliwon'.

    Bagi kita umat lslam, malam Jum'at Kliwon bukanlah seperti yang dibayangkan orang. Malam yang menakutkan. Sebaliknya, malam Jum'at Kliwon itu tidak berbeda dengan malam Jum'at lainnya. Ia adalah malam yang mubarakah. Malam yang diberkati.

    Orang yang meninggal di malam Jum'at Kliwon atau Jum’at-Jum'at lainnya seharusnya berbahagia. Karena itu adalah pertanda bahwa ia adalah orang baik. Orang yang terbebas dari ancaman siksa kubur. Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,

مَنْ مَاتَ يَـوْمَ اْلجُمْعَــةِ اَو لَيْلَةَ الجُمعَــةِ وُقِـيَ فِتْنَـةَ القَـبْر

“Barangsiapa meninggal di hari Jum'at atau malam Jum'at, dia dibebaskan dan siksa kubur."(HR. Ahmad)

    Hari Jum'at adalah hari raya pekanan bagi umat lslam. la adalah sayyidul ayyam Sedangkan perhitungan kalender hijriah, dimulai sejak matahari terbenam. Saat adzan Maghrib berkumandang di hari Kamis, maka mulai detik itu sudah terhitung malam Jum'at. Hari Raya Pekanan bagi kaurn muslimin.

     Malam Jum'at Kliwon tidak berbeda dengan malam-malam lainnya tidak ada perkecualian apapun untuknya Karena itu tinggalkan hal-hal yang berbau mitos. Kembalilah ke pangkuan lslam.

Waspadalah!! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.
April 18, 2013
thumbnail

Praktek Paranormal Limbad Mengedepankan Ajaran Islam

Posted by rumah ruqyah on

Praktek Paranormal Limbad Mengedepankan Ajaran Islam
Kamis, 18 April 2013 / 7 Jumadil Akhir 1434 H

    KAPANLAGI.COM - Kasus pertikaian antara Adi Bing Slamet dan Eyang Subur mengingatkan magician Limbad pada masa lalunya yang pernah menjalani paranormal dan guru spiritual.

    Limbad mengaku tidak pernah mematok tarif seperti Eyang Subur yang menurut kabar sering meminta uang pada pasiennya. "Ya bisa dibilang saya dulu spiritual juga dan paranormal juga. Tapi, kalau saya semua pasien saya anggap saudara, jadi uang bukan masalah," ujar Limbad.

    Tidak hanya soal uang yang membedakan dirinya dengan Eyang Subur. Limbad yang ditemui usai Konser Infinity 8th Star Media Nusantara di Studio 8 RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (16/4) malam, mengaku belum pernah mengecewakan pasiennya.

     Dia sampai saat ini belum pernah sekalipun mendapatkan protes dari pasiennya. Berbeda dengan Eyang Subur yang dicaci maki oleh Adi Bing Slamet karena ajarannya yang dinilai sesat. Limbad pun tetap mengedepankan ajaran Islam yang diyakininya.

    "Saya belum pernah dapat kritik dari pasien. Karena pada dasarnya dalam melakukan pekerjaan sebagai paranormal saat itu, saya tetap mengedepankan ajaran agama Islam," tegas Limbad. (kpl/pur/dar)

*****

Rumah Ruqyah Indonesia: Meski sekilas terlihat baik apa yang dikatakan Limbad; "tetap mengedepankan ajaran Islam yang diyakininya.", tapi pada hakikatnya itu berseberangan dengan ajaran Islam.

Islam tidak meyakini dan membolehkan umatnya meyakini dukun karena itu kesyirikan. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam Bersabda: "Siapa saja mendatangi paranormal atau dukun, lantas dia mempercayai apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad".(H.R. Abu Daud)
April 18, 2013
thumbnail

Tiga Ikatan Setan di Kepala Orang Tidur

Posted by rumah ruqyah on 2013-04-17

Tiga Ikatan Setan di Kepala Orang Tidur
Rabu, 17 April 2013 / 6 Jumadil Akhir 1434 H


    Seringkali kita menyiapkan alarm disamping tempat tidur supaya pada saat yang sudah direncanakan bisa bangun tengah malam dan melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi seringkali pula yang terjadi tidak sesuai rencana, bahkan niat tinggal niat dan tidur tetap berjalan cepat.

    Ketika alarm berbunyi dengan tepat, segera kitapun menindaklanjuti dengan cepat, namun bukan untuk bangun dan sholat, melainkan mematikan alarm dan mimpi berlanjut maka shubuh pun menjadi terlewat.

    Mengapa bisa seperti itu…?, ternyata di saat bantal merapat setan jin mengikat kepala dengan tiga kawat.

Rasulluh Shallahu Alaihi Wassalam bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلًا طَوِيلًا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عَنْهُ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

   "Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda: Setan akan mengikat ujung kepala seseorang yang sedang tidur dengan tiga ikatan, sehingga menyebabkan kamu tertidur dengan pulas dan lama.

    Apabila seseorang di antara kamu itu terbangun serta menyebut nama Allah, maka ikatan partama akan terlepas. Apabila dia berwudhu maka akan terbukalah ikatan yang kedua. Apabila dia sholat maka akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasakan suatu kesegaran dan ketenangan hati, jika tidak dia akan merasa malas dan tidak bergairah"

  • Riwayat Bukhari di dalam Kitab Jum’at hadits nomor 1074.
  • Riwayat Muslim di dalam Kitab Qiyamul Lail hadits nomor 1295.
  • Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Sholat Orang Musyafir Dan Mengkoshornya hadits nomor 1589.

'Sebaliknya jika ikatan tersebut tidak dilepas dengan cara-cara di atas maka kalian akan bangun dalam cara yang buruk, rasa malas, dan tidak dengan hati yang baik'.
(HR. Bukhary)
April 17, 2013